Anda sudah baca kan postingan iseng saya sebelum ini? Postingan subsidi telkomsel kemarin?
Saya kalau dengar info ada bantuan sosial dari negara atau dari pihak manapun, boro-boro ingin mendaftar agar dapat jatah, justru yang muncul di hati saya adalah rasa sombong pada uang.
Seperti kemarin, begitu ada teman share info subsidi telkomsel, saya malah leletin lidah dengan membatin, “Saya maunya menyubsidi negara, bukan disubsidi negara. Saya maunya gemar bayar pajak, gemar beli produk negara agar negara cepat kaya.”
Saya banyak di lingkari orang kaya, dan posisi saya mengasuh pondok pesantren. Biasanya punya lembaga pondok pesantren itu tameng sosial untuk “ngasor” pada harta orang kaya, ya minta-minta bantuan. Tapi kalau saya dekat orang kaya, dengan sombong saya bilang dalam hati, “Saya dengan hartamu itu mulia diri saya. Bukan level saya merendahkan diri pada harta, jadi jangan harap saya mau minta-minta bantuan. Saya lebih mulia dari hartamu!”
Itu gaya orang yang sombong pada uang, membesarkan dirinya pada uang dan harta dunia.
Coba Anda cek di Al-Qur’an, Tuhan begitu sombong kepada Anda sebagai makhluk, mengaku, “Diri-Ku Maha Perkasa, Maha Kasih, Maha Lembut, Maha Kuasa,” dan seterusnya.
Coba Anda mengaku, “Aku wanita paling lembut loh di RT-ku,” pasti bullying yang Anda terima.
Tuhan menyombongkan diri di depan Anda sah-sah saja, bahkan sangat etis, itu karena memang kedudukan Tuhan lebih tinggi dari makhluk. Tuhan mengaku tinggi ya etis-etis saja, malah tambah mantap dan meyakinkan.
Coba kalau Tuhan bersikap “ngasor” pada Anda, misal mengaku, “Aku ini zat yang maha tidak berdaya,” ya bubar semua. Anda mau berdoa minta pertolongan pada-Nya langsung ingat, “Ealah Tuhan tidak berdaya. Buat apa minta tolong pada-Nya.” Bubar semuanya, dan 3 hari kemudian Anda sudah enggan menyembah-Nya.
Sama saja seperti Anda sebagai orang tua ketika hadapi anak Anda yang sedang bandel, sambil geram dan menepuk dada Anda bilang, “Aku ini bapakmu. Harus nurut!” Di situ Anda menyombongkan diri pada anak, tapi sangat etis, sebab memang kedudukan orang tua lebih tinggi dari anak.
Menyombongkan diri itu etis dan tidak berdosa kalau memang sudah di maqamnya; seperti guru pada murid, nabi pada umat, bos pada karyawan, dan seterusnya. Dan justru kesombongan Anda itu makin memantapkan kedudukan Anda, makin mem-brending kedudukan kuat Anda.
Lah iya di depan murid kok “andap asor” mengaku, “Saya ini bodoh, Anak-anak!” Ya bubar semua.
Di depan murid ya harus sombong, misal mengaku, “Saya ini sudah selesai S2 Matematika. Jadi pelajaran matematika di SMA ini sudah betul-betul saya kuasai.” Ini kesombongan diri, tapi luwes dan etis karena guru memang kedudukannya lebih tinggi dari murid.
Anda dengan uang, kedudukannya tinggi mana? Jelas tinggi Anda. Kalau uang kedudukannya lebih tinggi dari Anda, semua keluarga korban Sriwijaya Airlines SJ 182 tidak ada yang berduka karena nyawa keluarganya akan diganti rugi dengan uang.
Jiwa Anda tak bernilai, tidak bisa dikurs dengan mata uang, itu karena Anda berkedudukan jauh lebih tinggi ketimbang uang. Kalau Anda punya uang 10 ribu, mau beli motor baru ya tidak sampai derajat, tidak terbeli. Nah seisi harta bumi dan langit ini tidak mampu beli harga diri jiwa Anda, itu saking tingginya derajat Anda di depan harta.
Sama seperti kedudukan Tuhan di depan hamba-Nya, orang tua di depan anaknya, guru di depan muridnya, kedudukan Anda pada uang itu layak kalau Anda menyombongkan diri pada uang.
Saat disombongi, uang itu malah makin terpikat kepada Anda.
Lah iya, ada bansos dikelurahan saja Anda ngiler, rela sakit hati kalau tidak dapat jatah. Lah iya, dapat kuota gratis subsidi pelajar saja Anda ceritakan ke antero RT saking bangganya. Itu level “ngasor” pada duit.
Duit itu sombongi saja, “Nggak butuh. Saya pinginnya bayar, nggak pingin dikasih. Saya maunya kasih pesangon bukan dapat pesangon,” dan seterusnya. Sombong iya itu sombong tapi itu fitrah kedudukan Anda pada uang.
Hati kok “ngasor” pada duit, “Aku tidak mampu, semoga besok dapat rezeki langit. Aku miskin, semoga bansos cepat-cepat turun.” Model mental begitu ya model masuk anginan pada duit. Rezeki makin seret dan mampet. Pada uang itu yang sombong dengan tegas.
Karena kedudukan derajat Anda yang lebih tinggi dari uang sehingga Anda layak menyombongkan diri, maka level tertinggi pada uang adalah “rasa tidak butuh”.
Ada bansos merasa tidak butuh karena sudah merasa kaya. Ada gratisan, ada zakat fitrah, merasa tidak butuh. Itu kesombongan tapi itu fitrah kedudukan yang sebenarnya.
Rasa tidak butuh itu yang disebut zuhud. Jadi zuhud itu level kesombongan tinggi pada harta dunia.
«اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس، يُـحِبُّكَ النَّاسُ».
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” (H.R. Ibn Mâjah)
Jadi gemarlah sombong pada uang, uang menyintai Anda. Bukan cuma uang yang cinta, Allah dan orang-orang di sekitar Anda pun akan menyintai Anda.
Sombong yang tidak boleh itu sombong kepada sesama manusia, kalau sombong pada uang ya harus!

Leave a Reply