Seorang yang suka menyuruh orang lain untuk menyelesaikan pekerjaannya sebenarnya seorang yang masih menginginkan tenaga orang lain untuk kepentingan dirinya. Tindakan “menyuruh” merupakan wujud dari rasa thoma’ di dalam hatinya, “ngarep-ngarep” atas tenaga orang lain. Ini mental kere.

 

Karena ini, sikap suka menyuruh merupakan sikap yang melawan karakter zuhud. Karena pada dasarnya zuhud itu tidak menginginkan apa yang ada di tangan manusia, termasuk tenaga. Suka menyuruh jelas sikap anti zuhud, dan bagian dari jiwa yang labil, tidak mandiri, dan thoma’.

 

Anda enek, ingin nendang, ingin mengepal dengan orang yang suka nyuruh? Dia tidak disukai oleh hati Anda karena dia thoma’, juga hedonis murni, yang jauh dari karakter zuhud. Seorang yang tidak zuhud, susah mendapatkan cinta dari hati manusia.

 

إِزِهَدْ فِى الدُّنْيَايُحِبُّكَ اللهُ وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ لنَّاسُ (رواه إبن ماجاه)

 

“Zuhudlah di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah dengan apa yang ada di sisi manusia maka manusia akan mencintaimu.” (H.R. Ibn Majah)

 

Tentu beda urusannya ketika Anda menyuruh orang lain tetapi Anda sudah menetapi mekanisme pertukaran energi. Semisal menyuruh mengepel lantai kepada asisten rumah tangga yang sudah Anda kontrak dengan gaji, menyuruh kepada karyawan, dan lain-lain. Hal ini tidak masalah karena sudah memakai prosedur kontrak jasa, dan tetap sesuai kode etiknya.

 

Bukan hanya hati manusia yang membencinya, seorang yang suka menyuruh juga dibenci seluruh makhluk Tuhan, baik benda hidup maupun benda mati. Kalau Anda marah ketika disuruh-suruh, benda-benda lain juga marah diperlakukan seperti itu. Anda memakai Android dari pagi sampai malam, full sehari semalam, hakikatnya Anda sedang menyuruh Android untuk melayani keinginan kepuasan Anda, lalu Android meledak. Ketika Android meledak, dia sudah di titik jenuh dengan rasa marahnya karena disuruh-suruh tanpa etika. Jadi benda mati saja tersinggung jika banyak disuruh.

 

Ketika Anda suka menyuruh orang untuk menyelesaikan pekerjaan Anda, getarannya juga menyebar ke area benda-benda di sekitar Anda, karena ini Anda suka mengeluh, rezeki jadi seret. Padahal mengeluh urusan batin, rezeki urusan bendawi, tapi mengeluh mempengaruhi rezeki?

 

Karena hati Anda terhubung dengan benda-benda di sekitar Anda. Sebab ini ketika Anda suka menyuruh, benda-benda di sekitar Anda juga tidak menyukai kehadiran Anda di sisi mereka, termasuk rezeki.

 

Benda-benda tidak suka pada Anda, sekali marah ya mereka menimpakan malapetaka kepada Anda. Motoran tahu-tahu kecelakaan, jalan kaki tahu-tahu tersandung, nonton televisi, televisinya terbakar, sial melulu. Ini lantaran Anda tidak disukai oleh benda-benda di sekeliling Anda.

 

Hidup pun jadi banyak masalah. Sana-sini ruwet. Karena semua tidak bisa menerima kehadiran Anda di sisi mereka.

 

Jadi jangan suka menyuruh, suka menyuruh itu hati thoma’, thoma’ itu tidak zuhud, tidak zuhud itu awal ketidaksukaan hati manusia, ketidaksukaan hati manusia itu awal ketidaksukaan benda-benda di sekitar Anda. Ketika benda-benda di sekitar Anda tidak suka dengan kehadiran Anda, mereka akan menimpakan malapetaka kepada Anda.

 

Karena ini, Nabi Saw menjelaskan;

 

وَمَنْ زَهَد َفِى الدُّنْيَا هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيْبَاتُ (رواه ابن حبان)

 

“Barangsiapa zuhud di dunia maka malapetaka menjadi tenang (jauh) atasnya.” (H.R. Ibnu Majah)

 

Sehingga suka mengerjakan apa-apa sendiri itu bisa menolak malapetaka pada diri Anda, karena suka mengerjakan pekerjaan sendiri itu bagian dari sikap zuhud, tidak menginginkan tenaga orang lain, tidak bermental kere.

 

Nah hal di atas berbeda masalah bila memang Anda sudah punya “hak menyuruh”.

 

Hak menyuruh, biasanya, didapatkan sesudah Anda punya kontrak kewajiban-kewajiban tertentu dengan orang lain. Misal bos pada karyawan, si bos berhak menyuruh karyawannya karena si bos telah mengontrak si karyawan dengan perjanjian gaji tetap. Orang tua berhak menyuruh anak karena si anak telah ditanggung nafkahnya. Kyai berhak menyuruh santri karena kyai sudah mengajari ilmu pada si santri. Dan seterusnya.

 

Namun semua tetap ada koridor dan barometernya. Iya, misalkan karyawan digaji sesuai UMR, disuruh kerja 20 jam, itu namanya sudah kurang ajar.

 

Maka ini salah satu tips agar hidup Anda itu “hânat ‘alaihil mushîbât” yakni netral dari malapetaka, Anda gemar lah melakukan pertukaran energi.

 

Misal, merasa menyuruh orang, beri ia timbal balik energi, selayaknya. Merasa meminjam barang, saat mengembalikannya berikan hadiah yang layak. Jangan apa-apa suka numpang gratis. Mobil cari gratis, pulsa cari gratis, kelakuan begitu yang memanggil malapetaka dan musibah.

 

Gemar menukarkan energi, gemar membayar, itu cara-cara menetralkan hidup Anda dari malapetaka dan musibah.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *