Hal halal yang kerap hancurkan karir lelaki itu poligami. Dari pebisnis, ulama, tokoh masyarakat, hancur karena poligami.

Namun yang karirnya makin menguat juga banyak, rezekinya makin oke, kehormatan dan kemuliannya juga. Itu banyak.

Halalnya secara syariat Islam jelas poligami halal. Di tilik dari sistem kenaturalan alam, alam semesta memang mendukung sistem poligami.

Alam semesta itu saling kerja untuk alirkan energi. Tangan kerja dulangkan makanan, mulut menerimanya. Matahari kerja curahkan sinarnya, bumi menerimanya. Langit kerja curahkan hujan, bumi menerimanya. Sungai kerja alirkan air, lautan menerimanya.

Tangan kanan ketika kerja mendulang makanan itu bebas mau mendulang ke mulut sendiri ataupun mulut yang lain. Matahari ketika kerja curahkan sinar itu bebas dicurahkan ke bumi bagian mana, bahkan dicurahkan ke planet lain pun sah-sah saja.

Langit kerja turunkan hujan, bebas mau diturunkan di bumi bagian mana. Sungai kerja alirkan air, bebas mau dialirkan ke lautan mana.

Bahkan dalam sistem kerja tersebut, sah-sah saja kalau mau mendua alias poligami. Sah-sah saja kan satu tangan kanan Anda mendulang makanan ke mulut sendiri juga ke mulut orang lain secara mendua?

Matahari sah-sah saja dalam sekali waktu curahkan sinarnya ke bumi juga mendua ke venus? Dann seterusnya. Poligami itu sah dalam sistem alam.

Lelaki mengalirkan energi kepada wanita salah satunya melalui energi seks dan nafkah. Energi seks, alat kemaluan lelaki mau didulangkan ke mulut vagina mana, entah dengan monogami maupun poligami, ya sah-sah saja.

Lelaki yang bekerja mengalirkan energi seks karena tampak dari sistem air maninya yang mengalir dan memuncrat seperti sinar matahari dan air hujan. Mau dialirkan ke Maria Ozawa dengan mendua bersama Sora Aoi, ya sah. Sah.

Energi nafkah juga demikian. Lelaki mengalirkan energi nafkah itu sah-sah saja kepada satu wanita, atau dua wanita atau lebih, itu sah.

Poligami tidaklah merusak tatanan alam, sesuai dan sinkron-sinkron saja, karenanya Al-Qur’an mengundangkan;


فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ


“Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat.” (Q.S. An-Nisâ : 3)

Memang bumi bekerja menerima energi air hujan, namun tidak serta merta menerima saja, di bumi air hujan yang dititunkan langit diolah sedemikian rupa sehingga kembali lagi bermuara ke laut.

Di laut, air hujan kiriman langit tersebut diserap lagi oleh laut untuk suplay energi ke langit agar langit terus bisa menyediakan air hujan. Dan terus berputar begitu.

Sinar matahari dan energi-energi lainnya juga begitu. Satu sisi ada yang curahkan energi, sisi lain ada yang terima sekaligus sebagai penyuplay energinya.

Wanita pun begitu, ia menerima curahan air mani dan nafkah dari pria, namun wanita lah penyuplay energi seks dan rezeki. Kalau lelaki berani merusak sistem penyuplay energinya, yakni istrinya, ya sudah sistem seks dan rezekinya hancur.

Dimana pun wanita lah yang dipajang sebagai media eksotisme. Wanita didandani, diberi perhiasan, dan dimodelling tata busana sedemikian rupa, karena wanita adalah penyuplay energi seks.

Bahkan simbol seks juga pada wanita, adegan film panas yang difigurkan selalu tubuh wanita. Wanita penyuplay energi seks karenanya perannya adalah “merangsang”.

Demikian pula dalam rezeki, peran wanita adalah merangsang energi rezeki karena wanita lah penerima nafkah sekaligus penyuplay enrergi rezekinya.

Ada istilah, “Ganti istri, ganti rezeki. Beda istri, beda rezeki”, itu benar adanya sebab tiap wanita itu punya kualitas dan kapasitas berbeda dalam menyediakan energi rezeki, kemampuan merangsang rezekinya beda-beda.

Sekarang poliandri, sah tidak sistemnya di alam semesta?

Ya kalau mulut Anda ditugasi menerima makanan lantas mengunyahnya di mulut sendiri sekaligus mengunyahkannya ke mulut yang lain, bisa tidak?

Atau bumi menerima air hujan lantas air hujannnya di suplaykan pula untuk langit yang lain, bisa tidak? Langit cuma satu.

Atau bumi terima sinar matahari, lantas energinya diserap pula oleh matahari lain, bisa tidak? Matahari cuma satu. Demikian pula wanita, mau menduakan energi seks dan suplay energi rezeki ke banyak lelaki juga tidak bisa. Sebab itu poliandri merusak tatanan sistem alam.

Kelihatannya enak banget, satu wanita menerima banyak curahan nafkah dari banyak pria, sana-sini memberi, bisa cepat kaya.

Namun itu sekalipun penerima energi, wanita juga penyuplay energi rezeki pria. Satu wanita harus menyediakan energi rezeki untuk 4 pria misalkan, ya mati lemas.

Energi seks juga begitu. Satu wanita dikeroyok terus-terusan oleh 4 pria, ya sobek-sobek kan lubang V-nya?

Sudah jelas poligami itu sah? Dua, boleh. Tiga, boleh. Empat, boleh.

Sebenarnya sistem alam bolehkan poligami lebih dari empat, hingga 1 juta wanita, boleh. Bebas saja. Karena air hujan mau diturunkan di 1 ribu tempat juga boleh, asal mampu saja energinya.

Hanya saja syariat Islam membatasi 4 wanita saja agar arah curahan energinya terukur dan tertib. Empat istri yang dibolehkan itu hanya tatanan penertib bagi umat Islam saja.

Nabi Muhammad sendiri dapatkan hak privillege sebagai nabi dalam soal ini, beliau tercatat menikahi 12 orang istri.

Syariat-syariat umat terdahulu juga bebas dengan jumlah wanita yang dipoligami, Nabi Daud punya 100 istri, Nabi Sulaiman punya 1000 istri.

Hakikatnya bebas, namun syariat Islam menertibkannya khusus untuk umat Muhammad dengan batasan empat.

Sekarang pertanyaannya, secara syariat halal, dalam sistem alam semesta pun sah-sah saja, lah kok banyak pria hancur karir dan hidupnya karena poligami?

Sebenarnya pria poligami yang karirnya tetap eksis bahkan makin eksis juga banyak, sebanding dengan pria yang hancur karirnya karena poligami.

Itu disebabkan perbedaan muatan energi penggerak poligaminya.

Pria yang hancur karirnya, babak belur karena poligami itu karena muatan energi poligami di baliknya adalah energi selingkuh. Artinya energi muatannya adalah energi birahi dan nafsu angkara murka.

Sudah punya istri sah, malah buta cinta dengan wanita lain, ngebet. Saking maboknya dengan selakangan paha wanita lain, lantas ia menikahinya. Nah ini poligaminya berenergi selingkuh.

Ataupun poligami ada energi kualat. Misal istri pertama adalah wanita yang jasa dan pengorbanannya sudah sangat besar. Sakit parah didampingi dan dirawat hingga sembuh.

Saat bangkrut didampingi dan diperjuangkan hingga bisa bangkit. Lah saat si suami kaya malahan dia mengkhianati istrinya dengan poligami diam-diam. Menyayatnya dari belakang. Ini juga pologami namun cari kualat.

Beda kasus dengan Nabi Muhammad. Nabi itu wanita yang jasa dan pengorbanannya kepada Nabi SAW sangat besar, wanita yang menolong dan menemani Nabi sejak nol itu adalah Khadijah R.A. Dengan Khadijah ya Nabi tidak berani mempoligami karena Nabi bukan orang rendah yang cari-cari kualat.

Setelah Khadijah wafat baru kemudian Nabi lakukan poligami karena wanita-wanita pasca Khadijah itu tidak ada yang berjasa besar kepada Nabi. Istilahnya Nabi tidak punya hutang budi kepada mereka.

Lantas pria yang tetap eksis atau malah makin eksis karirnya dengan poligami itu muatan energinya bagaimana? Ya tentu muatan energi positif.

Contoh poligami karena sadar ingin mengalirkan banyak rezeki dan anugerah ke banyak wanita dan ke banyak anak. Poligami agar dapatkan banyak keturunan shalih. Poligami karena terdesak sebab istrinya tidak kunjung lahirkan anak. Dan lainnya.

Yang jelas ada niat baik, kesadaran baik, kesadaran nafsul muthmainnah di balik poligaminya sehingga muatan energi poligaminya adalah muatan energi kebaikan.

Poligami halal namun banyak menghancurkan karir pria, penyebabnya itu tadi.

Sama saja belanja itu halal, boros itu halal, irit itu halal, menabung itu halal, hutang itu halal, membayar itu halal, namun banyak juga orang yang hancur finansialnya gara-gara hal-hal di atas.

Namun sisi lain banyak juga yang gara-gara gemar belanja lantas makin kaya, gara-gara boros, gara-gara menabung, gara-gara irit, gara-gara hutang, banyak yang makin kaya.

Itu karena beda muatan kesadaran di baliknya sehingga energi muatan di baliknya berbeda, dan hasilnya pun berbeda.

Belanja sadarnya hedon akhirnya seperti orang tidak punya otak apa-apa dibeli, ya bangkrut. Namun kalau belanja dengan sadar happy alirkan uang, sadar alirkan rezeki kepada orang lain, atau sadar dirinya kaya dapat banyak anugerah rezeki, ya borosnya dia belanja juga deraskan kekayaan.

Boros juga begitu, sama persis seperti belanja.

Menabung kesadarannya kikir, melekat kepada uang takut uangnya pergi, atau menabung karena turuti nafsu cepat kaya sehingga getarannya menumpuk-numpuk harta, ya disitu menabungnya jadi bencana kefakiran.

Namun kalau menabung kesadarannya agar tidak merepotkan orang lain, agar keluarganya terjamin, apalagi menabung agar jiwa dirinya dan jiwa keluarganya makin mulia seperti menabung agar bisa naik haji, menabung agar anak bisa sekolah, menabung agar punya dana investasi dan modal, itu menabungnya jadi makin deraskan kekayaan.

Irit juga demikian, sama persis seperti kesadaran menabung.

Hutang juga begitu. Hutang itu halal. Cuma hutang bermasalah atau hutang yang jadikan anugerah, tidak hanya dipicu energi kesadarannya, namun juga ditentukan oleh cara membayarnya.

Kalau disiplin bayar hutanya entah dengan cash ataupun cicil, hutang jadikan rezeki makin deras. Namun kalau mengemplang, telat-telat bayar, apalagi punya hutang diikhlaskan tidak membayaemr, ya sudah remuk redam rezekinya.

Jadi banyak hal-hal halal di alam semesta ini namun halal bukan berarti kalau dipakai kemudian melancarkan segalanya, namun harus benar-benar dideteksi latar belakang energi pemicunya.

Husttt… tulisan ini sebenarnya lebih  tepat diberi judul “Buku Panduan Poligami” wuakakakk.

Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *