Anda yang sudah alami perubahan hidup lalu baca kisah-kisah ini, Anda akan berkata, “Oh iya saya alami itu.” Dan kalau Anda merasa mengalaminya itu pertanda di dalam diri Anda ada sirkulasi harmoni antara spiritual dan material.

 

Alkisah, dia sekarang kaya raya. Memulai karir sebagai sales roti kacang hjiau, jualan dari toko ke toko dengan kompensasi bagi hasil. Di tahun pertama, sebulannya paling berpenghasilan bersih 800 ribu – 1 jutaan.

 

Yang namanya ditolak calon pelanggan, dicuekin calon pelanggan, diditarget penjualan sama juragan, sudah jadi makanannya. Belum lagi kehujanan, kepanasan, sudah jadi kewajiban. Pahit.

 

Duit kecil, tapi ya dijalani saja karena dia sudah punya anak istri.


Hingga di tahun kelima, saat itu penghasilannya sudah naik antara 1,5 – 2 juta perbulan. Jaringan jualannya sudah makin meluas.

 

Dia lumayan lugu orangnya, maklum cuma lulusan SMP dan lahir dari keluarga pas-pasan, sehingga dia yang kuasai pasar penjualan, tapi dia tetap saja menjualkan roti produksi si juragan, ia tidak pernah sadar, kalau jaringan pasar penjualannya kalau dia juali produknya sendiri, dia akan lebih punya duit.

 

Di tahun ketujuh, juragannya wafat di usia muda. Dia pun bingung kehilangan penghasilan. Lalu dia coba-coba produksi roti sendiri dan dijual ke jaringan pasarnya. Dan dalam 2 tahun, usaha rotinya melesat dengan cepat. Hingga kini, ia sudah jadi juragan roti kaya bahkan sudah merambah ke usaha-usaha lain.

 

Artinya selama 7 tahun, ia kerja tulus demi hidupi anak istri. Dia yang lugu tidak pernah bertanya hasilnya berapa, ada uangnya atau tidak, yang ada di hatinya cuma, “Aku harus menafkahi anak istri dengan cara yang bisa aku lakukan.” Selama ini ia tidak bekerja untuk uang, ia hanya konsisten memberi nafkah terbaik untuk anak istrinya.

 

Alkisah, dia sekarang menjadi ulama kaya. Memulai karir dakwah dengan mengampu pengajian rutin 2 mingguan di dua tempat sambil ngajar ngaji beberapa santri yang berniat nyantri kepadanya.

 

Lima tahun kemudian, salah satu tempat pengajian rutinnya, pimpinan rombongan ngajinya yang seorang haji kaya, wafat. Namun masyarakat di sana masih ingin melanjutkan pengajiannya. Lantas salah satu jamaah menanyakan, “Selama ini, sama pimpinan rombongan, Anda dikasih pesangon berapa?”

 

Si kyai cuma bisa cengar-cengir, tidak enak hati jelaskan apa adanya. Karena selama ini tidak ada amplop apapun, paling cuma rokok 2 bungkus. Namun karena si kyai merasa itu adalah misi dakwah, ia hanya bisa jalani dengan konsisten demi perjuangkan agama Allah.

 

Dan bersamaan dengan itu, pondok pesantren si kyai pun maju pesat. Jaringan bisnis si kyai juga merambah macam-macam.

 

Karena didesak untuk menjelaskan, si kyai jadinya jawab apa adanya. Masyarakat pun melongo dan geleng-geleng kepala.

 

Akhirnya masyarakat di sana pun melanjutlan pengajian rutinnya, tentu dengan pikirkan ganti energi bensin dan ilmu si kyai.

 

Artinya si kyai selama ini bekerja tidak untuk uang, ia konsisten dakwah di jalan Allah.

 

Alkisah, ia sekarang seorang author dan motivational speaker. Sebelum mencapai karir ini, dia hanya ingin berbagi ilmu ke publik melalui artikel-artikel yang ia unggah ke Facebook.

 

Sudah tidak ada bayaran, kerjaannya dinyinyiri netizen, disangkal, direndah-rendahkan netizen, serta segala hiruk-pikuk medsos ia alami semua.

 

Namun karena passionnya kepada ilmu, bakat author-nya ia asah terus dengan konsisten menulis di medsos.

 

Tiga tahun kemudian ia mulai menjadi motivational speaker. Dan saat itu hidupnya, baik karir maupun duitnya mulai berubah.

 

Artinya, selama 3 tahun, seperti apa capeknya berkarya menulis, dan dengan kondisi tidak ada harapan ada aliran uang, namun karena kecintaannya kepada ilmu, ia tetap konsisten berkarya di medsos. Ia tidak bekerja untuk uang.

 

Nah saya rasa, Anda yang sekarang sudah sukses, lalu baca kisah-kisah di atas, pasti cuma bilang, “Oh iya saya alami itu.”

 

Nah kenapa sih untuk tundukan uang harus ada proses seperti di atas? Proses dimana Anda kerja namun tidak ada uangnya, kalaupun ada uangnya kecil sekali? Dan proses tersebut tidak sebentar, tapi tahunan.

 

Itu karena jiwa Anda didesain untuk merajai dan berkuasa penuh atas sistem materialisme uang di alam semesta. Uang hadir di alam semesta ini karena kehadiran Anda di planet ini. Di Mars tidak ada kehadiran Anda disana, sistem ekonomi pun tidak bisa jalan. Beli pulsa di Mars tidak ada karena tidak ada “telepon”.

 

Kenapa telepon di sana tidak ada? Karena manusia tidak hadir di sana. Jadi sistem materialisme uang di alam semesta diciptakan untuk layani Anda, kehadirannya semata-mata untuk menjadi pelayan Anda.

 

Sebab itu desain alam semesta telah menempatkan Anda sebagai raja dan penguasa atas materialisme uang. Legitimasi Tuhan atas takdir ini jelas;

 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

 

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)

 

Istimewanya, bukan cuma materialisme uang yang ditundukkan untuk Anda, sistem spiritualisme akhirat juga didesain tunduk kepada Anda. Surga dan neraka didesain tunduk melayani Anda.

 

Dalam kitab Tafsir Ibn Katsir diriwayatkan beberapa hadits tentang protesnya malaikat atas sistem pengistimewaan manusia ini.

 

Malaikat pernah protes kepada Tuhan dengan pengistimewaan manusia ini. Malaikat merasa dirinya sama sekali tidak istimewa. Betapa tidak, manusia di dunia sudah diberi segalanya, makanan enak, waktu istirahat, bisa nikah dan ngeseks, punya uang, dan segala kuasa dunia, sementara malaikat tidak, mereka hanya disuruh sujud dan bertasbih, boro-boro diberi kesempatan ngeseks, diberi kesempatan istirahat saja tidak.

 

Sebab itu malaikat protes, manusia sudah diberi kebaikan di dunia, maka sebaiknya kebaikan di akhirat diberikan kepada para malaikat sebagai penyeimbang. Namun Tuhan tetap gunakan kebijakan otoriter-Nya dengan menolak tegas protes malaikat-Nya.

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ الْمَلَائِكَةَ قَالَتْ: يَا رَبَّنَا، أَعْطَيْتَ بَنِي آدَمَ الدُّنْيَا، يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ وَيَلْبَسُونَ، وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَلَا نَأْكُلُ وَلَا نَشْرَبُ وَلَا نَلْهُو، فَكَمَا جَعَلْتَ لَهُمُ الدُّنْيَا فَاجْعَلْ لَنَا الْآخِرَةَ. قَالَ: لَا أَجْعَلُ صَالِحَ ذُرِّيَّةِ مَنْ خَلَقْتُ بِيَدِي، كَمَنْ قُلْتُ لَهُ: كُنْ، فَكَانَ

 

“Dari Abdullah ibn Amr dari Nabi SAW telah bersabda: Sesungguhnya malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami, Engkau telah memberikan dunia kepada anak Adam; mereka dapat makan, minum dan berpakaian di dalamnya. Sedangkan kami hanya bertasbih dengan memuji-Mu, tanpa makan, minum, dan bersenang-senang. Maka sebagaimana Engkau berikan dunia kepada mereka, maka berikanlah akhirat bagi kami.” Allah berfirman, “Aku tidak akan menjadikan kebaikan keturunan orang yang Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku seperti kebaikan makhluk yang Aku ciptakan dengan “kun” (jadilah kamu!), lalu “fa kâna” (terjadilah ia).”

 

Dalam hadits lain yang dianggap gharib oleh ulama diriwayatkan;

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا شَيْءٌ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ ابْنِ آدَمَ”. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ؟ قَالَ: “وَلَا الْمَلَائِكَةُ، الْمَلَائِكَةُ مَجْبُورُونَ بِمَنْزِلَةِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ

 

“Dari Abdullah ibn Amr mengata­kan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Tiada sesuatu pun yang lebih dimuliakan oleh Allah pada hari kiamat selain dari anak Adam (manusia). Ketika ditanyakan, “Wahai Rasulullah, para malaikat juga tidak dimuliakan-Nya?” Rasulullah SAW menjawab melalui sabdanya: Malaikat pun tidak, mereka adalah makhluk yang dipaksa, ke­dudukannya sama dengan matahari dan bulan.”

 

Sedemikian cantik desainnya, kenapa di dunia ini malahan begitu banyak yang belangsak jadi budak materialisme uang?

 

Gambarannya seperti Shizuka Minamoto artis porno jepang, rekan Maria Ozawa. Minamoto lahir dengan IQ 130. IQ-nya super tinggi. Namun kecerdasan IQ bawaan lahirnya hanya gratisan hidup, ia masih harus memperjuangkan agar IQ tingginya menjadi karakter ilmu bermanfaat. Namun di situ ia tidak memperjuangkannya, malahan ia ngacir membintangi film-film JAV.

 

Demikian pula desain Anda sebagai raja diraja sistem materialisme uang, bekal penciptaannya sudah ada, tinggal Anda mau memperjuangkannya atau tidak untuk menemukannya.

 

Nah agar Anda tidak belangsak jadi budak uang, Anda perlu diproses agar jiwa Anda tidak mengabdi kepada uang. Anda pun diproses kerja untuk uang atau untuk apa?

 

Dengan kerja capek tahunan namun tidak ada uangnya, di situ Anda teruji, karena tidak ada uangnya tidak apa, kok tetap kerja? Berarti kerja Anda konsisten bukan untuk uang.

 

Derajat Anda jauh lebih mulia dari uang, sudah seharusnya Anda bekerja untuk value yang lebih tinggi dari uang. Kerja untuk sebuah makna.

 

Karena sistem kemaharajaan Anda di alam semesta inilah, kalau Anda kerjanya untuk uang, Anda tidak akan dapat apa-apa, selain capek dan putus asa, dan malahan uangnya enggan-engganan mendatangi, sebab uangnya sendiri bingung dan stres, uang merasa diciptakan sebagai pembantu dan pelayan Anda, eeh malah Anda tidak bermental majikan tapi bermental pembantu dan pelayan. Ibaratnya sudah hadirkan ART, eeh malahan Anda yang cucikan baju si ART, kan error?

 

Kerja untuk uang itu contohnya, bagaimana? Kerja 4 bulan keluar, katanya bayarannya kecil. Buka lapak dagangan 5 bulan tutup, katanya hasilnya kecil. Mau buka usaha tidak jalan-jalan katanya tidak punya modal. Mau nikah asal calon suami kasih mahar gede. Dan seterusnya.

 

Anda masih belangsakan duitnya? Coba cek ke dalam diri, barangkali atensi kerja dan aktifitas Anda masih untuk uang. Bakat melarat itu karena kerjanya masih untuk uang.

 

Cara merubahnya, bagaimana? Ya dengan Anda bekerja untuk sebuah komitmen. Komitmen untuk dakwah, komitmen untuk cukupi keluarga, komitmen untuk sukses, komitmen untuk sebuah pengabdian negara, dan seterusnya. Bekerjalah untuk sebuah komitmen.

 

Jadi siapa bilang menjadi kaya itu hubbud dunyâ? Justru semangat untuk kaya jalan melepaskan diri dari cinta dunia, khususnya melekat pada uang, sebab dalam proses menjadi kaya itu Anda akan diuji dulu untuk melewati masa-masa kerja yang bukan untuk uang, namun untuk sebuah komitmen.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *