Saya dan Anda kerap kan saksikan emak-emak dengan wajah dan tubuh lusuh, terlihat sekali dia penuh lelah di kehidupannya. Ya lelah mengurus rumah tangganya.

 

Mengurus anak-anak, mengatur keuangan rumah tangga ya serba pas-pasan, tumpukan pekerjaan rumah, yang semuanya melelahkan dan bikin penat.

 

Boro-boro berwajah glowing, atau di telinga dan lehernya ada anting dan kalung emas, cincin ataupun gelang emas, tak ada hiasan di tubuhnya sebagaimana takdir wanita sebagai perhiasan dunia. Segala yang ia kenakan sehari-hari seadanya.

 

Kelelahannya bukan saja di tubuhnya, di pikiran dan mentalnya pun begitu lelah tertekan kondisi keuangan rumah tangga yang serba pas dan harus dicukup-cukupkan.

 

Satu sisi kemana-mana dia menggendong anak saking repotnya, sisi lain pikirannya harus kerja keras bagaimana punya penghasilan tambahan rezeki.

 

Ketika dia masih cewek terlihat montok, baru menikah setahun dan punya satu anak, semua kecantikannya berganti lusuh dimakan kelelahan dan ketidakcukupan uang.

 

Anda bisa amati sendiri kok, setelah menikah kok kondisi istri seperti yang saya ceritakan di atas, itu rezeki suami juga makin terpuruk belangsakan.

 

Namun sebaliknya, kalau istrinya setelah menikah terlihat makin glowing, makin terlihat sebagai wanita mulia yang kecukupan lahir batinnya, rezeki suami juga makin glowing dari hari ke hari.

 

Jadi kalau mau meramal masa depan rezeki seorang suami akan makin glowing atau makin lusuh di masa depan, cek kondisi istrinya sekarang ini, dia glowing karena bahagia bersama suaminya, atau dia makin lusuh karena kelelahan dan depresi karena bangun rumah tangga dengan suaminya.

 

Kenapa kondisi istri bisa jadi alat baca kondisi rezeki suami di masa depan? Karena istri itu perangsang energi rezeki suami.

 

Begini, alam semesta itu saling kerja untuk alirkan energi. Tangan kerja dulangkan makanan, mulut menerimanya. Matahari kerja curahkan sinarnya, bumi menerimanya. Langit kerja curahkan hujan, bumi menerimanya. Sungai kerja alirkan air, lautan menerimanya.

 

Lelaki mengalirkan energi kepada wanita melalui energi seks dan nafkah.

 

Lelaki yang bekerja mengalirkan energi seks karena tampak dari sistem air maninya yang mengalir dan memuncrat seperti sinar matahari dan air hujan.

 

Energi nafkah juga demikian. Lelaki mengalirkan energi nafkahnya kepada wanita.

 

Memang bumi bekerja menerima energi air hujan, namun tidak serta merta menerima saja, di bumi air hujan yang diturunkan langit diolah sedemikian rupa sehingga kembali lagi bermuara ke laut.

 

Di laut, air hujan kiriman langit tersebut diserap lagi oleh laut untuk suplay energi ke langit agar langit terus bisa menyediakan air hujan. Dan terus berputar begitu.

 

Sinar matahari dan energi-energi lainnya juga begitu. Satu sisi ada yang curahkan energi, sisi lain ada yang terima sekaligus sebagai penyuplay energinya.

 

Wanita pun begitu, ia menerima curahan air mani dan nafkah dari pria, namun wanita lah penyuplay energi seks dan rezeki.

 

Dimana pun wanita lah yang dipajang sebagai media eksotisme. Wanita didandani, diberi perhiasan, dan dimodelling tata busana sedemikian rupa, karena wanita adalah penyuplay energi seks.

 

Bahkan simbol seks juga pada wanita, adegan film panas yang difigurkan selalu tubuh wanita. Wanita penyuplay energi seks karenanya perannya adalah “merangsang”.

 

Demikian pula dalam rezeki, peran wanita adalah merangsang energi rezeki karena wanita lah penerima nafkah sekaligus penyuplay energi rezekinya.

 

Nah ketika istri setelah menikah dan bangun rumah tangga kok dia kelihatan lebih banyak lelahnya saking penatnya selesaikan urusan rumah tangga, itu artinya sistem perangsang rezeki suami telah rusak.

 

Makanya bisa diamati, para istri yang setelah menikah kok terlihat lusuh karena kelelahan, rezeki suaminya juga makin belangsakan.

 

Jadi ya saya sendiri sebagai suami, kalau tidak ingin belangsakan rezekinya, mau tidak mau harus berani mengencangkan daya upaya agar istri bukan makin lelah dan sumpek sampai hilang kecantikannya setelah menikah dengan kita.

 

Malu lah sama mertua. Waktu dia bersama orang tuanya terlihat cantik karena bahagia, masa setelah mendampingi kita malah dia makin kumuh.

 

Sudah badan tak ada hiasannya, dadanya kendur, rambutnya awut-awutan, stres pekerjaan, karena terlalu rempong menadah kesumpekan berumah tangga.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *