Saya kerap menyaksikan anak ingusan di usia SD dididik ketat kelola uang. Jatah pesangon sekolah 5 ribu, dia masih dituntut agar sisa untuk ditabung.
Setiap hari harus bisa sisa, tidak boleh tidak. Si anak diatur sebegitu ketat agar jangan boros, tetap hemat, jajan harus sekreatif mungkin agar tetap dapat menabung.
Sudah begitu setiap hari mental anak diskak, “Uang susah dicari, jangan boros! Ayah ibu ga punya duit, jangan minta jajan terus.” Dan lainnya.
Warga Korea Utara itu satu ras dan satu gen dengan warga Korea Selatan, artinya kualitas SDM warganya sebenarnya setara.
Korea Selatan muncul sebagai negara maju dengan kualitas warga yang punya daya saing tinggi, Korea Utara muncul sebagai negara yang tidak bertumbuh dan tidak siap bersaing, padahal kualitas SDM warganya setara dengan Korea Selatan, itu karena warga Korea Utara terlalu diatur ketat.
Ya aturan itu untuk menertibkan, namun bila terlalu ketat, aturan justru akan berdampak membodohkan. Jadi kalau Anda ingin punya anak bodoh, atur mereka dengan ketat, jangan beri kesempatan mereka membantah dan melanggar, tuntut sekuat-kuatnya agar mereka menurut dan taat.
Anak didik, umat beragama, warga masyarakat pun sama, kalau Anda ingin mereka bodoh, beri aturan ketat dan jangan beri kesempatan membantah.
Nah model didik anak sejak dini diatur ketat uang juga demikian, justru akan jadikan anak bodoh kepada uang.
Uang saku dibatasi 5 ribu, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, itu sama saja sedang tanamkan belief kepada anak bahwa uang itu sangat sedikit dan sangat terbatas aksesnya.
Sudah begitu dituntut harus sisa agar tetap bisa menabung, itu sama saja tanamkan belief kepada anak kalau uang itu jika mau terkumpul berarti harus prihatin hebat, bahwa uang sangat berharga dan susah didapatkan.
Karena tertanam uang itu sedikit, uang terbatas, uang berharga, uang susah didapatkan, akhirnya di masa dewasa si anak tumbuh sebagai anak yang penuh ketakutan kepada uang. Rasa takut pakai uang, rasa takut happy dengan uang, rasa kikir dan rakus.
Dia pun tumbuh menjadi sangat bodoh kepada uang, persis seperti warga Korea Utara, dimana potensi cerdas mereka dibunuh karena ketakutan-ketakutan kepada aturan-aturan.
Kalau anak Anda mau cerdas uang, merdekakan perasaan mereka kepada uang. Tumbuhkan rasa hingga menjadi belief bahwa uang itu mudah didapat, uang itu banyak dan melimpah, uang itu enteng diraih, uang itu menyenangkan.
Tanamkan belief tersebut kepada anak, jalannya beri akses rasa melimpah ke uang. Diatur ya diatur, tapi tak perlu ketat-ketat, karena hanya akan membodohkannya. Atur sekedarnya, sekedar menertibkan.
Kalau tak ada yang perlu ditertibkan, ya beri saja mereka rasa melimpah uang, seperti jangan kasih tahu kalau uang itu susah dicari, jangan kasih tahu ada harga mahal, jangan kasih tahu uang tinggal sedikit.
Caranya bagaimana? Misalkan kalau Anda dimintai jajan anak, pas tidak punya uang, itu jangan beralasan tidak punya uang, pakai alassn lain selain uang, misal, “Jangan kebanyakan jajan, kasihan perutnya tidak sehat,” dan lainnya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan
You Might Al
Saya kerap menyaksikan anak ingusan di usia SD dididik ketat kelola uang. Jatah pesangon sekolah 5 ribu, dia masih dituntut agar sisa untuk ditabung.
Setiap hari harus bisa sisa, tidak boleh tidak. Si anak diatur sebegitu ketat agar jangan boros, tetap hemat, jajan harus sekreatif mungkin agar tetap dapat menabung.
Sudah begitu setiap hari mental anak diskak, “Uang susah dicari, jangan boros! Ayah ibu ga punya duit, jangan minta jajan terus.” Dan lainnya.
Warga Korea Utara itu satu ras dan satu gen dengan warga Korea Selatan, artinya kualitas SDM warganya sebenarnya setara.
Korea Selatan muncul sebagai negara maju dengan kualitas warga yang punya daya saing tinggi, Korea Utara muncul sebagai negara yang tidak bertumbuh dan tidak siap bersaing, padahal kualitas SDM warganya setara dengan Korea Selatan, itu karena warga Korea Utara terlalu diatur ketat.
Ya aturan itu untuk menertibkan, namun bila terlalu ketat, aturan justru akan berdampak membodohkan. Jadi kalau Anda ingin punya anak bodoh, atur mereka dengan ketat, jangan beri kesempatan mereka membantah dan melanggar, tuntut sekuat-kuatnya agar mereka menurut dan taat.
Anak didik, umat beragama, warga masyarakat pun sama, kalau Anda ingin mereka bodoh, beri aturan ketat dan jangan beri kesempatan membantah.
Nah model didik anak sejak dini diatur ketat uang juga demikian, justru akan jadikan anak bodoh kepada uang.
Uang saku dibatasi 5 ribu, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, itu sama saja sedang tanamkan belief kepada anak bahwa uang itu sangat sedikit dan sangat terbatas aksesnya.
Sudah begitu dituntut harus sisa agar tetap bisa menabung, itu sama saja tanamkan belief kepada anak kalau uang itu jika mau terkumpul berarti harus prihatin hebat, bahwa uang sangat berharga dan susah didapatkan.
Karena tertanam uang itu sedikit, uang terbatas, uang berharga, uang susah didapatkan, akhirnya di masa dewasa si anak tumbuh sebagai anak yang penuh ketakutan kepada uang. Rasa takut pakai uang, rasa takut happy dengan uang, rasa kikir dan rakus.
Dia pun tumbuh menjadi sangat bodoh kepada uang, persis seperti warga Korea Utara, dimana potensi cerdas mereka dibunuh karena ketakutan-ketakutan kepada aturan-aturan.
Kalau anak Anda mau cerdas uang, merdekakan perasaan mereka kepada uang. Tumbuhkan rasa hingga menjadi belief bahwa uang itu mudah didapat, uang itu banyak dan melimpah, uang itu enteng diraih, uang itu menyenangkan.
Tanamkan belief tersebut kepada anak, jalannya beri akses rasa melimpah ke uang. Diatur ya diatur, tapi tak perlu ketat-ketat, karena hanya akan membodohkannya. Atur sekedarnya, sekedar menertibkan.
Kalau tak ada yang perlu ditertibkan, ya beri saja mereka rasa melimpah uang, seperti jangan kasih tahu kalau uang itu susah dicari, jangan kasih tahu ada harga mahal, jangan kasih tahu uang tinggal sedikit.
Caranya bagaimana? Misalkan kalau Anda dimintai jajan anak, pas tidak punya uang, itu jangan beralasan tidak punya uang, pakai alassn lain selain uang, misal, “Jangan kebanyakan jajan, kasihan perutnya tidak sehat,” dan lainnya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply