Semalam saya suruh santri saya bikin baretan di mobil saya pakai batu. Dia keheranan dan kaget. Ia menolak. Terus dia saya suruh bikin baretan di sepeda rongsok, bekas dipakai anak saya. Dan ia melakukan.

 

Saya tanya padanya, “Kenapa kamu tidak berani baretin mobil saya?”

 

“Mobil itu berharga, Gus,” jawab santri.

 

“Kenapa dengan sepeda bekas berani baretin?” Tanya saya lagi.

 

“Karena tidak berharga, Gus,” jawabnya.

 

Itulah sesuatu yang tidak berharga akan mudah menarik koyakan, serangan, bullying dan mudah disakiti.

 

Setiap diri Anda itu pancarkan getaran perasaan dan pikiran yang pancarannya selalu akan ditangkap oleh obyek di sekitar Anda.

 

Kalau Anda masuk suatu rumah, dimana Anda telah berpikir ada hantu di situ, selanjutnya pikiran ada hantu men-down-kan mentalitas Anda, muncullah rasa takut. Dan saat mental Anda ketakutan, di situlah hantu akan beneran nongol dan meneror Anda. Artinya hantu pun menangkap pancaran diri Anda, hantu tahu mana orang yang layak dijadikan korbannya.

 

Itu hantu. Demikian pula penjahat, pembully, pengejek, penghina, penodong, akan datangi korbannya karena mereka sebenarnya sudah mengenali dulu mentalitas korbannya melalui antena tangkapan perasaan mereka. Ketika Anda pancarkan stres dan dalam kondisi mental lemah, penjahat menangkap pancarannya, selanjutnya target korban dijalankan.

 

Sebab itu wanita ketika di luar rumah banyak menjadi korban kriminalitas dan kejahatan karena mayoritas wanita memang kuat memancarkan perasaan takut, lemah, dan pemalu karena feminisnya.

 

Begitu juga para penderma datang kepada penerima derma sesuai daya tangkap perasaannya, para penderma tahu mana orang yang mau diberi derma santunan ataukah derma penghormatan.

 

Ketika penderma menangkap bahwa Anda orang lemah tidak mampu, ia akan bergerak menyantuni. Ketika penderma menangkap bahwa Anda orang terhormat, maka penderma akan bergerak berikan hadiah penghormatan.

 

Bukan saya bermaksud merendahkan, namun Anda bisa amati realitas nyatanya, kaum dhuafa itu anggota keluarganya rawan sekali sakit-sakitan, ada-ada saja keluhan sakitnya, satu anak mengeluh sakit kepala, esok anak lainnya mengeluh masuk angin, si ayah mengeluh perut kembung, si ibu mengeluh radang tenggorokan.

 

Terus bergantian begitu. Itu disebabkan keluarga dhuafa kerap pancarkan perasaan sebagai orang lemah. Ya baik lemah dalam finansial, dalam kehormatan sosial maupun lemah dalam kontrol sosial karena mereka tidak punya kuasa sosial.

 

Karena memancarkan perasaan lemah, virus penyakit menangkapnya, selanjutnya si virus berparadigma, “Ini layak jadi korbanku.” Jadi virus penyakitpun nempel ke tubuh Anda dengan menangkap getaran diri Anda.

 

Dulu waktu saya masih lemah sekali finansialnya, otomatis perasaan yang saya pancarkan juga perasaan lemah, ya Allah saya buka toko di pinggir jalan raya, bolak-balik saya jadi korban kejahatan, ada sales penipu, ada pembeli penipu yang pakai trik hypnosis untuk kelabui kasir, ada karyawan sendiri yang mencuri uang dan badang dagangan, bahkan sampai laptop toko dibawa kabur penjahat.

 

Sudah keadaan finansial lemah, tidak punya duit, dagang cuannya kecil, bercampur orang lain sering dapat perendahan dan hinaan, musibah silih berganti datang, eeh malah banyak penjahat mampir dan menyatroni, itu karena para penjahat menangkap getaran lemah diri saya sehingga saya dinilai layak dijadikan korban.

 

Justru sekarang ini setelah finansial saya menguat, kehormatan menguat, harga diri menguat, malahan kejahatan penjahat di toko saya tidak ada lagi, padahal saya dagang di ruko toko yang sama.

 

Salah satu teman saya ada yang lebih tragis. Dalam kondisi istri hamil anak pertama, dirinya belum punya pekerjaan dan penghasilan, dia masih serumah dengan mertua. Ia kerap tidak dicocoki mertua, disalah-salahkan, direndahkan dan disakiti mertua. Sisi lain ia dicibir mertua, sisi lain karena ia nganggur, ia harus kerja bantu sawah mertua tanpa dibayar hanya dikasih uang rokok.

 

Ia memang mampu tabahkan dirinya, namun rasa terpuruknya kemudian anak yang terlahir sedikit cacat di bagian kaki. Anaknya sedikit pincang karena kaki kanannya lebih panjang dari kaki kiri dengan jumlah jari kaki kanan ada enam, jempol kakinya muncul anakan jari.

 

Karena itu ketika dalam keadaan terpuruk sebaiknya banyaklah beristighfar dan banyak baca lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh untuk menangkis pancaran getaran lemah diri, karena ketika getaran lemah diri sangat kuat terpancar, musibah, hinaan, kefakiran, penyakit, penjahat, perendahan, mudah sekali datang, malahan anak saja bisa lahir cacat karena getaran rasa lemah diri.

 

Rasionalitasnya sederhana sekali, santri saya tidak bersedia bikin baretan di mobil karena ia tahu mobil itu berharga, tapi ia dengan mudah bareti sepeda rongsok bekas milik anak saya karena tahu itu barang tidak berharga.

 

Sesuatu yang tidak berharga akan mudah menarik koyakan, serangan, bullying dan mudah disakiti, karena itu rasa diri yang menuduh diri tidak berharga, menuduh diri sendiri tidak berdaya, menuduh diri sendiri lemah, menuduh diri sendiri balung kere, menuduh diri sendiri seperti itu sama saja sedang menganggap diri sendiri sebagai barang rongsok tak berguna. Diri sendiri dibully dan dihujat.

 

Tiap hari merasa hidup penuh ujian, hidup penuh nasib buruk, merasa kekurangan uang, merasa orang lemah, dan lainnya. Merasa begitu itu sama saja menganggap diri sendiri rongsok.

 

Sering menuduh diri sendiri begitu, bagaimana diri Anda akan pancarkan getaran berharga? Kalau sudah tertangkap sebagai getaran tidak berharga, ya sepeda rongsok akan begitu mudah terima baretan.

 

Rasa lemah diri itu biasanya dicirikan dengan orang tersebut susah sekali berkata, “Tidak,” berat sekali menolak.

Tahu-tahu diri sendiri merasa tidak nyaman bolak-balik dihutangi, kalau ada orang minta hutangan tidak berani tegas menolak.

 

Tahu-tahu hanya dimanfaatkan tanpa pernah dihargai, malah mengalah terus tidak ada keberanian menentang.

 

Tahu-tahu sedang dagang, ada orang minta harga seduluran bahkan minta gratisan, hatinya goyang-goyang tidak berani menegaskan kalau dirinya sedang dagang cari rezeki cuan.

 

Tahu-tahu kalau ia diberi malahan melunjak, minta lagi, masih terus saja tidak mau hentikan pemberian. Ada kalanya Anda harus berhenti memberi, ketika tahu ia tidak sadar untuk berhenti meminta dan merepotkan.

 

Banyak orang berpersepsi bahwa “tidak” itu kejahatan, “tidak” berarti tidak berakhlak mulia, kalau menolak takut dianggap tidak berbudi luhur, tidak punya hati, dan lain sebagainya, padahal diri sendiri tersiksa tidak nyaman, bukankah racun bisanya tertolak bila Anda tegas menolaknya alias berani berkata “tidak”?

 

Welas asihlah dengan diri Anda sendiri, siapa yang akan hormati dan welas asih kepada Anda, bila bukan diri Anda sendiri yang welas asih dan menghormati? Anda sakit, emang orang pertama yang rasakan derita itu orang lain? Tentu diri Anda. Artinya orang pertama yang harus hargai diri adalah diri Anda sendiri.

 

Itu kalau diri Anda ingin jadi orang kokoh bahagia. Kalau sekedar ingin bahagia, diam sudah cukup.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *