Hati Anda dengan seisi kesadarannya itu selalu bergerak. Dihina orang, hati Anda bergerak tersinggung. Ditipu orang, hati Anda bergerak membenci. Dipuji orang, hati Anda bergerak tersanjung. Menjadi pemenang, hati Anda bergerak bangga. Lihat bangunan rumah mewah, hati Anda bergerak mencintai. Lihat ruangan rumah kotor, hati Anda bergerak risi dan jijik. Dan seterusnya.
Hati Anda aktif bergerak merespons segala kejadian dalam hidup Anda, buruk dan baik, susah dan senang, hitam dan putih, semua direspons oleh hati Anda dengan melakukan pergerakan emosi, pergerakan kesadaran dan perasaan.
Gerak itu butuh energi, ketika pergerakan hatinya terus menerus aktif, akan berpotensi menguras energi hidup Anda.
Titik masalahnya ketika pergerakan hati Anda terlampau aktif dan agresif. Bertemu dengan pendengki, Anda membenci sehebat-hebatnya, lalu dengan rasa marah berpikir lakukan serangan balik. Bertemu haters, Anda sangat sakit hati lalu marah-marah jengkel, sangat tersinggung. Bertemu orang yang kurang etika, Anda tersinggung berat lalu menyinyirinya di belakang dengan ketus. Bertemu pesaing karir, Anda gelisah mendalam, khawatir dan ketakutan.
Nanti ketika Anda bertemu fans dan pengagum, Anda girang euforia. Bertemu dengan keberuntungan, Anda gembira bersuka ria. Bertemu dengan kemenangan, Anda bertepuk dada. Dan seterusnya.
Betapa bising dan berisiknya hati Anda? Siapa yg betah terus-terusan di situasi bising dan berisik? Dengar suara mesin gergaji kayu selama sejam dua jam saja sudah banyak yang risi.
Anda pikir sendiri, kira-kira pergerakan hati yang bising begitu menguras energi, tidak? Capek, tidak?
Energi terkuras hanya untuk membenci yang tidak disukai, terkuras hanya untuk mencintai yang disukai, terkuras hanya untuk stres dan panik untuk yang ditakuti dan dikhawatiri, terkuras hanya untuk bergembira ria dengan keberuntungan yang diperoleh, terkuras hanya untuk melayani pencaci dan pemuji Anda.
Dalam keadaan begitu, kapan Anda punya energi untuk menguatkan dan memberdayakan hidup Anda? Anda bisa mati lemas duluan sebelum Anda bergerak membangun hidup Anda.
Di titik itu hati Anda butuh didiamkan.
Nah sekarang barangkali hidup Anda sedang sunyi dari rezeki? Bisnis sepi, dagangan tidak laku, orderan sepi, pekerjaan susah didapatkan, cobalah dicek ke dalam, jangan-jangan hati Anda selama ini terlalu banyak keluarkan energi gerak sehingga terlalu gaduh dan bising di dalam. Barangkali kalau benci, kalau cinta, kalau sedih, kalau gembira terlampau bising. Apapun yang terlampau bising tidak ada yang betah mendekati. Termasuk rezeki enggan mendekat.
Saat rasakan fluktuasi kebisingan hati, usap-usap dada Anda sambil ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan, iringi dengan istighfar. Setelah itu “jangan dibeli” apapun situasi yang lewat di hati Anda dengan respons berlebih, biarkan hati lengang tanpa menilai apapun terhadap baik dan buruk situasi di luar hati. Itu salah satu trik diamkan hati dari kebisingan emosi berlebihan.
Sebab kalau terus-terusan berhati bising, apapun tidak betah mendekat, termasuk rezeki.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply