Ketika ayah mertua saya umrah, ayah mertua dapat hadiah jubah dari salah satu sahabat dekat saya. Merknya branded juga. Setelah dicoba kekecilan. Lalu saya menyeletuk guyon, “Wah kalau begitu buat saya saja!” Lalu kami tertawa “ger” bareng-bareng.
Sepulang rumah, saya merasa malu sekali telah guyonan begitu. Kok malu? Ya jubah hanya seharga 500 – 700 ribu, kok saya mau-maunya menggadaikan harga diri saya di depan uang 500 – 700 ribu. Walaupun guyonan tetapi guyon minta-minta begitu bisa menurunkan martabat saya. Sadar telah kebabelasan guyon, saya lalu istighfar dan istighfar.
Esok harinya saya kembali bertemu ayah mertua, dan jubahnya benar-benar diberikan kepada saya. Saat itu saya langsung istighfar mendalam, lalu saya menolaknya. Dengan tegas saya bilang, “Tidak usah, Abah. Itu jubah mahal. Layaknya buat, Abah. Kemarin saya kebabelasan guyon saja. Kalau kekecilan bisa dibawa ke tukang jahit, minta disambungin dengan kain putih lain kan bisa.”
Usulan saya pun diterima ayah mertua.
Manusia itu sudah tercipta dengan martabat tertinggi. Apalagi di depan harta, di depan malaikat saja martabat manusia jauh lebih tinggi, sebab itu sudah seharusnya Anda sebagai manusia memiliki rasa malu terhadap harta. Harus tahu batas saat menerima, saat memakai, saat mengonsumsi, saat mencari harta, tujuannya untuk menjaga marwah sebagai makhluk tertinggi.
Tidak punya malu kepada harta, bisa jadikan kualitas rezeki Anda menurun, kalaupun tidak menurun, berkah rezekinya yang menurun.
Lah iya, pengemis mungkin punya uang, tetapi mereka tidak berharga.
Apakah Anda mau saya doakan agar anak Anda jadi pengemis dengan duit banyak? Saya kira Anda tidak mau. Sebab pengemis itu cara mencari duitnya dengan menghapus harga dirinya sendiri di depan uang. Demi uang dia tanpa malu-malu merendahkan diri di depan sesama agar dapatkan uang tanpa modal. Pengemis punya uang, tetapi kualitas berkah rezekinya rendah, uangnya justru uang yang merendahkan harga dirinya, karena dia tidak bisa jaga marwahnya di depan uang.
Tangan Anda dipotong, Anda hidup. Kaki Anda dipotong, Anda hidup. Tetapi kepala Anda dipotong, bisakah Anda hidup? Anda mati.
Kepala itu simbol marwah. Harta dan rezeki itu diciptakan hanya sebagai pelayan Anda, ibaratnya Anda maharajanya, harta dan rezeki hanya pelayan Anda. Kalau Anda sebagai raja tidak punya marwah kuat di depan para pelayan, satu bulan saja Anda berkuasa bisa habis dikudeta.
Saya punya seorang teman trainer spiritual, suatu ketika ia dapat hadiah 50 juta cuma-cuma dari salah satu subcriber Youtubenya. Sudah ditolak, tapi tetap saja diberikan. Akhirnya teman saya memilih memberikan training private untuk si subcriber.
Kenapa teman saya berat hati menerimanya? Padahal itu rezeki nomplok? Itu karena dia punya rasa malu. Ia merasa tidak bekerja apapun kepada si subcriber sehingga tidak layak diupah, karena dia bikin konten Youtube pun untuk bangun karir trainingnya, lah tidak disangka kok ada yang kasih 50 juta. Namun karena rasa malunya pada uang tinggi, dia pun mengupayakan membayar dengan memberikan training private.
Dua tahun lalu saya masih gembira ria dapat hadiah-hadiah begitu. Kadang saking hormatnya para peserta training kepada saya, mereka kerap kasih hadiah, ya kalau recehan, hadiahnya pernah ada yang puluhan juta, bahkan ada juga yang senilai ratusan juta. Namun sekarang justru saya mengelus dada dapat hadiah-hadiah begitu, lalu banyak-banyak baca istighfar.
Saya banyak istighfarnya, bukan karena tidak bersyukur tapi takut harga diri saya terbeli oleh harta, dan usaha sendiri walaupun hasilnya sederhanaan saya masih bisa.
Itulah rasa malu kepada uang. Ya kita butuh uang, kita juga mencarinya, namun di keadaan tertentu saat uang datang melampoi proporsi yang kita usahakan, kita perlu mengecek diri, kita malu atau tidak menerimanya.
Apalagi malu yah? Ada tetangga ke luar kota saja yang ditanyakan dan diguyonkan tagihan oleh-olehnya. Ada teman share dagangan yang ditanyakan gratisannya. Antri sembako gratis rela desak-desakan, tidak kebagian terus tersinggung. Kalau hajatan edaran undangannya ke seantero jagat agar untung dari amplop kondangan. Kalau kerja seenaknya sendiri, tidak punya disiplin, giliran demo minta kenaikan gaji memaki-maki ganas.
Kemarin saya menonton konten Gubernur Jateng; Ganjar Pranowo yang sedang buka open house virtual dengan warga. Sama Ganjar disuruh pilih mau dibangunkan rumah atau diberi laptop. Si warga milih rumah. Sudah deal dibangunkan rumah, si warga dengan gigih minta agar diberi laptop juga. Lalu oleh Pak Ganjar ditegur, “Disyukuri dulu hadiah rumahnya. Laptopnya untuk lainnya.” Ya begitu sikap orang tidak punya malu, cirinya suka melunjak sudah diberi hati minta jantung.
Ada juga orang bikin yayasan sosial, lalu minta-minta donasi kesana-kemari, tidak peduli itu merisihkan orang lain atau tidak. Dia yang bikin yayasan sosial, orang lain yang direpotkan mendanai. Kan tidak punya malu. Dan parah lagi, uang sosialnya dibelikan fasilitas sosial, lalu dipakai sendiri. Kan parah tidak punya malunya.
Termasuk orang yang tidak punya malu kepada harta ya mereka para pejabat yang keluarganya flexing kemewahan di media sosial. Betapa tidak punya rasa malu, yang menggaji mereka adalah rakyat, lah fasilitas rakyat masih kurang disana-sini, malahan mereka pamer kemewahan di depan rakyat. Kalau rakyat tidak merasa menggaji tentu tidak apa-apa, umpama karirnya wirausahawaan. Lah tahu-tahu digaji rakyat malahan rakyatnya dilunjaki dengan dipameri kemewahan. Kan tidak punya malu.
Dan puncak orang yang tidak punya malu kepada uang itu dia jadi rakus, tanpa malu-malu merampas hak orang lain. Dari situlah kemudian dia memakan harta haram.
Batasnya Anda harus sadar diri memasang malu kepada uang itu bila Anda dapatkan harta tetapi di luar batas apa yang Anda hasilkan dari kerja. Bukan berarti Anda harus menolaknya, tetapi Anda malu atau bangga. Kalau bangga ya itu namanya tidak punya malu. Kerja apa-apa tidak, bayar apa-apa tidak, kok peroleh uang. Kalau bangga kan jadi mirip pengemis, tidak mau kerja, tidak mau modal, tapi maunya peroleh uang.
Lah rasa malu kan vibrasi force? Kok disini dianjurkan? Sama saja marah itu vibrasi rendah, tetapi kalau Anda marah karena istri diselingkuhi orang, bukankah jadi vibrasi power? Sama saja bangga itu vibrasi force, tetapi bagi atlet sepak bola yang selebrasi dengan bangga telah buat gol, bukankah menjadi vibrasi power? Rasa malu pun demikian.
اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.
”Iman itu lebih dari 70 (tujuh puluh) atau 60 (enam puluh) cabang, cabang iman yang tertinggi adalah mengucapkan ‘La ilaha illallah’, dan cabang iman terendah adalah membuang gangguan (duri) dari jalan, dan rasa malu merupakan cabang dari iman.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply