اِنَّ اَهْلَ المَعْرُوْفِ فِي الدُّنْيَا هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ فِي الآخِرَةِ وَاِنَّ اَوَّلَ اَهْلِ الجَنَّةِ دُخُوْلًا الجَنَّةَ هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ

 

Sesungguhnya ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan pula kelak di akhirat. Dan sesungguhnya orang-orang yang paling awal masuk surga adalah ahli kebaikan. (HR Thabrani)

 

Kalau Anda bikin meja lalu cara halusin kayunya, cara menggoroknya, cara memakunya, cara mengukur sudut-sudutnya dilakukan ngawur dan serampangan, apa mejanya terbentuk rapi? Jelas berantakan. Itu efek tidak berbuat baik atau ma’ruf ketika bikin meja.

 

Hidup selalu dijegal masalah ruwet, keluarga berantakan, musibah bertubi silih ganti, finansial amburadul, tentu karena pola hidup yang dibentuk tidak ma’ruf.

 

Kenapa hidup Anda sejahtera? Karena pola yang Anda kerjakan dalam hidup sudah dengan pola ma’ruf, pola baik, pola amal shalih.

 

Kenapa finansialnya sejahtera? Ya sama, karena lakon hidup dan pola-polanya sudah dijalani dengan pola ma’ruf, pola baik, pola amal shalih. Mana mungkin bikin meja dengan kehati-hatian, skill terbaik, talent terbaik kemudian hasil mejanya berantakan?

 

Sejahtera finansial apalagi hingga kaya itu jelas hasil dari perbuatan ma’ruf, hasil dari amal shalih. Masa iya meja cantik itu karena hasil kerja serampangan? Ya pasti hasil kerja kebaikan.

Sebaliknya ruwet dan seret finansial tentu hasil dari perbuatan buruk dan amal munkar.

 

Sementara ahli ma’ruf yang hasilnya di dunia itu sejahtera finansialnya, mereka itu disebut oleh Nabi SAW sebagai orang pertama yang masuk surga.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *