Maaf
konten ini bukan untuk mengajak anak-anak merasa kecewa, bukan itu. Konten ini
lebih ditujukan bagaimana kita sebagai parent melihat kehadiran seorang anak
sehingga mampu menempatkan anak-anak sesuai hak-hak istimewanya.
Anak-anak terlahir ke dunia itu karena mereka berkehendak dilahirkan atau
kehendak orang tuanya agar dia lahir?
Anak tak punya kehendak apapun untuk lahir, punya kepentingan menjadi anak Anda
juga tidak ada. Andalah yang punya kehendak melahirkan mereka, menghadirkan
mereka di alam dunia ini.
Mereka
juga tak ada kepentingan agar jadi anak Anda karena mereka tak pernah diberi
hak memilih untuk lahir dari orang tua mana.
Kalau Anda mengundang pembicara, resikonya Anda harus mengganti biaya
transportasi, biaya pesangon, dan lainnya. Beda kalau si pembicara datang
sendiri, menyuguh seadanya tidak apa.
Anak hadir di dunia ini karena Anda yang menghendakinya, bukan kehendak mereka
sendiri, lalu kenapa saat mereka ingin sekolah, mereka harus ketakutan tidak
ada biaya, padahal si anak lahir karena dikehendaki oleh Anda, ibarat pembicara
diundang speaking, namun saat si pembicara kehabisan BBM, dia harus berpikir
dan bertanggung jawab sendiri. Adab sopannya dimana?
Dengan tamu tak diundang saja, Anda kewajiban menyuguhnya, apalagi dengan tamu
undangan?
Anak
dilahirkan karena diundang oleh Anda, lah kok mau makan enak saja dihadang,
“Kamu anaknya orang tak punya. Jangan banyak minta-minta ke ayah. Ayah
ga punya.”
Sudah begitu anak dianggap modal investasi mirip Crypton yang suatu saat harus
balik modal dan menguntungkan, seolah yang tidak bisa menguntungkan dirinya
dilabeli durhaka.
Kadang miris, sudah pendidikan mereka harus kreatif biayai sendiri, sesudah
lulus dibebani agar kerja lalu bantu beban keluarga. Lah, emang mereka semacam
aset Crypton?
Nabi SAW menugaskan kepada kita,
أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ
“Muliakan anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka“. (H.R. Ibn
Majah)
Pilihan kata yang dipakai Nabi SAW adalah “akrimû” artinya
muliakanlah, itu kan persis tamu yang Anda undang sebagai pembicara, ya karena
anak-anak itu lahir bukan kehendak mereka, tapi kehendak orang tua.
Orang tua yang berkehendak lahirkan anak-anak, mau tidak mau sepenuh hati
memuliakan tamu undangannnya, sedikit pun jangan sampai membebani mereka.
Orang tua bermental miskin cirinya mereka membebani anak-anaknya dengan
sekeranjang beban. Alasan paling klasik ya karena orang tua merasa tidak mampu.
Makanya terserah! Kalau Anda sudah punya kehendak mengundang anak-anak lahir,
ya harus sadar itu tanggung jawabnya, cari solusinya, jangan pengecut beralasan
lalu membebankan kesulitannya kepada anak-anak supaya ikut menanggung dan
menyelesaikan tanggung jawab Anda. Ingat! Mereka tamu yang Anda undang.
Ya Anda hadirkan tamu undangan, Anda berkewajiban memuliakannya, bukan berarti
Anda tidak boleh berkepentingan dengan mereka.
Sesudah Anda memuliakan tamu undangan, kewajiban-kewajiban dibayarkan semuanya, sah-sah saja tamu undangan disuruh naik panggung lalu mengisi pengajian.
Dengan
anak pun begitu, Anda boleh berkepentingan dengan mereka, misal meminta anaknya
jadi anak berilmu, meminta mereka lanjutkan misi Anda, entah misi apapun, dan
lainnya. Itu hak.
Kalau mereka ugal-ugalan, selalu bikin masalah, tidak bisa diarahkan? Lah itu
kan urusan mereka, itu dosa dan resiko mereka.
Point
terpenting kewajibn Anda untuk memuliakan dan memperbagus adab anak-anak sudah
dilaksanakan dengan baik, dan Anda telah sesuai fitrah melahirkan mereka dengan
tanpa membebani masalah apapun.
Dan bagi Anda anak-anak yang merasa jalan hidupnya diperlakukan seperti aset
Crypton oleh orang tuanya, tulisan ini bukan supaya Anda merasa kecewa atau
Anda tidak memberontak dari keadaan.
Saya sendiri berubah kaya justru setelah saya dengan sadar berniat penuh
memgkayakan orang tua saya. Ya tiap bulan saya menggaji rutin kedua orang tua
saya.
Namun
dasar kesadaran saya melakukan itu bukan saya merasa sebagai korban keadaan,
namun murni karena saya ingin memuliakan orang tua, sehingga getaran hati saya
adalah getaran pahlawan yang gagah.
Andai saya melakukan itu namun di hati saya merasa sebagai korban penindasan,
ya jelas yang namanya korban penindasan pasti terpuruk.
Jadi Anda yang lahir sebagai anak namun malah harus memikul beban kesejahteraan
orang yang melahirkan Anda, pastikan perasaan Anda bukan mengakses rasa sebagai
korban, namun rasa sebagai pahlawan shaleh yang sedang berbakti sepenuhnya
kepada orang tua.
Jalani dan hadapi dengan rasa penuh bakti, karena tidak ada anak-anak yang bisa
hidup mulia sebelum mereka sanggup dengan nyata memuliakan orang tuanya lahir
batin.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply