“Ah rezeki kok lewat saja,” Anda sering alami itu kan? Baru saja terima rezeki, langsung dipaksa alam semesta untuk mengalirkannya pada yang lain.

 

Sering saya sampaikan, karakter dasar rezeki adalah “mengalir” sesuai karakter pusat rezeki yakni Tuhan Yang Maha Rezeki (Ar-Razzaq). Tuhan sebagai Yang Maha Rezeki selalu mengalirkan rezeki di sisi-Nya untuk menghidupi makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada sepeser pun rezeki yang Dia genggam di sisi-Nya.

 

Setelah Tuhan tidak lagi menggenggam rezeki, Dia malah jadi Maha Hartawan (Al-Ghina).

 

Maka itu jalan menjadi kaya harta justru mengalirkan rezeki yang ada pada diri Anda, berbalik arah dengan kesadaran reptil Anda yang mengertinya kalau kaya harta adalah nominal yang terkumpul.

 

Mau diteliti bolak-balik pun profesi yang paling mendatangkan duit banyak adalah wirausaha. Kenapa? Karena dalam wirausaha sistem pengaliran rezeki sangat baik. Sistem belanja, modal, investasi, gaji, bayaran, dan seterusnya terjadi dalam wirausaha. Wirausaha model peluang besar pengaliran rezeki, maka ini duit terbesar di alam semesta ini dari dunia wirausaha.

 

Dimanapun asal di situ terbentuk pengaliran rezeki besar-besaran, di situ terbentuk kekayaan. Dalam sistem keluarga terbentuk aliran rezeki melalui nafkah, maka ini banyak bujangan melarat lalu temukan kekayaan sesudah menikah. Dunia selebritis juga banyak duit karena di situ terpasang sistem pengaliran rezeki yang baik, yakni dunia belanja dan happy boros.

 

Berbeda dengan masjid, duit masjid sedikit karena dalam sistem masjid sangat kecil sistem aliran rezeki yang terpasang.

 

Itulah realita kekayaan terbentuk dari sistem aliran rezeki bukan sistem pengumpulan nominal rezeki, Al-Ghina Tuhan terbentuk dari sistem Ar-Razzaq-Nya. Ingin kaya? Gemarlah mengalirkan rezeki, bukan mengumpulkan dan menggengamnya.

 

At-takatstsur (berlomba dalam banyak-banyakan harta) itu sistem kemiskinan nyata. Biasanya Anda hanya membidik orang berharta banyak sebagai pelaku at-takatstsur. At-takatstsur tidak terhubung dengan nominal harta yang dimiliki, at-takatstsur itu terhubung dengan mentalitas seseorang.

 

Saya malah melihat at-taktstsur justru banyak terjadi pada orang-orang miskin. Lah iya, yang berharta sedang berlomba-lomba belanja, yang miskin malah berlomba-lomba irit, irit itu berlomba mengumpulkan banyak harta kan? Yang berharta berlomba membayar wakaf dan amal kemanusiaan, yang miskin berlomba terima zakat dan bantuan, bukankah itu at-takatstsur? Yang berharta berlomba investasi, modal dan bayar gaji untuk bisa mengalirkan rezeki, yang miskin berlomba terima gaji, at-takatstsur lagi? Itu semua bukti realita kalau at-takatstsur itu sistem kemiskinan.

 

Hahaha kadang saking gemarnya at-takatstsur, si miskin dapat Supermi oleholeh kondangan juga masih dikumpul-kumpulkan, mau memakannya takut besok ada kondangan lagi, kalau kreatif mengumpulkan Supermi oleholeh hajatan besok saat ada kondangan lagi tidak perlu modal. Dapat pemberian sarung tahun ini dipakainya tahun depan, sarungnya disimpan-simpan dengan kreatif sampai mau menyenangkan diri sendiri dengan sarung baru saja enggan. Kreatifnya cari “harga miring”, takut amat dengan harga, dia kira surga Tuhan juga dengan “harga miring”. Gaji cuma 800 ribu sebulan, maksa-maksa bisa nabung 75 ribu per bulan, takut sekali tidak bisa kumpulkan harta sampai-sampai 75 ribu masih dikreatif-kreatifkan untuk terkumpul. Sekali lagi, at-takatssur itu sistem kemiskinan.

 

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١)حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣)ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٤)كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (٥)لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (٦)ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (٧)ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (٨)

 

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Q.S At-Takatstsur : 1-8)

 

Sudahlah, alirkan rezeki Anda di situ cara Anda mengkayakan harta. Terserah cara mengalirkannya, bisa untuk nafkah, bisa untuk belanja, bisa untuk modal, bisa untuk investasi, bisa untuk berbagai biaya, dan bisa untuk sedekah, yang penting mengalir.

Nah, Anda sering tersinggung kan ketika rezeki Anda hanya lewat? Merasa susah hati? Justru ketika Anda mengalami “rezeki lewat” di situ keberkahan rezeki sangat besar bagi Anda, karena saat itu alam semesta merindukan rezeki Anda mengalir untuk yang lain.

Di saat mengalami “rezeki lewat” Anda berbahagialah, terima dengan senang hati, sebab di situ rezeki berada pada karakter murninya yakni mengalir.

 

Termasuk prilaku kufur nikmat itu tersinggung dan bersusah hati dengan “rezeki lewat”, itu sama saja bos yang enggan bayar karyawannya, bos yang enggan penuhi hak dan tanggung jawabnya, padahal hak rezeki adalah dialirkan.

 

Hak rezeki adalah dialirkan, ketika rezeki hanya sekedar lewat, Anda berbahagialah dengan riang gembira, “rezeki lewat” itulah titik berkahnya rezeki.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *