Saya bingung kalau harus mendefinisikan orang kaya, karena tidak ada yang kaya.

 

Lah iya saat penghasilan kecil, isi BBM motor full tangki gunakan Pertamax butuh uang 50 ribuan. Sesudah berpenghasilan besar ganti pakai mobil. Mobil 1500 CC-an, Pertamax full tangki sekitar 450 ribuan. Ganti mobil CC besar, isi Pertamax full tangki butuh 1,2 jutaan.

 

Makin kaya maka kebutuhan seseorang makin besar. Padahal kaya itu adalah terputusnya rasa butuh.

 

Sementara makin Anda kaya, kebutuhan Anda makin besar. Dari gambaran sederhana kebutuhan BBM kendaraan saja sudah begitu. 


Belum lagi kebutuhan rumah, kebutuhan gengsi, kebutuhan healing, kebutuhan travelling, kebutuhan pengaruh dan lainnya, semua kebutuhan makin membesar.

 

Yang artinya makin Anda berduit banyak justru Anda makin fakir. Blunder kan? Ujar-ujar makin kaya akan makin kecukupan malahan kebutuhan makin membesar yang berarti makin fakir.

 

Tapi ya memang begitu mekanisme hidup, blunder dan muter. Setelah muter-muter lalu balik lagi ke titik semula.

 

Di dalam Zat Tuhan juga begitu. Tuhan Maha Kaya, tapi apa iya di sisi Tuhan ada saldo harta? Tidak ada.

 

Karena seluruh rezeki di sisi Tuhan dialirkan untuk para makhluk-Nya. Semua rezeki di sisi-Nya mengalir, di sisi-Nya adakah saldo rezeki yang ditahan?

 

Itu artinya di sisi-Nya tidak ada apa-apa. Blunder kan? Disebut Maha Kaya tapi ya tidak ada apa-apa. Kosong ternyata isi, yang isi ternyata kosong.

 

Sama saja, orang berjibaku berhemat, lah ternyata hemat itu emangnya ada? Saya lihat di konten-konten medsos yang amalkan frugal living, mereka justru membayar sangat mahal. Cuma beli sabun cuci piring, muter-muter cari yang murah, syukur dapat yang discount.

 

Orang itung-itung harga cari yang efesiein, itu boros sekali memakai otaknya. Belum lagi tenaga yang digunakan untuk muter-muter cari barang efesien harga. 


Jadinya frugal itu murah apa mahal? Ya Cuma murah di satu sisi, di sisi lain ya bayar mahal.

 

Coba kalau Anda bayar tanpa lihat harga, cukup kira-kira saja punya uang segini, beli ini dan itu cukup duitnya, setelah itu tidak dilihat notanya langsung masuk tong sampah, kan jadi hemat di pikiran dan perasaan, otaknya tidak diperas-peras amat.

 

Sama saja Anda beli handphone ram kecil, iya murah diharga, saat dipakai baru handphonenya minta bayaran mahal dari perasaan Anda, buat menyimpan apk sempit, buat loading lelet, hasil foto juga mirip foto KTP. 


Mahal di perasaan kan? Merepotkan. Sebaliknya ram besar barangkali mahal di harga, tapi jadi frugal di perasaan.

 

Kalau begitu hemat itu ada, enggak? Adanya blunder.

 

Dan ada lagi, orang kaya itu katanya dekat dengan kemewahan. Ya mereka yang mewah sebenarnya juga orang sederhana, dan mereka yang sederhana juga sebenarnya orang mewah.

 

Misal, Anda menerimakan mobil sederhana, ya sebutlah mobil pakai Avanza keluaran pertama tahun 2003. Iya harga beli memang sederhana, tapi harga perawatan dan servis jadi mewah kan?

 

Effort kenyamanan yang dikeluarkan saat memakai, sedikit ada lobang jalan saja duduknya terguncang, jadi mewah kan kalau diukur dari harga rasa nyamannya?

 

Dan belum lagi dari sisi perasaan jadi sangat mewah. Lah iya pakai mobil sederhana siap-siap disangka orang tak punya duit?

 

Harga perasaannya yang diberikan jadi mewah kan? Gengsi yang dikeluarkan juga mewah.

 

Anda punya rumah reot itu sederhana di harga, di sisi effort pakai fasilitas rumahnya jadi mewah, mau tidur saja tidak nyaman. Belum lagi gengsi dan keluhan, itu sangat mewah memakan perasaan.

 

Sekrang orang yang mewah. Mereka di sisi lain ternyata sederhana. Misal pakai Toyota Alphard, jadi simple dan sederhana kan dalam effort keluhan dan effort gengsi?

 

Sederhana pula dalam kenyamanan, otot-otot tubuh jadi sederhana kerjanya dalam menahan guncangan di jalanan.

 

Ada salah satu teman saya, dia tinggal di daerah Banyumas saja, beli mobil scond hingga ke  Nganjuk Jawa Timur, infonya di Nganjuk harganya lebih murah.  Dia Cuma cari sederhana di harga, tapi cari mewah di kerepotannya. Iya kan?

 

Jadi hasilnya mereka yang serba mewah pun sedang beli kesederhanaan, dan mereka yang sederhana juga sebenarnya sedang beli kemewahan. Blunder.

 

Yang kaya adalah fakir, yang miskin bisa jadi yang kaya, yang hemat adalah yang boros, yang boros adalah yang hemat, yang mewah adalah yang sederhana, yang sederhana adalah yang mewah. Mumeti pokoke.

 

Namun itulah wujud Allah yang sesungguhnya. Dari Zat-Nya pun sudah begitu. Katanya hanya Allah wujud yang Esa, tauhid murni, namun nyatanya wujud-Nya itu ada karena kesepakatan “tiada tuhan” (lâ ilâha) yakni ateisme dan “selain Allah” (illâ-llâh) yakni teisme. Yang berarti Dia ada karena mengakui ketiadaan Tuhan. Blunder.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *