Ibn Qayyim Al-Jawziyah menyampaikan,
مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى
“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang sangat, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.”
Pertama; rasa sedih.
Anda kerap alami fenomena uang digunakan sepertinya biasa-biasa saja tapi terasa raib begitu saja, tidak jelas digunakan untuk apa?
Diingat-ingat buat apa saja tidak ditemukan datanya. Hati pun sedih merana. Itu sebenarnya rezeki yang disabotase rasa kekurangan di hati Anda.
Kenapa muncul rasa kurang? Tadi baru saja saya sampaikan di reel Facebook dan short video Youtube, kalau Anda bertemu pacar sehari bisa merasa sangat kurang waktunya padahal itu adalah waktu yang melimpah. Andai waktu satu hari untuk bertemu musuh, rasanya seperti 3 abad lamanya.
Kenapa satu hari bertemu pacar terasa kurang? Karena Anda cinta melekat kepada pacar. Maka ini tanda Anda cinta uang dengan melekat, Anda akan selalu merasa kekurangan.
Hati kerjaannya sedih dan duka karena uang sepertinya selalu habis dan tidak tahu dipakai untuk apa.
Sehingga pas yang disampaikan Ibn Qayyim Al-Jawziyah bahwa muhibbud dunyâ (pecinta lekat kepada harta) akan alami rasa sedih (kegelisahan) yang terus-menerus,
Karena itu tanda Anda mulai lepas dari kecintaan dan kemelekatan pada uang adalah munculnya rasa kaya dan rasa berlimpah di hati.
Hati kok rasanya kaya, uang rasanya berlimpah, uang rasanya tak pernah kurang, rezeki rasanya mudah sekali, itu tanda hati Anda sudah berkurang cinta lekatnya kepada uang.
Kedua; rasa capek yang sangat tapi hasil tidak ada.
Mencintai itu memperkenankan diri Anda menjadi hambanya, atensi Anda menjadi sangat kuat.
Sifatnya kekayaan itu semu dan fatamorgana belaka. Makin kaya itu Anda makin fakir karena kebutuhannya membesar.
Saat hanya bisa beli motor, kebutuhan pajak Anda tidak sampai 1 juta pertahun, lah sesudah punya mobil bukan kebutuhan pajak makin menyedikit, tapi makin membengkak, karena pajak mobil selalu lebih tinggi dari motor.
Sementara miskin itu adalah rasa fakir. Rasa fakir itu rasa butuh. Kalau makin kaya justru kebutuhan kebutuhan makin besar, berarti Anda makin duitnya gede itu makin kaya apa makin miskin?
Karena dipicu rasa butuh yang besar, Anda kerja keras untuk cukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Sementara yang dicari kecukupannya tidak ada cukupnya, karena makin kaya justru kebutuhan akan makin membesar. Jadinya Anda persis seperti kucing yang muter-muter stres ingin gigit ekornya sendiri.
Disitulah Anda kecapekan dan keletihan dahsyat. Makin dikejar untuk cukup makin tidak cukup, makin dikejar kaya makin kekurangan, makin dikumpulkan, makin tidak punya apa-apa. Dia hanya dapat keletihan dahsyat.
Anda sedang merasa kerja capek sekali tapi duitnya tak ada? Atau capek sekali tapi utang menggunung-gunung sehingga penghasilan seberapapun ludes untuk bayar utang? Itu tanda Anda sedang disiksa uang.
Gus Baha menyampaikan, “Yang dikatakan kecukupan adalah berusaha sebanyak mungkin agar banyak hal tidak kamu butuhkan. Bukan memenuhi semua kebutuhan nafsu kamu. Karena nafsu kamu tidak ada batasnya.”
Disitu jelas tugas Anda bukan untuk mencukupi segala kebutuhan tapi berusaha agar banyak hal yang tidak kamu butuhkan, sesuai perkataan Imam Syafi’i:
وَلَيْسَ اْلغِنَى إِلاَّ عَنِ الشَّيْءِ لاَ بِهِ
“Kekayaan tidak akan pernah ada kecuali tanpa sesuatu darinya.” (Imam Syafi’i).
Sehingga tanda Anda mulai terlepas dari cinta harta, di hati Anda muncul, “Cukup ini saja. Cukup,” Anda tahu batas dan bisa mengukur diri.
Rasa cukup bukan berarti semua kebutuhan diputus sehingga semuanya sama sekali tidak diperjuangkan, namun rasa cukup itu Anda jadi tahu batas, sadar cukup disini saja, cukup ini saja.
Ketiga; kerugian yang tak pernah berhenti.
Jatuh cinta itu membuka hati, apapun yang terbuka akan mudah tergores dan terluka.
Begini, Anda buka baju lalu Anda berjalan ke kebun, itu potensi kulit Anda tersayat duri dan digigit nyamuk dan seranggga lebih besar ketimbang Anda masuk kebun dengan berpakaian rapat. Segala hal yang terbuka lebih mudah tergores dan terluka.
Anda sedang mencintai cewek, kalau tidak sedang jatuh cinta, si cewek chat WA dengan cowok lain tak masalah, kalau sudah dicintai menjadi sangat melukai.
Mencintai lekat kepada uang itu Anda sedang membuka hati, resikonya mudah digores dan dilukai uang.
Alami kerugian materi terus menerus itu tanda Anda sedang digigit buaya uang, luka Anda pun menganga dan berdarah-darah.
Ini siksa uang terberat dan terparah karena dua hal sebelumnya hanya menghantam sisi hati, yakni rasa sedih dan rasa keletihan, namun yang ketiga ini sudah menghantam resiko materi, biasanya resiko hutang menumpuk tak ada yang digunakan membayar.
Kalau sudah hutang, penyelesainnya tidak cukup dengan Tahajud dan istighfar, dengan sedekah dan shilaturrahim, tapi hutang ya jalan keluar satu-satunya harus dibayar lunas.
Caranya biar bisa bayar lunas bagaimana? Ya bayar hingga lunas. Terserah dengan cara apa, karena saya juga tidak tahu, sebab itu resiko Anda.
Serasa mati? Ya iya. Karena itu siksa terdahsyat cinta lekat kepada uang.
Namun di saat dilukai uang dengan kerugian begitu, hanya satu Zat yang bisa selesaikan, yakni Dia.
Banyak istighfar, banyak shalat Taubat, banyak berbuat baik, dan terus taqarrub kepada-Nya, sambil terus berusaha dan berupaya bayar hutang, kuatkan niatnya dan jangan pernah coba-coba melarikan diri dari tanggung jawab.
Perhatikan hadits Qudsi ini;
يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
“Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.“ (H.R. Ahmad)
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply