Video yang saya unggah adalah dokumenter Zamziman Ellie, ia warga Rwanda, Afrika Timur, lahir tahun 1999. Na’ûdzubi-llâh, ia terlahir—baik fitur fisik maupun psikisnya—setengah manusia setengah monyet.

 

Kalau bertemu manusia, ia lari menjauh. Kegemarannya lari-lari. Nalurinya masuk ke hutan, tidak betah hidup di lingkungan manusia. Makanannya pisang dan rumput-rumputan. Ia tidak bisa bicara dan berkomunikasi dengan manusia. Hari-harinya dihabiskan di hutan untuk lari dan memanjat.

 

Anda bisa baca info selengkapnya di Google, Youtube, Facebook, dan lain-lain. Muatan beritanya banyak.

 

Ibunya mengakui, awal mula ia diberi ujian hidup setiap kali melahirkan anak, selalu mati. Dan itu terjadi hingga 5 kali melahirkan. Sampai akhirnya ia putus kesabaran dan merasa lemah, dan keluarlah doa, “Tuhan beri aku anak, walaupun cacat”.

 

Nah Anda sering temui fenomena “doa supata” yakni semacam doa kutukan dikarenakan rasa sakit hati, rasa dendam atau rasa marah yang begitu kuat? Dan itu benar-benar terjadi.

 

Misal Ken Arok yang dikutuk Empu Gandring bahwa 7 keturunannya akan mati saling bunuh diujung keris Empu Gandringnya. Kutukan itu benar-benar terjadi.

 

Misal Sunan Amangkurat I dari Mataram Islam yang mengutuk putra mahkotanya sendiri, Amangkurat II. Ya sakit hati karena berbagai konflik politik kekuasaan, dan termasuk musuh politiknya adalah putra mahkotanya sendiri. Amangkurat I tetap menunjuk putra mahkotanya sebagai raja selanjutnya namun karena sakit hati, penunjukan Amangkurat II olehnya disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar. Kutukan itu pun terjadi.

 

Di tengah masyarakat pun “doa supata” semacam itu kerap terjadi.

 

Ada salah satu kenalan saya, ia cewek, yang jengkel sekali diberi haidh. Kejengkelannya muncul saat ia sedang menghapal Al-Qur’an. Sedang konsentrasi-konsentrasinya menghapal, ia haidh, harus jeda dulu menghapalnya. Habis jeda, hapalannya lupa lagi, harus mengulang lagi. Sampai akhirnya ia menyumpahi haidhnya sendiri, “Susah amat si jadi perempuan, sebentar-sebentar dihalangi haidh. Nggak usah haidh, kenapa?”

 

Dan betulan terjadi, ia terhenti siklus haidhnya. Resikonya sesudah ia menikah, ia tidak bisa hamil.

 

Ada lagi, seorang istri kyai. Yang namanya kyai kerjaan hariannya lebih banyak memikirkan perjuangan agama sehingga urusan ekonomi keluarga kerap terbengkalai kurang perhatian, hidupnya pun kekurangan. Lalu si istri menyumpahi anak-anaknya, “Anak-anakku jangan ada yang jadi santri, jadi kyai. Lapar melulu.”

 

Dan betulan terjadi, anak-anaknya tidak ada yang mau shalat dan jadi preman semua.

 

Ada lagi dua orang tetangga yang saling bermusuhan. Ketika saling labrak, keduanya saling mengutuk, “Tujuh keturunanku jangan sampai menikah dengan keturunanmu,” lalu diiyakan oleh satunya.

 

Padahal mayoritas keturunannya hidup di satu RW suatu desa. Dan betulan terjadi, setiap ada dua orang keturunannya saling menyintai, lalu nikah, ada-ada saja ujian dan masalahnya sehingga terpaksa harus cerai.

 

Semua getaran hati Anda itu punya energi besar. Bahkan energi hati Anda merupakan energi terbesar di alam semesta ini. Dengan perasaan hati yang tawakal, api menjadi dingin oleh Ibrahim A.S. Dengan hati yang tawakal, bulan bisa dibelah oleh Muhammad S.A.W. Dengan hati yang tawakal, lautan bisa dibelah oleh Musa A.S.

 

Iya, kan? Getaran hati Anda itu energi terbesar di alam semesta ini?

 

Matahari dan semua planet angkasa bisa tunduk pada getaran hati Anda. Maka ini saat kemarau panjang, Anda disuruh shalat istisqâ yang isi shalatnya adalah perintah menggetarkan hati dengan rasa taubat dan saling menyayangi dan saling memaafkan sesama.

 

Hujan dan semua kontrol cuaca ada dalam kontrol hati Anda.

 

Duit, mau seret mau melimpah, itu semua ada dalam kontrol hati Anda. Maka ini ingin duit harus mampu getarkan hati yang syukur, tawakal dan taqwa. Yang semuanya itu pekerjaan hati.

 

Nah saat Anda sakit hati, dendam, marah, atau saat Anda sedang ridha, rela, bahagia, semua getaran itu punya power energi dahsyat.

 

Apalagi sedang sakit hati, dendam dan marah, itu energinya sangat konsisten dan terfokus. Sebab ini doa orang yang terzalimi sangat mujarab, karena hakikatnya terzalimi itu orang yang sedang sakit hati.

 

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الله حِجَابٌ

 

”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Nah karena rasa putus asa dan rasa lemah, Anda jadi keluarkan doa ketidakberdayaan, seperti ibunya Ellie di Rwanda, “Anak cacat, nggak apa-apa, asal punya anak.”

 

Atau rasa sakit hati merasa diperdaya dan dizalimi seperti Empu Gandring.

 

Atau rasa dendam membara seperti Amangkurat I pada Amangkurat II dan seperti 2 tetangga yang saling bermusuhan.

 

Atau rasa jengkel menerima kenyataan pahit seperti wanita penghafal Al-Quran pada takdir haidh, dan si istri kyai pada takdir susah duit sebagai istri pejuang agama.

 

Dahsyat kan power energi dari hati yang tersakiti, hati dendam dan marah?

 

Andai energi sakit hati, dendam dan marah Anda gunakan untuk mengutuk diri Anda agar kaya raya dunia akhirat, mulia dunia akhirat, kira-kira mujarab, tidak?

 

Maka ini saya kerap mengutuk diri saya sendiri saat merasa disakiti dan saat mendendam. Saya kerap begini, “Iya, kamu menghina saya, besok saya lebih hebat dari kamu!” Atau saat merasa dizalimi, “Besok saya lebih kaya dari kamu, diri saya unggul semuanya dari kamu.”

 

Dan semua orang yang saya kutuk agar diri saya lebih hebat, lebih unggul, lebih kaya darinya, sekarang semuanya terjadi.

 

Dan setiap Anda pasti punya dendam, sakit hati, kekecewaan, marah, dan sebagainya? Itu titik dimana Anda sangat tepat bila mengutuk diri Anda sendiri dengan keberlimpahan. Tukarkan energinya dengan keberlimpahan untuk diri.

 

Lalu kutukan buruk yang sudah terlepas doanya, bagaimana membatalkannya? Saya tidak tahu. Jangan tanyakan pada saya.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *