Dokter Richard Lee heboh dengan angka penjualannya di Titktok, dalam hitungan jam, duit milyaran diraup. Hokinya luar biasa.
Dalam proses pembentukan energi hoki tersebut, dr. Rechard yang dengan tulus menolong anak tak mampu malah digigit dengan bisa beracun dan dicakar oleh si anak. Namanya dijelek-jelekan di depan publik oleh si anak di medsos.
Hasilnya dr. Rechard makin kaya, hoki rezekinya membeludak, si anak malah sekarang boro-boro makin tambah beruntung, punya akun Tiktok saja hilang.
Jadi bertumbuh hokinya itu polanya jelas, kebaikan dan kebaikan, lalu digigit dengan racun berbisa dan dicakar.
Ya begitu polanya, sudah berbuat baik malah kena gigitan berbisa dan cakaran, itu pola orang hoki kaya.
Pola amblas melarat itu juga jelas, keburukan dan keburukan, hingga ditolong dengan tulus oleh orang lain pun lalu dia malah mengigitkan bisa beracun dan mencakar.
Dan si anak remaja yang yang mengigit dan mencakar itu dia hanya punya aset akun tiktok saja apes, akunnya lenyap. Apes banget, kan?
Seorang teman baik saya bercerita, “Dulu pernah nagih hutang ke tetangga yang sudah ditolong terus terusan oleh Mamah. Dikasih tumpangan gratis di rumah sampai bisa punya tempat tinggal sendiri, dipinjemin uang buat modal usaha. Pas ditagih, dia mengamuk, bukan kita yang melaberak malah dia yang melaberak, tidak mau bayar. Tiap saya lewat pura-pura bersin, meludah, di belakang. Kalau Mamah saya lewat, dia ngacungin kepalan tangan gaya jotos. Walau tidak kena, itu sangat menyayat hati.”
Mamah cuma bilang, “Sudah biarkan saja, jangan dibuat ribut, kalau Ayah dengar, takut makin ramai.”
Nggak lama sesudah itu dia sakit-sakitan, usahanya bermasalah, ditipu buyer, hutangnya dimana-mana dan nggak bisa bayar, mobil habis, rumah habis.
Sekarang numpang di rumah orangtuanya, buat makan saja mengkis-mengkis. Kami diam-diam tersenyum sambil membatin, “kapokmu kapan!?”
Jadi hoki kaya dan amblas melarat memang polanya selalu begitu. Yang hoki kaya sudah selalu berusaha baik, eeh dicakar dan digigit melulu. Yang amblas melarat sudah dibaiki dengan pertolongan dan kebaikan, eeh malah menggigit dan mencakar.
Lah kok begitu? Karena kesadaran itupun membentuk circle seperti halnya pergaulan. Orang yang berhati baik, selalu berpikir dan berbuat apik, selanjutnya akan menarik bisikan-bisikan perbuatan baik lainnya. Terus makin baik hingga membentuk circle kesadaran baik dalam dirinya.
Sementara kebaikan itu pasti hasilkan keberuntungan karena apapun bisanya eksis kalau peroleh kebaikan. Tumbuhan tak akan tumbuh subur kalau tak peroleh kebaikan sinar matahari, hara, dan air. Rezeki pun begitu, dipupuk dengan kebaikan ya makin subur.
Nah orang yang berhati jahat itupun kesadarannnya membentuk circle. Orang yang berhati jahat akan menarik bisikan-bisikan kejahatan lainnya. Lalu membentuk circle kejahatan dalam kesadarannya.
Bukankah Anda pernah temukan orang yang sudah melarat lagi sombong?
Dengan tetangga memusuhi, dengan orang lain merendahkan, dengan kerabat memeras, dengan yang tua durhaka, dengan yang lebih kecil, arogan, cari rezeki pun nerjang yang haram, dengan yang menolong menggigit, kalau salah malah playing victim, punya karya kecil wow narsisnya, kalau hutang melupakan.
Nah orang-orang begitu biasanya melaratnya hingga amblas-amblas, keluarganya sakit-sakitan, dan moralitas keluarganya bejat.
Nah kalau Anda menemukan orang begitu, mau dia seburuk apapun sebaiknya menolongnya hanya dengan uang saja, dan jangan pernah melibatkan diri dalam urusan hidupnya sedikitpun karena ujung-ujungnya menggigit dan mencakar penolongnya.
Menolongnya cukup pakai uang saja, karena menolong dengan uang itu ayam juga bisa terima pertolongan uang yakni dedak. Tapi kalau menolongnya dengan melibatkan diri dalam urusan hidupnya, bisa berabe, bisa-bisa Anda dicakar.
Kok ada orang sejahat dan seburuk itu?
Ya ada, karena kesadaran itu membentuk circle dalam diri, yang terilhami kebaikan makin terjebak dalam kebaikan-kebaikan lain, yang terilhami keburukan, makin terjebak dalam keburukan-keburukan lain.
Na’ûdzubillâh sampai sudah ditolong dengan kebaikan malahan berpikir menjahati.
Lah kok yang buruk tidak ada kapoknya? Ya tidak, karena itu circle kesadarannya. Mau berputar kemanapun, dia terjebak di sana lagi karena itu circlenya.
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Q.S. Yusuf: 53).
Kadang orang begitu baru sedikit longgar dari tumbukan apes, nafsu buruknya muncul lagi, dia pun jahat lagi, lantas amblas lagi, terus begitu, sampai hidupnya habis hanya didedikasikan untuk melarat dan apes, saking terus-terusan kualat.
Itu terjadi karena circle kesadaran jahatnya yang terbentuk dalam kesadaran diri.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply