MEI 2023

MEI 2023

MANUNGGAL UANG DENGAN-NYA

Wujud diri Anda itu semu, disebut ada ternyata tiada, disebut tiada ternyata ada.   Coba Anda puja-puji diri Anda sendiri di depan orang lain bahwa Anda hebat, cantik, mempesona, Anda dicibiri narsis, kan? Diri Anda sendiri, yang kasih makan dan merawatnya itu Anda sendiri, ketika sakit juga diri Anda yang merasakan deritanya, lah kok ingin memuji diri saja dituduh-tuduh narsis, Anda tidak diberi hak bebas memuji diri. Kan seolah Anda tidak memiliki diri sendiri, Anda ada tapi tiada.   Anda berkarya di publik, tujuannya agar diri Anda masyhur, lah dikatakan tercela. Diri Anda sendiri, lantas Anda ingin memasyhurkan diri kok tidak boleh? Anda itu ada apa tidak? Namun mau disebut tiada, diri Anda ya ada, karena kalau diri Anda lapar, ya Anda yang harus kasih makan, Anda mengantuk ya Anda yang harus menidurkannya, kalau sakit ya Anda yang merasakannya dan bertanggung jawab menyehatkannya, dan seterusnya.   Menyakitkan, kan? Katanya diri Anda punya Anda sendiri, dipuji tidak boleh, dimasyhurlan tidak boleh, ditonjol-tonjolkan todak boleh. Kan parah Itu artinya dalam diri Anda ada identitas lain yang harus Anda cari dan temukan. Terus diri lain di dalam diri Anda itu identitasnya, siapa?   Maka jangan heran kalau para sufi sedemikian hebat bekerja dalam spiritual karena persoalan ada identitas lain di dalam dirinya.   Abdul Aziz Ad-Dabagh, ia termasuk salah satu wali Allah pernah ditegur oleh malaikat. Malaikat melihat namanya ada di lembaran kitab Lauhul Mahfuzh tercatat sebagai deretan penghuni neraka. “Kenapa kamu tetap tekun ibadah, di Lauhul Mahfuzh kamu tercatat sebagai ahli neraka? Mau ibadah setaat apapun kamu tetap jadi penghuni neraka,” tegur malaikat.   Ad-Dabagh menanggapi, “Hai malaikat, surga dan neraka bukan urusanku. Aku diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Dia berfirman, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku, mau aku masuk surga atau neraka Itu hak Allah. Bukan urusanku.”   Lalu di suatu ketika malaikat kembali ke Lauhul Mahfuzh dan melihat namanya telah dirubah oleh Allah menjadi penghuni surga. Dan malaikat pun memberitakan kepada Ad-Dabagh. Ad-Dabagh menjawab, “Syukurlah. Tapi sekali lagi hai malaikat, surga dan neraka bukan urusanku aku beribadah hanya untuk menggapai ridha-Nya, kalau Dia ridha aku di neraka, ya itulah tujuanku.”   Kalau Anda kerja keras untuk diri saya, lalu Anda saya upah dengan siksaan sadis, Anda mau? Pinginnya diupah duit banyak kan? Abdul Aziz Ad-Dabagh sedemikian hebat meruntuhkan ego state-nya untuk ibadah dan taat kepada-Nya namun tidak lagi berharap upah duit banyak, namun diupah siksaan neraka juga tidak masalah.   Sedemikian hebat Ad-Dabagh ditarik ke dalam diri lain di dalam dirinya, ya karena dia sadar sepenuhnya kalau “identitasnya itu semu, ada identitas lain yang wujud nyata di dalam dirinya.   Jadi ya wajar kalau Syaikh Siti Jenar kemudian berani terang-terangan ungkapkan identitas ini. Siti Jenar lantas lahirkan konsep Manunggaling Kawula Gusti.   Identitas lain di dalam diri Anda itu punya power kuat maha dahsyat untuk mengontrol dan mengendalikan diri Anda. Cobalah Anda mencuri, pasti jantung Anda berdetak lebih keras dan lebih kencang saat Anda beraksi mencuri, itu sebenarnya kontrol dari identitas lain di dalam diri Anda bahwa perbuatan mencuri Anda itu tidak sesuai dengan identitas lain tersebut.   Dalam persoalan rezeki pun begitu. Kalau Anda menyimpan rezeki, Dia pun akan simpan rezeki-Nya untuk Anda. Kalau Anda hitung-hitungan rezeki, Dia pun akan hitung-hitungan rezeki-Nya untuk Anda.   وعن أَسماءَ بنتِ أَبي بكرٍ الصّديق رضي اللَّه عنهما قالت: قَالَ لي رسولُ اللَّه ﷺ: لا تُوكِي فيُوكَى عليكِ. وفي روايةٍ: أَنْفِقِي، أَو انْفَحِي، أَو انْضِحِي، وَلا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيكِ، وَلا تُوعِي فيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ.   “Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah S.A.W bersabda padaku, “Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa membelanjakannya) nanti Allah akan menahan rezeki untukmu.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Belanjakanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya, nanti Allah akan berhitung rezeki kepadamu. Jangan kamu tutup rapat guci menyimpan makanan nanti Allah akan menutup rezekimu.” (H.R. Bukhari)   Punya uang 100 ribu, lalu Anda pingin sate, saking khawatirnya uang menipis, lalu Anda tahan-tahan agar uang 100 ribunya tidak boncos. Di saat itu Anda bersikap menyimpan harta, dan di saat itu pula justru Tuhan menyimpan rezeki-Nya untuk Anda.   Ketika Anda menghitung pengeluaran dan pemasukan uang Anda, di situ pun Tuhan akan menghitung masuk dan keluarnya uang Anda. Saat itu rezeki Anda jadi pas-pasan.   Kenapa itu terjadi? Karena di dalam diri Anda ada identitas lain yang lebih kuasa dari Anda. Kalau Anda hitung-hitungan uang dengan diri Anda, Dia pun menghitung rezeki-Nya untuk Anda, kalau Anda menyimpan harta Anda, Dia pun menyimpan harta-Nya untuk Anda.   Karena itu pula kalau Anda berperasaan miskin, Dia pun berikan kemiskinan kepada Anda, kalau Anda berperasaan kaya, Dia pun berikan kekayaan-Nya kepada Anda.   وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّه   “Barangsiapa merasa kaya, maka Allah akan mengkayakan-Nya.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)   Jadi disini menjadi jelas, kalau Anda ingin Dia dermawan kepada Anda, maka Anda harus dermawan. Kalau Anda ingin Dia pelit, ya Anda pelitlah. Kalau Anda ingin Dia irit, ya Anda iritlah. Kalau Anda ingin Dia beri kekayaan, ya Anda bersikap dan berperasaanlah kaya. Kalau Anda ingin Dia memiskinkan Anda, ya Anda bersikap dan berperasaan miskinlah. Kalau Anda ingin Dia berhitung kasih rezeki kepada Anda, ya Anda hitung-hutunglah keluar-masuknya uang Anda. Dan seterusnya.   Ya ada sistem kemanunggalan antara uang Anda dan uang-Nya, karena hakikatnya diri Anda itu semu, yang Nyata dan Ada hanya Dia.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

AKADEMI HATI; lNGAT MANUSIA ITU PENYAKIT

Kehidupan dunia itu karakternya serba salah. Miskin direndahkan dan dihina, rasanya pegel. Lalu usaha untuk berubah, eeh disepelekan dan dipandang sebelah mata. Anda dianggap orang remeh yang tidak mungkin sukses. Setelah sukses, banyak yang sakit hati dan tidak rela dengan perolehan Anda. Yang selevel suksesnya menjadi kompetitor, yang level suksesnya di bawah Anda mencoba jatuhkan Anda dengan iri dengkinya, yang level suksesnya di atas Anda masih saja menyepelekan.   Sakit hati dan pegel itu realita kehidupan dunia. Anda mengurusi dunia isinya capek dan rintangan berlapis, bertemu resiko berat, Anda mencoba hanya konsisten kepada Allah seperti dinasehatkan di dalam tasawuf, ya punya konsekuensi sama, yang muncul ujian-ujian meresahkan yang juga resiko berat. Anda menjomblo punya banyak masalah, Anda menikah juga punya masalah berat. Anda kaya dinyinyiri sombong dan bangga, Anda miskin dinyinyiri katanya tak mau usaha.   Jangankan kehidupan reel seperti di atas, bikin konten media sosial saja begitu, isinya sakit hati melulu. Konten sepi, sakit hati tidak laku, konten viral, sakit hati dicaci maki netizen, konten biasa-biasa saja, sakit hati merasa tidak puas.   Anda makan mengundang penyakit, puasa pun mengundang penyakit. Kurang air putih jadikan dehidrasi dan ginjal, minum air putih full, pipisnya seperti kran tak ditutup.   Anda pelit, uangnya mengamuk-amuk memaksa jebol, Anda dermawan eeh setelah konsisten dermawan, ujian-ujian hebat datang untuk menguji Anda ridha atau tidak dalam berbuat derma.   Anda sedang sedikit ada kelonggaran hidup, lantas nafsunya melunjak-lunjak, bangga, dengki, rakus, merendahkan orang, selanjutnya lupa diri. Setelah lupa diri, hidupnya sempit kembali. Dalam keadaan sempit hidup, Anda ingat diri, kontrol diri lebih baik, tapi hati sumpek dan penuh resah tekanan.   Anda berinteraksi sosial aktif jadi punya banyak masalah karena kebanyakan berurusan dengan orang lain, Anda membatasi pergaulan katanya sombong dan eklusif.   Anda hidup hanya bersenang-senang, hura-hura dan happy, jadinya tidak punya kemuliaan, masa depan rusak. Anda terlalu prihatin membangun masa depan, jadi mudah stres dan cepat menua karena terlalu serius. Mau dibikin biasa-biasa saja, tidak terlalu serius dan tidak terlalu senang, hasilnya di masa depan juga biasa-biasa saja.   Sumpek. Mumet. Stres. Sakit hati. Itulah isi dunia. Saya kerap menggunakan kata hikmah milik Ibn Athaillah dalam kitab Al-Hikam,   لَاتَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ اْلأَكْدَارِ مَادُمْتَ فِى هَذِهِ الدَّارِ. فَإِنَّهَا مَاأَبْرَزَتْ إِلَّا مَاهُوَ مُسْتَحِقٌّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا   “Selama engkau berada di dunia ini janganlah terkejut dengan adanya kekeruhan. Sesungguhnya kekeruhan muncul hanyalah karena memang menjadi sifat pantasnya dunia dan karakter aslinya.”   Ya tempat kekeruhan itulah keaslian karakter kehidupan dunia, makanya serba menyakitkan, menjengkelkan dan bikin geram hati.   Kenapa sedemikian menyakitlan? Karena alam dunia ini adalah alam proses. Anda mau berjalan di sisi manapun di dalam kehidupan dunia ini ketemunya resiko masalah dari karakter keruhnya dunia. Sana-sini bertemu masalah, sana-sini bikin kesal.   Dan mau berdarah-darah sehebat apapun yang namanya alam dunia ya hanya proses. Dijalani dari arah manapun finish-nya cuma satu, yaitu mati.   Di alam kematian barulah segala kekeruhan berhenti. Sesudah mati, Anda tak terkoneksi interaksi lagi dengan alam dunia, disitu Anda baru berhenti tidak menjadi masalah bagi dunia dan tidak bermasalah lagi dengan dunia.   Paling Anda tinggal dikenang di hari pertama kematian, pelayat masih ada, suasana juga masih suasana duka. Lalu Anda dikenang lagi di hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000 dengan tahlilan seadanya, itu saja hanya di sebagian adat masyarakat. Sesudah itu secara bertahap seiring berjalannya waktu Anda dilupakan dunia.   Hanya segelintir nama manusia yang tetap dikenang oleh dunia yakni mereka yang punya nama besar, selebihnya—dan malah kebanyakan—dilupakan begitu saja oleh dunia. Paling yang masih ingat kuat cuma generasi cucu, sampai generasi buyut (keturunan ke-4), sudah banyak yang lupa nama Anda.   Bukankah begitu menyakitkan? Anda berdarah-darah hadapi kehidupan dunia ini, tidak tahunya cuma mau dikenang selimit itu. Di saat mati itulah finish, Anda mau juara atau pecundang, itulah finish-nya. Di saat mati itulah dunia baru bisa menilai Anda.   Para nabi sebegitu perih dan pilu hadapi menyebalkannya dunia, melebihi perih pilunya Anda, tetapi finish mereka seperti yang Anda kenang saat ini. Sebaliknya Qarun, finishnya juga seperti yang Anda kenang saat ini. Sebab itu tetaplah dalam kebaikan walau sepahit apapun karena finish mati itu bukan pilihan tetapi keharusan.   Karena dunia itu tempatnya kekeruhan, Anda yang hatinya sedang ingat dunia itu tandanya Anda garang, dendam, benci, ambisius, bangga, kecil hati, tega, jahat, rakus, marah, dan seabrek hati buruk lainnya sebab hati Anda disakiti terus menerus oleh dunia.   Dunia itu isinya manusia, ingat dunia itu artinya ingat manusia.   قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَوْنٍ: «ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ، وَذِكْرُ اللهِ دَوَاءٌ»   “Abdullah bin ‘Aun berkata, “Ingat manusia itu penyakit. Ingat Allah itu obat.”   Ingat manusia itu penyakit, ingat Allah itu obatnya. Lalu Allah itu siapa? Allah itu mati. Anda kan berasal dari Allah, lalu saat Anda mati itu Anda pulang kepada Allah, simbolnya innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn. Sehingga ingat Allah itu salah satunya dengan ingat mati.   Saya menuliskan ini karena kemarin membaca postingan singkat Mas Arif Rahutomo dimana beliau dengan istri kalau sedang saling memendam enek hati, sedang ada sengketa rumah tangga, lantas beliau dan istri, sadar untuk ingat mati. Beliau membangun kesadaran, “Lah kami tidak tahu, mungkin esok bangun tidur saya mati karena tidak ada yang tahu kapan mati akan datang. Kalau saya masih geram-geraman dengan istri, lantas saya mati dan belum sempat minta maaf, lah betapa menyedihkan? Pagi siang malam hanya didampingi istri, mati kok dalam keadaan bermusuhan?” Dengan ingat mati begitu, lantas hati Mas Arif reda, dan kembali sadar untuk berkasih sayang.   Coba andai hanya ingat kelakuan istrinya yakni ingat manusia, ya makin benci, makin marah, makin jengkel dan lainnya.   Karena itu sebenarnya tampak jelas sekali orang yang ingat Allah dan yang tidak, yang ingat mati dan yang tidak. Tandanya lihat ekspresi respons mereka terhadap peristiwa dunia. Kalau ngotot dan habis-habisan, penuh totalitas hadapi sumpeknya dunia, ya begitu itu tanda orang ingatnya pada manusia.   Sedang benci seseorang, habis-habisan menyerang dan mempropaganda. Sedang bersaing habis-habisan berusaha mengalahkan dan menjatuhkan. Sedang punya hutang adem-adem saja tidak komitmen melunasi, padahal kalau esok dia mati, bagaimana

MEI 2023

MISKINNYA ORANG MISKIN VS MISKINNYA ORANG KAYA

Kemiskinan itu karena tidak mampu bayar. Mau beli Pepsodent tak ada uang, jadinya tidak punya alias miskin Pepsodent kan? Seperti sering saya sampaikan, dari awal kehidupan penyebab miskin memang karena lemahnya daya bayar seseorang.   Katanya punya cita-cita ingin rezeki lancar, lah dagang baru 3 bulan sudah berhenti dengan alasan ini itu, dia tidak kuat membayar harga cita-cita ingin rezeki lancar. Katanya ingin punya masa depan cerah, eeh disuruh sekolah malah sibuk dengan cinta dan asmara, ia tidak kuat membayarnya. Katanya punya keinginan jadi orang shaleh, eeh Tahajud 2 minggu sudah terhenti, dia tidak kuat membayar. Katanya ingin naik jabatan, eeh sering bolos kerja, dia tidak lunas membayar. Dan seterusnya.   Semua kemiskian karena lemahnya daya beli, lemahnya daya bayar, persis sama seperti keinginan Anda memiliki kekayaan berupa Pepsodent.   Lebih miskin lagi ketika harus hutang dan tidak mampu melunasi. Ini sudah kemiskinan level tinggi, karena tidak hanya kebutuhan hidupnya yang tak terbeli dan terbayar, namun malah ia ambil milik orang lain untuk mencukupinya. Jika ia tetap tidak sanggup melunasi hutangnya, ya sudah ia tidak sekedar tidak memiliki apa yang belum dia bayar, namun malahan ia harus kehilangan apa yang sudah dimiliki guna bayari energi hutang yang belum terbayar.   Jadi itulah miskinnya orang miskin itu daya bayar dan beli yang memang lemah.   Beda dengan level miskinnya orang kaya. Orang kaya itu daya beli dan bayarnya tinggi. Mau miliki mobil, dia sanggup membayarnya, mau miliki tanah, dia juga sanggup membayarnya.   Demikian pula sejak awal kehidupan daya bayar dan belinya dengan kehidupan juga tinggi. Mereka punya cita-cita apapun pantang menyerah dengan kendala dan kesulitan. Sebuah keinginan dibutuhkan disiplin waktu, mereka membayarnya lunas dengan benar-benar disiplin waktu.   Punya cita-cita menjadi orang terhormat dengan ilmu, mereka konsisten sekolah dan belajar, relakan hidup mereka menjadi kutu buku. Punya-punya cita-cita jadi pengusaha, ya benar-benar dijalani konsisten dari nol dengan kreatif, inovatif, amanah, dan terus mau belajar.   Dan ketika punya cita-cita ingin diterima taubatnya oleh Tuhan juga demikian, mereka konsisten membayarnya dengan lunas, ibarat ditugasi shalat Taubat dan istighfar tiap hari ya betul-betul dijalani dengan keteguhan konsistensi. Dengan waktu sangat menghargai, dengan amanah sangat menghargai. Orang kaya itu tinggi daya bayarnya sehingga daya belinya juga tinggi.   Lalu dimana kemiskinannya orang kaya? Begini, berada di puncak gunung yang tinggi itu susah sekali untuk merasa, mendengar dan mengetahui keadaan di bawah. Padahal apa iya ada kehidupan kongkrit di puncak gunung? Misal di puncak gunung Lawu, apa di sana ada perumahan warga? Ada sinyal handphone? Ada pasar? Tidak ada. Realita kehidupan konkrit ya di lereng gunung Lawu dan di dataran rendahnya.   Makanya orang kaya itu kerap terjebak ekpektasi tinggi akan dirinya, bahwa dirinya sangat berharga, dirinya sangat baik, dirinya tak terkalahkan, dan lainnya. Dari keadaan hati itulah dia kemudian seperti tuli dan buta untuk melihat kehidupan konkrit di bawah.   Karenanya bicaranya tinggi, punya percaya diri tinggi, karena memang hati mereka sedang berada di ketinggian, mereka merasa kuasa mengatur, kuasa mengendalikan, mengontrol dan memimpin, dan merasa berprestasi.   Nah kondisi hati ini yang kalau tidak terkontrol bisa jadikan mereka turun ke area bawah, menjadi kemiskinan, sebab sesuatu yang sudah berada di ketinggian tidak ada pilihan lain selain turun ke bawah. Kalau mereka tidak menyadari, ya alam semesta akan memaksa mereka turun. Gampangnya, situasi hati tinggi yang tidak terkontrol akan menarik mereka dalam kemiskinan nyata.   Mereka sedekah tapi dengan getaran kebanggaan diri. Mereka membantu orang tetapi dengan getaran menyombongkan diri. Mereka peduli tetapi ego tinggi mereka tampak sekali.   Sehingga kemiskinan orang kaya itu kerap karena frekuensi getaran hati yang berada dalam ketinggian, tidak mampu mendengar realita konkrit kehidupan di bawah. Di titik itu mereka sebenarnya kerap sakit hati dan kecewa sendiri sebab cuaca di puncak gunung tertinggi tidaklah kondusif untuk bisa membangun lingkungan hidup yang normal.   Mereka merasa sangat berharga tapi ternyata banyak yang membenci, mereka merasa sangat gemar bantu orang lain tapi sambutan orang atas kebaikannya malah cibiran.   Mereka pun kerap marah, kerap tersinggung, kerap merendahkan orang, dan lainnya. Jika sudah di situasi begitu itu tanda cuaca di hatinya tidak layak lagi dihuni sebagai lingkungan normal untuk hidup.   Mereka tidak mampu mendengar dan merasa, ada apa sebenarnya, kok banyak yang menentang dan menjauhinya? Ia tidak sadar kalau omongan tingginya, sedekah dan dermawannya yang karena rasa bangga, rasa berprestasinya sehingga merasa tidak layak dikontrol dan dikendalikan orang lain, itu penyebab mereka sakit hati dan kecewa sendiri.   Rasanya selalu geram dan ingin marah ketika temui sesuatu yang tidak berkenan di hatinya, rasanya selalu enek dan sakit hati ketika ada sedikit saja yang menyinggung prinsip-prinsipnya, rasanya selalu gelisah hati karena dimana-mana kedudukan dan prestasinya tidak bisa jadikan ia berharga, ia persis orang buta dan tuli yang tidak dapat melihat dan mendengar penyebab kegaduhan sebenarnya. Dan itu adalah kemiskinan barunya.   Saat itu sebenarnya obatnya hanya menurunkan ketinggian hatinya, harus bangun rasa sadar kalau ia hanya setitik air mani hina (nuthfah).   أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَىٰ   “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim).” (Q.S. Al-Qiyamah : 37)   Turunkan hatinya sehingga ia bersedia dengan rela diinjak, bersedia dengan rela direndahkan, bersedia dengan rela tidak berharga, bersedia dengan rela untuk sadar sebagai makhluk hina dari setetes air mani hina.   Anda merasa orang kaya berkedudukan lantas bersedia dengan rela dan ridha direndahkan, disitu Anda baru akan bisa merasakan ketenangan dan ketenteraman hati.   Karena itu sebaik-baik hati orang kaya berkedudukan itu adalah orang kaya yang berkata, “Mengalah itu sebaik-baik jalan keluar.”   Orang kaya susah untuk lemah, sebab itu kalau ia berprinsip mengalah pasti pemicunya bukan karena rasa lemah tapi karena ia sadar pentingnya hati berada di bawah. Hati di bawah tidak ada pilihan lain selain terangkat naik, hati di ketinggian tidak ada pilihan lain selain harus turun ke bawah.   Anda duitnya banyak? Anda kedudukannya tinggi? Anda pengaruhnya besar? Saya percaya Anda orang kaya bahagia kalau kemudian mau mengalah, bersedia dihina dan direndahkan.   Sebaliknya, Anda kaya tapi marah-marah ketika direndahkan dan dihinakan, apalagi ngamuk-ngamuk, itu tanda Anda kaya tapi ada ketidakbahagiaan.   Hai

MEI 2023

SPIRITUAL TAJIR;

Nasehat Spiritual Prosperity Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili Oleh Halim Ambiya   Makan, minum dan tidurlah dengan nikmat, lalu bersyukurlah kepada Allah dengan kesungguhan. Ajaklah jiwa dan ragamu bersyukur atas nikmat Allah yang dahsyat.   Jangan sampai seumur hidup kita menikmati dunia yang biasa-biasa saja, lalu bersyukur dengan biasa-biasa saja atau bahkan tidak menerimanya dengan ridha. Sebaliknya, berusahalah menikmati dan menyukuri apa yang sudah Allah anugerahkan. Yakinlah bahwa semua anugerah-Nya luar biasa.   Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili berkata:   كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطأ الفراش والبسوا ألين الثياب فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر   “Makanlah hidangan paling enak, teguklah minuman paling nikmat, berbaringlah di atas kasur terbaik, kenakanlah pakaian dengan bahan paling lembut. Jika satu dari kalian melakukannya lalu berucap syukur, ‘Alhamdulillah’, maka setiap anggota tubuhnya ikut menyatakan syukur.”   Menurut Syekh Asy-Syadzili, sikap rasa syukur pada kenikmatan seperti itu justru berbeda dengan seseorang mengonsumsi sekadar roti gandum yang tak sedap, atau seperti berpakaian dengan bahan karung yang kasar, tidur hanya beralas tanah, lalu berucap, “Aalhamdulillah,” tapi dengan perasaan ketidaksudian, menggerutu dan perasaan dongkol terhadap takdir Allah.   Menurut Syekh, dari sisi batin, dia akan mendapati dosa ketidaksudian dan kedongkolan di dalam hatinya itu lebih besar dibanding dosa mereka yang sungguh-sungguh menikmati dunia.   Karena itu, mereka yang menikmati dunia sungguh-sungguh itu melakukan apa yang memang sesungguhnya mubah. Sedangkan orang yang merasa tidak sudi dan dongkol (karena tidak ikhlas dan ridha) melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah S.W.T.   Disarikan dari kitab Minahus Saniyyah karya Syekh Abdul Wahhab Sya’rani.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

KESADARAN MELIPATGANDA REZEKI

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ   “Dan perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya untuk meraih ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah : 265)   Ada 2 kesadaran yang diajarkan Al-Qur’an agar rezeki yang Anda keluarkan berbuah rezeki yang lebat; – Kesadaran ibtighâ’a nardhâti-llâh (meraih ridha Allah) – Kesadaran tatsbîtan min anfusihim (meneguhkan jiwa).   Satu ketika ayah saya masuk rumah sakit, tentu butuh biaya banyak, saya sendiri sedang ada kebutuhan lumayan besar, dan saya hanya pegang uang yang cukup untuk biayai ayah di rumah sakit. Begitu dengar berita tersebut saya langsung tersadar, “Orang tua saya lebih mulia dari harta saya. Maka harta saya harus digunakan untuk muliakan orang tua, bukan orang tua saya dimuliakan sewajarnya hanya demi keutuhan harta saya.” Lantas saya pilihkan kamar VVIP terbaik. Dan betul, uang saya ludes untuk biaya rumah sakit. Kebutuhan dekat saya sendiri cuma bisa digigitkan jari.   Saya kalau bertemu guru dan kyai saya selalu merogoh isi dompet terbaik. Kesadaran saya hanya, “Guru itu murabbi rûhî (pembimbing ruh saya). Harta saya harus saya sampahkan di depan guru. Bukan malahan harta saya diutuhkan dan guru tidak dimuliakan.”   Pas hari Maulid Nabi S.A.W kemarin, saat pembacaan Al-Barzanjî di masjid, saya hadir utuh dengan segenap kesadaran rasa saya untuk muliakan Nabi S.A.W. Sepulang ke rumah masih merasa rindu untuk muliakan Nabi S.A.W, saya pun ambil lembaran uang merah Soekarno Hatta, lalu saya bagikan pada para santri yang khidmah pada saya. Saya masukan amplop dan amplopnya saya tulisi ihtifâl bi maulidir rasûl (merayakan maulid rasul).   Di atas adalah contoh mengeluarkan harta dengan kesadaran ibtighâ’a mardhâti-llâh (meraih ridha Allah).   Namun sampai ke tahap kesadaran ini kerap susah, apalagi bagi Anda yang masih didominasi nafsu duniawi. Lihat cewek cantik saja masih menghayati, lihat BLT di kantor desa masih ijo matanya, lihat orang kaya masih ingin menumpang atau menjilat, istri sendiri dibentak-bentak cewek dijalanan disayang-sayang, dan seterusnya. Masuk ke wilayah kesadaran spiritual begini, Anda harus melatih diri untuk takut kepada Allah. Ya landasannya kesadaran takwa.   Jika sudah terlatih takwa, nafsu menjadi luruh dan tunduk, di saat itu kesadaran Anda akan melihat hal-hal spiritual di balik peristiwa masuk dan keluarnya uang.   Di titik kesadaran tersebut, Anda makin malas urusi uang, justru seolah Tuhan tidak lagi perkenankan Anda kekurangan uang. Ya rezeki yang Anda keluarkan untuk bayar ini dan itu, untuk nyah-nyoh sana-sini, sudah seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat.   Kok saya bilang begitu? Ya itu yang terjadi pada diri saya, di antara contoh kecilnya kasus-kasus spiritual seperti yang saya sebutkan di atas. Sebenarnya saya makin pemalas, tapi tidak tahu, tetangga kanan-kiri bilang saya makin kaya.   Belum lagi keajaiban-keajaiban rezeki yang kontan dibayarkan oleh Allah sesudah saya bertindak keluarkan duit dengan kesadaran ibtighâ’a mardhâti-llâh (meraih ridha Allah).   Pamer ya saya ini? Kalau tidak pamer ya susah mengajarkannya kepada Anda, kan?   Takwa! Takut kepada Allah! Halal dan haram dijaga sepenuhnya! Jangan maksiat melulu! Jangan suka menyakiti dan merugikan orang lain! Itu syarat sampai di wilayah rezeki ini.   Kesadaran kedua dalam membelanjakan harta agar berbuah rezeki lebat ialah kesadaran tatsbîtan min anfusihim (meneguhkan jiwa).   Saya beri contoh. Saya waktu masih miskin, keluar uang 150 ribu untuk sekali makan di restorant itu sakit hati sekali. Tapi saya sadar, tidak mungkin kalau sakit hati terus dengan 150 ribu untuk ngresto, saya budak duit dan level jajan saya tidak akan naik-naik ke level orang kaya. Ingin kaya kok jajannya masih saja level mie ayam dan roket chicken, lalu kapan saya di level orang kaya?   Sadar itu saya paksa biasakan masuk restorant mewah, namun tentu tetap melihat keseimbangan finansial saya. Di situ tindakan saya hura-hura, mewah-mewahan, tetapi kesadaran saya sedang meneguhkan jiwa yakni memberdayakan diri agar berubah nasib finansialnya.   Hasilnya? Ya benar kata Al-Qur’an, rezeki saya dari hari ke hari berbuah lebat.   Contoh lain, rumah saya masih kecil dan sederhana karena rumah sisa miskin 35 tahun. Setiap saya masuk rumah ada rasa mengeluh. Mau direnovasi masih ada hal lain yang mengganjal, intinya masih harus menunggu sesuatu yang harus sinergi.   Akhirnya saya beli bonsai yang mahal-mahal, yang angkanya menabrak kelumrahan belanja tanaman hias orang kampung. Tujuannya ketika saya masuk lingkungan rumah saya sendiri, saya bisa mengunggah rasa kaya kepada-Nya karena saksikan bonsai mahal, bukan mengunggah rasa miskin karena rumah masih kecil.   Ya keluarga saya komentari, “Hallah. Baru saja kaya sudah wah-wahan, sok-sokan!” Saya cuma membatin, “Wah-wahan matamu! Ndasmu!”   Ya saya membatin kasar begitu karena sepenuhnya saya sadar kalau saya sedang belanjakan harta untuk tatsbîtan min anfusihim yakni untuk memberdayakan diri.   Dan yang komentar saya wah-wahan di atas, sekarang cuma bisa cengar-cengir muka pucat, hati tersayat saksikan rezeki saya dari hari ke hari makin moncer.   Contoh lain lagi, karena biasa bergaul dengan dunia pemberdayaan diri, saya biasa amalkan ilmu-ilmu mental pemberdayaan finansial, seperti mobil pakai Pertamax Turbo, tabung gas malas warna hijau, baju, sandal dan aksesoris badan latihan dinaikan level brandnya, belanja harian, jajan makanan, semuanya saya naik-naikan level angkanya agar servo prosperity-nya naik. Tapi itu, kesadaran saya bukan wah-wahan, bukan hedon, bukan gaya-gayaan, murni karena ingin memberdayakan diri, meneguhkan jiwa saya.   Dan memang, prakteknya saya wah-wahan dan boros, hasilnya rezeki makin lebat turunnya.   Contoh lagi, saya capek disorot orang terpuruk oleh tetangga, karena ada hukum gaung di alam semesta ini. Kalau saya gaungkan keterpurukan, lalu tetangga menyangka saya orang terpuruk, respons gaungnya juga saya akan makin terpuruk, karena hakikatnya gaung tetangga adalah doa. Akhirnya, di garasi mobil saya—yang kebetulan garasi saya,terbuka—selalu saya pasang 2 mobil bertengger.   Kelakuan begitu ya pamer, ya sombong, ya congkak, tapi kesadaran saya betul-betul ingin

MEI 2023

BEGINI AKSES RASA SAAT BERBAGI DENGAN DHUAFA

Kerap saya ajarkan, Anda kalau berbagi dengan kaum dhuafa karena rasa kasihan, di situ Anda menghina dan merendahkannya. Karena derajat uang jauh lebih rendah dari derajat si dhuafa sebagai manusia.   Manusia sebagai ahsani taqwîm (makhluk sempurna) adalah derajat tertinggi, kok dikasihani dengan uang, ya bukan derajat uang mengasihani, sama saja ada mobil Toyota Avanza mengasihani Toyota Alphard ya bukan derajatnya.   Sebab itu kalau uang dipakai untuk mengasihani manusia itu menghina dan merendahkan derajatnya.   Berbagi dengan akses rasa ini jadikan diri Anda susah berubah, baik berubah secara spiritual maupun finansial. Banyak orang dermawan namun hidupnya makin amblas dan kedusahan, di antara sebabnya karena dermawannya dipicu rasa kasihan, akhirnya ia pun kerap membelaskasihani orang lain dengan uang.   Berbagi harta dengan akses rasa kasihan ya dapat pahala besar karena telah membantu orang lain, hanya saja efek perubahan hidup untuk diri Anda yang drop sebab Anda bukannya mengangkat derajat manusia dengan harta, namun sebaliknya.   Lalu akses rasa yang tepat itu akses rasa apa?   Pertama, akses rasa kaya.   Nabi S.A.W menyebutnya berbagi dengan “zhahril ghinâ” (punggung kaya).   الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ   “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu dan sebaik-baik sedekah itu dari punggung kekayaan. Barangsiapa yang memelihara dirinya, Allah akan memeliharanya dan barangsiapa yang merasa kaya, Allah akan mengkayakannya”. (H.R. Bukhari)   Di akses rasa ini, Anda tidak mengangkat derajat si dhuafa penerima sedekah, namun Anda mengangkat derajat Anda sendiri di depan uang.   Model akses rasa begini adalah model akses rasa yang dimiliki oleh para hartawan, makanya mereka makin edan-edanan berbagi, mereka makin kaya raya saja, sebab berbaginya mereka dipicu oleh rasa kaya.   Kedua, akses rasa “ngalap berkah”.   Keunggulan dhuafa itu hatinya lentur dan mudah mengalah. Mereka merasa lemah, tidak terbiasa bekuasa, tidak terbiasa dominatif, tidak terbiasa punya kebanggaan, sehingga hati mereka lentur, mereka terbiasa dipaksa kehidupan untuk mengalah.   Saya tidak menyebutnya berhati lembut, karena hati lembut juga banyak dimiliki oleh orang-orang yang telah mencapai wisdom kebijaksanaan, mereka kerap congkak dan keras kepala, galak dan sok kuasa, tapi semua dilatarbelakangi kebijaksanaan, hati mereka yang sebenarnya sangatlah lembut penuh bijak.   Para dhuafa itu berhati lentur, mudah mengalah, mudah menerima, mudah dikuasai, sehingga mereka akrab dengan keluasan hati. Jujur saja, miskin pun ada keunggulannya yakni luas hati.   أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ   “Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni surga? Yaitu setiap orang lemah dan diremehkan, yang sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, rakus dan kikir, lagi sombong.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Namun Anda tidak perlu lah bercita-cita masuk surga dengan modal miskin. Lah buat apa? Nabi Sulaiman yang kaya raya penuh kemewahan, istri sampai 1000 ribu saja masuk surga, buat apa pakai jalan miskin?   Hanya saja, saya akui orang miskin itu luas hatinya karena keadaan lemahnya. Karena itu potensi mereka mencapai derajat sabar sangat besar. Biasanya sumpah supata mereka kerap mudah diijabah, sekali mengutuk langsung kejadian, sumpah mereka didengarkan Allah. Karena keunggulan ini, mereka ada berkahnya.   Awal pandemi Corona, dalam beberapa bulan saya berbagi dengan kaum dhuafa, tentu saya mulai dari family terdekat. Saya berbagi bukan karena saya belas kasihan, tapi saya sadar ingin “ngalap berkah”, karena mereka unggul dalam keluasan dan kelenturan, unggul melatih diri dalam kesabaran menghadapi lemahnya hidup mereka.   Tidak saya sangka, dunia sedang teriak susah duit karena pandemi Corona, eeh saya malah naik penghasilan.   Simpulnya, saat Anda berbagi dengan sesama jangan akses uang itu lebih unggul dari manusia, akses lah rasa-rasa yang menempatkan derajat manusia lebih tinggi dari uang.   Yang kerap saya unggah dua rasa di atas, yakni pertama rasa kaya atau yang kedua rasa “ngalap berkah”.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

MAHKOTA REZEKI

Kalau kedua tangan Anda putus, Anda masih mungkin dapat hidup, atau kedua kaki Anda patah juga masih mungkin sekali dapat hidup, atau kedua tangan dan kedua kaki putus semuanya, Anda juga masih dapat hidup. Namun jika yang diputus dari badan Anda adalah kepala Anda, dapatkah Anda hidup? Kepala putus, Anda mati.   Uang hadir di bumi ini semata-mata hanya ikuti kehadiran Anda. Di Matahari, di Bulan, di Pluto, tidak ada Anda, di sana pun tidak ada uang. Uang hadir, karena Anda hadir.   Karena ini, kualitas dan kuantitas kehadiran uang mengikuti prestige Anda secara personal, mengikuti level kehormatan diri Anda. Gubernur dengan bupati, uang yang mengikutinya tentu besar gubernur, karena level “terhormatnya” tinggi gubernur, “kepala” si gubernur jauh lebih tegak dan gagah ketimbang kepala si bupati.   Kepala atau kehormatan tegak, uang tegak. Kepala tengleng, uang juga tengleng. Kepala putus, uang juga putus. Uang terkait erat dengan kehormatan Anda.   Orang miskin kenapa uangnya terus menerus ringsek karena biasanya orang miskin itu selfworth-nya rendah sebab terhambat perasaan dirinya tidak begitu berharga.   Ya orang miskin terjebak selfworth rendah, ia merasa dirinya tidak begitu berharga karena prestasi duniawinya rendah, kebanggan hidupnya juga rendah. Ia cenderung berperasaan sebagai balung kere (tulangnya kere) yang seolah telah didesain nasib sebagai orang lemah. Kebanggaan dirinya lemah sebab memang tidak ada yang bisa dibanggakan dalam hidupnya, akhirnya yang terlihat olehnya hanya kelemahan-kelemahan dirinya.   Sebab itu orang miskin cenderung berinisiatif “ngalahan, neriman dan sabaran”, itu disebabkan ia kesulitan menyaksikan dirinya berharga.   Beda dengan orang kaya, lihat mobil dan rumahnya ia bertepuk dada, lihat jabatan dan aktifitasnya ia merasa bangga, lihat aktifitas kesehariannya dan martabatnya, ia acungkan jempol untuk hidupnya sendiri, ia merasa hidupnya penuh prestasi dan penghargaan, selfworth-nya tinggi.   Dari titik selfworth orang miskin yang rendah ini, jadikan kepala mereka susah untuk tegak gagah berdiri, dan disitulah uang yang mereka tarik pun jadi sulit tegak gagah.   Uang hadir ikuti kehadiran Anda, dan kepala Anda adalah pusat hidup Anda.   Perasaan bahwa diri Anda berharga itu pusat rezeki Anda. Agar perasaan berharga itu muncul tentu dimulai dari prestasi hidup Anda.   Nah berarti, untuk memulai kebaikan rezeki, Anda harus memulainya dengan membangun prestasi dengan minat dan tujuan Anda masing-masing. Di sini komitment, integritas, dedikasi, skill, motivasi, spirit, dan konsistensi Anda diuji, apakah Anda sanggup wujudkan prestasi atau tidak?   Dari prestasi baik ini baru Anda bisa mulai saksikan kalau diri Anda berharga, kalau kepala Anda tegak gagah berdiri. Di situlah uang mulai mengekori.   Anda percaya tidak percaya, namun ini realita. Para periset dari University College London School of Management dan Columbia Business School memberikan pernyataan yang mencengangkan. Tak disangka-sangka, hasil penelitian ini membuktikan bahwa kebaikan seseorang berpengaruh besar terhadap tingkat kemiskinan dan kecenderungannya untuk bangkrut.   Menurut penelitinya, seseorang akan makin mudah terperosok ke dalam masalah keuangan dalam hidupnya jika orang itu berhati baik dan mulia.   Hasil studi ini telah dipublikasikan oleh American Psychological Association. Di dalam studi tersebut, dibahas bahwa seseorang yang baik hati dengan tingkat toleransi yang tinggi malah berkemungkinan untuk lebih mudah mengalami kebangkrutan secara finansial.   Nah kan?   Kenapa itu terjadi? Karena orang yang terlalu baik cenderung lupa menghargai dirinya sendiri. Empatinya kepada orang lain terlalu besar, pikiran untuk menguntungkan dan menyamankan orang lain juga besar, rasa sosialnya tinggi, hatinya luas untuk menampung masalah keruwetan orang lain, sehingga apresiasi perasaannya untuk menguntungkan diri sendiri kecil. Di situlah kemudian penghargaannya kepada diri sendiri juga kecil.   Sementara perasaan “diriku berharga, diriku baik, diriku ingin beruntung, diriku mulia dan terhormat, dan seterusnya” itu adalah self-worth yang harus tumbuh di dalam diri sebagai pusat tegak gagahnya kepala.   Terlalu mengalah, terlalu neriman, terlalu sabaran, terlalu kalem, terlalu legawaan, terlalu pemaaf, terlalu lapang dada, itu semua rentan hancurkan finansial Anda sebab di situ Anda melupakan kalau kepala Anda itu sangat berharga.   Nabi Muhammad S.A.W selfworth-nya tinggi. Terima sedekah dan zakat beliau tidak berkenan karena merasa beliau berharga. Terus-terusan dianiaya kafir Quraisy ya beliau keluar doa kutukannya. Surat dakwah beliau kepada Kaisar Persia ditolak dan disobek-sobek ya beliau balik doakan agar kekuasaan kekaisaran Persia disobek-sobek.   Ketika beliau membagikan harta rampasan perang, lalu ada kaum yang memprotes kalau cara Nabi S.A.W membagikannya tidak adil, beliau dikritik agar bertakwa kepada Allah dalam membagikan harta rampasan perang, ya beliau tersinggung dan berkata tegas, “Aku ini orang paling amanah dan paling bertakwa di antara langit dan bumi.”   Cek saja dalam kitab-kitab hadits tentang kisah-kisah bagaimana Nabi S.A.W punya selfworth yang sangat baik.   Jadi self-worth Nabi S.A.W itu tinggi. Lah Anda yang umatnya yang tidak ma’shum tidak apa malah takut tersinggung karena takut tisak dianggap orang baik hati.   Ya segalanya butuh keseimbangan. Luas hati itu harus, tapi ingat hargai juga diri Anda. Menghargai diri itu harus, tapi juga harus ingat kemuliaan hati itu berada di dalam keluasaan hati. Ya sekedar ingatkan saja untuk seimbang.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

DIBERI KEMUDAHAN TAAT, BELUM TENTU BAIK

Anda tahu semua tentang Barshisha, yang dikisahkan Nabi S.A.W., seorang santo yang beribadah puluhan tahun di dalam kuil. Muridnya mencapai 60.000 biarawan. Hampir semua muridnya mencapai kesadaran kuantum, mampu berkecepatan di atas kecepatan cahaya, mampu menembus sekat ruang, konon mayoritas para murid mampu masuk ke lubang jarum. Namun Barshisha mati sujud kepada setan.   Ketika Anda menulis angka 500.000.000.000 (lima ratus milyar) mudah saja, bila ingin 500 trilyun tinggal menambahkan tiga nol di belakang. Mudah, ringan, enteng, karena sekedar menulis angka tidak bernilai, tidak butuh susah-susah.   Namun bagi Anda seorang akuntan, menambahkan angka 50 dalam satu jumlah laporan keuangan, butuh data penjumlahan detail yang njelimet. Anda harus berpikir berlipat kali hanya untuk bisa menambahkan angka 50. Karena 50 dalam akuntan itu bernilai, butuh susah-payah untuk mencantumkannya di penjumlahan.   Konon Barshīsha dengan mudah dijebak iblis, kebaktiannya kepada Tuhan tidak berpengaruh apa-apa pada komitmennya. Dijebak untuk minum arak, ia enjoy, untuk bermain perempuan, ia enjoy, untuk membunuh, ia enjoy, hingga sudah di tiang salib, masih enjoy ketika dirayu untuk sujud pada iblis.   Ingat, menulis angka 500.000.000.000 itu mudah bagi Anda karena tidak bernilai, menulis angka 50 bagi seorang akuntan itu hal yang berat karena bernilai. Kalau Barshīsha dengan mudah beralih komitmen hanya karena suatu rayuan iblis, itu artinya “kebaktiannya kepada Tuhan memang tidak bernilai bagi Barshīsha”.   Kenapa kebaktiannya tidak bernilai bagi Barshīsha? Karena baginya, “berbuat bakti itu mudah”. Anda mudah menulis 500 milyar di kertas, karena angka itu tidak bernilai. Barshīsha mudah berbakti, mudah taat kepada Tuhan, ketika harus menghapus kebaktian itu dan diganti dengan durhaka, ya ringan saja, karena tidak bernilai apa-apa di hatinya.   Sesuatu tidak bernilai disebabkan “mudah mendapatkannya”. Angka 50 bernilai bagi akuntan, karena itu bukan hal mudah bagi akuntan. Untuk mencapai “nilai” atau atsar kuat diperlukan kepayahan dan kesusahan, butuh suatu mujāhadah (perjuangan sungguh-sungguh). Maka Al-Qur’an selalu mewasiatkan bahwa bersama kemudahan ada kepayahan. Artinya kemudahan dan kepayahan hakikatnya dualitas yang saling menyeimbangkan.   فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا   “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirâh : 5-6)   Ini artinya, berbuat taat bagi Barshisha itu mudah-mudah saja. Ia dimudahkan oleh Tuhan untuk taat kepada-Nya, tanpa halang rintang berarti. Ia dengan mudah hidup puluhan tahun di kuil, puluhan tahun sujud, puluhan tahun puasa, puluhan tahun mengajar, tanpa ada godaan berarti.   Bagi Anda, hidup di dalam masjid puluhan tahun, tanpa hiburan, tanpa refreshing, tanpa seks, tanpa berlaku hedon, itu semua sangat susah bagi Anda. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Barshisha, ia enjoy terbang di angkasa taat, ia dikaruniai mudah taat. Dessss…. taatnya menjadi tidak bernilai, tidak mengukirkan atsar.   Peristiwa Barshisha ini jelas karena tidak adanya keseimbangan pada pola kebaktian Barshisha kepada Tuhan. Bila kebaktiannya bukan semacam gratisan, tentu berakhir seimbang; khusnul khâtimah. Gratisan biasanya diberikan kepada orang yang tidak mampu, maka itu sebenarnya Barshisha bukan orang yang mampu berbakti puluhan tahun.   Maka ini, Anda perlu bersyukur atas kesusahan Anda berbuat taat, susah berbuat baik. Sana-sini ada kekurangan. Sudah naik jatuh lagi. Kadang malah lenyap dibawa arus maksiat, lalu dengan tertatih Anda memulai lagi dari nol untuk taat dan baik. Namun, susah payah dalam taat itulah yang akan menitikkan “nilai” atau atsar dalam jiwa Anda. Sehingga Anda tidak gampangan ganti komitmen ketika iblis-iblis datang merayu.   عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا فِي عُمْرَتِهَا إِنَّ لَكِ مِنَ الأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ وَنَــفــَقَـتِـــكِ   “Dari Aisyah R.A. bahwa Rasulu-llāh S.A.W. bersabda padanya, “Umrahnya untuk dirinya. Sungguh untukmu ada bagian pahala atas kadar usaha dan korbanmu.” (H.R. Al-Hakim).   مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً   “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” (Kaidah Fikih, As-Suyuthi dalam Asybah wan Nazhāir).   العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ   “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” (Kaidah Fikih, Imam Az-Zarkasi dalam Al-Mantsur).   Saya bahagia ketika banyak mendapat keluhan susahnya berbuat taat, karena itu jalan Anda untuk tidak seperti Barshīsha.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

RAHMAT DUIT

Dalam ajaran agama Islam banyak sekali diajarkan mengenai fadhîlatul a’mâl (keutamaan-keutamaan amal) yang kadang tidak masuk akal. Saya ambil contoh di sini seperti fadhîlah Puasa ‘Arafah.   “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (H.R. Muslim)   Anda taubat selama setahun belum tentu berhasil karena proyek dosa terus berlangsung setiap hari. Atas ditaubati, bawah berbuat dosa. Dan hasil pun ditentukan sesuai upaya kerja.   Janji -janji pahala fadhîlah seperti di atas, seolah berlawanan ekstrem dengan kaidah, “Al-ajru bi qadril masyaqqah” bahwa “pahala sesuai dengan kadar kepayahan”.   Kaidah “al-ajru bi qadril masyaqqah”di atas itu petunjuk bahwa hidup ini tidak ada gratisan.   Memang hidup ini cuma-cuma, tidak ada pajak untuk oksigen yang Anda hirup, tapi bukan gratisan, karena untuk dapatkan oksigen sehat, Anda harus berupaya lahir batin melestarikan lingkungan sehat. Standar kebaikan hidup Anda sebanding dengan kepayahan Anda dalam upaya.   Apa mungkin puasa Arafah sehari melebur dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang? Karena jelas hasilnya beda, antara kerja sehari dengan kerja setahun. Mekanisme puasa Arafah sama saja, kerja sehari dengan hasil yang menyamai kerja setahun lalu dan setahun akan datang. Ini melawan mekanisme, “Al-ajru bi qadril masyaqqah”.   Jika dimaknai serampangan Nabi Daud AS merasa iri karena beliau puasa sehari berbuka sehari itu dilakukan seumur hidup beliau, di-TKO dengan mudah hanya dengan puasa Arafah sehari. Adil?   Puasa Arafah dengan fadhīlah-nya itu rahmat Tuhan. Soal “rahmat Tuhan” sering disebut non matematis, bukan nalar logis. Ooh tidak. Tuhan selalu bermain di wilayah pasti (Al-Muqtadir), tidak ada mekanisme “kebetulan” di dalam Tuhan, kebetulan itu hanya “kepastian yang tidak disadari”.   Tuhan itu “tidak mempengaruhi dan tidak dipengaruhi”, Dia di posisi nol. Sehingga segala sesuatu yang dibagikan kepada Tuhan (nol) akan menghasilkan tiga kepastian:   1). 0/0 = 0 (sesuai dengan konsep nol dibagi berapapun bilangannya maka jawabannya adalah nol).   2). 0/0 = ∞ [tak hingga] (sesuai dengan konsep bilangan berapapun dibagi dengan nol hasilnya tak hingga/tak terdefinisi, misal 9/0= ∞ (tak hingga)).   3). 0/0 = 1 (sesuai dengan konsep bilangan berapapun jika dibagi dengan dirinya sendiri maka hasilnya adalah satu, misal 2/2=1).   Puasa Arafah ini menetapi mekanisme kepastian hasil 0:0= ∞ (nol dibagi nol sama dengan tak hingga). Ini eksak. Jadi rahmat itu eksak, bukan gratisan bukan kebetulan, bukan hal yang tidak matematis.   Puasa Arafah dibagikan kepada Tuhan (0) sama dengan ampunan dosa dapat hasil tak hingga jika memang Anda hanya membagikan kepada 0, alias lillāhi ta’ālā.   Sekalipun puasa Arafah bersama, hasilnya bisa beda-beda, bahkan ada juga yang cuma hasil haus dan lapar saja, karena mekanisme “rahmat Tuhan” standar dengan kemampuan Anda berbagi kepada nol (lillāhi ta’ālā).   Karena ini, fadhīlah puasa Arafah itu matematis, sesuai kaidah al-ajru bj qadril masyaqqah, karena upaya diri Anda “berbagi kepada nol (lillāhi ta’ālā)” itu inti segala kepayahan. Sekedar menghasilkan 1 milyar dalam sehari, banyak yang bisa, tapi menghasilkan lillāhi ta’ālā dalam seumur hidup belum tentu bisa.   Jadi, mekanisme rahmat itu inti kepayahan. Dapat pahala diampuni dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang dengan puasa Arafah sehari itu memenuhi kaidah al-ajru bi qadril masyaqqah; pahala seimbang dengan kadar kepayahan.   Duit itupun satu mekanisme rahmat. Jadi sangat mungkin Anda kerja sehari cukup untuk hidup setahun. Bill Gates dalam satu detik, duit yang masuk ke rekeningnya mencapai nominal milyaran. Duit Anda pun bisa seperti pahala puasa Arafah, asalkan duit Anda masuk dalam mekanisme rahmat Tuhan.   Hanya yang perlu Anda tahu, Tuhan bekerja sesuai prasangka Anda pada-Nya, kalau prasangka Anda masih saja “ngitang-ngitung” duit, curahan rahmat duit yang masuk kepada Anda juga pakai rumus hitungan. Satu bulan kerja berarti cuma dapat gaji 3 juta, itu rezeki dengan rumus hitungan.   Maka ini perasaan Anda yang harus digubah dalam menyangka curahan duit-Nya. Berarti harus bagaimana? Ya latihan tidak main hitungan dengan duit. Boros ya diterima dengan enjoy, tidak dibuat stres dan merasa bersalah. Harus keluar biaya besar ya enjoy saja tidak dijadikan beban berat. Tidak dibuat prinsip ketat dalam pengeluaran. Tidak “ngakal-ngakal” agar bisa menabung dan mengumpulkan duit. Pokoknya enjoy dengan duit.   Kenapa perlu mengganti setting mental yang demikian? Karena curahan duit itu rahmat-Nya. Puasa di hari Arafah dalam sehari saja bisa menghapus dosa di masa lalu dan masa akan datang, kenapa kerja sekali tidak cukup untuk makan setahun? Yang membatasi curahan rahmat duit-Nya kepada Anda hanyalah prasangka Anda pada-Nya yaitu “hitungan” rasionalitas Anda terhadap keluar masuknya duit.   Jangan suka hitung-hitungan duit, itu jadikan Tuhan turunkan duit-Nya juga terhitung, karena Dia turunkan rahmat-Nya sesuai prasangka hamba pada-Nya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

ATENSI ISTIGHFAR UNTUK MENGUNDUH REZEKI

Energi uang antipati mendekat kepada 2 hal; pertama getaran-getaran keprihatinan duniawi, kedua; getaran-getaran rasa tak berharga.   Pertama energi uang anti mendekat pada getaran keprihatinan duniawi, sebab program penciptaan uang itu sebagai pelayan body. Body antipati kepada keprihatinan, Anda puasa, puasa itu laku prihatin, bukankah perut Anda menolak prihatin puasa?   Uang itu tercipta layani body Anda, energinya pun ikuti energi body, yakni anti getaran rasa rasa prihatin.   Energi uang justru kegemarannya mendekat kepada getaran kesenangan, tidak peduli bahagia atau tidak, shaleh atau tidak. Maria Ozawa duitnya banyak, karena hidupnya yang bebas seks itu getaran kesenangan.   Kedua, energi uang anti kepada self worth yang rendah, kepada perasaan-perasaan tidak berharga.   Tangan atau kaki Anda dipotong, Anda masih bisa hidup, namun kalau leher Anda dipotong, Anda mati.   Uang itu pelayan Anda, getaran uang ikuti getaran hidup Anda. Di Mars tidak ada Anda, di sana pun tidak ada uang.   Kepala Anda itu simbol self worth diri Anda, kalau kepala Anda putus, Anda mati. Anda mati, rezeki uang juga ikut mati. Karena itu uang mendekatnya kepada rasa-rasa prestasi diri. Di mana pun yang punya tahta, dia punya harta, dan yang punya harta ujung-ujungnya punya tahta.   Punya tahta itu pemicu rasa berharga muncul, punya prestasi hidup juga pemicu rasa berharga muncul.   Fakir miskin makin tercekik rezekinya di antara penyebabnya karena para fakir miskin merasa dirinya tidak berharga sebab tidak punya prestasi apa-apa, harta tak ada, kehormatan juga di statra bawah.   Nah istighfar itu dipromosikan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tool pengunduh berlimpahnya rezeki.   فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا .يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا .وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا   “Maka Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepadamu hujan lebat, dan memperbanyak hartamu dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, serta mengadakan untukmu sungai-sungai.” (Q.S. Nuh : 10-12).   “مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”   “Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (H.R. Ahmad).   Istighfar itu energi spiritual taubat. Taubat punya getaran penyesalan atas dosa-dosa.   Orang yang penuh penyesalan, ia rawan terjebak dalam rasa keprihatinan dan rawan terjebak dalam rasa tidak berharga.   Dia prihatin hatinya terpicu rasa menyesali kesalahan-kesalahan, dan karena menyesal mendalam ujung-ujungnya ia merasa tidak berharga, self worth-nya jadi rendah.   Ketika atensi rasa yang terunggah kepada-Nya adalah rasa menyesal mendalam, hatinya penuh prihatin dan self worth-nya jadi rendah, di sinilah kemudian bertabrakan dengan energi uang. Hasilnya banyak istighfar bukannya memudahkan rezeki, malahan menyeretkan rezeki.   Banyak para pengusaha yang mencoba taubat dari riba dengan menghindari bunga bank, dan malah yang terjadi sesudah ia hindari bunga bank justru bisnisnya jadi anjlok dan oleng. Itu dikarenakan atensi istighfar dan taubatnya adalah rasa menyesal mendalam.   Lalu bagaimana agar istighfar menjadi pengunduh rezeki sesuai Al-Qur’an dan Al-Hadits?   Begini. Misi istighfar itu mohon ampunan dari dosa-dosa, bukan menyesali dosa-dosa.   Memang dalam taubat itu dianjurkan agar Anda menyesali dosa-dosa sebagai efek teraplikasinya rasa taubat dalam diri Anda. Namun dalam istighfar jangan kemudian yang dibesar-besarkan adalah rasa menyesal sehingga kemudian yang dominan adalah rasa menyesal tersebut.   Sekarang kalau Anda menyesali tapi Anda tidak diampuni dosanya, apa istighfar Anda berguna? Karena itu point besar istighfar dan taubat adalah “diampuni” bukan “disesali”.   Rasa ingin mendapat ampunan Tuhan itu jadikan rasa kehambaan muncul di dalam diri, sehingga dalam benak hati muncul rasa-rasa tidak kuasa untuk terhindar dari kesalahan dan dosa, karena itu tidak ada harapan lain selain rasa berserah kepada-Nya sambil berharap kuat agar Dia tetap mengampuni.   Dalam rasa kehambaan tersebut kemudian mendorong hati si hamba untuk percaya diri, sehingga self worth dan kegembiraan hatinya pun muncul.   Anda amati pesan doa Sayyidul Istighfar yang diajarkan Rasulullah S.A.W;   للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ   “Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji –Mu. Dan Aku berjanji kepada-Mu dengan semampuku. Aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat. Aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau.” (H.R. Bukhari).   Di doa tersebut jelas tersirat rasa-rasa kehambaan yang membangun kepercayaan diri, membangun self worth dan kegembiraan hati, bahkan di doa Sayyidul Istighfar tersebut ada pengakuan atas nikmat-nikmat Tuhan (abû-u laka bi ni’matika ‘alayya).   Jadi dalam taubat dan istighfar pun Anda tetap didorong untuk mengingat nikmat-nikmat-Nya, dorongan untuk bangun rasa bergembira yang tinggi.   Simpulnya atensi istighfar yang mendorong terunduhnya rezeki melimpah itu atensi istighfar yang tetap membangkitkan self worth dan rasa gembira, bukan atensi istighfar yang hanya membangkitkan rasa penyesalan.   Dan ingat! Energi uang adalah energi yang mendekat kepada getaraan rasa gembira dan getaran rasa berharga, istighfar Anda tetaplah berada di frekuensi getaran tersebut.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

Scroll to Top