Anda yang belum menyimak part 1-nya silakan simak dulu Energi Diam Penarik Keberlimpahan Part 1 di konten sebelum ini.
Mangka ta kang aran laku,
lakune ngelmu sejati.
Tan dahwen pati openan,
tan panasten nora jahil.
Tan njurungi ing kadurakan,
amung eneng amrih ening.
Demikian kutipan Bait ke-94, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV, yang artinya;
Inilah yang disebut laku,
pengamalan ilmu sejati.
Yakni, tidak suka mencerca, tak suka memungut (berita buruk),
tidak nyinyir (mempovokatori) dan tidak suka mengganggu orang lain.
Tidak mendorong pada tindak kejahatan,
hanya diam agar (hati) menjadi bening.
Eneng atau diam di sini tentu diam dengan kesadaran, bukan sifat pendiam bawaan lahir.
Diam yang tanpa kesadaran tentu tidaklah menjernihkan hati, paling sebatas menyelamatkan, karena bagaimanapun diam itu akses selamat karena mimimnya resiko berat.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, sebaiknya berucaplah yang baik atau diam.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Diamnya hati dengan kesadaran inilah yang punya power untuk menarik kelimpahan.
Yang Anda kenal air itu bergerak mengalir, matahari bergerak melakukan rotasi dan revolusi, angin bergerak berhembus. Tidak kok, mereka semua diam.
Kalau Anda membunuh orang, Anda terima resiko berdosa dan kena hukuman, bahkan Anda layak dijahanamkan, tapi kalau ada air dengan banjir bandangnya membunuh ratusan orang, apa air berdosa? Apa air layak masuk neraka Jahanam? Tidak.
Jika air berbuat baik dengan bersihkan tubuh Anda, apa air dapat pahala? Tidak.
Itu karena perbuatan gerak yang dilakukan air tidak dilatari kesadaran, artinya kesadarannya diam. Karena diam tidak punya kesadaran, gerak air tidak menuai hisab baik dan buruk, dosa dan pahala. Beda dengan Anda, berbuat buruk dan baik punya konsekuensi hisab dosa dan pahala, karena kesadaran Anda tidak diam, artinya Anda ada pergerakan emosi dan perasaan.
Jadi air, matahari, angin dan semua komponen alam semesta itu diam, maksudnya kesadarannya yang diam. Walaupun partikel fisikanya bergerak, tapi tidak beresiko apapun karena kesadarannya diam.
Karena itu diamnya hati adalah diam yang sesungguhnya, karena alam semesta ini hakikat kesadarannya adalah diam.
Tentu tidaklah normal kalau kesadaran Anda diam seperti air, Anda manusia yang punya taklif bergerak secara emosi dan kesadaran, hanya saja Anda perlu berlatih mendiamkan hati untuk kurangi kebisingan hati agar hidup lebih tenang, lebih bahagia dan lebih mulia.
Dalam filsafat tasawuf diajarkan, kesadaran manusia akan esensi Tuhan itu dibagi 3;
1. Kesadaran yang masih lâ ilâha illâ huwa (tiada tuhan selain Dia) di situ kesadaran Anda masih berjarak terlampau jauh dari Zat-Nya. Sebab kata ganti “huwa” itu beresensi ghâib (gaib). Anda sebut teman Anda dengan dia, bukankah teman Anda tidak hadir di depan mata Anda, dia gaib?
Kalau kesadaran Anda menyaksikan Allah dengan huwa, artinya kesadaran Anda berjarak terlampau jauh dengan-Nya, karena esensi kata ganti orang ketiga adalah gaib.
2. Kesadaran lâ ilâha illâ anta (tiada tuhan selain Engkau). Di situ kesadaran Anda sudah mending, karena kata ganti anta (engkau/kamu) itu beresensi khudhûr (hadir). Kalau Anda menyebut kamu kepada teman Anda, tentu teman Anda itu ada di depan mata Anda, tidak mungkin Anda menyebut kamu tapi orangnya tidak hadir di depan mata.
Karena ini kesadaran hati yang menyaksikan lâ ilâha illâ anta itu sudah mendingan dekat, karena Zat Allah hadir utuh di depan Anda.
3. Kesadaran hati yang lebih intens lagi, yakni kesadaran lâ ilâha illâ anâ (tiada tuhan selain Aku). Inilah kesadaran yang diajarkan Syaikh Siti Jenar lewat ajaran Manunggaling Kawula Gusti, oleh Ibn ‘Arabi lewat ajaran Wahdatul Wujûd, oleh Al-Hallaj lewat ajaran Hulûl, oleh Abu Yazid Al-Busthami dengan ajaran Ittihâd.
Kalau sudah di kesadaran lâ ilâha illâ anâ menjadi dekat tanpa sekat, tanpa batas, tanpa jarak, beda kualitas dengan yang masih berkesadaran lâ ilâha illâ huwa atau pun lâ ilâha illâ anta.
Nah dari ketiga level kesadaran tersebut, semuanya masih punya kepentingan, satu pun tidak ada yang tulus. Bahkan yang level kesadaran terakhir pun yakni lâ ilâha illâ anâ, kepentingan egonya masih sangat nyata yakni kepentingan ingin manunggal dengan Gustinya. Ingin murni bersatu dengan Tuhannya, bukankah itu juga kepentingan ego?
Sehingga kesadaran untuk diamnya hati justru memuncaki ketiga level kesadaran di atas karena kosong tidak ada apa-apa lagi.
Cuma itu, diamnya hati yang dimaksud adalah diam dengan kesadaran. Sadar untuk diam.
Cuma perlu dimengerti, diam itu artinya sunyi, hening dan kosong.
Banyak kasusnya kan, rumah ketika terlalu lama kosong yang berarti lama dalam situasi diam, justru diisi oleh hantu-hantu angker. Diisi pocong, kuntilanak, gendruwo, wewe gombel, dan lain-lain.
Diamnya hati pun bisa begitu, bila tidak diisi dengan tujuan-tujuan kebaikan juga bisa diisi sembarang energi.
Karena itu, ketika Anda diamkan hati, Anda harus punya tujuan-tujuan kebaikan biar hati Anda tidak diisi sundel bolong.
Kalau para spiritualis murni, biasanya diam mereka bertujuan menggapai ridha Tuhan, bertujuan memurnikan hati agar hanya mencintai Allah.
Jika spiritualis prosperity yakni spiritual yang menuju keridhaan Tuhan dengan tarikan keberlimpahan rezeki, bagaimana?
Ya tinggal tunggangi saja pencarian rezeki Anda untuk dapatkan ridha Allah. Energi diamnya hati Anda tinggal diniati untuk menarik kelimpahan rezeki agar dapatkan ridha Tuhan. Itu saja, tata niat dan tujuannya.
Tahun lalu pernah ada satu channel Youtube yang posting konten aksi diam di depan kamera selama berjam-jam. Mata diam dalam melek, bibir diam tertutup, duduk di posisi diam tidak gerak, itu dilakukan di depan kamera shooting selama berjam-jam. Hasilnya viral, jutaan viewers menontonnya.
Diamnya si pembuat konten jelas punya niat dan tujuan menarik penonton, dia diam tapi punya tujuan bikin konten yang ramai. Jadi diamnya bukan bertujuan kesunyian dan keheningan, namun diam untuk bertujuan ramai-ramai.
Kodrat alamnya diam itu sebuah kesunyian, ketenangan dan keheningan, tetapi ketika dipengaruhi niat menarik penonton, diam bisa menjadi energi penarik keramaian, popularitas, dan hiruk-pikuk publik.
Itulah ajaibnya hati Anda, hati bisa merubah prilaku A jadi B, hasil B jadi A, resiko C jadi A, dan seterusnya, hanya dengan mengubah niat hati. Dahsyat kan hati Anda?
Sekarang energi diam bisakah digunakan menarik segala keberuntungan, menarik kemuliaan, menarik uang, menarik kemenangan? Ya bisa sekali. Proses dan tatanannya ya sama seperti si pembuat konten Youtube diam berjam-jam itu.
Pertama ada niat bahwa diam Anda untuk menarik apa? Di atas saya sebutkan agar berdimensi spiritual prosperity, diamnya hati niatkan untuk melimpahkan rezeki agar raih ridha Allah.
Kedua terus berlatih alias konsisten diamkan hati dengan tidak membeli hiruk-pikuk di luar hati Anda. Ada celaan biasa saja, ada ancaman biasa saja, ada pujian dan sanjungan biasa saja, hati biarkan diam tidak perlu merespons dalam-dalam.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply