Dalam ajaran agama Islam banyak sekali diajarkan mengenai fadhîlatul a’mâl (keutamaan-keutamaan amal) yang kadang tidak masuk akal. Saya ambil contoh di sini seperti fadhîlah Puasa ‘Arafah.
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (H.R. Muslim)
Anda taubat selama setahun belum tentu berhasil karena proyek dosa terus berlangsung setiap hari. Atas ditaubati, bawah berbuat dosa. Dan hasil pun ditentukan sesuai upaya kerja.
Janji -janji pahala fadhîlah seperti di atas, seolah berlawanan ekstrem dengan kaidah, “Al-ajru bi qadril masyaqqah” bahwa “pahala sesuai dengan kadar kepayahan”.
Kaidah “al-ajru bi qadril masyaqqah”di atas itu petunjuk bahwa hidup ini tidak ada gratisan.
Memang hidup ini cuma-cuma, tidak ada pajak untuk oksigen yang Anda hirup, tapi bukan gratisan, karena untuk dapatkan oksigen sehat, Anda harus berupaya lahir batin melestarikan lingkungan sehat. Standar kebaikan hidup Anda sebanding dengan kepayahan Anda dalam upaya.
Apa mungkin puasa Arafah sehari melebur dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang? Karena jelas hasilnya beda, antara kerja sehari dengan kerja setahun. Mekanisme puasa Arafah sama saja, kerja sehari dengan hasil yang menyamai kerja setahun lalu dan setahun akan datang. Ini melawan mekanisme, “Al-ajru bi qadril masyaqqah”.
Jika dimaknai serampangan Nabi Daud AS merasa iri karena beliau puasa sehari berbuka sehari itu dilakukan seumur hidup beliau, di-TKO dengan mudah hanya dengan puasa Arafah sehari. Adil?
Puasa Arafah dengan fadhīlah-nya itu rahmat Tuhan. Soal “rahmat Tuhan” sering disebut non matematis, bukan nalar logis. Ooh tidak. Tuhan selalu bermain di wilayah pasti (Al-Muqtadir), tidak ada mekanisme “kebetulan” di dalam Tuhan, kebetulan itu hanya “kepastian yang tidak disadari”.
Tuhan itu “tidak mempengaruhi dan tidak dipengaruhi”, Dia di posisi nol. Sehingga segala sesuatu yang dibagikan kepada Tuhan (nol) akan menghasilkan tiga kepastian:
1). 0/0 = 0 (sesuai dengan konsep nol dibagi berapapun bilangannya maka jawabannya adalah nol).
2). 0/0 = ∞ [tak hingga] (sesuai dengan konsep bilangan berapapun dibagi dengan nol hasilnya tak hingga/tak terdefinisi, misal 9/0= ∞ (tak hingga)).
3). 0/0 = 1 (sesuai dengan konsep bilangan berapapun jika dibagi dengan dirinya sendiri maka hasilnya adalah satu, misal 2/2=1).
Puasa Arafah ini menetapi mekanisme kepastian hasil 0:0= ∞ (nol dibagi nol sama dengan tak hingga). Ini eksak. Jadi rahmat itu eksak, bukan gratisan bukan kebetulan, bukan hal yang tidak matematis.
Puasa Arafah dibagikan kepada Tuhan (0) sama dengan ampunan dosa dapat hasil tak hingga jika memang Anda hanya membagikan kepada 0, alias lillāhi ta’ālā.
Sekalipun puasa Arafah bersama, hasilnya bisa beda-beda, bahkan ada juga yang cuma hasil haus dan lapar saja, karena mekanisme “rahmat Tuhan” standar dengan kemampuan Anda berbagi kepada nol (lillāhi ta’ālā).
Karena ini, fadhīlah puasa Arafah itu matematis, sesuai kaidah al-ajru bj qadril masyaqqah, karena upaya diri Anda “berbagi kepada nol (lillāhi ta’ālā)” itu inti segala kepayahan. Sekedar menghasilkan 1 milyar dalam sehari, banyak yang bisa, tapi menghasilkan lillāhi ta’ālā dalam seumur hidup belum tentu bisa.
Jadi, mekanisme rahmat itu inti kepayahan. Dapat pahala diampuni dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang dengan puasa Arafah sehari itu memenuhi kaidah al-ajru bi qadril masyaqqah; pahala seimbang dengan kadar kepayahan.
Duit itupun satu mekanisme rahmat. Jadi sangat mungkin Anda kerja sehari cukup untuk hidup setahun. Bill Gates dalam satu detik, duit yang masuk ke rekeningnya mencapai nominal milyaran. Duit Anda pun bisa seperti pahala puasa Arafah, asalkan duit Anda masuk dalam mekanisme rahmat Tuhan.
Hanya yang perlu Anda tahu, Tuhan bekerja sesuai prasangka Anda pada-Nya, kalau prasangka Anda masih saja “ngitang-ngitung” duit, curahan rahmat duit yang masuk kepada Anda juga pakai rumus hitungan. Satu bulan kerja berarti cuma dapat gaji 3 juta, itu rezeki dengan rumus hitungan.
Maka ini perasaan Anda yang harus digubah dalam menyangka curahan duit-Nya. Berarti harus bagaimana? Ya latihan tidak main hitungan dengan duit. Boros ya diterima dengan enjoy, tidak dibuat stres dan merasa bersalah. Harus keluar biaya besar ya enjoy saja tidak dijadikan beban berat. Tidak dibuat prinsip ketat dalam pengeluaran. Tidak “ngakal-ngakal” agar bisa menabung dan mengumpulkan duit. Pokoknya enjoy dengan duit.
Kenapa perlu mengganti setting mental yang demikian? Karena curahan duit itu rahmat-Nya. Puasa di hari Arafah dalam sehari saja bisa menghapus dosa di masa lalu dan masa akan datang, kenapa kerja sekali tidak cukup untuk makan setahun? Yang membatasi curahan rahmat duit-Nya kepada Anda hanyalah prasangka Anda pada-Nya yaitu “hitungan” rasionalitas Anda terhadap keluar masuknya duit.
Jangan suka hitung-hitungan duit, itu jadikan Tuhan turunkan duit-Nya juga terhitung, karena Dia turunkan rahmat-Nya sesuai prasangka hamba pada-Nya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan
Spiritual Prosperity Word
Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply