Rezeki dari pemberian itu bukan sistem cari penghasilan, jadi na’udzubi-llâh kalau memprioritaskan peroleh rezeki dari sisi ini. Namun ini adalah kehidupan seutuhnya, yang namanya peroleh rezeki dari sisi pemberian cuma-cuma itu ada. Ya setiap diri Anda alamai hal itu kan?
Dulu sudah sering saya jelaskan, orang memberi sesuatu kepada Anda itu ada kalanya karena rasa hormat dan ada kalanya rasa kasihan.
Anda kemarin memberi hadiah lebaran kepada orang tua tentu dengan nilai prioritas, bukan pemberian yang tak bernilai, masa iya di hari lebaran kasih ke orang tua cuma 10 ribu, kan tidak mungkin? Tentu sesuatu yang bernilai namun sesuai kemampuan Anda masing-masing.
Kenapa Anda berikan yang bernilai? Karena Anda hormat kepada orang tua.
Beda memberi kepada pengemis, 500 perak saja Anda nyaman-nyaman saja memberikannya, sebab kepada pengemis Anda tidaklah hormat namun sekedar kasihan.
Hal ini juga sering saya jelaskan, getaran energi pemberian karena rasa kasihan itu energi yang tidak berdampak mengubah keadaan hidup, sebab bukan derajat manusia dikasihani dengan uang. Anda sebagai manusia kan derajat penciptaan tertinggi, uang derajatnya jauh di bawah Anda, makanya apa Anda mau diinjak-injak kepalanya lalu diganti dengan uang? Asal Anda waras ya Anda tidak mau.
Anda adalah derajat penciptaan tertinggi, ibarat mobil Anda dicipta sebagai mobil mewah, kemudian ada gerobak penyok kasihan pada mobil mewah, kan bukan levelnya? Ada uang digunakan untuk membelaskasihani manusia yang derajatnya jauh lebih tinggi, ya bukan level.
Karena ini kalau suatu pemberian kepada Anda kok getaran energinya masih karena kasihan, itu tanda hidup Anda belum akan berubah.
Contoh ada melarat banget, kelihatan rempong sana-sini, akhirnya tetangga kanan-kiri kasih bantuan, nah itu energinya bukan karena hormat, tapi karena kasihan.
Ya amati saja, yang tiap tahun terima zakat, terima BLT, terima subsidi, itu tetap mereka-mereka saja, tidak kemudian setelah terima bantuan lantas hidup mereka berubah, itu karena zakat, BLT, subsidian, itu level energi pemberiannya karena kasihan.
Beda pemberian karena rasa hormat, ini pemberian menghargai tinggi. Kemarin saya kondangan kepada salah satu ulama besar di Banyumas. Ulama besar tentu kaya raya, tidak butuh diamplopi tebal, lah kok saya mengisi amplopnya hingga 1,5 juta? Padahal ke tetangga sebelah yang hajatan paling mengamplop 50 ribu. Kenapa begitu? Karena pertama saya hormat kepada beliau. Kedua karena saya sadar untuk mohon tambahan doa dan berkah beliau.
Lah kan, selisih sekali angka energinya pemberian karena rasa hormat dan karena kasihan?
Dan level penerimaan Anda atas apa yang diberikan orang lain itu penanda keadaan finansial Anda. Kalau masih di area energi dikasihani, hidup Anda masih susah berubah, kalau di area dihormati itu penanda hidup Anda dalam wujud kehidupan yang lebih baik.
Sekarang bagaimana mengubah keadaan energinya? Mengubah energi dikasihani menjadi dihormati?
Orang tua Anda dihormati oleh Anda karena ia punya jasa besar kepada Anda, ia pahlawan hidup Anda. Nah disini, kalau Anda mau mengubah keadaan energinya, Anda harus bangun darma bakti atas kehidupan ini, jangan malah adem ayem diberi darma bakti.
Saya kisahkan satu contoh. Ada seorang ustadzah TPQ. Karena ia getol mendidik ngaji anak-anak tetangga, lantas banyak orang yang peduli untuk memberi. Namun di sisi lain ia masih miskin, rumah saja reot-reot, sehingga kemiskinannya menarik orang untuk memberi karena kasihan.
Si ustadzah tetap saja andap asor, pemberian-pemberian itu tetap diterima dengan penuh syukur. Tetapi ia tidak mau adem ayem hanya terima pemberian dari wali santri TPQ-nya dan dari masyarakat. Ia terus berupaya disiplin sebaik mungkin dalam mengajar, ia juga tidak mau mengeluhkan keadaan finansialnya di depan orang lain. Dia juga pantang minta-minta, pokoknya ia berprinsip jangan sampai merepotkan orang lain.
Dan ia menghadapi orang yang memberi kepadanya, ia tidak mau berpangku tangan, ia berusaha keras membalasnya, walaupun semampunya. Ibarat ada orang datang bawa gula teh, ya dia balas dengan kasih pesangon ke anaknya. Ia juga suka dagang, sambil iseng-iseng ia aktif jualan pakaian di Tiktok dan Instagram.
Anda punya kekayaan mobil karena Anda mampu membayarnya. Bila sudah kaya ya tentu dihormati orang, sebab tidak bisa dipungkiri bahwa di sini adalah alam materi sehingga yang kaya lebih dihormati adalah satu hukum kepastian. Hanya saja bagaimana agar Anda punya kekayaan, ya sama seperti Anda ingin punya mobil, yakni Anda harus membayar harganya.
Nah si ustadzah TPQ dia membayar dengan mendidik ngaji anak-anak TPQ, itu sudah merupakan tindakan orang kaya. Ditambah lagi ia sangat amanah dengan disiplin mengajar. Satu point kekayaan dia dapatkan.
Dan ketika kekayaannya mengajar TPQ mau dibeli oleh masyarakat dengan aneka pemberian, ia membayar dengan oleh-oleh balik, tidak mau berpangku tangan. Di point kedua ini, ia berhasil mempertahankan energi kayanya. Ia membayar dan membayar.
Dia tidak pernah meminta-minta dan mengeluhkan kesulitan finansialnya, ia sabar dan tawakal. Dan ini pun jadi point ketiga simpanan energi kayanya.
Lambat laun karena ia terus membayar baik bayar dengan jasa ngajar, bayar dengan oleh-oleh balik, bayak dengan capek dan kesabaran, energi kayanya pun menjadi power full. Dan saat itu dengan ajaib jualannya di Tiktok dan IG meledak. Ia pun mulai kaya.
Setelah ia kaya, ia tentu dihormati dan dihargai lebih tinggi. Pemberian dari orang-orang di sekitarnya yang dulu karena rasa kasihan auto berubah karena rasa hormat.
Jadi kenapa energi pemberian Anda berputar-putar di area energi dikasihani? Ya karena terlalu nyaman diberi darma bakti, Anda tidak mampu berbuat darma bakti kepada kehidupan.
Jangan adem ayem dikasihani, berbuatlah baik, berlombalah dalam kebaikan, fastabiqul khairât; itu cara menggeser energi dikasihani uang menjadi energi dihormati uang.
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ – ١٤٨
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 148)
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply