Di rumah saya ada beberapa kaleng celengan uang milik anak saya; Hissi Billaura Fasyarizan. Selayaknya anak kecil, nalurinya bermain, termasuk main celengan uang.
Jangan dikira karena mainan lalu celengan-celengan tersebut isi recehan 10 ribuan. Tidak. Lembaran merah dan biru. Ya Hissi seenaknya ambil uang entah di dompet bundanya, dompet saya, atau yang kelihatan tergeletak di rumah. Hissi asal ambil, tanpa beban hati, selayaknya anak-anak bermain. Sebutlah memasukkan uang merah dan biru ke celengan, tapi hukum energinya sama seperti memasukkan kertas.
Saya dan istri melihat Hissi hampir tiap hari memasukkan uang kertas merah dan biru ya netral-netral saja hatinya karena tahu Hissi hanya sedang main-main. Kami tidak ada rencana dan harapan apapun, rencana beli sepeda misalkan, rencana titip uang di celengan Hissi, juga tidak. Hati kami netral dengan uang celengan Hissi, pokoknya nuriti anak ingin bermain saja.
Kami hanya sering melarang Hissi memasukkan recehan 10 ribuan atau 20 ribuan, “Jangan yang receh kayak gitu. Itu yang warna merah,” begitu teguran kami.
Ya saya dukung Hissi bermain-main dengan uang gede sekalian, uang yang selama ini dipuja-puji manusia, biarlah itu hanya mainannya anak kecil kami.
Kami tidak tahu uang celengan Hissi terkumpul berapa, yang jelas barangkali banyak, karena hampir setahunan Hissi bermain celengan, dan hampir tiap hari masukkan uang ke celengan.
Saya tidak pernah mendidik Hissi untuk menabung yang energinya menyimpan dan mengumpulkan harta, tapi yang namanya anak kecil salah satu mainannya ya main celengan. Di situ Hissi “hanya bermain”, bukan menabung untuk masa depan, apalagi menabung untuk mengumpulkan harta.
Tindakannya Hissi itu mengumpulkan harta, tapi energinya bermain, dan hasilnya sedikit pun uang yang dikumpulkan Hissi membawa energi buruk ke keluarga kami. Semuanya netral-netral saja.
Di rekening bank, saya juga sering buang uang “turahan” yakni uang kelebihan yang tidak terpakai. Sesudah semua kebutuhan, baik primer atau sekunder, baik yang amal saleh ataupun yang hura-hura seenaknya terpenuhi semua, lalu tiap bulannnya sisanya saya buang ke rekening. Tidak tahu jumlahnya berapa, tapi mungkin banyak, karena setahu saya uang “turahan” tersebut tiap bulannya ada.
Kalau pas tidak ada “turahan”, ya saya tidak tersinggung tidak apa, saya tidak ada nafsu bisa kumpulkan harta di rekening. Pas tidak ada yang “turah”, seenak sendiri pakai uang untuk penuhi kebutuhan hidup tetap saya nomor wahidkan.
Di situ prakteknya saya kumpulkan harta, tapi energinya “uang turah”, memang uang tidak terpakai. Tindakan saya kumpulkan uang, tapi energinya uang “turahan”. Hasilnya semuanya enjoy.
Berbeda dengan yang pernah terjadi pada istri saya.
Pernah istri saya baru sebulan menggenggam uang bayaran mengajar di pesantren, cuma 900 ribu. Namun niat istri saya ingin sisihkan uang agar punya uang sendiri yang tidak terhubung dengan uang milik saya. Ya punya pegangan uang mandiri.
Hasilnya justru istri saya kehilangan uang 2 juta. Uang 2 juta itu raib ditipu pebisnis online.
Di situ istri saya bertindak kumpulkan harta, namun energinya juga menyimpan dan mengumpulkan harta (kanzul mâl), hasilnya azab yang turun, cuma genggam 900 ribu, hilang 2 juta.
Dalam kasus tersebut, istri saya masuk ke dalam mekanisme ayat berikut ini;
وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤
“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan keduanya di jalan Allah, maka beritahulah mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (Q.S. At-Taubah : 34).
Anda paham, kan? Kanzul mâl alias kumpulkan harta yang dapat azab, atau infâq fî sabîli-llâh alias membelanjakan harta di jalan Allah yang peroleh rahmat, itu bukan soal tindakan, tapi soal kesadaran di hati Anda, soal perasaan dalam hati Anda. Apa rasa di baliknya.
Karena ini sekarang saya kalau pakai sandal minimal harga 1,5 juta. Sudah malas sandal di bawah 500 ribu. Kenapa? Ya agar hisab saya kelak di akhirat ringan, tidak berat.
Lah iya kalau saya pakai sandal harga di bawah 500 ribu itu artinya saya pelit dengan diri saya sendiri, sebaliknya kalau yang 1,5 juta saya jadi dermawan pada diri saya sendiri.
Dermawan pada diri sendiri itu amal saleh di jalan Allah, hasil hisabnya baik. Karena baik, insya Allah dapat hisab ringan.
Paham ya dengan satir sandal saya? Rasa di hati Anda atas uang itu yang akan dieksekusi.
Sebab ini pentingnya Anda punya spiritual, punya nilai-nilai kesalehan dalam diri, karena pengetahuan spiritual dan nilai-nilai kesalehan itu yang akan mengontrol kesadaran-kesadaran Anda atas tindakan Anda pada uang.
Terus belajar, terus berkumpul dengan orang saleh, itu tips agar kesadaran spiritual Anda terjaga.
K.H. Ahmad Abdul Haq, beliau populer sebagai waliyullah, putra wali agung K.H. Dalhar Watucongol, Magelang.
Konon hobi K.H. Ahmad Abdul Haq itu mengoleksi mobil mewah. Keren, kan?
Yang terjadi pada beliau tidak lebih seperti penjelasan saya di atas, bahwa rasa hati Anda dan kesadaran Anda itu yang akan mengeksekusi hasil hisab harta Anda.
Terus belajar ilmu kesadaran dan berkumpullah dengan orang saleh, itu salah satu cara menjaga dan menyalehkan kesadaran Anda.
Kesadaran hati terjaga dalam kesalehan itu enak. Mobil mewah, rumah mewah, uang banyak, nanti mati masuk surga. Hmmm.

Leave a Reply