Hal paling menarik bagi saya di Eropa ketika berkunjung ke Red Light District Amsterdam; kawasan wisata prostitusi, ganja, sexshow, pornografi dan judi berkelas di Amsterdam, Belanda. Konsumsi hal-hal begitu di kawasan ini semudah dan seelegan Anda belanja bahan bangunan di kota Anda.
Nonton cewek telanjang dalam kaca transparan, pakai celdam cuma nutupi lubang vaginanya saja, dan kadang tidak pakai kutang persis seperti nonton ikan telanjang dalam aquarium.
Belum lagi di tempat-tempat umum, sehari-hari lihat cowok sama cowok dan cewek sama cewek ciuman dan pelukan mesra. Hmmm.
Yang antik sangat tertib dan tertata masyarakatnya, tidak ada pengunjung merasakan aura kejahatan di kawasan tersebut. Kawasan prostitusi, ganja dan judi biasanya kental dengan gank dan mafia, di sana tidak, yang ada aura elegan. Kurang ajar, ya? Tidak berakhlak. Hahaha.
Konstitusi budaya Amsterdam seolah berkata, “Anda bebas karena Anda berharga. Silakan bebas semaumu dan sepuasmu. Anda mau suka sama sama lawan jenis, mau suka sesama jenis, mau suka sama anjing, kucing, kambing, kami lindungi untuk menikah legal. Mau mabok alkohol, mau gitting ganja, mau malas kerja lalu cukup cari makan dengan pasang togel, Anda bebas, asal satu hal jangan pernah dilakukan yakni mengganggu orang lain.”
Karena itu di Amsterdam itu aman dan nyaman, apalagi kejahatan, di transportasi umum saja harus diam tidak boleh bicara, kalau ngobrol-ngobrol itu kena denda sangat mahal karena itu menganggu kenyamanan penumpang lain.
Di gang-gang Red Light District Amsterdam, buang botol minuman sembarangan, tidak sampai satu menit tahu-tahu dihadang polisi dan dendanya sangat mahal. Di transportasi umum sisakan sampah, sama driver didenda hingga 50 Euro (hampir 1 juta rupiahan).
“Anda bebas karena Anda berharga, hanya satu yang tidak boleh yakni ganggu orang lain,” seolah begitu konstitusi budaya Amsterdam.
Saya sering sampaikan, yang berharga itu diri Anda sebagai manusia, bukan uang dan harta Anda. Karena itu kalau mau didekati uang, hargai diri Anda dan hargai jiwa orang lain.
Uang itu pelayan manusia. Ya uang itu berharga, namun harga diri manusia mulianya jauh melampoi uang, sebab Anda tuannya, dan uang adalah pelayan Anda. Karena itu tempatkan harga diri manusia di atas uang.
Kadang manusia itu lucu, istri stres kelola uang rumah tangga, dituntut cukup-cukupkan uang, sementara si suami uangnya disayang-sayang agar awet. Itu namanya merendahkan harga diri istri demi menghargai uang agar awet.
Kemampuan bangsa Eropa menghargai harga diri manusia sudah disampaikan gamblang oleh Nabi S.A.W yang di zaman Nabi disebut bangsa Rum (Romawi).
تَقُومُ السَّاعَةُ والرُّومُ أكْثَرُ النَّاسِ. قالَ: فَبَلَغَ ذلكَ عَمْرَو بنَ العاصِ فقالَ: ما هذِه الأحادِيثُ الَّتي تُذْكَرُ عَنْكَ أنَّكَ تَقُولُها عن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ؟ فقالَ له المُسْتَوْرِدُ: قُلتُ الذي سَمِعْتُ مِن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، قالَ: فقالَ عَمْرٌو: لَئِنْ قُلْتَ ذلكَ، إنَّهُمْ لأَحْلَمُ النَّاسِ عِنْدَ فِتْنَةٍ، وأَجْبَرُ النَّاسِ عِنْدَ مُصِيبَةٍ، وخَيْرُ النَّاسِ لِمَساكِينِهِمْ وضُعَفائِهِمْ.
“Kiamat terjadi dan Romawi adalah manusia yang paling banyak.” Kata-kata ini terdengar oleh Amru bin Al-Ash, ia berkata: Ucapan-ucapan apa yang disebut darimu bahwa kau mengatakannya dari Rasulullah S.A.W? Al-Mustaurid berkata padanya, Aku katakan yang aku dengar dari Rasulullah S.A.W. Amru berkata, “Bila kau katakan demikian, mereka adalah orang-orang paling sabar saat terjadi fitnah, paling kuat saat terjadi musibah dan yang terbaik terhadap orang-orang miskin dan orang-orang lemah.” (H.R. Muslim)
Sebab rasa penghormatan yang tinggi pada nilai kemanusiaan, di Eropa untuk jadi orang miskin itu susah sebab negara menggaji warga miskin dan lemah. Nggak usah kerja, jadi warga miskin saja sudah jadi penghasilan yang menyukupi.
Itulah kenapa kita bangsa Timur tidak mampu memahami alur berpikir mereka, LGBT dilindungi, pelacur dilindungi, ganja dilegalkan, judi dilindungi, itu karena mindsett mereka adalah memanusiakan manusia apapun wujud prilakunya.
Pas kan dengan sabda Nabi S.A.W tentang karakter mereka yakni khairun nâsi li masâkînihim wa dhu’afâihim (sebaik-sebaik manusia kepada orang-orang miskin dan orang-orang lemah)?
Nalar pikir kita LGBT adalah persoalan dosa, halal-haram dan moralitas sosial, kalau mereka LGBT adalah prilaku manusia juga yang harus dihormati sebab saking besarnya rasa welas kepada kaum marginal.
Demikian pula soal prostitusi, seks bebas, judi, dan lainnya. Kebalik semua pokoknya beliefnya dengan kita persis seperti air dengan daun talas, namanya juga dunua Barat vs dunia Timur.
Karena itu banyak negara-negara jajahan Eropa yang hingga detik ini tidak mau dimerdekakan, seperti bangsa Mayotte di kepulauan Komoro dan Kaledonia Baru di Ocenia yang tidak mau merdeka dari Prancis.
Hongkong dikontrak Inggris dari Dinasti Qing Tiongkok, ketika mau dimerdekakan dan dikembalikan ke pemilik aslinya malah ogah-ogahan, lebih betah dijajah. Juga Makau yang disewa oleh Portugis juga ogah-ogahan dikembalikan ke pemilik aslinya, Tiongkok.
Konon, mengapa Papua Barat terus-terusan ngeyel minta merdeka dari Indonesia karena mereka merasakan dijajah Belanda merasa dibantu, dijajah Indonesia sebaliknya. Itu kata bangsa Papua.
Mereka ada nilai plus berkemanusiaan tinggi, asih kepada yang lemah. Lalu kenapa banyak bangsa-bangsa terjajah yang dulu merasa dizalimi oleh mereka hingga timbulkan konflik panjang, ya karena yang mau dijajah juga susah diatur. Sama saja Anda sebenarnya mengasihi anak, tapi kalau anaknya susah diatur, bukankah Anda jadi keras kepada anak?
Menempatkan harga diri manusia, baik harga diri sendiri maupun orang lain, itulah resep negara-negara Eropa dibetahi uang.
Kadang kita tolol dengan harga diri kita sendiri, sering kali salah menempatkan diri mana yang masalah yang kita harus melawan, mana yang harus mengalah karena terdoktrin kuat falsafah, “Wani ngalah luhur pungkasane.” Apa-apa mengalah, tidak sadar harga diri kita sedang dicabik orang lain.
Kemarin di Amsterdam di tengah malam saya ngobrol agak keras dengan teman-teman di kamar hotel, eeh langsung dilabrak bule dari kamar sebelah. Lah kita kerap demi memaklumi orang lain tidak berani mengkomplain, tidak berani berekspresi bahwa kita terganggu. Di situlah kesadaran kita pada harga diri lemah karena terdoktrin kuat “wani ngalah luhur pungkasane”.
Belanda negara maju. Kemampuan belanja rakyatnya tinggi, kalau Anda di sini sekali makan biasa habis 500 ribu – 1 juta, ya itu standar makannya orang Amsterdam untuk 1 orang 1 kali makan.
Biaya hidup mereka tinggi, standar sejahteranya juga tinggi, tapi mereka terus tercukupi kebutuhan hidupnya, ya karena pada prinsipnya mereka sadar dan sudah membudaya kalau harga diri manusia dengan segala kebebasannya bagi mereka itu mutlak, karenanya uang berlimpah betah ngandang di Eropa.
Loh jadi pelacur itu kan tidak berharga? Demi dapatkan uang mereka jual diri? Nah ini masalahnya, masyarakat Amsterdam tidak punya belief tersebut, bagi mereka pelacur itu kedudukan dan kehormatannya sama seperti dokter yang jalankan profesi medisnya, bahwa pelacur itu profesi terhormat sama seperti profesi lainnya.
Anda mau meniru gaya hidup mereka ya hancur karena beda belief dan doktrin. Sama saja Anda muslim didoktrin babi itu najis dan haram, Anda memakannya bisa muntah-muntah, tapi mereka didoktrin babi itu daging bergizi hasilnya mereka sehat makan daging babi.
Seks bebas misalkan, mereka punya belief kalau seks bebas itu sedang bergotong royong dengan orang lain untuk sama-sama cukupi kebutuhan biologis. Saya butuh hajat, Anda butuh hajat, ayo saling bantu tuntaskan hajat. Bagi mereka seks bebas itu gotong royong dengan sesama manusia. Beda dengan belief kita?
Karenanya,
إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.
‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” (H.R. Bukhari)
Nah disinilah, Anda kalau meniru budaya mereka Anda bisa hancur redam hidupnya sebab Anda tidak mampu melampoi belief budaya moralitas Anda, baik karena doktrin adat maupun doktrin agama, contoh kecilnya belief makan babi itu. Maka tak perlu Anda kebarat-baratan, tetaplah jadi diri sendiri.
Lalu apa mereka bahagia? Nah di sini keadilan Tuhan sangat nyata. Sudah panjang, sambung besok lagi.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply