Author name: gus banan

MEI 2023

RESIKO YANG SELALU KAYA

Syarat kepemilikan itu karena Anda bisa membayar. Anda memiliki mobil karena Anda telah sanggup membayar harganya. Sesuatu yang belum Anda bayar harganya tidak bisa dimiliki. ย  Kekayaan itu status kepemilikan, berarti syarat kaya adalah memiliki, sementara untuk memiliki harus sudah membayar. Yang kaya tanah tentu ia yang banyak bayar tanah, dan seterusnya. ย  Citra orang kaya tentu citra kekuatan daya beli, dan membeli itu artinya membayar, sehingga ujung-ujungnya yang paling banyak membayar adalah orang kaya. Sebentar-sebentar bayar mobil, sebentar-sebentar bayar tanah, sebentar-sebentar belanjaan. Yang kaya itu yang banyak membayar. ย  Karenanya kalau Anda ingin dibeludaki kekayaan rezeki, Anda gemarlah membayar. ย  Anda amati, seorang bos masuk warung dengan karyawan-karyawannya, si bos yang pasti terjebak bayar, tapi dia yang paling kaya, kan? Seorang bos di hari raya Idul Fitri, dia yang paling habis-habisan, tapi dia juga yang paling kaya. Ya begitulah resiko berani bayar adalah kaya. ย  Seorang pria berperan pemberi nafkah keluarga, resikonya di keluarganya ia yang paling kaya. Kalau si pria pengecut, lalu istri yang harus kerja cari dan memberi nafkah, maka yang paling kaya juga si istri. ย  Itulah resiko membayar, resikonya selalu kaya. Sebab itu sedekah selalu akan menarik kekayaan karena sedekah itu hakikatnya membayar. ย  Salah satu energi alam yang kerap digunakan untuk membayar adalah uang, namun itu cuma salah satu energi alat bayar. Energi lainnya bisa dengan otot, dengan jasa, dengan pikiran, dengan jerih payah, dan lain sebagainya. ย  Anda yang bekerja siang malam, Anda yang mengabdi siang malam, Anda yang bersabar hati, Anda yang berusaha tanpa putus asa, Anda yang jungkir balik berjuang itu semua Anda yang sedang berproses membayar. Yang membayar dan selalu lunas itu yang beresiko kaya. ย  Di depan para santri di pesantren saya, kemarin pagi baru saya sampaikan, dan kebetulan santri yang mengaji kepada saya adalah para santri senior yang sudah memasuki masa khidmah kepada guru. Mereka semua diangkat menjadi pengurus pesantren yang sibuk mengurusi adik-adik santrinya. Mereka tentu sangat capek. ย  Secapek itu, mereka tidak ada yang dibayar. Bukan kyainya tidak mampu bayar atau tidak mau bikin manajemen bayaran, tapi karena mereka para santri yang ingin mulia dan kaya hidupnya. ย  Karena itu para santri perlu ditraining untuk konsisten membayar harga. Mereka khidmah siang dan malam ke pondok pesantren dengan jerih payah dan pengabdian sebagai bentuk membayar energi telah diajari ilmu oleh guru. Dengan membayar seperti itulah mereka dimudahkan untuk kaya dan mulia, sebab hukum terkonsisten kekayaan adalah membayar. ย  Sudah berapa tahun saya menulis di media sosial dan membuat konten spiritual pemberdayaan diri? Sejak 2016 hingga kini. Tulisan dan konten tersebut saya bagikan cuma-cuma. Kenapa saya sekonsisten itu berbagi ilmu? Padahal yang bayar tidak ada, bahkan kerap dibully dan diasu-asukan orang? Jawabannya karena saya sedang membayar. ย  Ya berbagi ilmu itu energi yang saya keluarkan untuk proses membayar di kehidupan ini. Dan dengan membayar melalui sharing ilmu ke publik, efek kayanya nyata sekali. Bikin kelas training ya walaupun mahal, tapi laris manis. Dagangan saya jadi laris, orang belanja di toko saya tanpa putus silih ganti. ย  Jadi bayar! Bayar! Bayar! Lunasi! Itu resiko terkonsisten untuk kaya, baik bayar dengan harta maupun jerih payah. ย  Pingin rezeki lancar kok gemarnya yang gratisan, gemarnya dibayari orang, kerja sukanya telat mintanya gaji naik, tangan sukanya ngedeng di bawah, tanggungan hutang sukanya dilupakan, sukanya ditraktir, sukanya nebeng gratisan, sukanya minta-minta, lah mau kaya dari mana? ย  Tidak ada rumusnya kaya itu karena banyak dibayar, justru rumus kaya itu banyak membayar. ย  Tuhan Maha Kaya, kapan Anda membayar Tuhan? Justru Tuhanlah yang selalu membayar Anda, Dia selalu tempatkan Zat-Nya sebagai Zat Pembagi rezeki, Dia selalu membayar. ย  Muhammad Nurul Banan ย  Gus Banan

MEI 2023

KELAS SOSIAL RENDAH KERAP KARENA TAK PUNYA MALU

Siapa yang punya keberanian cantumkan kolom pekerjaan tetap sebagai “pengemis atau pelacur” di kartu identitas diri? Siapa coba yang berani? ย  Mengemis itu pekerjaan mapan. Pegawai kantor, apalagi di NTT sekarang ini, jam 05.00 pagi sudah harus masuk kantor, lah pengemis jam 10.00 pagi bisa jadi baru bangun tidur, dua jam kemudian baru “jalan”. ย  Melacurkan diri juga pekerjaan mapan, tak perlu ada skill khusus sudah bisa jualan. Lah Anda jualan keripik tempe, sudah repot kuasai skill produksi masih harus kuasai skill penjualan. Enakan melacur, kan? ย  Mengemis dan pelacuran sebenarnya profesi mapan, tapi kenapa tidak ada yang berani cantumkan sebagai data diri? Karena memalukan. ย  Pengemis dan pelacur punya kelas sosial rendah di tengah masyarakat karena mereka tidak punya kapasitas menjaga kehormatan diri di depan uang. Ketika melihat uang, mata mereka hijau, selanjutnya urat malunya sendiri diputus demi peroleh uang. ย  Jadi kenapa seseorang berstatus sosial rendah? Karena mereka tidak punya rasa malu ketika melihat uang. Ya barangkali mereka punya duit karena bagaimanapun mengemis dan melacurkan diri itu juga usaha, itu profesi, cuma sama sekali tidak berharga, statusnya “asor”. ย  ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽ ู‚ูุฑูู†ูŽุง ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุงุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูููุนูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ุฑูููุนูŽ ุงู„ุขุฎูŽุฑูโ€ “Sungguh rasa malu dan iman adalah dua hal yang berbarengan. Ketika salah satunya dihapus, yang lainnya pun terhapus.” (H.R. Baihaqi & Hakim) ย  Sehingga kalau ditarik ke ranah spiritual religius, kalau Anda ingin melihat orang yang tidak ada imannya, di antaranya mereka yang profesinya mengemis dan melacurkan diri, sebab rasa malu dan iman itu dua hal yang menjadi satu kesatuan, rasa malu hilang, maka iman hilang, atau iman hilang maka rasa malu pun hilang. ย  Jadi tidak punya rasa malu di depan uang itu vibrasikan energi “asor” hidup. Coba pengemis, dia tidak punya nilai tawar sosial saking rendahnya nilai dirinya, dia sudah meminta-minta dengan capek dan memelas hanya untuk peroleh 2 ribu perak, lalu ada orang yang menolak memberi tak mau berbelas kasih, apa si pengemis pantas menawar seperti sales? Mau tidak mau si pengemis harus bersikap “neriman dan asor”. Coba pelacur harus terima jadi bualan omongan jorok, semacam tok3t dan lainnya, kehormatan dan kemuliannya tidak ada. ย  Tidak punya rasa malu di depan uang itu vibrasikan energi “asor”, karena itu nyaman cari gratisan, nyamam terima bantuan sosial, nyaman tangan di bawah, gemar meminta-minta, itu semua bila menjadi kegemaran akan jadikan nilai tawar sosial Anda rendah. Hidupnya berposisi asor, dan selanjutnya disebut dhuafa (orang-orang lemah). ย  Alkisah ada pemuda dari keluarga tak mampu yang keluarganya punya banyak sekali masalah hidup. Karena terlihat menganggur, ia ditawari kerja oleh pakdenya sendiri sebagai pelayan tokonya. ย  Si pakde tidak begitu butuh ambil karyawan keponakannya, namun rasa ingin membantu sangat besar, sehingga walaupun pembiayaan lebih besar tetap dieksekusi. ย  Biaya pakai tenaga keponakan lebih besar ketimbang pakai karyawan biasa karena tempat tinggal si keponakan jauh, kemudian dia punya 3 anak cewek sehingga tidak ada sisa kamar di rumahnya. Ia pun berinisiatif ambilkan kos kamar untuk keponakannya. ย  Sebab takut jadikan hati keponakannya tidak nyaman karena disewakan kos spesial, si pakde pura-pura sewa kos untuk untuk studio musiknya sebab ia musisi dangdut juga. Disewa untuk studio musik, lalu si keponakan disuruh menunggui studionya. Itu judul yang dipakai. ย  Di pedesaan sekedar jadi pelayan toko tentu tidak pakai UMR, tidak seperti di perkotaan, karena itu gajinya tidak cukup kalau dipakai juga untuk makan sehari-hari. Karena itu pakai keponakan sendiri, si pakde harus menanggung makan di rumahnya. Padahal pakai karyawan biasa, di desanya tidak perlu uang makan, cukup gaji bulanan, pakai keponakan si pakde harus menjamin makannya. Namun karena rasa ingin menolong saudara, walaupun resiko pembiayaan lebih besar, tetap dijalani. ย  Belum lagi karena dia keponakan sendiri, si keponakan diberi akses berbeda dengan karyawan biasa. Ia dilatih menyetir mobil pakai mobilnya, dilatih editing video dan desain grafis agar bisa jadi asisten digital video-video dangdutnya. Dan jelas, ketika si keponakan terlihat habis duitnya ya dikasih pesangon untuk menyambung rokoknya, kalau si pakde dari manapun ya si keponakan dikasih oleh-oleh spesial, dari baju, sandal, kaos, dan lainnya. ย  Nah ketika dilatih shoting dan editing video ini, pakdenya menugaskan untuk bikin channel youtube dan agar diurus oleh keponakannya agar nantinya kalau sudah mahir bisa jadi asisten digitalnya sehingga duitnya tidak hanya mengalir sebagai karyawan toko tapi juga ada sampingan asisten. Perjanjiannya nanti bagi hasil 40% dari hasil monetisasi youtube. ย  Jelang satu tahun, si keponakan mulai terlihat watak aslinya, malam hari suka begadang sehingga masuk kerja di toko kerap telat-telat. Awalnya ditegur biasa, tapi tidak ada itikad berubah. Sebulan kemudian diakali dengan potong gaji karena telat, tidak juga berubah. Masuk bulan ke-3 pakdenya bersikap tegas. Ia menegur langsung dengan tegas. ย  Di sini justru si keponakan melawan dengan diam-diam. Ia tidak berani membantah langsung, tapi ia tetap tidak mau disiplin masuk kerja. ย  Di bulan berikutnya si keponakan memang sudah tidak berniat ikut pakdenya lagi. Ia mengundurkan diri. ย  Dan yang kacau, orang tua si keponakan melabrak si pakde via telepon, menuduh pakdenya tidak mau bayar tenaga editing video youtubenya dan tidak rela anaknya disikapi tegas karena melawan diam-diam ketika ditegur suka tidur pagi dan telat masuk kerja. ย  Padahal sudah jelas, channel youtube belum lama monetisasi, duit belum ada, dibayar dengan bagi hasil 40% belum puas. Karena itu ortunya melabrak. Dalam labrakan si pakde diposisikan sebagai rentenir yang dituduh mengzalimi karyawan. ย  Dan lagi dilabrakannya, si pakde dituntut bagaimana nanti kalau ada konten youtube yang viral, dia tidak kebagian apa-apa, duitnya hanya dimakan si pakde. ย  Untung si pakdenya ini orang tegas, ia merasa membantu sebaik mungkin, dilabrak begitu, ia langsung ia langsung mengerti, “Ini anak dan bapaknya tidak punya malu, tidak punya harga diri. Tahunya cuma hukum buruh. Iya, makan tiap hari di rumah orang, menempat gratis di rumah orang, difasilitasi hidup seperti anak sendiri, dibelajari komputer, setir mobil, eeh yang punya rumah nyuruh cucikan piring malah, yang punya rumah disuruh bayar sebagaimana bayar ART,” begitu batin pakdenya. ย  Pakdenya hanya suruh editing video youtube, dan si pakde sudah mempertimbangkan pertukaran energinya. Dia sudah difasilitasi sebagaimana anak ya layak lah kalau dia disuruh bantu-bantu cuci piring

MEI 2023

ENERGI KAYA ITU KEKUATAN DAYA BAYAR

Secara materi orang yang menrakrir orang lain itu orang yang kehilangan uang, ia rugi. Ya uang di dompet teman-temannya utuh, uang di dompetnya berkurang, secara materi menraktir itu merugi. Namun berbeda ketika ditakar secara energi. ย  Secara energi, orang yang menraktir itu orang yang membayar. Anda tidak punya kekayaan berupa motor, namun karena Anda mampu membayar harganya, Anda jadi memiliki kekayaan berupa motor. ย  Nah orang menraktir itu orang yang membayar secara sosial, siapa yang membayar, ia yang memiliki. Yang memiliki, ia yang kaya. Karena itu orang yang menraktir karena ia telah membayar, maka secara energi ia orang yang diuntungkan, walaupun secara materi dirugikan. ย  Terbalik yah keuntungan secara nilai materi dan energi? ย  Materi lahir karena adanya energi, karenanya kalau energi Anda di dalam membayar itu besar, Anda pun berenergi kaya, maka energi tersebut yang lalu mendorong wujudkan kekayaan di dunia materi. ย  Anda merasa sangat susah rezekinya? Ya karena Anda tidak punya energi kayanya. Kalau energi kayanya kosong, bagaimana materinya terwujud? ย  Menghimpun energi kaya itu identik dengan membayar, yang di keterangan di atas saya gambarkan dengan menraktir. Makin Anda kuat pembayarannya, energi kaya Anda makin terhimpun kuat. ย  Sebab itu sedekah disebut tidak lah mengurangi harta, justru menambah harta, sebab sedekah itu membayar. Kapan membayar, Anda sedang update energi kaya. ย  ู…ูŽุง ู†ูŽู‚ูŽุตูŽุชู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงู„ู “Sedekah tidak mengurangi harta”. (H.R. Muslim) ย  Miskin itu disebabkan daya bayarnya lemah. Anda tidak punya harta ini dan harta itu karena Anda tidak mampu beli, kan? Tidak mampu beli karena Anda tidak mampu bayar. ย  Orang jadi miskin memang karena sejak awal daya bayarnya lemah. Saya bolak balik kasih bantuan modal kepada orang miskin yang sedang bingung usaha, ya saya hutangi tapi bayar hutangnya silakan seenaknya, yang penting usahanya jalan dulu. Ada yang gabung dengan satu MLM, terlihat jalan sebulan dua bulan, selanjutnya seperti kena sirep, tidak ada beritanya lagi. ย  Artinya dia ingin kaya tapi daya bayarnya dari segi cita-cita, kemauan, eksekusi kerja, keistiqamahan, sudah sangat lemah. Gabung MLM belum ada 3 bulan, sudah senyap. Bayarannya untuk mencapai kaya sangat lemah. Dari sisi jerih payah sudah lemah bayarannya. ย  Berawal dari bayaran dari jerih payah yang lemah, energi kaya tentu tidak terhimpun. Karena lemah energi kayanya, duitnyaโ€“sebagai wujud materi kayaโ€“pun seret. Duitnya seret, mau membayar pakai uang, entah mau sedekah, mau belanja, mau menraktir, ya tidak bisa karena tidak punya uang. ย  Diawali daya bayar jerih payah yang lemah selanjutnya wujud material uangnya seret. Uangnya seret dia tidak bayar apa-apa, tidak bisa sedekah, tidak bisa beli ini dan itu, dan seterusnya. Dan selanjutnya dia terus menerus terjebak pola kemiskinan makin dalam. Makin belangsak, miskin dan makin miskin. ย  Saya ada cerita bagaimana seorang crazy rich muda menghimpun energi kaya. Benar-benar dari nol. ย  Usai nikah ia memulai usaha rental play station, karena ia memang lulusan SMK jurusan multimedia sehingga kecenderunganya pada dunia digital lumayan besar. ย  Dalam kurun 3 tahunan, penghasilan hariannya sekitar 20 – 30 ribu per hari. Sudah begitu, ia punya prinsip gila dimana 35% hasilnya harus ia sedekahkan. ย  Tentu yang paling kerap jadi oposisi dalam hal sedekah 35% adalah istrinya. Apalagi setelah si istri melahirkan anak, kebutuhan makin bertambah, malahan duitnya yang 35% terus saja disedekahkan tiap hari. ย  Ditambah keluarganya rata-rata agamis, tidak sedikit yang mencibir usaha rental PS kurang berkah karena melayani hiburan anak-anak yang suka anggur-angguran. ย  Ganti usaha tidak semudah balik telapak tangan, butuh skill dan modal. Dicibir sebagian keluarganya, apa daya ganti usaha tidak semudah balik telapak tangan. Ia tetap uleti rental PS-nya. Hingga akhirnya perlahan ia bergeser ke bisnis warnet, dan rental PS-nya pelan-pelan ditutup. ย  Dari bisnis warnet itulah ia mulai kenal digital marketing. Ia merambah ke pasar online. Ya modal bikin website, lalu ia dropship dagangan orang. Prinsip sedekah 35%-nya tetap istiqamah. ย  Pada saat itu rata-rata bisnis warnet sudah gulung tikar termakan tehnologi mobile, namun ia sudah jalan di pasar online. ย  Dari bisnis onlinenya inilah dia mulai kenal penghasilan puluhan juta, lalu ratusan juta, dan sekarang mobil mewahnya sudah berjejer beberapa ekor di garasi. ย  Dan di titik sekarang, tiap tahun ia harus umrahkan minimal 3 orang tiap tahun, dimulai dari keluarga dan karyawan-karyawannya. Dan terus saja ia makin kaya raya, rezekinya makin banjir. ย  Nah kenapa ia terjebak kekayaan? Karena energi kayanya power full yang ia bangun sejak ia miskin. Dari cita-cita, keuletan usaha, komitmen dan dedikasinya dalam bisnis, dari jerih payah, ia besar pembayarannya. Ditambah istiqamahnya untuk selalu dermawan, minimal 35% dari penghasilannya disedekahkan. Itu ia jalani sejak miskin dan istiqamah hingga ia kaya raya. Energi kayanya terhimpun kuat. ย  Dan siapapun yang besar bayarnya, ia pasti kaya, sebab energi kaya selalu terhimpun dari daya bayar yang besar, entah bayar dengan jerih payah maupun dengan harta. ย  Sudah cita-citanya rendah, komitmennya rendah, akhlaknya buruk, ditambah irit dan pelit, suka gratisan lagi, lah dari mana bisa menghimpun energi kaya? Zonk. ย  Muhammad Nurul Banan ย  Gus Banan

MEI 2023

MEKANISME TAGIHAN ULANG MUSIBAH

Anda punya hutang berjibun, lalu Anda lari dari tanggung jawab bayar hutang, apa yang terjadi? Tentu Anda tetap akan dipaksa untuk bayar, ya terima musibah masuk penjara, terdampak masalah ruwet dan lainnya. ย  Karena itu musibah sebenarnya energi pembayaran, mekanisme bagaimana Anda melunasi sebuah kewajiban. ย  Jadi musibah ada kalanya menjadi energi pelunasan namun ada kalanya menjadi energi simpanan kekayaan yang nanti saya jelaskan satu-satu. ย  Pertama, musibah sebagai energi pelunasan itu mekanismenya sama seperti bayar hutang. Inj jenus musibah pasca bayar. Anda kalau hutang ambil energi dulu lalu bayarnya belakangan. ย  Hidup tentu tidak bisa lepas dari dosa dan kesalahan, nah dosa dan kesalahan ini yang selanjutnya harus dibayar dengan mekanisme paksa yakni musibah. ย  Orang yang mata hatinya terbuka ia akan dengan sadar melihat kesalahannya setiap ia mengalami musibah. Nah yang mata hatinya tertutup itu yang jadinya bingung, ia merasa hidup kok diamuk musibah bertubi-tubi, merasa bernasib sial, namun karena mata hatinya tertutup ia tidak bisa melihat kesalahannya sendiri, lantas menyalahkan keadaan, menyalahkan nasib, mengeluh, menggerutu, dan mungkin menyalahkan Tuhan. ย  Ada kisah seorang istri menikahi suami sukses yang telah mapan kehidupannya. Setelah 10 tahun menikah, keluarganya terkena musibah, suaminya alami kecelakaan tunggal, patah tulang kaki dan tulang pinggul. ย  Di situ dia mulai kelihatan cuci tangannya. Liontin dan perhiasan-perhiasannnya tidak boleh tersentuh untuk biayai pengobatan suami. Malahan ketika biaya rumah sakitnya tidak cukup dibiayai pakai Askes, dia memilih melimpahkannya kepada orang tua suami. ย  Bahkan dia mencoba cari untung diri dari musibah kecelakaan tunggal tersebut. Biaya pengobatan kan keluar dari Askes, eeh dia mencoba ajukan jasa raharja, kalau dana jasa raharja keluar kan jadi asa uang sisa. Cuma oleh pihak kepolisian lakalantas setempat ditolak. Niatnya cari untung sudah terlihat. ย  Selepas keluar dari rumah sakit, suami pesakitan di kursi roda, ia malah menuntut cerai, ia menganggap itu musibah suami, resikonya. Benar-benar ingin cuci tangan bersih. ย  Model hadapi musibah begitu yang nantinya akan ditagih ulang lagi dengan musibah lain yang mungkin lebih tragis dan memprihatinkan. ย  Apalagi sikap si istri yang seperti di atas termasuk sikap al-baghyu (pengecut) dimana ketika suami enak dia numpang enak, suami menderita disuruh tanggung sendiri. ย  Dan sikap al-baghyu (pengecut) itu salah satu kategori perbuatan yang hukumannya tidak ada penundaan, eksekusi dari-Nya turun segera tanpa tunda. ย  โ€ ูƒูู„ู‘ู ุฐูู†ููˆุจู ูŠูุคูŽุฎู‘ูุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุดูŽุงุกูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉูุŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุบู’ูŠูŽุŒ ูˆูŽุนูู‚ููˆู‚ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู†ูุŒ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุทููŠุนูŽุฉูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุญูู…ูุŒ ูŠูุนูŽุฌู‘ูู„ู ู„ูุตูŽุงุญูุจูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชูโ€ ย  “Setiap dosa akan diakhirkan (ditunda) balasannya oleh Allah hingga hari kiamat, kecuali al-baghyu (pengecut), durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturahim. Allah akan menyegerakannya di dunia sebelum kematian menjemput.โ€ (HR Al Hakim). ย  Kenapa ada tagihan ulang musibah? Karena musibah sebagai energi pelunasan adalah metode pembayaran hutang atas dosa dan kesalahan. Anda punya hutang lantas belum dibayar lunas, ya ditagih lagi kan? ย  Karenanya bersikap pengecut (al-baghyu) dalam hadapi tanggung jawab musibah itu justru akan memanggil terjadinya musibah lain yang lebih sadis dan mengerikan karena tagihan yang dulu belum lunas dibayarkan. Belum lunas ya pasti ditagih lagi. ย  Kalau Anda menyaksikan orang yang hidupnya kok beruntun terus didatangi musibah sebenarnya yang terjadi adalah mekanisme tagihan ulang. Ia tidak bertanggung jawab dengan resiko musibah pertama, tidak pula mohon ampunan dengan total kepada-Nya, ia malah berusaha cuci tangan. Hasilnya hutang belum lunas dibayar, ya ditagih lagi. ย  Lalu bagaimana agar musibah itu lunas sebagai energi pembayaran yang tidak menagih ulang? ย  Harus hadapi musibah dengan sikap total menyerahkan diri. Umpama ada resiko kehilangan harta, sekalipun habis-habisan ya harus dengan kuat hati dibayarkan. Umpama ada resiko sakit ya harus dengan sabar dijalani dengan segala konsekuensinya mulai dari biaya berobat, rasa sakit dan sumpek, semua harus dijalani dengan kuat hati. ย  Umpama ada resiko dihukum, diadili, dipenjarakan, ya harus dijalani. Umpama ada resiko harus minta maaf ya harus minta maaf, tanggalkan gengsi diri. Dan seterusnya. ย  Dan istighfar dan taubat kepada-Nya juga harus benar-benar konsekuen, tidak main-main, harus banyak-banyak istighfar. ย  Barada Eliezer paling berbeda vonis hukumannya dengan Ferdy Sambo dan cs-nya, itu karena totalitasnya Eliezer dalam hadapi resiko hukum juga sangat berbeda, ia total berada di pihak korban yakni pihak Brigadir Josua. Eliezer total membela Josua, total juga meminta maaf kepada keluarga korban. ย  Kedua, musibah sebagai simpanan kekayaan. Ini musibah yang sistemnya prabayar. ย  Ada kisah seorang yang dengan rasa tanggung jawab menghidupi keluarganya. Ia puluhan tahun jadi TKA di luar negeri, kerja di perkebunan nanas di Malaysia. Dengan keluarga penuh kasih dan tanggung jawab. Ibadah juga dia sangat taat, bahkan shalat malam dan Dhuha tidak pernah putus. ย  Satu ketika ia pulang kampung, lah pulang kondangan dengan istri, ia dan istri alami kecelakaan, tabrakan motor vs motor. Dia patah tulang kaki, istrinya patah tulang kanan dan wajahnya luka-luka parah. Untung pihak lawan kecelakaan tidak luka parah. ย  Dan setelah dengan tabah dan ikhlas hadapi musibah kecelakaan tragis, anehnya 3 tahun kemudian sesudah patah kakinya pulih, dia jadi kaya raya. Warung kelontongan kecilnya dipinggir jalan berkembang pesat. Lalu ia terkenal juragan beras karena bisnis termenonjolnya itu jual beli beras. ย  Dia tercatat orang yang berbuat baik, lah kok alami musibah setragis itu? Yang demikian itu model musibah sebagai simpanan kekayaan, sistemnya prabayar. ย  Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MEMENDAM BENCI KEPADA ORANG TUA SENDIRI

Satu ketika saya bermasalah dengan orang tua, bukan masalah sepele, yang jelas sudah menyangkut benar dan salah. Namun di tulisan ini tidak saya ceritakan kronologi masalahnya.   Di masalah tersebut jelas sekali saya di posisi benar, dan orang tua saya di posisi salah. Saya pun mengkritik orang tua dengan rasa marah, layaknya saya sedang mengkritik tetangga sebelah yang berbuat salah.   Pagi hari saya mengkritik dengan nada jengkel, sore harinya saya dituruni azab oleh Tuhan, saya kecelakaan motor hingga mengalami cidera berat di tulang pundak kanan, butuh waktu rawat 3 bulan untuk pulih.   Orang tua punya hak otoriter pada anak, salah jelas beliau salah, tapi tidak bisa dikritik oleh anak-anaknya, apalagi dikritik dan dijelek-jelekkan dengan kemarahan dan dendam. Kenapa demikian? Sebab tingginya derajat orang tua di depan anaknya, Tuhan memberi hak istimewa pada mereka.   Anak tidak punya hak mendidik, maka ini saya tidak diperkenankan mengkritik orang tua sendiri. Walaupun anak di posisi benar, lalu sok-sokan mendidik orang tuanya agar kembali ke jalan yang lurus, Tuhan akan tetap menimpakan murka-Nya kepada anak.   Lah iya, jangan dulu melihat budi orang tua pada anak, melihat kedudukan di alam semesta saja, orang tua berada di level sangat tinggi dari anak, di mana level ini paten, eksak dan permanen, tidak bisa digeser lagi. Apakah Anda sanggup melahirkan orang tua Anda? Kalau sanggup, berarti Anda bisa menggeser patennya kedudukan tinggi orang tua.   Tidak ada hak didik dari anak pada orang tua. Mau mendidik orang tua? Kurang ajar amat.   Hak anak pada orang tua ketika mereka menyakiti hati anak yang pertama adalah mengajak sharing, itupun harus disampaikan dengan adab tinggi. Umpama orang tua Anda terlalu memeras diri Anda, jatah bulanan sudah diberikan, tapi orang tua minta dibuatkan rumah yang sangat memberatkan Anda.   Di keadaan demikian, umpama Anda merasa berat melaksanakan permintaan orang tua, Anda tidak boleh menolak dengan kasar, tapi ajaklah orang tua Anda untuk sharing, ajak bicara baik-baik dengan rasa keberatan Anda.   Kalau masih belum mengerti juga, Anda harus mengalah dan diam. Permintaannya untuk buatkan rumah tetap tidak Anda turuti karena Anda memang belum mampu, tapi mereka jangan sampai Anda cela, dan pesangon bulanan yang memang sudah Anda niatkan sebagai rasa bakti tetap Anda jalankan.   Harus ajak orang tua untuk sharing ketika Anda mengalami hal-hal yang tidak Anda setujui atas orang tua Anda. Umpama lagi, Anda melihat orang tua Anda bermental kere, ajak mereka sharing dengan adab tinggi, kalau tetap tidak berubah, Anda tidak dibolehkan mengkritik tajam, namun harus dapat menerimanya dengan sabar.   Tips terakhir, paling hak Anda mendoakan orang tua agar diampuni kesalahannya, itu saja.   Cara-cara itu adalah cara-cara Nabi Ibrahim A.S. ketika berselisih paham dalam ideoligi bertuhan. Pertama Ibrahim mengajak sharing dengan adab tinggi dan santun. Ketika orang tuanya menolak dengan kasar, Ibrahim tidak membalas dengan kekasaran, Ibrahim memaksakan dirinya untuk menerima orang tuanya apa adanya.   Yang pada akhirnya Ibrahim hanya bisa mendoakan orang tuanya agar tetap diampunkan kesalahannya;   ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ุงุบู’ููุฑู’ ู„ููŠ ูˆูŽู„ููˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠูŽู‘ ูˆูŽู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู…ู ุงู„ู’ุญูุณูŽุงุจู โ€œYa Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari ditegakkannya hisab.โ€ (Q.S. Ibrahim : 41)   Pada ayat lain, doa Ibrahim untuk orang tuanya;   ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ ู„ุฃุจููŠ ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุถูŽู‘ุงู„ูู‘ูŠู†ูŽ โ€œโ€ฆ dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat.โ€ (Q.S. Asy-Syuโ€™ara : 86)   Walaupun akhirnya doa Ibrahim ditolak Tuhan, tetapi yang terpenting adalah mendoakan yang terbaik untuk orang tuanya, diijabah ataupun ditolak, itu urusan Tuhan, bukan urusan Anda.   Saya mengamati dalam kasus sehari-hari, di lingkungan ataupun di keluarga saya, orang-orang yang tidak dapat menerima orang tuanya setulus hati mereka cenderung terpuruk hidupnya, jika tidak terpuruk, kehidupan mereka stagnan di tempat. Walaupun mereka sudah bekerja keras, kreatif, dan penuh dedikasi, tetap kehidupan mereka tidak mendapat perubahan.   Pada kasus anak yang hidupnya stagnan dan tidak temukan perubahan hidup, si anak memiliki dendam pada orang tuanya. Di belakang, dia suka menjelekkan orang tuanya sendiri, walaupun tidak sampai berani menjelekan di depannya.   Memang kalau diamati, si anak benar, dia sangat tidak menerima orang tuanya bermental kere, sering buat malu dan merepotkan dirinya. Tapi itu, di alam semesta ini orang tua punya hak otoriter pada anaknya, sehingga si anak tidak bisa berkembang hidupnya.   Di kasus lain, ada yang hidupnya makin hari makin ruwet, makin hari makin terpuruk, ternyata level dendamnya pada orang tua sangat tinggi. Ketika dia berselisih masalah dengan orang tua, dia akan mengkritik orang tuanya seperti mengkritik musuh bebuyutannya. Bolak-balik azab Tuhan turun, hartanya habis untuk membiayai berbagai azab yang turun, mulai dari istrinya yang bolak-balik masuk rumah sakit selama bertahun-tahun, sampai dia sendiri yang akhirnya menerima berbagai musibah.   Itulah keputusan Tuhan, hukum paten alam semesta, sebaik apapun anak, bukan derajatnya mengkritik orang tuanya, hak anak hanya mengajak sharing orang tua, dan mendoakannya.   Apapun keadaannya, Anda harus mampu menerima orang tua Anda, menerima dengan tulus setulus-tulusnya, tanpa sedikitpun menyisakan dendam, dan walaupun orang tua Anda adalah orang terburuk di muka bumi. Kenapa demikian?   Karena Anda tidak dapat memilih dari orang tua mana Anda dilahirkan. Kalau bisa memilih, Anda tentu akan memilih lahir dari pasangan orang tua Muhammad S.A.W dan Khadijah Al-Kubra, atau dari pasangan Daud A.S dan Baseba yang kaya raya, berkuasa, dan saleh.   Tapi Anda tidak dapat memilih dari orang tua mana Anda lahir, mau tidak mau, terima tidak terima, Anda lahir dari orang tua yang sudah dituliskan oleh alam semesta. Kelahiran Anda itu otoritas kuasa yang sangat otoriter. Karena Anda dipaksa alam semesta untuk menerima dari orang tua mana Anda dilahirkan, maka ini Anda pun dipaksa untuk menerima seluruh keadaan orang tua Anda seutuhnya, tanpa tawar.   Seburuk apapun orang tua Andaโ€”tanpa tawarโ€”Anda harus menerimanya seutuhnya, sama seperti Anda menerima ketika harus lahir dari orang tua A atau B.   Setelah menerima orang tua Anda seutuhnya, Anda harus berbakti, memuliakan dan menyejahterakan hidupnya. Menerima orang tua seutuhnya itu takdir yang eksak dari alam semesta. Menerima orang tua sama artinya menerima seutuhnya Tuhan yang Anda sembah.   Demikian ini karena hanya Tuhan saja yang terlibat dalam menentukan

MEI 2023

ENERGI MERTUA VS ORTU KANDUNG

Nabi Muhammad SAW itu menantu Abu Bakar. Posisi Nabi SAW adalah anak dan Abu Bakar adalah orang tua. Kalau keduanya bertemu, kira-kira siapa yang cium tangan dengan penuh hormat? Nabi SAW sebagai anak yang cium tangan Abu Bakar, atau Abu Bakar sebagai orang tua yang cium tangan anak menantunya?   Sekarang andai Abdullah bin Abdul Muthalib; ayah kandung Nabi SAW masih hidup hingga masa kenabian Muhammad, ketika Nabi SAW sekalipun telah menjadi manusia agung ketika bertemu Abdullah, siapa yang cium tangan? Nabi SAW yang cium tangan ayah kandungnya, atau Abdullah yang cium tangan Nabi SAW sama seperti Abu Bakar sebagai ayah mertua?   Mertua dan orang tua kandung keduanya didudukan sebagai orang tua bagi anak, bedanya orang tua kandung itu orang tua sebab nasab (pertalian darah) sementara mertua itu orang tua sebab pernikahan (mushaharah).   Mertua diikatkan kepada menantu sebagai orang tua dan menantu diikatkan sebagai anak kepada mertua dikarenakan untuk menjaga ketertiban nasab. Iya masa sudah kawini anak putrinya kemudian si menantu kawini juga ibu dari istrinya? Kalau lahir anak kan jadi membingungkan mana anak mana cucu, mana istri mana orang tua. Rancu.   Karenanya hubungan menantu dan mertua diikatkan melalui sistem mahram seperti orang tua kandung sendiri atau seperti anak kandung sendiri dimana mertua tidak boleh dinikahi oleh menantu, dan sebaliknya, persis sama seperti ketidakbolehan menikahi anak kandung atau ortu kandung sendiri. Selanjutnya model hubungan mahram ini disebut mahram mushaharah.   ูˆูŽุฃูู…ู‘ูŽู‡ูŽุงุชู ู†ูุณูŽุขุฆููƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุจูŽุงุฆูุจููƒูู…ู ุงู„ู„ุงู‘ูŽุชููŠ ูููŠ ุญูุฌููˆุฑููƒูู… ู…ู‘ูู† ู†ู‘ูุณูŽุขุฆููƒูู…ู ุงู„ู„ุงู‘ูŽุชููŠ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู… ุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุฅูู† ู„ู‘ูŽู…ู’ ุชูŽูƒููˆู†ููˆุงู’ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชูู… ุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽู„ุงูŽ ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุญูŽู„ุงูŽุฆูู„ู ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุฆููƒูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ู„ุงูŽุจููƒูู…ู’ “(dan haram menikahi) ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, istri-istri anakmu dari sulbimu.” (Q.S. An-Nisaโ€™ : 23)   Jadi kenapa menantu Anda menjadi anak Anda dan mertua Anda menjadi orang tua Anda? Itu untuk menjaga sistem darah agar tertib.   Sama-sama orang tua, antara orang tua kandung dan mertua itu beda sekali energinya bahkan karma-karmanya. Seperti saya jelaskan di atas, sekalipun Abu Bakar adalah orang tua bagi Nabi SAW namun di depan Nabi SAW energi Abu Bakar berbeda dengan Abdullah sebagai ayah kandung.   Setinggi-tingginya derajat Nabi SAW tetap beliau harus merunduk kepada ayah kandung beliau, ibarat saling cium tangan saat bersalaman, Nabi SAW tetap harus mencium tangan Abdullah, power energin orang tua kandung tetap tidak bisa dilampoi oleh anak. Beda dengan Abu Bakar sebagai orang tua karena mertua, power energinya bisa dilampoi.   Makanya di Jawa yang penggunaan bahasa Jawa menggunakan strata sosial, ketika seorang mertua punya menantu orang besar itu banyak mertua di Jawa yang pakai bahasa Krama Inggil kepada menantunya, seolah seperti tidak sedang bicara dengan anak sendiri namun sedang bicara dengan guru agung.   Orang tua kandung itu orang yang mengasihi anak melampoi kasihnya kepada diri sendiri. Saya sendiri merasakan ketika anak kandung saya direndahkan oleh orang lain maka saya yang paling tersinggung, tidak rela.   Begitu pula ketika anak saya punya prestasi maka yang paling bangga adalah saya. Anak kandung itu karena ada aliran darah sendiri maka kemudian ia bukan siapa-siapa tapi ia adalah diri Anda sendiri.   Maka ini benar yang kemarin disampaikan Mas Arif Rahutomo satu-satunya orang di muka bumi yang berharap diri Anda agar lebih hebat darinya adalah orang tua kandung Anda.   Berbeda dengan mertua. Banyak mertua keberatan menantunya lebih hebat darinya, banyak mertua keberatan untuk membanggakan menantunya sendiri, itu karena hakikatnya secara energi mertua itu sama seperti tetangga, dia adalah orang lain dalam diri Anda, hanya saja karena ikatan mahram untuk jaga ketertiban perkawinan dan nasab, maka mertua diikatkan sebagai orang tua dan Anda adalah anak. Namun ikatan ortu-anak tersebut hanya mengikat secara darah tidak mengikat secara energi.   Sudah menjadi ungkapan umum, “Umah mertua kui nerakane dunya,” artinya rumah mertua itu nerakanya dunia. Atau ungkapan umum lainnya, “Mertua kui maru,” artinya mertua itu seperti istri madu, maksudnya hubungan mertua dengan menantu itu seperti hubungan antara para istri dalam satu pernikahan poligami.   Tentu tidak semua mengalami ketidakharmonisan hubungan dengan mertua, namun yang alami rumah mertua adalah “nerakane dunya” juga banyak. Itu kerap terjadi karena hakikatnya ketika seorang menantu masuk ke rumah mertua sekalipun itu disebut rumah orang tua sendiri tetapi energi yang tersebar dan tertangkap itu berbeda sekali dengan rumah orang tua sendiri.   Di rumah mertua bangun tidur agak kesiangan saja sudah makan hati, beda sekali dengan rumah orang tua sendiri, bangun jam 12 siang lalu minta uang ya enak-enak saja, sebab secara energi menantu itu tetap tetangga mertua, dan mertua tetangga si menantu. Kalau tetangga masuk rumah orang lalu menetap sekian lama, ya banyak makan hatinya.   Karena energi orang tua kandung dan orang tua mertua itu beda, karma-karmanya juga berbeda.   Karma anak kepada orang tua kandungnya itu karma mutlak, dimana ridha orang tua adalah ridha Tuhan, sebab hanya otoritas Tuhan yang terlibat dalam menentukan Anda terlahir dari orang tua mana.   Mungkin Anda akan ridha kepada Tuhan ketika Tuhan tentukan Anda terlahir dari orang tua yang baik dan memuliakan Anda, namun Anda belum tentu ridha pada-Nya ketika Anda ditetapkan terlahir dari orang tua yang buruk dan menyia-nyiakan anaknya.   Demikian pula hanya Tuhan yang tentukan Anda mau punya anak siapa. Barangkali Anda ridha kalau Anda ditentukan lahirkan anak shalih, namun ketika Dia tentukan Anda lahirkan anak bejat, apa Anda bisa ridha? Hanya Tuhan yang terlibat tentukan Anda lahir dari orang tua mana dan Anda akan melahirkan siapa.   Berbeda dengan mertua. Anda mau punya mertua siapa dan punya anak menantu siapa, disitu tidak hanya Tuhan yang menentukan, namun diri Anda juga ikut terlibat. Mau jadi menantunya Raja Charles bisa, mau jadi mertuanya Maria Ozawa juga bisa. Anda bisa memilihnya.   Energi karma mertua itu beda sekali dengan karma orang tua kandung. Karma dengan orang tua kandung itu mutlak, sebab seburuk-buruknya orang tua kepada Anda, dia tetap punya jasa besar telah lahirkan Anda dan mengfasilitasi Anda hidup gratis di kandungannya.   Sebab itu menghadapi orang tua kandung yang durhaka kepada anak, si anak

MEI 2023

JIKA ANDA KUALAT DARI SESEORANG

Anda amati bagaimana pelanggan rumah makan tidak menjadi raja. Butuh air minum, tinggal suruh, butuh makan, tinggal suruh, butuh asbak, tinggal suruh, piring dan meja kotor, bodoh amat, mereka jadi ratu yang dilayani sebaik-baiknya. Kenapa itu terjadi? Karena pembeli sanggup membayar lebih.   Pemilik rumah makan atau penjual sebenarnya telah membayar kepada pembeli. Dia sediakan nasi dan lauknya, tempat makan, alat makan, layanan, itu semua harga yang dibayarkan penjual kepada pembeli.  Namun pembeli ada kesanggupan membayar lebih karena setiap pembeli tentu membayar dengan memberi keuntungan kepada penjual.   Sama-sama membayar, namun pembeli sanggup bayar lebih berupa keuntungan untuk penjual itu yang jadikan pembeli punya aura kemuliaan. Karena beraura mulia, dia dilayani, dihormati, diperhatikan kebutuhannya, dicari-cari, dan bentuk pemuliaan lainnya.   Anda ingin beraura mulia? Ya ini kuncinya, secara sosial Anda gemarlah membayar lebih kepada kehidupan.   Umpama Anda jadi pegawai negeri sipil, Anda dibayar oleh negara, tapi kalau ingin beraura mulia, Anda harus bayar lebih kepada negara, bayar dengan pengabdian dan pelayanan.   Umpama Anda seorang istri sudah dibayar nafkah oleh suami, ya bayar lebih dengan kebaikan dan ketaatan kepada suami.   Umpama Anda seorang suami, sudah dibayar ketaatan oleh istri, ya bayar lebih dengan nafkah dan kasih sayang. Umpama Anda pedagang, sudah banyak dibayar cuan oleh pembeli, ya bayar lebih dengan sedekah di luar dagang. Membayar lebih secara sosial itu kunci beraura mulia.   Lebih mulia lagi, misalkan Anda masuk warung mie ayam, harga 11 ribu per mangkok lantas Anda bayar 15 ribu tanpa pengembaliaan, disitu Anda tidak sekedar dilayani tapi Anda akan super dimuliakan dan dihormati.   Waktu saya ke Eropa, saya belum kenal semua peserta. Nah ada seorang peserta yang punya energi dihormati dan dimuliakan kuat sekali. Dari hati ke hati energinya menarik kami untuk menghormati dan segan, padahal saya sendiri sama sekali belum kenal.   Ketika saya simak pembicaraan beliau, selalu bertema ilmu fisika dan elektro, ya intelektualitasnya tinggi. Nah lisannya untuk bicara itu tidak jelas sehingga kami banyak tidak paham apa maksudnya, iya saya dan teman-teman tidak paham karena antara satu ucapan dengan ucapan lainnya saling bertubrukan tidak jelas. Namun aneh, ketika beluau bicara kami dengan hormat menyimak dan mendengarkannya dengan khidmat.   Seharusnya respons dan reaksi untuk pembicara yang bertumpuk ucapannya ya, “Ngapain didengerin. Ga jelas,” tapi kami serombongan Eurotrip justru khidmat sekali mendengarkan, kami seperti ditarik magnet kuat untuk mendengarkan ceramah Zainudin MZ yang fasih.   Nah orang seperti beliau ini pasti orang yang energi membayarnya telah besar. Dari bayaran jerih payah dan pengabdian dalam karir tentu beliau telah membayar besar dan lebih. Dan konsistensinya bayar lebih terbukti juga di Eropa. Biaya roaming internet di Eropa itu mahal. Saya saja pakai roaming Telkomsel Halo 650 ribu untuk paketan 30 hari, dan ternyata boro-boro kuat 30 hari, 3 hari sudah ludes kuotanya.  Tiap 3 hari sekali 650 ribu ludes. Nah beliau malah mengumumkan agar teman-teman yang tidak punya kuota, bebas tethering ke handphone beliau. Padahal kalau di-tethering, kuota yang harusnya habis 3 hari, bisa sejam dua jam ludes. Dan saya tidak tahu sepulang dari Eropa berapa belas juta beliau bayar roamingnya.   Beliau gemar bayar lebih kehidupan, itu yang kenapa setiap orang yang bertemu beliau seperti menangkap energi kemuliaan beliau sebab mekanisme di atas dimana pembeli beraura mulia ya karena pembeli sanggup bayar lebih.   Anda searching di Youtube sosok Habib Syaikhon bin Musthofa Al-Bahar atau Wan Sehan, beliau sosok waliyullah yang terkenal majdzub, dimana prilaku beliau sehari-hari seperti orang gila. Lah prilaku seperti orang gila kok bisa-bisanya orang yang hadir di sekeliling beliau sangat hormat dan memuliakan beliau. Beliau dihormati dan disegani selayaknya para raja. Itu energi apa?   Itulah energi orang yang daya bayarnya sudah sangat besar di alam semesta ini, entah apapun bentuk bayarannya, yang jelas bayaran lebih.   Sekarang kalau Anda beli mie ayam harga 11 ribu per mangkok, Anda hanya bayar 8 ribu lalu Anda kabur, apa yang terjadi? Ya Anda dibangs4t-bangs4tkan, terhina dan sama sekali tidak dihargai. Boro-boro dimuliakan dan dilayani, tidak dilempar batu sudah mending.   Nah Anda bisa amati, ada orang kok ketika ia bertamu ke rumah Anda saja sepertinya malas banget menemui, apalagi untuk memuliakan, temui saja malas, bikin badan sakit. Nah itu orang yang sebenarnya ketekoran energi membayar.  Ya mungkin latar belakangnya orang culas, atau mungkin penjilat, atau mungkin maling, atau mungkin orang tamak, dan hal lain dimana ia sering bayar kurang dalam kehidupan ini. Ia tidak ada aura energi mulianya.   Hmm Anda jangan santai-santai gemar tawar barang jualan dengan harga banting, gemar cari gratisan, gemar cari bantuan sosial, gemar lari dari kewajiban pajak, gemar pakai kendaraan telat pajak, gemar dikondangi dan diuluri tangan, gemar ditraktir, apalagi gemar minta-minta sumbangan, karena itu semua adalah pola-pola mengurangi daya bayar Anda, efek resikonya Anda jadi hilang energi mulianya, selanjutnya Anda jadi kaum dhuafa yang compang-camping finansialnya, ruwet hidupnya, seret rezekinya, dan lemah harga dirinya.   Remuk lagi kalau Anda sudah diberi 1 mangkok mie ayam, boro-boro membayar walaupun kurang, malahan Anda merampok warungnya, jadi apa diri Anda?   Kemarin pagi saya buka beranda facebook page saya, eeh postingan dari Metro News TV lewat memberitakan tuntunan vonis mati dari jaksa untuk Irjen Polisi Teddy Minahasa.  Lah kok saya komentari, “Semoga terkabul. Amin.” Dan rata-rata netizen komentar serupa, dan tidak sedikit yang mengolok-olok Teddy Minahasa. Kok saya sejahat itu? Ada orang dituntut vonis mati kok malah doakan kemampusan untuknya?   Ya itu fenomena orang yang membayarnya selalu kurang dengan kehidupan. Lah iya dia dibayar rakyat untuk amankan rakyat dari tindakan kejahatan termasuk kejahatan narkoba, lah bukannya dia membayar dengan pengabdian penuh amanah, malahan rakyat diedari narkoba olehnya.   Dikasih mie ayam semangkok bukannya bayar sesuai harga malahan yang punya warung dirampok. Hasilnya Teddy Minahasa dikutuk rakyat layaknya anj1ng gila. Walaupun hartanya trilyunan, pangkatnya jenderal, pendidikannya tinggi, namun energinya terlaknat.   Nah kalau Anda di warung mie ayam, sudah bayar sesuai harga, atau malah bayar lebih, dimana seharusnya Anda sangat dimuliakan, lantas Anda direndahkan layaknya orang yang bayar kurang, lantas apa yang terjadi? Yang terjadi orang yang merendahkan Anda pasti kualat.   Kerap kan Anda temui orang

MEI 2023

KHAWATIR DUIT; MENGHINA TUHAN

Dulu waktu masih sering pas-pasan duit, sudah sangat sering istri saya komentar begini, “Iya ya, Yah. Duit tidak usah dikhawatiri malah datang tepat pada saat butuh.” Dan itu berkali-kali diungkapkan istri saya. ย  Dia komentar demikian tentu setelah menghadapi kondisi kehabisan uang belanja, dan tidak tahu lagi mau dapat duit dari mana. Dalam kondisi uang habis, istri saya menyoba tetap happy, “ndableg” tidak dipikir, membuang jauh-jauh rasa khawatir. Hasilnya, duit datang tepat pada saat dibutuhkan. ย  Beberapa komentar di note status facebook dan fanpage saya juga banyak yang mengomentarkan hal serupa, yang intinya mengungkapkan pengalaman mereka jika duit tidak dikhawatiri justru duit datang sendiri pada saat butuh, menjadi tidak ada habisnya. ย  Kenapa demikian? Sebab karakter duit memang karakter happy, duit antipati pada unggahan rasa prihatin. ย  Sopir saya seperti wajib memutar musik pada saat menyetir mobil, katanya tanpa musik jadi mengantuk dan tidak konsentrasi. Dan yang dia sukai musik-musik dangdut koplo reggae, paling sering Via Vallen dan Nella Kharisma. ย  Saya yang tidak pernah mengenal musik, bahkan lirik lagu di alam semesta ini yang saya hapal hanya lagu-lagu nasional seperti Indonesia Raya, Halo Halo Bandung, Garuda Pancasila, dan lain-lain jadi mau mengamati lirik-lirik lagu yang sering diputar sopir. Misal lirik lagunya Nella Kharisma; ย  “Teman Rasa Pacar”; ย  “Pernah aku mencoba dekat dengan lelaki tapi kau bersikap lucu tanpa kata-kata kowe takon aku opo ono cinta tentang diriku dengan dirinya begitu juga sebaliknya dengan diriku aku mrasa cemburu yen ndelok awakmu cedak-cedak karo wong wedok selain aku kok iso aku nganti cemburu sayang opo iki seng jenenge aku lagi kasmaran.” ย  Menghayati lirik lagunya, saya langsung menyeletuk pada sopir, “Itu kamu amati! Itu lagu liriknya mirip burung emprit ngoceh, value tidak ada, wisdom tidak ada, ilmiah juga tidak, bahasa yang dipakai campuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia seenaknya sendiri, tapi si Nella Kharisma duitnya banyak, tidak?” ย  “Ya banyak, Gus, duitnya. Nella Kharisma jelas kaya, ” jawab sopir. ย  “Nah itulah duit, tidak ada seriusnya, tidak ada karakter penting yang perlu dibangun untuk duit. Nella Kharisma yang kerjaannya nyanyi lagu-lagu dangdut koplo dengan pesan syair lagu tidak ada maknanya malahan duitnya banyak. Jadi urusan duit itu yang penting hatimu happy, tidak khawatir, tidak banyak punya rasa susah pada duit,” tutup kata saya. ย  Duit itu jaminan karena semua makhluk melata (dabbah) di alam semesta ini dijamin rezekinya. Kesalahan Anda adalah mengkhawatirkan barang jaminan, menakuti sesuatu yang sudah terjamin. ย  Ibaratnya, oleh satpam parkir, mobil Anda sudah dijamin keamanannya, tetapi Anda masih saja ketar-ketir mobilnya hilang sehingga Anda masih repot-repot pasang gembok eksternal ditambah pasang statemen pada satpam parkir, “Awas mobil saya jangan sampai kecurian! Jaga yang benar! Jangan lengah!” ย  Dipesani begitu bisa jadi satpam parkirnya malah tersinggung. Khawatir rezeki habis, panik kekurangan duit, bingung besok rezeki dari mana lagi datangnya, ini adalah prilaku menghina Tuhan, tidak percaya dengan jaminan-Nya. ย  Maka ini, istri saya manggut-manggut dengan kebijaksanaan alam semesta, merasakan “pas duit habis pas duit datang”, yang penting menjaga rasa happy pada duit, menjaga hati dari rasa susah dan khawatir pada duit. ย  Nella Kharisma dan Via Vallen kebanjiran duit karena akses rasa hatinya sudah pas untuk duit. Jingkrakan, goyang dan nyanyi saja di panggung sejam, ratusan juta masuk di kantongnya. Itu karena keduanya sangat happy saat nyanyi. ย  KO-nya Anda di sini, kerja keras dari pagi sampai malam tetapi hati sedang khawatir tidak mencapai target penjualan. Begitu gigih membangun bisnis tetapi karena khawatir peluang pasarnya direbut orang. Begitu konsisten ikut asuransi tapi karena khawatir rezekinya di hari tua. Begitu aktif ikut program KB tetapi karena khawatir anaknya tambah nanti tidak bisa kasih makan. ย  Begitu irit dan ketat pada pengeluaran duit, tetapi karena tidak kaya. Begitu istiqamah shalat Dhuha tetapi hati sedang susah pada hutang. Begitu sigap bangun malam shalat Tahajud tapi hati sedang khawatir tidak kecukupan. ย  Serius amat dengan duit? Pantas duit kita di-TKO oleh Via Vallen dan Nella Kharisma yang prinsipnya hanya, “Yang penting goyang”. ย  ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฑู’ุฒูู‚ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูุณูŽุงุจู “Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.” (Q.S. Al-Baqarah : 212) ย  Muhammad Nurul Banan ย  Gus Banan

MEI 2023

BERBUAT NYATA SAJA, LILLร‚HI TA’ร‚Lร‚-NYA SERAHKAN KEPADA TUHAN

Sejak tahun 2016 saya aktif menjadi writer di medsos khususnya Facebook. Sial beruntung sudah lumayan banyak saya alami. Pernah punya akun dengan 21 ribu follower, lenyap begitu saja karena ulah hacker, dan paling rugi kehilangan sebagian data karya artikel saya.  Akun Facebook lenyap selanjutnya harus bangun follower dari nol lagi. Pernah pula hanya karena satu artikel saya keliling sebagian wilayah Indonesia, diundang isi seminar dimana-mana karena artikel tersebut. Ya macam-macam hal yang sudah dilalui.   Tidak terasa hingga detik ini saya malang melintang di medsos sudah 8 tahunan, dan ternyata baru kemarin sore saya temukan niat yang waras, boro-boro ikhlas lillรขhi ta’รขla dalam berkarya, niat lurus saja tidak.   Iya, selama 8 tahunan, kesadaran saya dalam berkarya itu kesadaran miskin, sampai-sampai saya sering tersinggung dengan postingan yang sepi interaksi, hati saya kerap sedih kalau interaksi postingan sedang sepi interaksi. Itu artinya saya berkarya di medsos tahunan tapi kesadaran saya sedang cari popularitas.   Cari popularitas berarti saya masih berkesadaran “meminta-minta” kepada netizen, “Ayo ramaikan postingan saya biar saya senang,” itu kesadaran miskin karena meminta-minta dan mengharap-harap. Kesadaran begitu ikhlas dari mana, coba?   Saya sadar itu kesadaran bodoh, saya ingin berusaha lepas tapi tetap tidak bisa, tetap kerap tersinggung ketika postingan sepi interaksi.   Saya tahu saya berkesadaran bodoh dan miskin, namun kalau saya berhenti berkarya karena sadar tidak ikhlas juga langkah bodoh, sebab kalau saya terus berkarya karena menunggu ikhlas, lantas bagaimana ilmu saya bisa memanfaati orang lain? Kalau pun saya ganti profesi, ya berkarya di medsos saja berkesadaran bodoh dan miskin, umpama saya ganti profesi lain pun tetap sama, kesadarannya tetap bodoh dan miskin.   Mau tidak mau saya jalani saja walaupun dengan keadaan hati yang begitu.   Sampai akhirnya di awal Januari 2023 kemarin saya baru temukan kesadaran baru di dalam berkarya, ya kesadaran ikhlas tentu masih jauh, tapi setidaknya temukan kesadaran kaya.   Saya temukan kesadaran kaya itupun setelah saya berbuat salah. Di bulan-bulan akhir tahun 2022 itu saya bosan sekali berkarya, bosan juga buka kelas training karena layani peserta konsultasi sangat capek. Jadinya dalam beberapa bulan saya malas-malasan tidak berkarya, tidak aktif buat konten digital, juga tidak buka kelas.   Hasilnya penghasilan saya anjlok. Cuma menurun saja, morat-marit finansialnya tidak.   Nah di situ saya temukan kesadaran kaya dalam berkarya. Begini, Anda punya kekayaan mobil karena Anda sanggup membayar harga mobil. Anda pingin kaya pun ada harga yang harus dibayar, tidak bayar dengan uang ya bayar dengan jerih payah.   Berkarya itu capek, lah bikin artikel panjang begini saja bisa memakan waktu 2 – 3 jam, capek, lalu karya saya disedekahkan begitu saja ke publik melalui medsos, itu merupakan energi bayar ke alam semesta. Siapapun yang membayar, dia yang kaya, Anda bayar harga mobil ya jadi punya kekayaan mobil, kan?   Di titik itulah saya sadar sepenuhnya, “Ooh kaya itu banyak membayar. Dan konten keilmuan saya ke publik itu adalah bayaran dari saya untuk sebuah kekayaan.”   Sejak menyadari hal itu saya netral dari rasa tersinggung dari konten yang sepi, saya tidak lagi berenergi meminta kepada publik, tapi saya berenergi membayar, sehingga di hati saya muncul statemen, “Bodoh amat. Mau konten ramai atau tidak, terserah, yang penting saya sudah bertindak kaya yaitu membayar.”   Bayangkan! Hanya untuk bergeser dari kesadaran miskin dalam karya menjadi kesadaran kaya butuh 8 tahun berjerih payah. Lantas kalau mau capai rasa ikhlas lillรขhi ta’รขlรข dalam berkarya, kapan? Ya mungkin masih sangat jauh, kan?   Dulu waktu di pesantren saya mengalami hal sama. Saya iri juga mendengki kepada seorang teman yang menonjol sekali dalam skill intelektualitas dan leader. Di mana-mana saya tersingkir olehnya.   Tetapi rasa dengki dan iri tersebut saya pergunakan untuk memotivasi diri saya sendiri, bagaimana agar saya survive tidak tersingkir. Dari situ jadinya saya mau belajar dan mengaji ekstra disiplin, menggemilangkan diri dengan terus berupaya tampil baik, ilmiah dan profresional dalam berbagai debat ilmu.   Sementara teman yang saya iri padanya tidak saya sentuh sedikitpun harga dirinya, apalagi saya jatuhkan. Karena disiplin belajar dan ngaji, jadinya saya diakui juga kemenonjolan prestasinya.   Dan boleh dikatakan, saya bisa berilmu karena kedengkian dan iri hati saya kepada teman saya yang berpengaruh dan berprestasi tersebut. Saya dapat ilmu bukan dari li-llรขhi ta’รขlรข, saya dapatkan ilmu dari karakter buruk saya yang suka menonjol.   Karena suka menonjol, iri dan dengki saya bisa keluar dari kebodohan. Lalu apa ini benar?   Lillรขhi ta’รขlรข atau rasa ikhlas itu rahasia Tuhan.   ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ุฅูุฎู’ู„ุงุตูุŒ ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุฌูุจู’ุฑููŠู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงู…ูุŒ ุนูŽู†ู ุงู„ุฅูุฎู’ู„ุงุตูุŒ ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุฑูŽุจูŽู‘ ุงู„ู’ุนูุฒูŽู‘ุฉู ุนูŽู†ู ุงู„ุฅูุฎู’ู„ุงุตูุŒ ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: <<ุณูุฑูŒู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุณู’ุฑูŽุงุฑููŠุŒ ุงุณู’ุชูŽูˆู’ุฏูŽุนู’ุชูู‡ู ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุจูŽุจู’ุชู ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏููŠ>> “Saya (Khudzaifah) bertanya kepada Nabi SAW, ikhlas itu apa? Nabi menjawab, aku tanyakan kepada Jibril, ikhlas itu apa? Jibril menjawab, aku tanyakan kepada Tuhan Yang Maha Agung, ikhlas itu apa? Jawab Tuhan, “Ikhlas itu rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku menitipkannya di hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” (H.Q.R. Al-Qazwini)   Barang dirahasiakan karena itu rahasia Tuhan kok Anda cari-cari? Ya tidak ketemu. Sama saja tahu-tahu dokumen rahasia negara kok Anda cari-cari ya tidak ketemu.   Dan kalau Anda sibuk mencari-carinya ya Anda tidak ada waktu untuk berbuat nyata. Mau sedekah menunggu rasa ikhlas, ya malah bisa-bisa tidak jadi-jadi sedekah karena takut tidak ikhlas.   Maka itu berbuat nyata saja, bertindak dan beramal baik saja, ikhlas lillรขhi ta’รขlรข atau tidak, serahkan pada Tuhan. Berbuat nyata saja dulu!   Lah iya, untuk dapatkan kesadaran kaya dalam berkarya di konten medsos saja butuh 8 tahun, kalau saya menunggu ikhlas, kapan saya memulai berkarya?   Untuk keluar dari kebodohan ngaji saja butuh 10 tahun berjuang ngaji di pondok pesantren dengan rasa sakit hati karena tidak menonjol juga karena iri dan dengki pada teman yang moncer kemenonjolannya. Kalau saya ngaji nunggu rasa ikhlas ya sampai tua saya tidak sempat mengaji.   Sebab itu berbuat nyata saja, mau ikhlas atau tidak, itu rahasia Tuhan.   Imam Ghazali mengakui, awal menimba ilmu itu niatnya karena takut tidak bisa makan, sebab ia anak yatim, sementara harta warisan ayahnya telah dititipkan ke

MEI 2023

BERITA GEMBIRA! SEJAHTERA FINANSIAL PALING DULU MASUK SURGA

ุงูู†ู‘ูŽ ุงูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู…ูŽุนู’ุฑููˆู’ูู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู‡ูู…ู’ ุงูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู…ูŽุนู’ุฑููˆู’ูู ูููŠ ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽุงูู†ู‘ูŽ ุงูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุฏูุฎููˆู’ู„ู‹ุง ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ู‡ูู…ู’ ุงูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู…ูŽุนู’ุฑููˆู’ูู ย  Sesungguhnya ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan pula kelak di akhirat. Dan sesungguhnya orang-orang yang paling awal masuk surga adalah ahli kebaikan. (HR Thabrani) ย  Kalau Anda bikin meja lalu cara halusin kayunya, cara menggoroknya, cara memakunya, cara mengukur sudut-sudutnya dilakukan ngawur dan serampangan, apa mejanya terbentuk rapi? Jelas berantakan. Itu efek tidak berbuat baik atau ma’ruf ketika bikin meja. ย  Hidup selalu dijegal masalah ruwet, keluarga berantakan, musibah bertubi silih ganti, finansial amburadul, tentu karena pola hidup yang dibentuk tidak ma’ruf. ย  Kenapa hidup Anda sejahtera? Karena pola yang Anda kerjakan dalam hidup sudah dengan pola ma’ruf, pola baik, pola amal shalih. ย  Kenapa finansialnya sejahtera? Ya sama, karena lakon hidup dan pola-polanya sudah dijalani dengan pola ma’ruf, pola baik, pola amal shalih. Mana mungkin bikin meja dengan kehati-hatian, skill terbaik, talent terbaik kemudian hasil mejanya berantakan? ย  Sejahtera finansial apalagi hingga kaya itu jelas hasil dari perbuatan ma’ruf, hasil dari amal shalih. Masa iya meja cantik itu karena hasil kerja serampangan? Ya pasti hasil kerja kebaikan. Sebaliknya ruwet dan seret finansial tentu hasil dari perbuatan buruk dan amal munkar. ย  Sementara ahli ma’ruf yang hasilnya di dunia itu sejahtera finansialnya, mereka itu disebut oleh Nabi SAW sebagai orang pertama yang masuk surga. ย  Muhammad Nurul Banan ย  Gus Banan

Scroll to Top