Seorang alumni kelas training saya; Servo Prosperity Class, dia seorang dokter hewan. Dia punya klinik hewan.
Dia kerap alami kesulitan uang untuk operasionalkan klinik karena kerap kasih kelonggaran pembayaran orang-orang yang mengobatkan hewannya.
Alasannya demi rasa prikehawanan yang butuhkan pertolongan segera, ia melonggarkan untuk bayar lain kali saja.
Masalahnya ketika pemilik hewan ditagih pelunasan bayaran, banyak yang kabur. Ya rasional, bayar dokter untuk pengobatan anak sendiri saja banyak yang bermasalah, apalagi bayar pengobatan kesehatan hewan.
Akhirnya pelan-pelan klinik hewannya tidak dapat beroperasi karena memenangkan rasa perikehewanan di hatinya.
Bisnis itu punya etika. Etika bisnis ya harus ada cuan. Artinya cuan itu adalah prioritas. Tanpa energi cuan, apa artinya bisnis? Apa artinya dagang?
Banyak orang merasa berdosa ketika harus memprioritaskan peroleh cuan untuk dirinya di dalam bisnis.
Biasanya penyakit begitu menempel di hati orang yang yang tidak enakan hati dan mudah kasihan. Bagi mereka mentarget peroleh cuan itu adalah dirasa sebagai kejahatan dan terlalu tega.
Rumah sakit itu lembaga bisnis dan rumah sakit kalau dinalar dari sisi kemanusiaan sebenarnya sangat jahat.
Bayangkan, ada orang sekarat, ada orang kena musibah, bukannya dibantu materi, malah dimintai bayaran, kan jahat sekali? Namun tidak ada rumah sakit disebut lembaga jahat karena rumah sakit bervisi misi bisnis.
Nah Anda yang masih punya perasaan berdosa, perasaan berbuat jahat, perasaan tidak tega saat harus ambil prioritas cuan dalam dagang, silakan dinalar fakta dan realitanya rumah sakit.
Rumah sakit tetap berakhlakul karimah, tetap berperikemanusiaan, tetap bermoral tinggi, sekalipun meminta bayaran kepada orang yang sedang kena musibah, bahkan sedang sekarat. Sebab bisnis itu ada etikanya sendiri, etika bisnis ya mentarget peroleh cuan.
Kalau bisnis diberi etika sosial, diberi etika kemanusiaan, diberi etika perikewanan, ya sama saja di depan suami masih menutup rapat aurat, padahal etika kesuamiistrian ya harus buka lebar-lebar auratnya.
Banyak yang alami penurunan omset bisnis bahkan hingga gulung tikar karena persoalan ini, persoalan hati yang berlebihan prioritaskan orang lain hingga tidak bisa lagi prioritaskan dirinya sendiri tapi diterapkan dalam mengelola bisnis.
Kasus serupa seperti warung-warung kecil di desa dimana budaya rasa sosial bertetangga masih sangat kental. Karena tidak tega dan tidak enak hati gampang hutang-hutangkan ke pelanggan. Ya jadinya warungnya tutup.
Kalau Anda punya rasa empath besar ke orang lain bukan dengan merusak etika bisnis, ada penempatannya sendiri.
Saat jualan ya ambil saja keuntungan semaksimal mungkin, gampang kalau uangnya sudah jadi milik Anda dengan cara halal dan terhormat, tinggal kasihkan ke orang lain untuk membela rasa empath Anda, dengan begitu rasa empathnya bukan lagi merusak etika jual beli.
Namun di dalam jual beli ada juga orang yang super tegaan, cirinya sesudah Anda bertransaksi dengannya Anda merasa seperti diperas. Iya merasa diperas.
Nah orang yang begitu biasanya orang yang berhati jahat, bukan orang yang pintar jualan. Ketika temukan orang begitu, mending catat orangnya, setelah itu jangan pernah lagi berurusan uang dengannya.
Iya sama-sama ambil untung besar, orang yang hatinya jahat kepada orang lain itu Anda yang bertransaksi dengannya akan merasa diperas, beda dengan orang yang pintar jualan, sekalipun dia ambil untung gede, tapi tetap tertangkap mengasyikan di hati orang lain.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply