Kucing naik mobil mewah, baginya tidak membanggakan tidak apa. Mobil mewah baginya tidak lebih naik gerobak. Bagi Anda? Mobil mewah suatu kebanggaan besar. Karena itu Anda berlomba-lomba gonta-ganti mobil karena Anda ada update rasa kepada mobil.

 

Jadi sebenarnya Anda sesibuk sekarang berlomba membangun hidup karena Anda punya rasa terhadap benda-benda duniawi, artinya benda-benda duniawi tersebut bagi rasa Anda punya arti penting.

 

Unggulnya, karena ada update rasa terhadap benda-benda duniawi tersebut, lantas dalam kehidupan ini hadir kemegahan, keberlimpahan, kekayaan, keglamoran, kesederhanaan, bahkan hadir juga keberhikmahan yakni meaning-nya.

 

Jadi yang menghadirkan realita dan sekaligus meaning di baliknya itu adalah rasa Anda sendiri. Tanpa update rasa, dalam kehidupan Anda tidak akan hadir apa-apa.

 

Nah rasa di dalam hati Anda itu juga yang bisa menghilangkan segala-galanya. Anjing bisa kehilangan hewan buruannya walaupun ia yang bekerja keras berburu lantaran ia hanya membangun rasa setia kepada tuannya, dan dia tidak pernah membangun rasa memiliki hewan hasil buruan.

 

Memberi itu tindakan melepaskan, energi yang Anda peroleh bisa energi kehilangan namun juga bisa energi mendapatkan, itu terhubung bagaimana Anda memberikan atensi rasa kepada pemberian Anda.

 

Ada beberapa atensi rasa yang bisa menghilangkan harta Anda saat memberi sehingga efeknya duit jadi langka, di antaranya;

 

1. Memberi dengan rasa khawatir berkurang.

 

Rasa ini sadis menyabotase energi keberlimpahan uang Anda, karena atensi rasa Anda memberi sugesti “memberi berarti berkurang”.

 

Sebab itu sebaik-baik sedekah—menurut Nabi S.A.W—adalah sedekah yang muncul dari sikap zhahril ghinâ (punggung kaya) artinya Anda memberi dalam rasa, “Saya dan keluarga sudah kecukupan, saya dan keluarga sudah penuh kekayaan karena itu saya memberi”.

 

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

 

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah—pemberian—dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah itu dari punggung kaya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa kaya maka Allâh akan memberikan kekayaan kepadanya.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)

 

2. Memberi karena rasa terpaksa.

 

Seks sebenarnya enak sekali, tapi kalau dipaksa? Tidak ada enaknya bila sesuatu dipaksa oleh kemauan orang lain, termasuk dipaksa memberi.

 

Allah ridha kalau Anda ridha, sementara ketika dipaksa oleh orang lain apakah Anda ridha?

 

Karena itu saya kerap berikan statement, “Sukalah berbagi tapi jangan suka dimintai. Karena berbagi dengan suka rela itu bahagiakan diri sendiri juga bahagiakan orang lain. Beda kalau dimintai, itu hanya bahagiakan orang lain tapi kerap sakiti hati sendiri.”

 

Orang berbagi karena dimintai kerap karena tidak enak hati, kan? Tidak enak hati itu artinya terpaksa, dan itu beresiko si pensedekah mengungkit-ungkit dengan rasa enek, marah dan dendam.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (Q.S. Al-Baqarah: 264).

 

Memberi dengan rasa terpaksa karena dimintai atau pun dipaksa, jika di belakang waktu krmudian tidak bisa mencapai rasa ridha, itu sama saja cari trauma mental. Trauma itu penyakit. Penyakit—bagi si pengindap—tidak ada yang bawa energi rezeki uang.

 

Menghindari berbagi dengan rasa terpaksa ya Anda harus punya sikap berani dan tegas untuk berkata dan bertindak, “Tidak.”

 

Sebab itu pemberian yang dilakukan oleh orang yang pelit itu sedekahnya akan menarik kelangkaan uang di dalam hidupnya sebab disabotase oleh rasa terpaksanya.

 

3. Memberi dengan rasa kasihan.

 

Ini kerap saya ajarkan. Derajat manusia itu setinggi-tingginya derajat makhluk. Uang di bawah derajat manusia. Bukan derajat uang membelaskasihani manusia. Karena itu kalau Anda sedekah dengan rasa kasihan itu Anda menghina dan merendahkan martabat manusia.

 

Rasa kasihan dalam memberi itu disebut sedekah. Rasa hormat dalam memberi itu disebut hadiah. Karena itu Nabi S.A.W menolak diberi sedekahan, beliau hanya berkenan menerima hadiah.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا

 

“Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi S.A.W apabila beliau diberi makanan, beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan itu hadiah, beliau memakannya, dan bila dikatakan itu sedekah, beliau tidak memakannya.” (H.R. Muslim)

 

4. Memberi dengan rasa mengharap imbalan.

 

Berbagi dengan mengharap imbalan balik itu artinya sedang meminta-minta.

 

Banyak kan calon anggota dewan atau calon pejabat politik mendadak dermawan ketika jelang pemilihan umum karena minta imbalan dipilih.

 

Banyak juga pacar yang mendadak dermawan kepada pacarnya karena sedang mengharap imbalan peroleh romantisme.

 

Ya memberi dengan rasa ingin dapatkan imbalan balik ya tidak beda lintah darat.

 

Pemberian model keempat ini memang tidak melangkakan uang, karena imbalan yang diharapkan bisa saja berbalik, tetapi energi lintah daratnya ini yang getarkan kerakusan. Di mana-mana lintah darat dibenci orang, ujung-ujungnya rezekinya tidak berkah.

 

Terus bagaimana me-release-nya?

 

Kondisi rasa hati itu berubah-ubah. Kalau Anda berbagi dalam kondisi hati seperti di atas, lalu Anda menundanya, itu sama halnya Anda tidak mau menraining diri. Tinggal alihkan kesadaran Anda menjadi kesadaran training diri.

 

Umpama, Anda mau berbagi, tetapi di hati muncul rasa khawatir kekurangan, Anda tinggal niatkan, “Ya Allah saya sedekah, tapi saya khawatir kekurangan, ampuni saya ya Allah, semoga saya diberi keikhlasan.”

 

Dengan mengubah kesadaran training spiritual begitu, pemberian Anda menjadi sedekah yang utama, sesuai tuntunan hasits Nabi S.A.W;

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »

 

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih)

 

Sedang muncul rasa kekurangan, sedang muncul rasa ingin tambah kaya artinya muncul rasa rakus, justru tabrak sekalian dengan memberi. Sedang muncul rasa terpaksa, tabrak dengan merelakan. Sedang muncul rasa kasihan, tabrak dengan memberi yang istimewa agar muncul rasa hormat. Dan seterusnya. Itu artinya pemberian Anda adalah pemberian yang menraining diri dan itu adalah sedekah yang paling besar pahalanya.

 

Dan di samping bertindak melawan rasa hati untuk menraining diri untuk me-release emosi hati Anda, tentu Anda banyak-banyak lah Istighfar kepada-Nya, mohon diampuni.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *