Kalau hidup Anda tanpa pembenci dan pendengki, jangan merasa itu anugerah, justru itu disharmoni.

 

Lah tanpa musuh kok disharmoni? Iya, unsur alam semesta mana yang bisa hidup tanpa kotoran?

 

Tumbuhan jelas butuh kotoran besar untuk peroleh hara, tumbuhan mengonsumsi langsung kotoran.

 

Hewan ada yang langsung mengonsumsi kotoran, ada juga yang tidak langsung. Lalat makan kotoran Anda, ia langsung mengonsumsinya. Kambing makan rumput, sedangkan rumput tumbuh subur dari hara dalam kotoran. Kambing mengonsumsi kotoran dengan tidak langsung.

 

Dan Anda semua bisa makan juga karena adanya kotoran kehidupan. Pemilik bengkel makan dari kotoran mesin dan onderdil kendaraan, dokter makan dari kotoran penyakit, motivator makan dari kotoran mental manusia, ASN makan dari kotoran birokrasi negara, ulama makan dari kotoran akhlak masyarakat, guru dan dosen makan dari kotoran kebodohan intelektualitas, polisi makan dari kotoran kriminalitas, dan seterusnya.

 

Jadi hidup ini disuburkan oleh kotoran, entah langsung atau tidak. Berarti kalau Anda kekurangan kotoran, Anda bisa binasa. Menjadi dokter, ternyata sudah tidak ada kotoran penyakit, apa si dokter tidak mati melarat?

 

Pembenci, musuh dan pendengki, mereka akan selalu hadir dalam hidup Anda selagi Anda masih diharapkan untuk tumbuh subur.

 

Jadi hidup mengaku “tidak punya musuh” justru itu disharmoni. Itu bukan kesucian, bukan keunggulan, bukan kemuliaan, tapi disharmoni.

 

Tapi kebanyakan musuh disharmoni juga. Maka ini musuh jangan dicari, ia akan datang sendiri untuk suburkan hidup Anda.

Paham?

 

Nah sekarang memprogram takedown itu para musuh, para pembenci, para pendengki itu bagaimana?

 

Ada kisah seorang yatim-piatu yang tinggal di rumah pamannya. Namun si paman ini tidak tulus merawatnya, ada niat jahatnya. Si yatim hanya dimanfaatkan tenaganya sebagai pembantu rumah tangga gratis. Si yatim disekolahkan tidak, diberi uang jajan juga tidak, sehari-hari hanya dikasih makan.

 

Ada rumah warisan rumah beserta tanahnya tapi dijual dan uangnya dimakan si paman, warisan motor juga dikuasai paman.

 

Lewat 3 tahun, pamannya kerap alami kualat sendiri setiap kali si paman baru menyakitinya. Misal habis membentaknya, si paman tiba-tiba sariawan dan radang tenggorokan parah hingga kunyah makanan saja tidak bisa. Habis menyuruh-nyuruh ia kerja rodi, si paman jantungnya langsung bengkak dan harus masuk rumah sakit. Kerap terjadi konslet-konslet begitu.

 

Pada akhir cerita, si paman bangkrut total hidupnya, makin hari makin miskin, ditambah terus menjadi pesakitan jantung yang tidak tahu di mana obatnya.

 

Dan si yatim-piatu sendiri setelah ia kabur dari rumah pamannya, kini mulai membaik hidupnya. Pasca menikah dari hari ke hari, ia makin kaya, bisnisnya maju pesat.

 

Si yatim-piatu itu hakikat kedudukannya adalah bos untuk pamannya, sebab ketika ia diperbudak kerja, hakikatnya ia terus-terusan “memberi”. Sudah menjadi tata adab alam semesta, siapapun yang memberi ia adalah bos. Menjadi bos itu artinya punya hak menguasai dan mengatur.

 

Sementara hakikat kedudukan si paman itu orang yang “terima pemberian”. Orang terima pemberian tidak ada kedudukan lain selain berterima kasih dan harus tunduk.

 

Ketika si paman dengan kedudukan penerima hendak kuasai si yatim-piatu, si paman jadi tidak punya power energi lagi, karena di level energi, si yatim-piatu itu berkedudukan bos, dan si paman itu berkedudukan bawahan.

 

Bawahan mau mengatur-atur seenaknya sendiri pada bosnya, ya bukan levelnya. Sebab ini setiap kali si paman “punya kehendak marah-marah” misalkan, sariawan dan radang tenggorokan langsung memecutnya, sebab di level energi, si paman bukan lagi penguasa si yatim, justru si paman adalah budak suruhan si yatim.

 

Di masalah tersebut, alam semesta mengendorse kehendak si yatim-piatu, bukannya mengendorse kehendak si paman karena alam semesta bekerja berdasarkan sistem power energi. Lah iya, handphone Anda apa bisa menyala kalau tidak dipacu energi batrai yang standart? Segala kejadian hidup ini selalu ada power energi di baliknya.

 

Si paman punya otot besar untuk kuasai si yatim-piatu, namun otot besarnya tidak ada power energinya untuk memukul, selalu alami takedown saat hendak memukul si yatim, “ndilalah” kualat, “ndilalah” apes, dan seterusnya.

 

Nah Anda ingin selalu bisa men-takedown para pembenci, para pendengki dan musuh-musuh Anda. Caranya itu tadi, di level energi jadikan diri Anda sebagai bos yang levelnya mengatur dan menguasai, dan jadikan musuh Anda sebagai penerima yang levelnya berterima kasih, diatur-atur dan dikuasai.

 

Berarti? Agar di level energi menjadi bos ya Anda konsisten berikan sesuatu yang terbaik untuk musuh Anda, entah pemberian materi harta, entah tenaga, entah jasa, entah bantuan, dan lain-lain.

 

Misalkan, konsisten sedekah kepada orang yang memusuhi Anda, atau konsisten kerja pada atasan yang sewenang-wenang sendiri kepada Anda, atau konsisten berbakti pada suami yang kurang ajar dan seenaknya sendiri, itu semua adalah program takedown untuk mendudukkan level energi Anda sebagai bos.

 

Setelah energi sebagai bos full, musuh Anda itu akan selalu di-takedown oleh alam semesta karena ia kehilangan power energinya sebagai penguasa Anda. Tindakan jahatnya akan selalu di-takedown habis oleh sistem alam semesta.

 

Suatu hari Rasulullah S.A.W berkata kepada seorang sahabat,


“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu?”

 

Sahabat itu menjawab, “Tentu, ya, Rasul.”

 

Rasul pun melanjutkan, “Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, tetap memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(H.R. Thabrani)

 

Nah jelas, kan? Salah satu pemograman tekedown untuk para musuh adalah “memberi dan atau berbuat baik” kepada musuh-musuh Anda.

 

Dulu saya malas sekali “memberi” kepada orang yang memusuhi saya. Ya jelas, dimusuhi rasanya sakit hati dan dendam.

 

Namun saya pernah dipaksa alam semesta—yang kejadiannya tidak etis saya ceritakan di sini—untuk selalu “memberi” kepada orang yang sangat membenci dan sangat merendahkan kepada saya. Dan pada akhirnya saya mengerti program alam semesta ini untuk men-takedown musuh.

 

Awal dipaksa alam semesta, hati saya sangat sakit, eeh sekarang jadi ketagihan memberi kepada para pembenci, karena betul-betul terjadi, kejahatannya selalu tertolak bahkan berbalik kualat, seolah hidup saya tidak mempan dijahati musuh.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *