Begini kalau Anda diambil uangnya oleh maling, atau uang Anda diminta orang, Anda terima kasih, tidak? Tidak usah dijawab.
Kalau Anda diminta dan diambil dosa dan kesalahannya, Anda terima kasih, tidak? Tentu sikap Anda kebalikan dari terambil uang.
Ketika Anda dizalimi, dihina, direndahkan, disakiti, di-bully, difitnah, dan semua yang tidak enak-enak, potensi spiritualnya sangat tinggi, di situ dosa dan kesalahan Anda diminta lalu diambil oleh si pelaku.
Maka ini semakin tinggi spiritual Anda, diri Anda akan makin kerap berterima kasih pada derita-derita karena sadar dosa dan khilaf Anda diminta dan diambil.
مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (H.R. Bukhari)
Jadi kalau Anda sedang dihina orang, lalu Anda melabrak habis-habisan itu tanda Anda sedang tidak ada iman. Minimal menggerutu dan mendendam, di situ Anda sedang tipis imannya. Ngerti?
Karena kalau Anda sedang penuh iman jelas sadar sepenuh hati kalau dosa Anda sedang diminta dan diambil, misalkan duitnya ditipu 20 juta, muncul di hati, “Terima kasih penjahat, kau ambil dosaku.” Itu iman.
Ya begitu dimensi spiritual, kerap berbalik arah dengan dimensi material.
Anda tahu, tidak? Orang yang sangat mudah rela hati itu orang-orang lemah, mereka sangat mudah mengalah, mudah empati, mudah memaklumi. Kekerasan hati mereka lemah sekali dan cenderung mudah nerima. Ya karena rasa tidak berdaya di dalam hati mereka, itu yang memicu mereka mudah untuk rela hati.
Karena ini tidak sedikit ahli surga yang diisi oleh orang dhuafa sebab level keridhaan hati mereka dalam hadapi ketidakberdayaan hidup.
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli surga itu? Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Namun Anda perlu tahu, penjelasan di atas itu dimensinya spiritual, urusan akhirat nemang urusan spiritual mutlak, sementara Anda di sini hidup di dimensi material yang Anda bisa modar hidupnya jika hanya memegang kencang spiritualitas. Karenanya di dunia material ini Anda perlu punya spiritual yang memberdayakan diri.
Begini, dan ini kerap saya jelaskan, kalau Anda menanam pohon amati pertumbuhan batangnya. Batang yang dari awal tumbuh besar terus makin membesar tidak terkendali, semua nutrisi pohon mengalir ke sana. Sebaliknya batang yang dari awal tumbuh kerdil, ia akan terus kalah pertumbuhannya dan akhirnya segitu saja.
Karena ini alam material ini ada mekanisme kaya makin kaya, kuasa makin kuasa, dan sebaliknya lemah makin lemah.
Nah saat alam semesta mengirim nutrisi-nutrisi energi material ke dalam kehidupan Anda, itu alam semesta tidak memperhatikan dimensi spiritual Anda, maka ini yang namanya kaya dan kuasa tidak ada hubungannya dengan kesalehan Anda.
Lah iya, Maria Ozawa sudah ngeseks bebas dengan banyak pria, di depan publik lagi, dibisniskan pula seksnya, secara spiritual kehormatannya sebagai wanita di mana? Namun adil tidak adil ini alam material, dari awal tumbuh memang Maria Ozawa itu cewek cantik yang punya popularitas, kecantikan dan kekayaan, eeh begitu pensiun dari artis bokep, ia punya pacar ganteng kaya raya. Enaknya makin nambah-nambah, kan? Alam material tidak perhatikan dimensi spiritual Anda.
Nasib Maria Ozawa yang begitu kan bikin iri. Iya, nggak?
Di atas saya jelaskan, karakter orang lemah itu mudah mengalah dan neriman, tapi mereka hidupnya makin bablas dalam penderitaan dan masalah. Padahal khasanah pitutur Jawa mengatakan, “Wani ngalah luhur pungkasane,” artinya berani mengalah itu akan berakhir mulia, tapi mereka yang kadung lemah malah makin menderita dan makin sempoyongan.
Itu karena begitu secara material Anda lemah, Anda terus melemah pula dalam menyedot energi material alam semesta. Makin kalah makin melemah, makin lemah dan lemah.
Habib Rizieq, Denny Siregar, Fadli Zon, Gus Yaqut, yang mereka tidak pernah mau mengalah malahan makin kaya dan diikuti orang. Anda yang apa-apa kalah malah makin belangsak miskin.
Nah di sini bagaimana Anda mengolah power spiritual Anda dengan power material Anda menjadi satu kesatuan, agar kemudian mengalahnya Anda itu menjadi “luhur pungkasan”, bukan asal-asalan mengalah.
Mengalah yang bablas jadi kekalahan lalu jadikan Anda makin lemah itu mengalah karena dipicu rasa lemah. “Lah aku wong cilik, ngalah aja lah,” misal begitu. Intinya mengalah yang dipicu rasa tidak berdaya, sementara ia sendiri tidak punya mental pemenang.
Mengalah yang seperti itu akan terus mengurangi nutrisi material alam semesta, dan hukum yang terjadi batang pohon yang tumbuh kerdil makin kerdil.
Berarti biar mengalahnya Anda kirimkan nutrisi “luhur pungkasan”, kirimkan kemenangan, itu bagaimana? Caranya ya Anda harus teguhkan hati bahwa nanti Anda akan menang, Anda punya mental pemenang.
Pak Jokowi misalnya, beliau dicaci-maki tidak pernah membalas, kelihatan sangat mengalah, tapi keteguhan hatinya kokoh untuk menjadi pemenang dan penguasa. Beliau diam dan mengalah, hasilnya presiden 2 periode.
Jadi punya “mental pemenang” di dalam diri Anda agar mengalahnya Anda itu tidak terpapar sistem “yang lemah makin lemah”.
Mengalah yes, lemah no!

Leave a Reply