Ada salah satu teman saya yang sangat tersinggung dengan rasa berat hati kuat ketika hadapi tanggung jawab di 2 hal; 1). Bayar pajak. 2). Ditilang polisi.

Anda ingin jadi bos harus tahu resiko menjadi bos sehingga bisa menyiapkan mentalnya. Resiko bos itu membayarkan orang lain, dari menghidupi orang lain dengan penghasilan tertentu hingga harus siap terjebak menraktir. Bila mentalitas Anda tidak bisa nyaman dengan resiko jadi bos, selamanya Anda terpental dari posisi itu karena terjadi pertarungan di dalam diri, terjadi getaran saling sabotase di dalam diri. Satu getaran inginkan kaya dimana kaya berarti berposisi bos, sisi lain disabotase mental asisten yang selalu dibayari.

Mereka yang berposisi bos memang punya mentalnya, dan pula mereka memang nyaman membayarkan orang, bahkan punya rasa bangga sebagai orang yang terjebak menraktir dimana-mana.

Nah orang yang nyamannya ditraktir dan dibayari, itu mentalitas asisten. Kalau nyamannnya di situ yakni dibayari berarti kenyamanannya di level asisten, resikonya untuk bergeser ke level bos akan sangat sulit.

Segala hal ada mentalitasnya dulu, baru nyaman di posisi itu, lalu realita kehidupan baru akan mewujudkan dan menyingkronkannya.

Dimana-mana posisi orang dhuafa itu disubsidi negara. Kebijakan subsidi semuanya diturunkan untuk rakyat yang lemah. Ada BBM subsidi, kendaraan subsidi, transportasi subsidi, listrik subsidi, rumah subsidi, gas subsidi, layanan kesehatan subsidi, semua kebijakan subsidi untuk rakyat lemah.

Dimana-mana posisi orang kaya adalah bukan orang yang disubsidi negara, tapi malah menyubsidi negara, mereka aset negara yang mengkayakan negara. Orang kaya bayar pajaknya banyak. Ada pajak rumah, ada pajak kendaraan, ada pajak tanah, ada pajak perusahaan, ada pajak perdagangan, dan lain-lain semua itu sistem untuk mengkayakan negara. Itu bagian dari resiko orang kaya.

Selamanya Anda tidak nyaman menjadi bos kalau mental Anda tidak nyaman dengan resiko traktir dan hidupi orang, selamanya pula Anda tidak akan jadi orang kaya kalau mental Anda tidak nyaman dengan resiko orang kaya yang harus mengkayakan negara dengan pajak.

Saya sendiri boro-boro tertarik dengan aneka jasa subsidi yang ditawarkan negara. Untuk gas, saya anti gas hijau. Listrik, saya anti yang 450 watt. BBM, saya anti perlalite dan solar. Layanan kesehatan, saya pilih pakai biaya umum. Mobil, saya hindari jenis LCGC. Bukan bermaksud gembelengan, tapi saya harus terus siapkan mental saya di level orang kaya, saya harus mempertegas diri kepada negara. Saya bangga kalau saya bisa mengkayakan negara, bukan dibantu negara, itu yang terus saya pertegas.

Anda yang masih tersinggung dengan pajak, apa nggak malu, karena selamanya pajak itu untuk rakyat yang kaya, subsidi itu untuk rakyat lemah. Pertegas mental Anda, di posisi mana Anda akan memposisikan diri.

Demikian pula kepada agama. Kalau mau kaya ya Anda harus pertegas diri Anda kepada agama. Selayaknya orang kaya itu bayar zakat, bukan terima zakat. Selayaknya orang kaya bayar qurban. Selayaknya sembelih aqiqah. Selayaknya biayai umrah dan haji. Selayaknya wakaf, infaq dan sedekah.

Tentu memulai dari yang wajib dulu, yakni zakat. Lalu lanjut ke yang sunah tetapi yang ringan-ringan seperti infak shalat Jumat. Kemudian lanjut ke sunah yang agak berat seperti qurban dan aqiqah. Setelah dirasa mampu lanjut dengan yang berat-berat seperti daftar umrah, naik haji dan wakaf.

Kaya itu dimulai dari mental, seperti halnya menjadi bos dimulai dari mentalnya bos yang mereka bangga bila membayarkan orang lain, karena itu kepada negara dan agama, Anda pun harus pertegas diri bahwa Anda kaya dengan membangun mental, “Saya bangga bayar pajak. Saya bangga bayar wakaf, zakat dan sedekah.”

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *