Umapama, bisnis Anda dihambat pebisnis besar karena dia
merendahkan Anda sehingga dia tidak menghargai Anda yang ujung-ujungnya muncul
rasa saling dengki serta permusuhan.
Lalat akan selalu temukan kotoran tinja, karenanya nalurinya hanya cari
kotoran. Karena yang ia cari hanya kotoran, ya ditemukan lalat pun hanya
kotoran.
Beda dengan lebah. Lebah nalurinya hanya cari kuntum bunga untuk hasilkan madu,
nalurinya pun hanya tersetting temukan kuntum bunga. Dan hasilnya dalam hidup
lebah hanya temukan bunga.
Dalam kasus seperti di atas dimana bisnis Anda dijegal pebisnis besar, setting
pikiran Anda itu bernaluri kemana. Di kasus tersebut Anda bisa runtuh tapi juga
bisa bertumbuh.
Kalau mindsett Anda bertumbuh, Anda akan menilai, “Dia yang dengki saya
itu orang besar. Mobil mewah mana mungkin tersinggung dengan mobil LCGC. Kalau
dia tersinggung dan lalu mendengki dengan saya, berarti saya berpotensi jadi
mobil mewah dong, jadi pebisnis besar seperti dia. Yess.”
Menyetting pikiran begitu itu artinya Anda bernaluri lebah yang cari bunga.
Hasilnya kedengkian si pebisnis besar justru mengantar Anda menuju peraihan
yang lebih besar.
Namun kalau pikiran Anda tersetting, “Lah saya orang kecil. Baru usaha
bisnis begini saja sudah dihambat orang.” Disitu Anda bernaluri lalat,
hasilnya ya temukan kotoran, Anda akan ambruk, minimal Anda akan stuck.
Saya ketika dihadapkan dengan ujian ruwet kerap merasa, “Wah saya mau
makin kaya ini,” itu adalah bagian dari growth mindset atau pola pikir
yang bertumbuh. Dengan berpikir demikian, mental Anda akan terdorong maju.
Pola berpikir, “Ini mungkin, tapi sulit,” dengan pola pikir,
“Ini sulit tapi mungkin,” efek mentalnya sudah sangat beda.
Selanjutnya hasilnya juga menjadi sangat beda.
Ini mungkin tapi sulit versus ini sulit tapi mungkin, disitu lalat dan lebah
akan memilih sesuai mindsetnya masing-masing. Anda akan stuck bahkan runtuh
ketika berpikir lalat.
Sebab itu Al-Qur’an mengajarkan agar Anda punya kecerdasan mengambil hikmah.
Dan kecerdasan ambil hikmah itu disebut sebagai khairan katsîrâ (kebaikan yang
besar).
Dalam persoalan meraih kekayaan juga begitu, mereka yang sukses kaya dan shalih
pola pikiranya kalau harta itu ladang kebaikan untuk tingkatkan amal.
Mereka yang stuck bahkan makin runtuh karena pola pikirnya
kaya itu jadikan sombong, kaya itu hisabnya lama, kaya itu tidak shaleh, dan
lainnya. Mereka berpola pikir lalat ketika melihat harta.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply