Sudah lumrah kan diberi motivasi agar cekatan, disiplin tinggi dan fokus? Kali ini saya beri motivasi yang berbeda, motivasi malas.
Kalau Anda dipangil majikan supaya bersihkan rumah, lalu Anda cekat-cekat kerjanya, tugas jadi cepat selesai, kan? Cepat tuntas?
Kalau sudah tuntas, lanjutan proyeknya apa lagi? Ya Anda pulang.
Beda kalau Anda kerjakan tugasnya lambat, entar-entaran, kerjaan akan tidak kunjung tuntas.
Mungkin bersihkan rumah, kalau Anda cekatan dalam sehari selesai, tapi kalau Anda lelet bisa jadi 2 hari baru selesai.
Kecepatan selalu bermekanisme lekas tuntas, kelambatan selalu bermekanisme memperlambat, itu sudah jadi sistem alam.
Tidak bisa dipungkiri, cepat selesai jadi cepat sampai tapi cepat pulang.
Saya ada salah satu saudara yang beliau sejak mondok di pesantren punya disiplin waktu sangat tinggi, selalu rajin dan cekatan dalam menimba ilmu, konsisten dan fokus. Disiplinnya pada waktu sangat tinggi.
Setelah menikah, ia mendirikan pesantren. Beliau pun sangat tinggi disiplinnya; disiplin mengajar, disiplin waktu. Pesantrennya pun berkembang sangat pesat.
Di usia 51 tahun, beliau sakit, selang 3 bulan kemudian beliau wafat.
Nah itu cepat tuntas, cepat sampai, ya cepat pulang.
Hidup Anda itu sudah ditulis rezekinya berapa, popularitasnya hingga berapa kapasitasnya, kalau Anda cekatan dan gesit, ya jadi cepat tuntas. Kalau jatah rezeki, jatah prestasi, jatah pengaruh, dan lain-lain cekatan diambil, sehabis tuntas ya Anda dipanggil pulang.
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (H.R. Ibnu Majah).
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,
وَالخَلْقُ مَيِّتُوْنَ بِآجاَلِهِمْ عِنْدَ نَفَادِ أَرْزَاقِهِمْ وَانْقِطَاعِ آثَارِهِمْ
“Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”
Kalau Anda lihat orang sukses, usianya hanya di angka 50-an, itu orang yang melaju cepat, kurang malas. Ia meluncur cepat, pekerjaannya cepat selesai, semua jatah hidupnya baik rezeki, popularitas, pengaruh, dan lainnya cepat diselesaikan. Cepat selesai, cepat pula sampainya, akibatnya cepat pulang.
Jadi Anda yang merasa kerap dihadang rasa malas, bersyukurlah, karena itu artinya Anda memperlambat penghabisan jatah yang akan Anda ambil, memperlambat tugas selesai. Lambat sampai, lambat tuntas, lambat pula pulangnya, hehehe.
Kurakura jalannya lambat, segalanya lambat, usianya bisa mencapai lebih dari 100 tahun. Kancil yang serba cepat, usia 4 – 5 bulan sudah memasuki usia dewasa, Anda bisa takar sendiri jatah usia untuk kancil.
Kadar rezeki, kadar pengaruh, kadar popularitas, dan semua jatah yang dituliskan itu sesuai cita-cita dan impian Anda. Maka ini jatah rezeki yang harus dihabiskan antara Anda dengan Erick Thahir, misalkan, itu berbeda-beda. Mungkin impian Anda kalau kaya rezeki itu sekedar punya mobil dan rumah, tapi Erick Thahir bermimpi kaya itu harus punya harta 1000 trilyun.
Nah dalam mencapai impian ini lah, kalau Anda gesit dan cekat-cekat, maka Anda cepat sampai, cepat tuntas. Sudah tuntas ya diminta pulang.
Namun kalau Anda suka “entar-entaran”, Anda sampainya ke gol cita-cita menjadi lambat, lambat sampai, lambat tuntas. Belum tuntas, sedikit alasan untuk panggil pulang.
Bisa jadi Joe Biden yang sampai ke gol cita-cita jadi presiden AS di usia 78 tahun, itu karena ia suka lambat, hehehe. Tapi itu jadi panjang usia.
Yang jadi masalah yang cita-citanya kecil, jatahnya sedikit, ditambah malas. Sudah lambat, jatah untuk diambil cuma sedikit.
Namun ini cuma “ilmu titenan” (pengamatan), semuanya wallâhu a’lam.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply