Nabi Yusuf A.S. menjadi pejabat tinggi negara Mesir Kuno pelantarnya cuma dengan menafsirkan mimpi.

 

Coba, menafsirkan mimpi kan bukan profesi bergengsi, bukan profesi berkelas. Di sekitar Anda banyak kan orang yang pintar tafsirkan mimpi? Ibaratnya profesi selevel tukang kerik masuk angin, tapi ternyata itu yang mengubah sosok Yusuf menjadi sekelas pejabat tinggi negara.

 

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَآءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

 

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Yusuf : 56)

 

K.H. Bahauddin Nursalim beliau menjelma menjadi ulama milenial populer yang kuasai publik media sosial, kalau beliau pakar internet marketing itu wajar, WhatsApp saja beliau tidak punya. Beliau cuma ngaji biasa seperti lumrahnya kyai kampung, tidak tahunya murid-muridnya merekam, di-upload di akun Youtube masing-masing, terus super viral.

 

Nabi Yusuf cuma lewat tafsir mimpi, Gus Baha cuma lewat rekaman ngaji kampung, segampang itu kan datangnya isi dunia?

 

Ya memang desain permodelan urusan duniawi itu gampangan banget. Pernah saya jelaskan, kalau Anda anak usia 3 tahun, kebetulan Anda anak orang kaya, lalu ditinggal mati orang tua Anda, itu seketika Anda jadi orang kaya karena terima warisan harta.

 

Sebaliknya kalau Anda anak profesor, ditinggal mati orang tua di usia 3,5 tahun, Anda tidak bisa seketika jadi profesor karena terima warisan ilmu. Bila Anda ingin jadi profesor, Anda harus berjerih payah sendiri meraihnya.

 

Urusan harta sistemnya digampangkan datang, bisa seketika dan sekonyong-konyong, tidak usah ngapa-apain, di usia 3,5 tahun Anda bisa kaya raya, sebegitu mudah hadirnya harta. Beda dengan urusan kualitas jiwa, seperti ilmu, karakter, kesalehan, mental, ketakwaan, itu Anda harus berproses sendiri, tidak bisa datang seketika.

 

Anda ingin viral, bikin saja video 19 detik, upload di facebook, langsung Anda terkenal. Maka ini sebenarnya sangat mudah agar Anda digeruduk followers dan subcribers, bikin saja konten-konten bertema issu SARA, issu politik, konten caci-maki, konten debat atau konten selakangan paha, dijamin Anda mudah populer. Gemar saja bicara FPI, misalkan, Anda cepat digeruduk followers.

 

Intinya ciptakan konten-konten iblis yang panas dan hot, baik panas di hati maupun di selakangan paha, pokoknya konten ghurur dan keruhnya dunia, dijamin Anda lekas viral dalam hitungan detik.

 

Kalau Anda main di media sosial, followers dan subcribers tidak tambah-tambah juga, itu artinya Anda “terlalu shaleh”, kurang paham fenomena video 19 detik. Hahaha.

 

Jadi kalau sekedar kaya dan populer itu bukan soal sulit, itu sangat-sangat gampangan, hitungan detik bisa terjadi.

 

Yang berat itu proses mentalnya untuk jadi kaya dan populer, proses jiwanya.

 

Nabi Yusuf menjadi orang besar, prosesnya dari kecil menjadi korban perundungan dan aniaya saudara-saudara seayahnya. Lalu dikriminalisasi dengan dibuang ke sumur. Lantas sekian lama menjadi budak belian. Masih ditambah lagi menjadi narapidana dari fitnah kriminalitas zina yang tidak pernah beliau lakukan.

 

Dalam proses-proses mental tersebut beliau tetap tegar dan kokoh, apalagi putus asa, punya pikiran negatif dengan masa depannya saja beliau tidak punya. Ini nyata sekali, sepayah apapun keadaannya, beliau sangat percaya diri kalau beliau layak mulia dan hebat, beliau konsisten bercita-cita;

 

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ

 

“Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Q.S. Yusuf : 55)

 

Proses mentalnya lama, kalau hadirnya dunia itu super gampangan.

 

Gus Baha juga begitu. Sebelum beliau sepopuler sekarang, beliau sangat konsisten dengan ilmu. Sudah hapal Al-Qur’an, hapal ribuan hadits, kuasai aneka kitab kuning, kitab Ihyâ Ulumaddîn saja sampai setengah hapal.

 

Sudah sebegitu siap keilmuannya, beliau tidak lantas tergiur menjual kealimannya untuk popularitas. Beliau konsisten hanya ngaji layaknya kyai pesantren.

 

Sudah nggak doyan, dijejali sekalian, sudah emoh dengan popularitas, malah dalam hitungan detik beliau populer.

 

Ya begitu urusan duniawi, tidak mahal, tidak sulit, cenderung murahan dan gampangan untuk meraihnya, hitungan detik Anda bisa perolehnya. Karena ini urusan dunia oleh Allah hanya dianggap lebih rendah dari sayap nyamuk.

 

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.

 

“Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air.” (H.R. Tirmidzi)

 

Yang mahal, yang sulit, yang butuh konsistensi, yang butuh jerih payah itu proses mentalnya. Itu yang berharga.

 

Lah wong saya jadi trainer pemberdayaan diri juga cuma lantaran di-mention sama Mas Arif Rahutomo lewat status singkat tidak sampai 5 baris.

 

Sampai hari ini ijazah pendidikan saya di negara masih konsisten lulusan MTs Maarif NU. Apalagi punya sertifikat training ini dan itu, sertifikat training dari dalam dan luar negeri, ilmu pemberdayaan diri saja tidak tahu ilmu dari mana, hahaha, tahu-tahu ilmunya muncul di hati saya.

 

Ilmu saya yang asli yang saya belajar konsisten ya ilmu pesantren; fiqih, ushul fiqih, nahwu sharaf, ilmu tafsir, ilmu hadits, kitab kuning, dan seterusnya.

 

Gampangan banget kan hadirnya dunia itu?

 

Cuma sebelum itu saya tidak batal wudhu saja ada 7 tahunan, belum lagi waktu di pesantren, kalau sedang bahtsul masail (diskusi fiqih dengan refrensi kitab kuning), karena begitu konsentrasinya sampai-sampai kalau saya sakit gigi, sakit giginya seketika sembuh. Usai bahtsul masail, sakit giginya kambuh lagi. Tapi ya tidak perlu lah saya ceritakan jerih payah saya di masa lalu.

 

Yang jelas, proses mental Anda yang mahal. Kalau datangnya duniawi; semacam kekayaan, uang, popularitas, kekuasaan, itu semudah datangnya sampah di sekitar Anda.

 

Maka ya Anda sangat-sangat penghamba dan budak dunia kalau Anda tidak sanggup berproses mental. Sedikit kesulitan mengeluh. Sedikit kesusahan, menggerutu. Sedikit kurang duit, teriak-teriak. Hallah apalagi putus asaan dan bermimpi rendah, itu jelas Anda hidup cuma selisih martabat sedikit dengan ayam.

 

Sudah malas dan putus asaan, akibatnya beli beras saja susah, tinggal teriak-teriak mendalil akhirat dan ikhlas. Repot lagi. Akhirat, ikhlas, ndasmu!!!

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *