Dihitung main bandar, mungkin Prabowo Subianto lah yang selama ini paling banyak hamburkan uang bermain bandar di kompetisi pilihan presiden. Beliau capres yang paling banyak mencalonkan diri dan belum pernah menang.
Dihitung bandar beliau sudah tekor terlalu banyak, tapi kok ya tetap eksis kaya, dan malah makin kaya? Apa yang beliau beli?
Sandiaga Uno juga begitu, walaupun Sandiaga Uno tidak seekstrem Prabowo, namun setidaknya Sandiaga Uno pernah bermain bandar politik besar di Pilgub DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019.
Prabowo dan Sandiaga keduanya adalah pengusaha, ngerti banget duit, ngerti banget bisnis, ngerti banget untung rugi, lalu keduanya beli apa?
Iya kalau menang, ada jabatan legal yang terbeli, kalau kalah? Bahkan Prabowo selama ini belum pernah memenangkan kontestasi, beliau cuma tekor dan tekor. Lalu apa yang dibeli keduanya kok bisanya makin kaya saja?
Begini, pernah saya jelaskan bahwa apapun yang dilepaskan akan auto diganti. Tandon air setelah Anda kuras, bila Anda tidak berkehendak mengisi dengan barang lainnya, akan auto diisi angin.
Rumah Anda dikosongi, bila Anda tidak berkehendak mengisi dengan penghuni lain, rumah Anda akan auto diisi rerumputan liar, serangga, binatang melata, bahkan dihuni makhluk gaib.
Jadi paten hukumnya, apapun yang Anda kosongi baik itu adalah benda maupun energi, akan auto diganti dengan benda ataupun energi lainnya.
Uang Anda yang dilepaskan pun begitu, entah untuk belanja, entah untuk sedekah, entah hilang karena musibah, semuanya akan auto diganti dengan energi lainnya.
Kalau Anda beli benda sekedar membeli kebendawiannya, yang namanya benda fisika itu hanya punya getaran gravitasi, sementara gravitasi itu getaran paling lemah di alam semesta, makanya satu peluru senapan paling bisa melukai 1orang itupun belum tentu mati.
Berbeda dengan partikel atom yang maha kecil yang kekuatannya adalah nuklir. Konon saking dahsyatnya kekuatan nuklir, orang yang terpapar bom nuklir itu tidak akan merasakan sakit apa-apa karena begitu terapapar bom nuklir, nyawa akan lenyap dulu sebelum otak bisa mendeteksi rasa sakit.
Itu nuklir. Sementara partikel termini dan terlembut di alam semesta ini bukan nuklir, namun perasaan Anda.
Ketika Anda melepaskan uang, Anda itu membeli apa di dalam perasaan Anda? Apa yang Anda beli di perasaan Anda itulah energi pengganti yang akan mengisi kekosongan akibat terlepasnya uang Anda.
Prabowo dan Sandiaga dengan uangnya tak dapat beli jabatan karena tidak terpilih, lalu apa yang dibeli keduanya kok makin kaya saja?
Keduanya beli perasaan. Lalu rasa apa yang dibeli? Rasa berharga diri.
Uang itu punya energi matre dimana apapun yang berharga akan didatangi uang gede. Ketika uang mendatangi mobil Lexsus itu nilainya jauh lebih besar dengan uang yang mendatangi mobil Toyota dikarenakan mobil Lexus jauh lebih berharga.
Bertarung bandar di Pilpres, lah bisa bertarung di Pilkades yang setingkat desa saja sudah bisa beli rasa terhormat, apalagi bertarung di Pilpres?
Jadi apa yang dibeli Prabowo, Sandi, dan para bandar politik? Yang dibeli rasa berharga dan rasa terhormat. Dan rasa itu pula yang jadikan kekayaan mereka makin naik walaupun mereka tidak terpilih.
Hal ini yang sebabkan orang kaya makin kaya saja sesudah beli barang branded, orang kaya maki kaya saja sesudah hamburkan uang untuk jalan-jalan luar negeri, ya karena mereka hamburkan uang untuk beli perasaan berharga dan terhormat.
Ikhlas tidak sih yang begitu? Sudah jangan bicara ikhlas dulu, karena Anda sedekah dengan diam-diam dan sangat tersembunyi juga belum tentu dicatat amal ikhlas. Yang jelas itulah permainan jual beli perasaan dengan uang.
Apapun yang terlepas akan auto diganti, dan perasaan Anda itulah yang memanifestasikan energi penggantinya.
Habis belanja boro-boro muncul rasa syukur dan rasa kaya malah muncul rasa bersalah boros, itu energi pengganti yang akan termanifestasi.
Habis bayarkan tanggungan biaya anak sekolah muncul rasa terbebani dan rasa berat hati, itu pula manifestasi energi penggantinya.
Habis bayar pajak muncul rasa menggerutu merasa terperas, energi perasaan itu yang akan menggantinya. Dan seterusnya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply