Sejak tahun 2016 saya aktif menjadi writer di medsos khususnya Facebook. Sial beruntung sudah lumayan banyak saya alami. Pernah punya akun dengan 21 ribu follower, lenyap begitu saja karena ulah hacker, dan paling rugi kehilangan sebagian data karya artikel saya.
Akun Facebook lenyap selanjutnya harus bangun follower dari nol lagi. Pernah pula hanya karena satu artikel saya keliling sebagian wilayah Indonesia, diundang isi seminar dimana-mana karena artikel tersebut. Ya macam-macam hal yang sudah dilalui.
Tidak terasa hingga detik ini saya malang melintang di medsos sudah 8 tahunan, dan ternyata baru kemarin sore saya temukan niat yang waras, boro-boro ikhlas lillâhi ta’âla dalam berkarya, niat lurus saja tidak.
Iya, selama 8 tahunan, kesadaran saya dalam berkarya itu kesadaran miskin, sampai-sampai saya sering tersinggung dengan postingan yang sepi interaksi, hati saya kerap sedih kalau interaksi postingan sedang sepi interaksi. Itu artinya saya berkarya di medsos tahunan tapi kesadaran saya sedang cari popularitas.
Cari popularitas berarti saya masih berkesadaran “meminta-minta” kepada netizen, “Ayo ramaikan postingan saya biar saya senang,” itu kesadaran miskin karena meminta-minta dan mengharap-harap. Kesadaran begitu ikhlas dari mana, coba?
Saya sadar itu kesadaran bodoh, saya ingin berusaha lepas tapi tetap tidak bisa, tetap kerap tersinggung ketika postingan sepi interaksi.
Saya tahu saya berkesadaran bodoh dan miskin, namun kalau saya berhenti berkarya karena sadar tidak ikhlas juga langkah bodoh, sebab kalau saya terus berkarya karena menunggu ikhlas, lantas bagaimana ilmu saya bisa memanfaati orang lain? Kalau pun saya ganti profesi, ya berkarya di medsos saja berkesadaran bodoh dan miskin, umpama saya ganti profesi lain pun tetap sama, kesadarannya tetap bodoh dan miskin.
Mau tidak mau saya jalani saja walaupun dengan keadaan hati yang begitu.
Sampai akhirnya di awal Januari 2023 kemarin saya baru temukan kesadaran baru di dalam berkarya, ya kesadaran ikhlas tentu masih jauh, tapi setidaknya temukan kesadaran kaya.
Saya temukan kesadaran kaya itupun setelah saya berbuat salah. Di bulan-bulan akhir tahun 2022 itu saya bosan sekali berkarya, bosan juga buka kelas training karena layani peserta konsultasi sangat capek. Jadinya dalam beberapa bulan saya malas-malasan tidak berkarya, tidak aktif buat konten digital, juga tidak buka kelas.
Hasilnya penghasilan saya anjlok. Cuma menurun saja, morat-marit finansialnya tidak.
Nah di situ saya temukan kesadaran kaya dalam berkarya. Begini, Anda punya kekayaan mobil karena Anda sanggup membayar harga mobil. Anda pingin kaya pun ada harga yang harus dibayar, tidak bayar dengan uang ya bayar dengan jerih payah.
Berkarya itu capek, lah bikin artikel panjang begini saja bisa memakan waktu 2 – 3 jam, capek, lalu karya saya disedekahkan begitu saja ke publik melalui medsos, itu merupakan energi bayar ke alam semesta. Siapapun yang membayar, dia yang kaya, Anda bayar harga mobil ya jadi punya kekayaan mobil, kan?
Di titik itulah saya sadar sepenuhnya, “Ooh kaya itu banyak membayar. Dan konten keilmuan saya ke publik itu adalah bayaran dari saya untuk sebuah kekayaan.”
Sejak menyadari hal itu saya netral dari rasa tersinggung dari konten yang sepi, saya tidak lagi berenergi meminta kepada publik, tapi saya berenergi membayar, sehingga di hati saya muncul statemen, “Bodoh amat. Mau konten ramai atau tidak, terserah, yang penting saya sudah bertindak kaya yaitu membayar.”
Bayangkan! Hanya untuk bergeser dari kesadaran miskin dalam karya menjadi kesadaran kaya butuh 8 tahun berjerih payah. Lantas kalau mau capai rasa ikhlas lillâhi ta’âlâ dalam berkarya, kapan? Ya mungkin masih sangat jauh, kan?
Dulu waktu di pesantren saya mengalami hal sama. Saya iri juga mendengki kepada seorang teman yang menonjol sekali dalam skill intelektualitas dan leader. Di mana-mana saya tersingkir olehnya.
Tetapi rasa dengki dan iri tersebut saya pergunakan untuk memotivasi diri saya sendiri, bagaimana agar saya survive tidak tersingkir. Dari situ jadinya saya mau belajar dan mengaji ekstra disiplin, menggemilangkan diri dengan terus berupaya tampil baik, ilmiah dan profresional dalam berbagai debat ilmu.
Sementara teman yang saya iri padanya tidak saya sentuh sedikitpun harga dirinya, apalagi saya jatuhkan. Karena disiplin belajar dan ngaji, jadinya saya diakui juga kemenonjolan prestasinya.
Dan boleh dikatakan, saya bisa berilmu karena kedengkian dan iri hati saya kepada teman saya yang berpengaruh dan berprestasi tersebut. Saya dapat ilmu bukan dari li-llâhi ta’âlâ, saya dapatkan ilmu dari karakter buruk saya yang suka menonjol.
Karena suka menonjol, iri dan dengki saya bisa keluar dari kebodohan. Lalu apa ini benar?
Lillâhi ta’âlâ atau rasa ikhlas itu rahasia Tuhan.
قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الإِخْلاصِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: سَأَلْتُ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ، عَنِ الإِخْلاصِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: سَأَلْتُ رَبَّ الْعِزَّةِ عَنِ الإِخْلاصِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: <<سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِي، اسْتَوْدَعْتُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِي>>
“Saya (Khudzaifah) bertanya kepada Nabi SAW, ikhlas itu apa? Nabi menjawab, aku tanyakan kepada Jibril, ikhlas itu apa? Jibril menjawab, aku tanyakan kepada Tuhan Yang Maha Agung, ikhlas itu apa? Jawab Tuhan, “Ikhlas itu rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku menitipkannya di hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” (H.Q.R. Al-Qazwini)
Barang dirahasiakan karena itu rahasia Tuhan kok Anda cari-cari? Ya tidak ketemu. Sama saja tahu-tahu dokumen rahasia negara kok Anda cari-cari ya tidak ketemu.
Dan kalau Anda sibuk mencari-carinya ya Anda tidak ada waktu untuk berbuat nyata. Mau sedekah menunggu rasa ikhlas, ya malah bisa-bisa tidak jadi-jadi sedekah karena takut tidak ikhlas.
Maka itu berbuat nyata saja, bertindak dan beramal baik saja, ikhlas lillâhi ta’âlâ atau tidak, serahkan pada Tuhan. Berbuat nyata saja dulu!
Lah iya, untuk dapatkan kesadaran kaya dalam berkarya di konten medsos saja butuh 8 tahun, kalau saya menunggu ikhlas, kapan saya memulai berkarya?
Untuk keluar dari kebodohan ngaji saja butuh 10 tahun berjuang ngaji di pondok pesantren dengan rasa sakit hati karena tidak menonjol juga karena iri dan dengki pada teman yang moncer kemenonjolannya. Kalau saya ngaji nunggu rasa ikhlas ya sampai tua saya tidak sempat mengaji.
Sebab itu berbuat nyata saja, mau ikhlas atau tidak, itu rahasia Tuhan.
Imam Ghazali mengakui, awal menimba ilmu itu niatnya karena takut tidak bisa makan, sebab ia anak yatim, sementara harta warisan ayahnya telah dititipkan ke sebuah lembaga pendidikan.
Kalau Imam Ghazali tidak belajar di lembaga tersebut, ya warisan ayahnya tidak bisa dicairkan. Jadi ia menimba ilmu boro-boro mengerti ikhlas, tapi hanya karena takut tidak bisa makan.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply