Segala hal ada lawannya, Timur lawannya Barat, atas lawannya bawah, dan tambah lawannya kurang.

Namun algoritma eksak alam semesta di atas tidak berlaku untuk perlawanan syukur nikmat dan kufur nikmat.

Syukur nikmat itu lawannya adalah kufur nikmat. Syukur nikmat dijanjikan ditambah nikmatnya, seharusnya kufur nikmat itu dijanjikan dikurangi nikmatnya. Yang terjadi kufur nikmat itu bukan diancam akan dikurangi nikmatnya, namun diancam azab sadis.

Aneh, kan?

Perhatikan ayat ini;

﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim: 7)

Orang syukur itu orang yang sadar diberi nikmat sehingga yang dirasakan adalah rasa terima kasih, rasa gembira, rasa rendah hati karena sadar telah dikaruniai nikmat. 

Untuk ibaratkan rasa syukur itu seperti pelayan toko yang dagangannya baru saja dibeli. Bagaimana reaksinya? Ya terima kasih, ya gembira, ya merendahkan hati.

Nah orang kufur nikmat itu sebaliknya, ia tidak sadar telah diberi karunia nikmat sehingga dengan yang memberi nikmat dia merasa tidak diberi apa-apa lantas menuntut, memeras, menyombongi dan prilaku buruk lainnya.

Coba Anda simak ilustrasi kisah ini nanti Anda paham mengapa kufur nikmat bukan dikurangi nikmatnya tetapi diazab pedih.

Ada seorang pengusaha beras yang bisnisnya sudah sangat maju. Ia sangat peduli dengan nasib anak jalanan, maklum ia sendiri mantan preman anak jalanan.

Ia berubah drastis hidupnya tentu semata-mata karena hatinya dicerahi hikmah oleh Allah, ia pun tumbuh menjadi pengusaha yang sangat dermawan dan amanah. Pebisnis jelas tak luput dari hutang karena tertuntut harus putarkan modal, namun ia sangat disiplin dalam membayar hutang.

Dalam segala proyek ia selalu wasiat kepada karyawan-karyawannya, “Jangan bikin cacat sekecil apapun amanah. Dahulukan membayar lunas semua tagihan bisnis termasuk gaji karyawan.”

Sudah begitu ia sangat peduli dengan anak jalanan, ia terus dekati anak-anak jalanan, diajak ngaji dan zikiran, diberi peluang pekerjaan, dan kerap berikan santunan sedekah pada mereka.

Satu ketika ia menyupport seorang teman yang duanggapnya baik dengan diajaknya bisnis, diberi peluang, dibina mentalnya, hingga kemudian diberi kepercayaan-kepercayaan.

Sesudah dipercaya begitu dalam, si teman malahan bawa kabur uangnya hampir 1 M. Ketika ditagih, si teman sama sekali tidak merasa bersalah, malahan si teman selalu jawab dengan hinaan hingga menggoblok-goblokan.

Misal, “Kebaikanmu dan sikapmu yang terlalu baik begitu di jaman sekarang kalau tertipu 1 M itu masih wajar. Besok-besok bisa-bisa semua asetmu habis ditipu orang.”

Model si teman pembawa kabur uang di atas itu layaknya dikurangi nikmatnya apa dicincang azab?

Begitulah mengapa kufur nikmat itu layaknya diazab pedih sebab memang makan hati makan jantung orang yang telah memberinya nikmat.

Maka itu orang kufur nikmat itu kelihatan sekali kok, hidup mereka berantakan disana-sini, melarat dan bolak balik kena musibah karena azab.

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *