“Kucing sering terlindas kendaraan lantaran berperasaan terlalu baik kalau jalan yang dia seberangi aman,” lain kali saya membatin, “Kemalingan motor karena si pemilik motor terlalu berperasaan baik kalau motornya aman ditinggal di sini.”

 

Begini, rasa itu pewujud realita. Propinsi NAD memilih otonomi syariah karena perasaan warga NAD dikuasai oleh rasa kesyariatan Islam sebagai yang terbaik. Namun di Papua, Anda tidak pernah menemukan suara kesyariatan Islam tersebut, bahkan koneksi juga tidak. Rasa warga lah yang mewujudkan realita.

 

Mengetahui ini Anda jadi perlu memahami rasa apa yang sedang Anda rasakan. Rasa marah, anak saya menangis ketakutan kalau saya bentak. Rasa sombong, saya sering dinyinyiri orang ketika saya ngaku, “Saya ganteng”. Rasa putus asa, banyak kasus bunuh diri karena rasa ini. Rasa sederhana, Presiden ke-4 Abdurrahman Wachid mengagetkan orang dalam kagum ketika beliau yang mantan presiden meninggal hanya memegang uang 200 ribu. Rasa syukur, Anda baru keluarkan duit belasan juta untuk beli motor, masih sanggup mengundang tetangga untuk selamatan motor yang biayanya mencapai jutaan rupiah, artinya rasa syukur membawa kelimpahan.

 

Jadi perasaan itulah yang mengeksekusi realita. Karena ini nilai kebahagiaan hidup ini berasal dari perasaan baik Anda dalam menjalani keseharian. Melihat realitas seburuk apapun Anda tetap memberi perasaan baik terhadap kejadian, karena perasaan Anda yang akan mewujudkan realita.

 

Namun perasaan baik sering ditafsirkan hanya dengan menduga-duga kebaikan.

 

Ya benar, kurang-lebihnya perasaan baik itu banyak menduga-duga kebaikan, tetapi keterjebakan kita sering praduganya saja yang dipelihara baik, akhirnya mengarah ke harapan-harapan keajaiban yang tidak masuk akal.

 

Begini, praduga baiknya sudah benar, tetapi kontrol juga “rasa Anda di saat ini”.

 

Umpama Anda dapat kendala kecurian motor, Anda menduga insyā-a-llāh nanti pencurinya tertangkap polisi, tetapi monitering juga rasa Anda di saat itu, apakah kecewa, apakah panik, apakah ridha, apakah pasrah, apakah marah?

 

Kalau Anda menduga baik, tetapi dibarengi marah, itu artinya bukan mengunggah perasaan baik, tetapi mengunggah perasaan buruk. Dan rasa itu yang nanti wujud nyata.

 

Umpama dibarengi rasa marah, wujud realita dari rasa marah itu amuk dan keberantakan, berarti motor Anda yang hilang itu berakhir berantakan, walau pun diiringi praduga baik akan ditemukan polisi.

 

Umpama dibarengi rasa pasrah, berarti motor Anda kemungkinan balik, kemungkinan tidak balik, tetapi pasrah itu berserah kepada Tuhan, sementara Tuhan tidak pernah berbuat buruk kepada hamba-Nya, sehingga motor ketemu lagi atau tidak, Anda pasti dapat kebaikan, entah kebaikan lahir maupun kebaikan batin.

 

Nah kalau dibarengi rasa syukur saat kehilangan motor? Dan Anda tahu kan wujud realita dari rasa syukur? Wujud real dari syukur itu keberlimpahan. Hehehe jadi bisa bersyukur saat kehilangan motor itu bisa menambah motor lagi.

 

Itulah hakikat perasaan baik.

 

Ngawur! Dapat kendala malah unggah rasa syukur? Bukankah harusnya sabar? Iya, dapat musibah misalkan, lah kok di hati Anda temukan rasa syukur, rasa syukur Anda di situ sudah melampoi rasa sabar terkena musibah.

 

Kalau sekedar sabar mungkin Anda masih berduka, ada rasa sakit hati di dalamnya, namun kalau temukan rasa syukur dalam musibah, artinya rasa sakit hati itu sangat tipis.

 

Syukur dalam nikmat itu biasa sebagaimana biasanya sabar dalam musibah. Namun kalau level sabar Anda sudah tingkat dewa, yang ditemukan justru rasa syukur dalam musibah.

 

Ibnu Abbas R.A, merasa sangat bersyukur dengan hilang penglihatannya pada usia tua. Guru dari Ibnu Mubarak ini berujar sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Rasulullah, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.” (H.R Bukhari).

 

Nah kan syukur dalam musibah itu level sabar di tingkat dewa.

Nah dari perasaan baik itu lalu akan memicu Anda untuk waspada. Anda punya perasaan baik “selamat saat menyeberang jalan” maka kemudian Anda tengak-tengok dulu saat hendak menyeberang. Anda punya perasaan baik “motor ini aman” maka yakinkan kunci stang dengan baik, kalau perlu beri kunci ganda saat memarkirnya.

 

Perasaan baiklah yang membawa Anda bersikap waspada dan hati-hati.

 

Kalau kasus kucing banyak terlindas kendaraan seperti di atas itu sih kasus “grasa-grusu”. Grasa-grusu muncul dari karakter buruk.

Dan perasaan baik itu bahasa Arabnya husnu zhann.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *