Energi miskin itu energi bikin pegel orang lain, dan energi kaya itu energi yang bikin suportif orang lain.

 

Anda datang ke rumah orang dengan bawa oleh-oleh mahal, yang punya rumah pasti energinya tersupport, ia jadi gembira selanjutnya hormat dan menghargai Anda. Itu disebabkan kedatangan Anda bawa energi kaya dengan memberi.

 

Sebaliknya kalau Anda bertamu ke rumah orang, tetapi Anda mau hutang duit, kira-kira yang punya rumah loyo, tidak? 


Dia loyo dan pegel-pegel karena kedatangan Anda itu bawa energi miskin dengan meminta hutangan duit.

 

Tidak ada orang merasa gembira lalu tersupport energinya ketika bertemu pengemis, rata-rata merasa terbebani, karena pengemis energinya meminta. Meminta tanda tidak punya. Tidak punya tanda miskin.

 

Anda kadang membersamai orang namun Anda merasa seperti loyo, tidak semangat, tidak gembira, mau ngomong saja lidah kaku dan malas, itu tanda orang yang bersama Anda berenergi miskin, unsur-unsur di dalam kesadarannya masih dominan meminta-minta.

 

Dan kalau Anda bertemu seseorang lantas diri Anda merasa tambah semangat, berenergi, ceria, gembira, itu tanda Anda bertemu dengan orang yang berenergi kaya. 


Ya seperti tamu yang bawa oleh-oleh besar, orang yang berenergi kaya itu berkemampuan membuat orang lain gembira.

 

Maka mari cek hidup kita. Masihkah diri kita menjadi masalah bagi orang lain? Masihkah menjadi beban bagi orang lain? Kalau masih begitu, dijamin rezeki Anda macet-macet seret.

 

Dan kalau sampai diri Anda adalah fitnah bagi orang lain, artinya kerjaan Anda memusuhi orang, mengfitnah, berbuat mudharat bagi orang lain, itu rezeki Anda yang datang bukan duit, tapi azab, kualat dan melarat.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *