MEI 2023

MEI 2023

RINGAN HATI PADA UANG

Dengan apa Tuhan menghargai para penaat-Nya di dunia ini? Dengan duit. Dengan apa Tuhan menjatuhkan para pemaksiat-Nya? Dengan duit. Inilah istimewanya duit, yang hakiki dan yang ilusi dieksekusi dengan duit.   Abdurrahman bin Auf dan Robert Kiyosaki dinaikan level spiritualnya dengan duit. Maria Ozawa dan Sora Aoi dijatuhkan spiritualnya juga dengan limpahan duit.   Para pencapai hikmah ilahiyat mencapai wisdom dengan dimelaratkan duit, para pemaksiat-Nya banyak menerima azab banyak juga dengan dimelaratkan duit.   Di alam material ini, duit boleh disebut intisari Tuhan berbagi kebijaksanaan, duit menjadi alat Tuhan menarik dan berbagi bahagia sekaligus menarik dan berbagi derita. Dengan duit, Tuhan menjadi Maha Kuasa.   Tuhan tidak ada tersinggungnya dengan duit, rasa sakit hati atau pun euforia dengan duit tidak ada. Enteng saja Tuhan memberi duit pada Maria Ozawa walaupun dengan pemberian-Nya itu jadikan Maria Ozawa yang tadinya hanya bermain satu lawan satu, jadi berani satu lawan dua, dan lebih berani lagi satu lawan keroyokan.   Namun juga, Tuhan tidak tersinggung hati, Dia enteng-enteng saja melimpahkan kekayaan terbaik di dunia ini kepada Bill Gates lantaran amalan kemanusiaan Bill Gates yang menakjubkan.   Sedemikian lihai Tuhan terlepas keterikan dengan duit, sehingga seenaknya Dia tarik dan lepas duit. Dan anehnya seenaknya Tuhan menarik dan melepas duit, Tuhan tetap berduit banyak, dan menjamin duit untuk setiap makhluk melata di Bumi-Nya. Kata lainnya, “Tuhan makmur duit.”   Seenaknya dengan duit artinya Tuhan tidak sensitif dengan duit. Ini yang harus kita ukur ke dalam diri kita, karena kita sebaliknya sangat sensitif dengan duit. Andai Tuhan sensitif dengan duit? Kira-kira bagaimana mekanisme alam semesta ini?   Di dalam spirit Anda telah terprogram mental Tuhan terhadap duit. Anda kalau melihat anak Anda berprestasi seringkali memberi hadiah istimewa, tentu itu duit. Menjerakan anak Anda yang nakal juga dengan duit, misal tidak mau belikan mainan kalau anak Anda tidak mau mengubah kelakuan buruknya.   Anda juga kadang memberi duit pada anak karena ada ancaman dari anak, kadang juga memberi duit pada anak karena ada pujian dari anak. Artinya di dalam diri Anda sebenarnya sudah ter-install intisari Zat Tuhan sebagai pemain duit.   Spirit Anda adalah program mental Tuhan karena ini Anda dalam sebuah hadits diperintah untuk berakhlak seperti akhlak Tuhan. Sebab ini mental Tuhan terhadap duit ada dalam spirit Anda. Penghambat spirit Anda bermental ringan hati terhadap duit karena Anda terlalu mengistimewakan duit, sehingga duit sangat berharga. Barang berharga konsekuensinya jadi langka.   Kalau Anda merasa duit susah dicari, sebenarnya titik masalahnya “duit masih sangat istimewa di hati Anda”. Afat psikisnya terhadap “barang istimewa”, Anda jadi sangat sensitif terhadap duit. Enam tahun lalu saja saya masih sangat sensitif dengan uang seribu perak.   Bukateja, tempat saya tinggal, adalah wilayah kota kecamatan. Tentu parkir kendaraan di pasar dan daerah pertokoan itu hal lumrah jika siang hari.   Suatu malam saya belanja di Indomaret, di situ ada tukang parkirnya. Pikir saya, “Malam-malam kok ada parkiran. Kurang ajar!” Lalu dengan wajah melengos dan agak jutek saya membayar uang parkir seribu perak.   Di sini sensitifnya saya pada duit seribu perak. Seribu perak saja digenggam kencang, dicengkram kuat-kuat, hingga sekedar bayar parkir seribu perak malam hari di kota kecil seperti Bukateja, saya merasa berat hati.   Beda dengan sekarang. Ketika saya belanja malam hari di Indomaret, lalu ada parkiran, hati saya merasa bahagia, “Alhamdu li-llâh saya ke Indomaret malam hari bisa mengalirkan rezeki untuk tukang parkir. Memberlimpahinya,” kata hati saya dengan rasa bahagia.   Bukankah beda sekali kesadaran saya 6 tahun lalu dengan sekarang?   Dan mengunduh rasa bahagia dengan kesadaran memberi seribu perak pada tukang parkir, untuk saya ini latihan mental yang cukup lama.   Lalu bagaimana melatih diri agar jadi ringan hati pada uang? Latihannya cuma dengan meningkatkan pembiasaan belanja dan pengeluaran lainnya.   Begini, awal saya beli tanaman hias, harga 35 ribu sudah terasa mahal. Dibiasakan terus angka tersebut sampai terbiasa. Angka 75 ribu untuk tanaman hias belum dikenali.   Lalu ketika beli tanaman hias lagi, naikan ke harga 75 ribu. Lalu biasakan.   Saat di angka 75 ribu itu angka-angka di atasnya belum dikenali. Lalu naik bertahap, pelan-pelan, sampai terasa biasa saja. Kalau sudah biasa saja itu artinya hati sudah kenali rasa ringan.   Dan terus begitu, hanya tingkatkan dan biasakan.   Angka sedekah juga begitu. Angka berapa yang biasa Anda keluarkan itu tingkatkan bertahap, pelan-pelan saja, hingga kemudian terasa biasa-biasa saja.   Dan ingat! Jangan ngawur! Jangan ngawur maksudnya tetap lihat kondisi duit Anda. Penghasilan 3 juta, latihannya beli kaos harga 1,5 juta, ya goblok!   Angka duit yang berat itu karena belum Anda kenali, harus dikenalkan, lalu biasakan. Tujuannya meruntuhkan kemelakatan terhadap nilai istimewa duit sehingga tidak tersinggungan dengan duit.   Kalau latihannya dengan memperbesar belanja dan sedekah seperti itu, berarti makin boros, lalu kapan duitnya tambah? Eeh Anda percaya dengan ini, tidak?   “Dari Abu Hurairah R.A, Nabi S.A W bersabda;   أَنْفِقُ يَا بِلاَلُ! وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلاَلاَ “   “Belanjakanlah (hartamu), hai Bilal! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Zat Pemilik Arsy.” (H.R. Baihaqi)   وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ   “Dan apa saja yang kamu belanjakan, Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezeki yang tebaik.” (Q.S. Saba : 39)   Justru cara menambah duit itu dengan membelanjakannya, kalau menambah duit dengan cara mengumpulkan harta, itu mah ajaran Qorun, ujung-ujungnya ditelan bumi.   Karena itu sejak masih kere, sejak masih memegang nominal kecil duit, latihlah untuk ringan hati kepada duit. Enteng dengan duit. Sehingga ketika nominal duit Anda membesar, Anda enteng-enteng saja meninggalkan duit karena terbiasa dengan duit yang tidak lagi istimewa. Dengan demikian duit selalu ringan di hati.   Nanti kalau angka-angka duit sudah jadi pembiasaan sehingga terasa ringan di hati, apapun ikhtiyar Anda untuk hasilkan uang akan seperti benih kecambah disiram hujan. Yang penting ikhtiyarnya tetap konsisten dijalankan, jangan berhenti.   Ketika Anda bisa ringan hati pada duit, duit menjadi bukan hal yang istimewa. Ketika sesuatu bukan lagi hal istimewa, sesuatu tersebut menjadi barang rongsokan yang dimana-mana ada, dimana-mana banyak.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

DITAGIH HATI MISKIN

Anda perhatikan dulu baretan pada moncong mobil saya. Ceritanya begini.   Saya itu orangnya “nyah-nyoh” dengan harta. Dari kain, baju, sarung, rokok, makanan hingga uang, saya biasa “nyah-nyoh”. Saya paham, “nyah-nyoh” dengan dilatarbelakangi rasa kaya itu akan menarik kekayaan. Dan itu semua terbukti, istri pun mengakui, karena kenyataan duit meningkat terus dari waktu ke waktu, dan saya termasuk suami yang sudah tidak pernah dengar istri mengeluh bingung duit.   Nah dalam bulan ini, istri saya sedang muncul rasa miskinnya, sehingga di hatinya dongkol menyaksikan saya “nyah-nyoh”. Apalagi bulan ini yang namanya masuk restoran traktir tamu hampir tiap hari. Istri saya ketar-ketir juga.   Saat melihat saya “nyah-nyoh”, hati istri saya awalnya jelas rasa itung duit ples rasa “eman-eman”. Semua rasa itu memunculkan rasa kurang.   Di sisi lain, istri saya tentu orang yang paling dekat dengan saya, mentalnya tentu terbentuk oleh saya, istri saya sadar sepenuhnya apa itu rasa kaya.   Jadi saat-saat itu istri saya ragu-ragu antara kaya dan miskin. Dia ragu-ragu sebagai orang kaya yang sanggup “nyah-nyoh” atau orang miskin yang segala urusan duit itu berhitung dengan rasa terbatas. Dia ragu.   Anda kalau sedang masukan zakar Anda ke vagina istri tapi istri ragu-ragu, mungkin karena merasa vaginanya masih kering atau lainnya, amati saja si istri akan kesakitan, minimal rasakan nyeri vagina, itu karena keraguannya. Segala keraguan tidak bisa peroleh hasil maksimal.   Nah melihat “nyah-nyoh-nya” saya di bulan ini yang frekuensinya meningkat, istri ragu-ragu antara miskin dan kaya, ia tidak bisa total hadir sebagai orang kaya.   Saya tahu keadaan mental istri, tapi saya diam saja. Dan ternyata mental istri bukannya membaik, tapi malahan menular ke saya. Saya juga jadi punya mental itung dan ragu-ragu.   Malam harinya saya terbangun sekitar jam 3 pagi, minum teh dan merokok. Di malam itu saya melihat perang dahsyat di hati istri saya, perang antara rasa kaya versus rasa miskin. Artinya malam itu saya diberi sinyal oleh alam semesta kalau getaran kemiskinan istri saya sudah menguat.   Paginya saya masih diam saja, karena saya pun tertular, mulai terperosok khilaf.   Pada akhirnya sore harinya, jelang Maghrib, salah satu sopir saya sedang memasukan mobil Daihatsu Xenia ke garasi. Dan prek, menyerempet Honda HRV Prestige merah. Lalu sopir melapor.   Saya tandang mengecek kondisi mobil, lumayan dalam goresannya. Tidak lama kemudian istri juga mengeceknya. Karena tertabrak azan Maghrib, kami tidak sempat mengobrol, istri harus segera berangkat ngajar ke pesantren. Sementara saya di rumah saja karena di jam Maghrib saya tidak punya jadwal ngaji.   Nah sepanjang istri ngajar di pesantren, hatinya jalan-jalan terus, bertanta-tanya, “Ada apa, ya? Kok tiba-tiba terima musibah?” Usai Isya, istri pulang ke rumah. Begitu bertemu saya langsung tanya, “Ada apa ya, Yah?”   Dan kami pun terlibat pembicaraan dengan apa yang sudah saya tuliskan di atas. Yang jelas, rasa miskin, rasa terbatas yang menguat dari istri, itu yang kemudian mengundang musibah mobil tergores.   Lalu istri juga mengungkapkan, di minggu ini dia merasa uangnya cepat sekali habis, padahal rezeki sedang naik, belanja sesuatu yang bernilai mahal juga tidak. Duit istri seperti hilang ditelan angin, tidak tahu kemana. Dirunut untuk belanja apa saja sehingga uang habis juga tidak ketemu, karena setahu istri semua biaya finansial berjalan biasa-biasa saja.   Ya memang saya kerap traktir tamu ke restoran, tapi itu pengeluaran biasa saja, sekali makan capai jutaan juga tidak, paling-paling ratusan ribu.   Karena terpancing istri yang keluhkan duit sedang cepat habis, saya iseng cek saldo rekening di e-banking handphone, karena saya juga merasa aktifitas transfer lumayan kerap.   Begitu saya lihat saldo, saya tertegun, lalu spontan saya ngomong sama istri, “Bunda, kok bisa saldonya banyak begini? Padahal Ayah lumayan kerap transfer keluar.”   Di situ kami berdua jadi tertegun, betapa rasa hati yang kaya itu berpengaruh akurat pada realita rezeki.   Saya tidak begitu lama terpengaruh oleh rasa miskin istri, dan masih tetap dominan rasa kayanya, alhasil transferan rekening banyak, tapi entah jalan bagaimana, saldonya tetap banyak dan meningkat. Otak memperkirakan saldo terkuras banyak, tapi meleset.   Sebaliknya istri, merasa pengeluaran biasa-biasa saja, tapi uang raib. Itu karena istri terlalu lama diendapi rasa miskin dan rasa terbatas menyaksikan saya “nyah-nyoh”.   Jadi pantas kalau Ibn Qayyim Al-Jawziyah menyampaikan,   مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى   “Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.”   Ya rasa miskin itu rasa cinta melekat. Karena rasa miskin itu hakikatnya rasa kurang. Setiap cinta akan munculkan rasa kurang. Anda bertemu pacar satu hari rasanya kurang, itu karena Anda menyintainya. Kenapa Anda selalu merasa kurang duit? Itu karena Anda menyintainya.   Karena itu lepas dari kecintaan pada duit itu munculnya rasa kaya, rasa berlimpah di hati.   Anda kerap alami fenomena seperti istri saya, kan? Uang digunakan sepertinya biasa-biasa saja tapi terasa raib begitu saja, tidak jelas digunakan untuk apa? Itu sebenarnya rezeki yang disabotase rasa miskin dari hati Anda.   Dan kalau tidak jera juga dengan rasa miskinnya, selanjutnya akan panggil musibah kerugian. Ya menyintai dunia dengan melekat hanya akan hadirkan kerugian yang tidak pernah berhenti.   يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ   “Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.“ (H.R. Ahmad)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

RIDHA MENERIMA BUDI

Cynthia: “Gus, saya punya pertanyaan yang sudah lama cukup mengganjal. Begini, Gus, saya memahami hukum keseimbangan alam. Apa pun yang terjadi, alam dengan caranya sendiri akan mengatur segala sesuatunya agar seimbang. Oleh sebab itu, saya jarang mau yang gratisan. Karena saya tahu, pada akhirnya saya tetap harus “membayar” apa pun yang gratisan itu. Misal masuk mushala di mall, selalu saya usahakan masukan uang ke kotak amal. Atau datang ke rumah teman, saya usahakan bawa sesuatu karena saya tahu pasti ia bakal ngasih snack banyak-banyak. Nah, bagaimana dengan Gus Banan? Saya banyak baca statusnya, dan saya “dapat” pelajaran. Mas Arif Rh, saya baca statusnya dan saya dapat insight. Dan banyak kawan-kawan fb lainnya, hampir tiap hari saya dapat gratisan ilmu dan insight. Pertanyaan saya, bagaimana saya harus “membayar”? Hidup ini kan take and give, bukan hanya taking terus.”   Saya: “Hidup ini gratisan memang tidak, tapi cuma-cuma, Bu. Satu sisi Anda tidak pernah bayar Oksigen, sisi lain Anda harus rawat alam agar Oksigen lestari, ditambah semua ada pertanggungjawabannya, itu artinya hidup ini cuma-cuma dari Tuhan walau tidak gratisan. Sehingga sekalipun tidak gratisan bukan berarti semua harus dibayar, karena hidup ini rahmat Allah semata. Karena rahmat, ya harus kita ambil sebagai rahmat, jangan dibayar, nanti Tuhan marah lo… hahaha.”   Cynthia: “Tapi ada rasa hutang budi, Gus.”   Saya: “Di dalam menerima budi pun kita harus ridha. Lepaskan saja kalau kita ada kesadaran seperti itu, relakan diri kita menerima rahmat. Kita masuk surga juga bukan karena amal baik kita, tapi karena rahmat Tuhan.”   Cynthia: “Jadi bukan hanya ridha memberi ya, harus ridha menerima juga? Ini konsep baru buat saya.”   Saya: Iya, Bu. Ridha menerima rahmat, ridha menerima gratis, ridha menerima budi, ridha di segala ranah.”   Di sini saya tambahkan sedikit, yang meruwetkan hidup itu mental gratisan, mental tidak sadar pentingnya pertukaran energi, mental tidak berpikir balas budi. Dapat gratisan itu rahmat, harus diterima dengan legawa dan ceria, tunjukan terima kasihnya, yang tercela itu bermental tangan di bawah.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

TERIMA UANG KECIL

Saya pernah bayar Rp 120.000 kepada seorang pengusaha kaya. Ceritanya waktu itu saya buka peluang reseller untuk online class saya kepada para alumni. Salah satunya ada alumni saya yang seorang pebisnis besar. Beliau ajak 1 orang temannya.   Waktu mau bayarkan royalti saya tidak enak hati, saya rikuh kasih 120.000 kepada beliau, ya karena penghasilan beliau ratusan juta tiap bulan, apa arti 120 ribu? Beliau sekali kasih bantuan ke pesantren saya juga jutaan, itu petunjuk beliau punya duit. Di sini saya belajar mentalitas dagang dari beliau. Beliau berkenan menerima dengan riang gembira penuh syukur.   Itu karena beliau sadar menjadi reseller kelas online saya itu artinya ikatan bisnis. Karena urusan bisnis, beliau pasang mental sebagai pedagang, bukan mental pembantu urusan sosial. Dapatnya nominal kecil, tapi karena beliau sedang hargai jiwa dagangnya, beliau tetap menerima dengan riang gembira.   Material alam semesta ini semuanya punya nilai tukar, karena itu bisa dihargai dengan uang. Supermie, kambing, batu, dan lainnya punya nilai tukar yang terukur sepadan. Nilai tukar material alam semesta selanjutnya bisa Anda ambil labanya karena seluruh partikel alam semesta ini sejatinya pelayan Anda, selanjutnya boleh Anda perjualbelikan.   Uang kecil dari dagangan Anda itu penghargaan untuk jiwa dagang Anda, itu layak Anda terima. Kalau Anda memang konsisten niat dagang, Anda harus hargai jiwa dagang Anda, walaupun uang kecil itu penghargaan untuk Anda.   Lah iya, Anda beli Supermie di Alfamart, di situ Anda paling-paling kasih uang 500 perak ke si bos Alfamart yang katanya orang kaya, bukankah itu tidak menghina?   Beda dengan jiwa Anda. Kalau jiwa Anda itu tidak dapat dikrus dengan uang, tidak ada satupun materi yang sebanding dengan jiwa Anda. Lalu ketika Anda terima dengan riang gembira uang pemberian seribu rupiah yang dipertukarkan dengan rasa kasihan orang lain kepada Anda, itu benar-benar diri Anda lebih murah dari harga tempe.   Nabi S.A.W menerima hadiah dan menolak sedekah, karena hadiah itu pemberian non komersial yang diberikan karena rasa menghargai. Sedekah sebaliknya, pemberian non komersial yang diberikan karena rasa kasihan. Non komersial cuma diukur 5 ribu rupiah, lah itu kan menghina? Artinya diri Anda tidak bernilai di mata si pemberi, hanya dikasihani saja.   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا   “Dari Abu Hurairah R.A, ‘Apabila Nabi S.A.W diberi makanan, beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan bahwa itu adalah hadiah, beliau memakannya, dan bila dikatakan itu adalah sedekah, beliau tidak berkenan memakannya.’” (H.R. Muslim)   Karena itu terima uang kecil atas nama pemberian, itu penghinaan, tapi uang kecil atas nama dagang itu penghargaan.   Uang kecil dari dagang kalau memang Anda berniat dagang, Anda akan sanggup menyukuri dan menerimanya, tapi kalau hati Anda tersinggung itu artinya niat dagang Anda tidak kokoh, masih plin-plan jadi pedagang.   Dagang harus diberi ruh dagang, sementara hakikat dagang adalah mengomersilkan barang atau jasa untuk diambil labanya. Dagang jelas butuh ruh dagang, bukan butuh ruh sosial, ruh harga diri, ruh ilmiah, dan lainnya.   Kalau memang Anda jualan barang atau jasa, Anda tidak gengsi terima uang kecil, kalau Anda gengsi itu hakikatnya Anda bukan jualan barang atau jasa, tapi jualan diri. Karena itu orang gengsian, dagangnya ambrol.   Saya menulis ini karena ada beberapa kasus pengusaha yang bisnisnya sudah meroket lalu ambruk, eeh ditelisik ternyata mereka gengsian saat terima laba kacil.   Hasilnya, uang kecil dalam dagang itu penghargaan, hati Anda menolak uang kecil dari dagang itu bisa melorotkan bisnis Anda. Dan uang kecil dalam pemberian sosial itu merendahkan, hati Anda nyaman terima uang kecil dari pemberian itu bisa melorotkan kualitas hidup Anda.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

KUOTA BELANJA KUOTA REZEKI

Kota-kota metropolitan semuanya adalah daerah-daerah padat penduduk, yang artinya konsumen rezeki di sana banyak, namun justru di kota-kota tersebut rezeki jadi banyak.   Jakarta, misalkan, tahu-tahu potensi bangun rumah saja di sana tidak ada jalan lain selain harus membangun di atas rumah, bangunan harus bertingkat mencakar langit saking sudah tidak ada lahan tanah, namun rezeki di sana makin melimpah dan mudah.   Di pedesaan, lahan tanah masih banyak yang kosong karena penduduk sedikit, tapi cari milyader di pedesaan susah, temukan pemilik mobil kelas Mitsubishi Pajero Sport juga susah. Kuota rezeki di pedesaan jauh lebih sedikit ketimbang di perkotaan.   Artinya syarat rezeki melimpah itu bila konsumen rezeki banyak. Karena ini setiap orang kaya pasti ia punya kekuatan mengfasilitasi orang lain menerima rezeki, dari jadi bos, juragan, kepala keluarga, pemimpin masyarakat, jadi dermawan atau jadi tukang belanja.   Jadi bos dan juragan jelas kerjaannya menggaji karyawan. Jadi pemimpin masyarakat kerjaannya mengurusi kesejahteraan masyarakat. Jadi kepala keluarga kerjaannya mengfasilitasi nafkah keluarga. Jadi dermawan jelas kerjaanya berbagi rezeki. Dan jadi tukang belanja kerjaannya menabur rezeki kepada para pedagang.   Belanja memiskinkan? Salah. Justru belanja itu mengkayakan karena belanja itu berarti mengfasilitasi orang lain peroleh rezeki. Dan rezeki itu kuotanya makin membesar bila makin banyak yang mengonsumsinya sebagaima sistem rezeki dan kota metropolis dan di pedesaan.   Karenanya siapapun yang dikehendaki kaya oleh-Nya pasti ia disadarkan dan dibukakan rasa kalau belanja itu asik, melepaskan uang itu kegembiraan.   Dan sebaliknya yang akan disempitkan rezekinya ia tidak disadarkan hal yang demikian sehingga mereka berasik ma’syuq dalam irit, efesiensi, pelit, perhitungan, dan rasa kalau pengeluaran uang itu adalah hal yang sangat menyusahkan hati mereka.   Goblok banget ya orang irit, pelit, efesien dan perhitungan? Di kampung halaman saya dulu ada pengusaha kaya asal Tegal, Jawa Tengah. Setiap tahun di kampung saya, ia membuat acara kesenian besar-besaran. Ia mengundang berbagai kesenian Jawa untuk menghibur masyarakat. Waktunya bisa 9 malam nonstop.   Ditanyai, “Kenapa sampai 9 malam?” Ia menjawab singkat, “Kalau cuma semalam para pedagang jajanan itu dapat apa?”   Jadi ia sadar pentingnya mengfasilitasi rezeki bagi orang lain. Belum lagi dermawannya yang luar biasa kepada semua kalangan masyarakat.   Kemarin ada direct IG masuk dari salah satu alumni kelas online saya; Servo Prosperity, kebetulan adiknya berprofesi foto model dan selebgram. Ia sampaikan begini, “Saya sedang di Bali saat ini bersama adik saya, ummm… niatnya mau refreshing dan belanja alias bagi-bagi rezeki kepada warga Bali, sekalian adik saya juga masih bisa foto untuk kerjaan. Pas sudah sampai Bali, adik saya cek kok barang yang untuk kerjaan di foto ketinggalan di Jakarta, duh padahal kan sudah janji, ‘Ya wislah paling batal nggak apa-apa nanti ada order lain,’ begitu pikir kita. Yang penting seneng-seneng dan tetep belanja supaya ekonomi Bali lumayan bergerak (walau mungkin tidak seberapa),” tuturnya.   Ia melanjutkan, “Dan apa yang terjadi? Perusahaan tersebut tetap lanjut dan adik saya ditungguin sampai Jakarta untuk foto dengan product yang ketinggalan tadi. Matur nuwun Gus atas ilmu “makin kaya hambur-hambur uang dengan kesadaran berbagi”. Makin sehat, bahagia dan hambur-hambur uang tanpa batas ya buat Gus Banan,” pungkasnya.   Jadi begitu, orang yang akan dibesarkan kuota rezekinya ia disadarkan dan hatinya dibuat merasa kalau melepaskan uang untuk belanja itu mengasikan. Ia sadar kalau belanja itu artinya mengfasilitasi rezeki bagi orang lain.   Nah belanja itu di hati Anda asik apa memberatkan? Kalau terasa berat dan hati Anda membantah dan tidak bisa membenarkan, itu artinya Anda belum waktunya jadi orang kaya.   Lah, Gus, tapi banyak orang foya-foya belanja dan hartanya amblas? Ya itu karena kesadaran belanjanya itu kesadaran hedonis, atau bisa jadi ia orang ngawur belanjakan harta alias tabdzîr.   Jadi kuota belanja bisa menjadi pembesar kuota rezeki itu bila Anda sadar bahwa belanja itu mengfasilitasi orang lain peroleh rezeki, ia sadar bahwa ia menjadi tangan Tuhan guna bagikan rezeki bagi orang lain.   وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ   “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Q.S. Al-Baqarah : 265)   Syarat belanjakan harta yang perbesar kuota rezeki itu harus sadar mencari ridha Allah. Sadar mengfasilitasi rezeki bagi orang lain dalam belanja itu kategori cari ridha Allah, bukan? Belanja, yuk. Jajan, yuk!   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

PEDAGANG YANG SUSAH KAYA

Kemarin saya bertemu pengrajin dan pengusaha plafon Gypsum. Dia cerita prinsip bisnisnya, “Saya ini, Gus, bisnis Gypsum tidak seperti umumnya pengusaha Gypsum. Umumnya pengusaha Gypsum pakai sistem borongan dan mereka juga kerap menumpang harga eceran bahan Gypsumnya. Kalau saya, para pembeli saya suruh ganti harga bahan Gypsumnya, saya kasih nota asli dari toko bangunan, lalu saya suruh bayar kerja harian saja, jadi lebih murah.”   Dengar cerita prinsip bisnisnya, saya tilik kendaraannya, masih pakai motor roda dua, “Bukan orang kaya, cenderung masih kekurangan finansial,” saya membatin.   Minggu lalu mobil Xenia saya masuk bengkel karena baret-baret dan sedikit penyok, diserempetkan salah satu santri. Kebetulan saya ada saudara pedagang mobil scond, dan dia minta menanganinya untuk dibawa ke bengkel langganannya.   Setelah selesai saya kaget dengan nota pembayarannya. “Murah banget! Jauh beda dengan bengkel umum,” sambat saya.   Lalu saya bilang ke saudara saya, “Mas, kehidupan finansial si pemilik bengkel pasti cenderung biasa-biasa saja. Iya, kan? Tidak kaya?”   “Iya betul. Biasa-biasa saja,” terangnya. “Saya ada langganan bengkel satu lagi, harganya normal saja, dia cenderung tegas dengan tarif harga, dan betul loh dia kaya,” lanjutnya.   Anda renungi! Orang buka usaha itu spiritnya untuk cari cuan bagi dirinya sendiri, makanya mental pedagang itu harus kreatif cari untung, bukan kreatif belaskasihani orang lain.   Pengusaha Gypsum dan pemilik bengkel mobil di atas itu dagang tapi kreatifnya bagaimana menolong orang lain sehingga meleset dari spirit dagang yakni mencari untung untuk kebaikan rezekinya, hasilnya mereka susah punya duit.   Lah iya, dagang jasa dan material Gypsum dan usaha bengkel mobil kok kreatifnya bagaimana pembeli dapat harga semurah mungkin, kan meleset dari spirit dagang itu sendiri. Spirit dagang itu dapat cuan, ya harus kreatif bagaimana peroleh cuan.   Anda bayangkan! Kalau Anda membangun masjid yang bertujuan sosial ibadah, lalu Anda bisniskan masjidnya. Wudhu bayar, parkir bayar, shalat bayar, ikuti pengajian bayar, ya yang timbul fitnah karena keluar dari spirit amal sosial berdirinya masjid.   Demikian pula dagang, spiritnya untuk cari cuan, lah kok diarahkan pada spirit amal sosial, ya bubar dagangnya. Dagang begitu ya cuma dapat capek sementara duitnya tidak ada.   Salah satu grosiran saya kulak untuk toko kelontong saya ada yang harganya murah sekali. Betul, lumayan laris, pelayanannya juga sama seperti grosiran lainnya, hasilnya si pengusaha grosiran tersebut sakit-sakitan, bolak-balik masuk rumah sakit, karena kerja maksimal melayani pembeli yang keasikan dapatkan harga murah, sementara secapek itu dia tidak dapat duit. Hasilnya usaha lambat berkembang, cuan kecil, duit tidak ada, badan capek, dan berakhir keluar-masuk rumah sakit.   Dikira jualan dengan harga murah itu jadikan laris? Tidak. Tidak. Tidak.   Saya pernah ada peserta workshop yang keluhkan begini, “Gus, saya dagang mainan anak dengan harga paling murah. Lah kok malah tidak laku. Saingan saya yang lebih mahal malahan laris, ini bagaimana, Gus?”   “Kalau Anda jadi pembalap motor, lalu mental Anda ngalahan dalam pertandingan, apa ada orang simpatik dan segan kepada Anda?” Tanya saya.   “Enggak, Gus,” jawabnya.   “Ilusinya dagang dengan harga murah itu akan laris, tapi justru itu keluar dari spirit dagang, tidak ada menariknya bagi dunia jual beli. Kalau jadi pembalap motor tapi spiritnya ngalahan di pertandingan itu tidak ada menariknya bagi dunia balap, maka prinsip murahkan harga jual dan cari untung serendah-rendahnya juga tidak ada menariknya untuk dunia jual beli. Ujung-ujungnya dagangnya bangkrut dan bermasalah.”   Hai Anda para pedagang! Spirit dagang itu cari cuan, kreatiflah dapatkan cuan, spirit dagang bukan belaskasihani orang, bukan menolong orang lain secara sosial, jadi jangan dipleset-plesetkan. Dagang kok kreatif belaskasihani orang, ya Anda cari modar.   Sama saja brengseknya dengan hajatan dengan spirit untuk cari cuan. Hajatan nikahan dan khitanan, itu spiritnya kehidupan sosial, prinsip gotong royong, lalu Anda hajatan untuk cari cuan dari amplop kondangan, biasanya orang hajatan dengan tujuan cari cuan berakhir banyak hutang. Amati saja!   Dagang spiritnya cari cuan, cari untung diri, cari kekayaan diri, kok diprinsipi belaskasihan pada orang, ya sama saja Anda hajatan diprinsipi cari cuan. Modar!   Tapi saya ingatkan lagi, ya? Spirit dagang memang cari untung, bukan cuma harus shidiq dan amanah, namun di luar urusan dagang Anda harus dermawan agar energinya seimbang antara mengambil dan berbagi.   كُنَّا نُسَمَّى فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – السَّمَاسِرَةَ ، فَمَرَّ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَسَمَّانَا بِاسْمٍ هُوَ أَحْسَنُ مِنْهُ ، فَقَالَ : ” يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ ! إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلِفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ   Artinya: “Kami pada masa Rasulullah S.A.W disebut dengan “samasirah“ (calo/makelar). Rasulullah S.A.W menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik dari calo. Beliau bersabda, “Wahai para pedagang, sesungguhnya jual beli kadang diselingi dengan senda-gurau dan sumpah-sumpah, maka perbaikilah dengan sedekah“ (H.R Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai & Ibnu Majah)   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

WADAH RASA SHALAT DHUHÂ

Sistem rezeki itu didatangkan kepada Anda bukan untuk dikejar oleh Anda, begitu pesan dari shalat Dhuhâ.   Pesan shalat Dhuhâ jelas tersirat dalam ma’tsurât doanya;   اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ   “Ya Allah, waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikannya ialah kecantikan-Mu, keindahannya adalah keindahan-Mu, kekuatannya adalah kekuatan-Mu, kekuasaannya adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungannya adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram, sucikanlah, jika masih jauh, dekatkanlah, berkat waktu Dluha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh”.   Di situ tersurat, jika rezeki masih di atas langit, mohon diturunkan, bukan supaya Anda naik ke langit dan mengambilnya. Jika rezeki ada di dalam bumi, mohon agar dikeluarkan, bukan supaya Anda menggali bumi dan mengambiknya. Jika rezeki sukar, mohon agar dimudahkanlah, bukan Anda supaya sibuk cari jalan keluar.   Jika rezeki haram, mohon agar disucikan, bukan supaya Anda menyucinya. Jika rezeki masih jauh, bukan supaya Anda mengejarnya, tapi mohonlah didekatkan.   Ini indikator kalau Anda itu makhluk yang dilayani oleh rezeki, bukan supaya Anda jadi budak yang disuruh-suruh mengejar dan kerja keras demi rezeki, tapi Anda adalah maharaja yang kedudukannya didatangi rezeki.   Nah agar pesan shalat Dhuhâ teraplikasi dalam diri Anda, diri Anda perlu menjadi wadah rezeki, menjadi bak yang siap menampung rezeki.   Uang itu mendatangi orang yang gembira, orang yang happyfun, tidak peduli Anda orang bahagia atau tidak.   Maria Ozawa, Yamada Anna, Taira Yuna, Kiyohara Kaya, Ameri Ichinose, mereka—sebutlah—bukan wanita shalihah yang bahagia dan mulia. Sedang di luar rumah, lalu bertemu publik, mereka kerap diledek publik dengan kata-kata porno dan penuh godaan.   Mereka bukan wanita shalihah dan mulia, tapi duit mereka banyak, bukan? Itu karena mereka sudah selaras dengan energi uang yakni happyfun, mereka senang saja hidupnya.   Senang itu beda dengan bahagia. Kalau bahagia, Anda sedang miskin papa, dihina-hina orang, tapi hati Anda temukan keikhlasan sehingga diterima dengan rasa ridha dan penuh harapan ampunan Tuhan, itu Anda orang bahagia, tapi tidak senang.   Nah energi uang itu mendekat kepada rasa senang, tidak peduli Anda bahagia atau tidak. Nyatanya Maria Ozawa dan akhwat-akhwatnya di dunia bisnis pornografi duitnya banyak.   Cacing saja yang instingnya makan dan kawin, ia didatangi rezeki, itu karena makan dan kawin itu energi happyfun.   Nah agar Anda menjadi wadah yang siap didatangi rezeki, Anda harus siapkan rasa senang dan gembira ketika shalat Dhuhâ.   Banyak orang yang shalat Dhuhâ tapi karena dipicu rasa duka pada rezeki. Iya merasa rezekinya kurang, lalu ia shalat Dhuha, merasa rezeki seret, lalu ia shalat Dhuha, merasa hutang banyak, lalu ia shalat Dhuhâ. Ini adalah shalat Dhuha dengan uanggahan rasa duka.   Sementara uang itu energi happyfun, diunggahi rasa duka, ia jadi enggan mendekat.   Karena itu kalau mau menjadi wadah rezeki yang siap didatangi uang, ketika shalat Dhuha harus diunggahi rasa senang, rasa happyfun.   Shalat Dhuhâ dengan dengan akses, “Saya senang telah banyak dianugerahi rezeki,” ini unggahan rasa yang tepat. Merasa gembira telah banyak dianugerahi itu rasa yang seharusnya diunggah saat shalat Dhuhâ.   Katakanlah unggahan rasa yang tepat saat shalat Dhuhâ itu mendirikan shalat Dhuhâ karena bersyukur bukan karena menderita.   Ini wadah rasa yang harus Anda siapkan dalam shalat Dhuhâ agar Anda didekati dan didatangi rezeki.   Sesudah siap dengan akses rasa happyfun, selanjutnya Anda melangkahkan diri dalam hidup dengan amal shalih, dengan rasa takwa kepada-Nta agar rezeki yang datang kepada Anda bukan seperti rezekinya Maria Ozawa yang panas, tetapi seperti rezekinya Nabi Sulaiman yang berkah, sebagaimana pesan terakhir yang tersirat dalam ma’tsurât doa shalat Dhuhâ yakni dilimpahi rezeki seperti rezekinya orang-orang shalih.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

MEMRODUKSI UANG SHALEH

Sebagian besar warga +62 adalah muslim, dan sebagian kecil dari mereka hidup di negeri +62 yang pancasialis seperti ikan Bandeng hidup di lautan asin karena mereka menabrakan ideologi agama dengan ideologi negara, menabrakan NKRI dengan ide daulah Islam. Reaksi ketidakbetahan mereka macam-macam, ada yang terus menerus kampanye khilafah, mengharamkan sekedar hormat bendera Merah Putih, hingga ada yang angkat senjata selanjutnya melakukan teror.   Begitulah ketika ide pikiran telah menabrakan sesuatu dengan sesuatu lainnya, hasilnya respons kehidupan menjadi kontradiktif dan kacau.   Berbeda dengan sebagian besar muslim negeri +62, ide pikiran mereka menerima Islam sekaligus menerima NKRI, hasilnya respons kehidupan mereka sangat sinkron dan harmoni, mereka oke berislam sekaligus oke ber-NKRI.   Beda sekali kan hasilnya antara ide pikiran yang mampu berdamai dengan yang mengversuskan?   Itu karena agama pada dasarnya energi netral, selanjutnya ide pikiran Anda yang pengaruhi agama menjadi positif atau negatif. Bagi seorang ateis, agama adalah penyakit, bagi seorang teis, agama adalah obat.   Ada pikiran yang memproduksi ide kalau uang itu musuh kebaikan, uang adalah sumber fitnah dan masalah, uang adalah sebab beratnya hisab di hari kiamat, uang pemutus silaturrahim di mana karena uang banyak saudara kandung yang saling bunuh dan saling benci, uang tak akan ada cukupnya akan selalu kurang dan kurang, uang pusat segala kerakusan, uang pusat segala kejahatan, dan seterusnya. Ya kalau produksi pikiran Anda demikian, keadaan uang yang demikian pula yang akan terjadi dalam hidup Anda.   Bagaimana tidak nyamannya mereka hidup di negeri +62 yang mana mereka punya ide pikiran membenturkan negara dan agama? Demikian pula orang yang membenturkan uang dengan kebaikan, membenturkan uang dengan spiritualitas, membenturkan uang dengan kesalehan, selamanya mereka tidak akan nyaman dengan uang, selamanya mereka tidak akan mampu menghadirkan uang yang shaleh dalam kehidupan mereka.   Sulaiman A.S memandang uang adalah sarana kesalehan, sarana kebijaksanaan untuk dakwah, politik dan kekuasaan, maka itu pula yang terjadi dalam hidup Sulaiman A.S.   Betapa tidak, ketika Ratu Balqis (Ratu Sheba / Makeda) diketahui menyembah Matahari, ia didakwahi oleh Sulaiman A.S untuk beragama Tauhid. Dengan apa Sulaiman mendakwahi Ratu Balqis? Dengan kemegahan uang.   Ratu Balqis berkunjung ke Yerussalem; pusat pemerintahan kerajaan Sulaiman dengan datang membawa hadiah-hadiah mewah untuk menunjukan kemegahan kekuasaan dan kekayaan Balqis, namun oleh Sulaiman ditolak, Sulaiman tetap merasa kalau dia lebih kaya dan lebih megah dari Balqis, sudah selayaknya Balqis tunduk, sebagaimana isi surat dakwah Sulaiman kepada Balqis;   إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)   “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian mengungguliku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Naml: 30-31).   Yang terjadi betul-betul Balqis tunduk dengan dikerjai menggunakan kemegahan uang Sulaiman. Itu.   Karena itu produksilah pikiran-pikiran kebaikan kepada uang. Saya kerap menganggap banyak uang hidup jadi ikhlasan, istri jadi shalehah dan tunduk taat pada suami kalau istri diberi banyak uang, orang tua mau menilai saya anak shaleh kalau beliau saya cukupi kebutuhan uangnya, dengan banyak uang saya lebih mudah mengajak orang dalam kebaikan, Tuhan tidak pernah disembah yang disembah-sembah itu adalah usng maka kalau mau ajak orang menyembah kepada Tuhan harus diperlihatkan uang, dan seterusnya. Ide pikiran tersebut saya produksi dalam diri saya agar uang yang hadir dalam hidup saya benar-benar uang yang shaleh.   Nah yang paling umum itu pikiran manusia memroduksi kalau uang itu barang langka dan berharga, ya itu pula yang terjadi dalam hidup Anda.   Pikiran memroduksi uang itu barang langka, ya betulan dicari-cari dengan kerja keras, uang tetap langka.   Saya mengubah produksi pikiran bahwa uang itu barang langka dengan tersadar kalau seluruh alam semesta itu diciptakan melayani manusia. Oksigen, Matahari, Bulan, tumbuhan, hewan-hewan semua tercipta melayani manusia.   Karena tercipta sebagai pelayan, misalkan Oksigen, maka sistem Oksigen diciptakan melimpah ruah di planet Bumi ini. Tak perlu bayar dan tak perlu kerja keras untuk dapatkan Oksigen.   Uang pun tercipta sebagai pelayan, maka hukumnya sama seperti Oksigen, melimpah dan bertabur dimana-mana.   Pikiran memroduksi uang itu barang berharga, akibatnya Anda selalu diperbudak uang. Telaten irit, telaten kumpul-kumpulkan harta, telaten pelit, dan seterusnya.   Dulu taubat dari pikiran uang itu berharga setelah tersadar “uang itu sampah”. Saya menganggap jiwa saya lah yang berharga, uang sendiri adalah sampah, maka yang harus dihargai pertama adalah kemuliaan dan kebahagiaan jiwa saya.   Kalau saya pegang uang 20 ribu, lalu saya hargai uang, maka ingin bakso saya akan menundanya, tapi kalau saya hargai kemuliaan dan kebahagiaan jiwa saya, ketika mau beli bakso dan hanya pegang uang 20 ribu, maka saya akan mendeteksi dulu di mana hati saya merasa bahagia dan mulia. Kalau saya bahagia untuk beli bakso ya beli, kalau saya bahagia tidak beli, ya tidak.   Hukum sampah itu di mana-mana ada, kalau Anda sadar jiwa Anda lah yang bahagia dan mulia dan uang hanya sampah, yang akibatnya uang jadi di mana-mana ada seperti sampah.   Jadi uang itu energi dan partikel netral, uang tidak punya kemampuan menyengsarakan ataupun membahagiakan Anda, ide pikiran Anda lah yang pengaruhi realita uang. Mau jadi uang shaleh atau uang munkar itu pikiran Anda yang memproduksi lalu menghadirkannya.   نِعمَ المالُ الصَّالحُ للرَّجلِ الصَّالحِ   “Sebaik-baik harta yang baik itu bagi lelaki yang shaleh”. (H.R. Bukhari)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

KALAU BELUM BISA BERSANDAR PENUH PADA TUHAN, BERSANDAR LAH DULU PADA UANG

Bersandar penuh pada Tuhan artinya tawakal. Konsistensi tawakal adalah kecukupan;   وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ   “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya.” (Q.S. At-Thalaq: 3).   Basic prosperity Tuhan itu “mengalirkan rezeki” artinya Tuhan menjadi Maha Kaya (Al-Ghaniy) dengan jalan Dia senantiasa mengalirkan rezeki-Nya kepada para makhluk-Nya, semua makhluk-Nya memakan rezeki milik Tuhan.   Karena selalu dialirkan, di sisi Tuhan tidak pernah ada sisa apa-apa, Tuhan selalu 0 rupiah. Ekstrem, ya?   Selalu 0 rupiah tapi itu Tuhan malahan Maha Kaya raya.   Karena itu Anda yang akan ditakdirkan di level spiritual tawakal yakni level bersandar penuh pada-Nya, Anda juga akan sampai di level sadar bahwa makin sering 0 rupiah makin kaya.   Karena itu ciri orang di level tawakal, ia gemar “nyah-nyoh” dan “cang-cung”, gemar alirkan rezeki entah dengan belanja, berbagi, membayar, dan lain-lain namun ia makin kaya saja. Itu cirinya.   Makanya orang tawakal jadi kerap sepelekan upaya “menggenggam” dan “mengumpulkan”, karena ia tahu dan sadar sepenuhnya kalau jalan kaya itu justru dengan mengalirkan.   Untuk sampai ke level sadar tawakal, Anda akan dilewatkan di keadaan di mana Anda tidak punya kemampuan untuk kumpulkan uang. Di situ Anda dikelengerkan makin terobsesi menabung, makin berantakan finansialnya.   Betul-betul tidak dimampukan kumpul-kumpulkan harta, makin kumpulkan harta makin miskin atau setidaknya stagnan, makin dihemat makin belangsakan, hingga akhirnya Anda coba-coba alirkan harta dengan rasa gembira senang hati, ternyata rezeki makin nongol di sana-sini, makin tumbuh berkecambah. Di situ Anda baru tersadar, 0 rupiah makin kaya. Di level spiritual begitu, itu artinya Anda di level bersandar penuh kepada Tuhan.   Begitulah prosedur ke level spiritual tawakal, level bersandar penuh kepada Tuhan.   Sekarang kalau Anda sudah gemar mengalirkan tapi rezeki makin ruwet dan bermasalah, “nyah-nyoh” dan “cang-cung” namun makin ruwet belangsak, itu pasti ada yang belum pas. Sadar Anda belum sadar tawakal, bisa jadi sadar Anda sadar hedonis, sadar ngawur, sadar ugal-ugalan, dan seterusnya.   Nah titik masalahnya ketika Anda meniru-niru habis-habiskan uang tapi Anda malahan makin amburadul finansialnya. Iya, gayanya 0 rupiah, gayanya gemar belanja, gayanya dermawan, gayanya ngebos, namun hutang di sana-sini, ambruk di sana-sini, sampai-sampai jadi beban dan masalah bagi orang lain. Jelas keadaan yang demikian, Anda bukan di level tawakal, tapi di level gemblung tidak waras.   Sebab ini, kalau belum bisa bersandar penuh kepada Tuhan yakni level tawakal, Anda bersandar dulu kepada uang. Maksudnya? Bersandar dulu kepada uang artinya Anda kembali ke level syariah uang dulu, menabung dulu, atur finansial dulu, merencanakan dulu, dan seterusnya.   Daripada antipati menabung tapi Anda makin melarat, antipati plan finansial tapi Anda merepotkan dan jadi masalah bagi orang lain. Bersandar dulu kepada uang itu jauh lebih baik.   Sama saja, sebelum sampai ke haqiqat, Anda berada di syariah dulu, sebelum ma’rifat, Anda thariqah dulu.   Karena sebenarnya persoalan “alirkan rezeki” itu cuma persoalan kesadaran, bukan persoalan tindakan.   Sekarang Anda menabung di bank, tapi Anda berniat alirkan duit Anda ke bank agar di bank uang Anda ditransaksikan lagi, bukankah di kesadaran demikian menabungnya Anda menjadi pengaliran harta bukan pengumpulan dan penumpukan harta? Di situ Anda bertindak “kumpulkan harta” tapi berhukum spiritual alirkan harta.   Anda bangun rumah mewah, tapi niat berbagi rezeki ke pemborong, ke toko bangunan, ke pekerja, ya di situ Anda bertindak kumpulkan harta namun berhukum spiritual alirkan harta.   Jadi soal level bersandar penuh kepada Tuhan pun hanya persoalan kesadaran dalam tindakan, sehingga level tawakal kepada Allah sebenarnya level kesadaran, yakni sadar Anda dalam mengelola finansial itu sebagai kesadaran mengalirkan ataukah kesadaran nafsu mengumpulkan.   Dengan Anda bersandar dulu kepada uang sebelum bersandar penuh kepada Tuhan di situ pun hanya bentuk ikhtiyar mencapai tawakal kepada Tuhan.   Yang bablas itu Anda sudah beraksi kumpulkan harta, lalu dimampukan oleh Tuhan, lantas Anda stagnan di level itu, lalu Anda berkesimpulan “kalau ingin kaya, kumpulkanlah hartamu”. Itu kesadaran level Qarun.   وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ   “Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.” (Q.S. Ibrahim : 12).   Muhamnad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

KASIH, LEGAWA, SANTUN; AWAS ADA SISI YANG JADIKAN ENERGI PROSPERITY MELEMAH

Kasih, legawa, santun, mengalah, lemah lembut, pemaaf dan karakter kelembutan lainnya adalah “energi air” alam semesta. Seluruh makhluk hidup disuburkan oleh energi ini. Tandus dan gersang, begitulah jika elemen alam kekurangan energi air.   Sebab ini Anda yang dominan dengan energi air Anda pun punya energi besar untuk menyuburkan orang lain. Setiap orang yang berinteraksi dengan Anda, ia pun makin subur. Iya, baru dimarahi orang lain seenaknya sendiri, eeh Anda dengan mudah mengalah diam, kan dia makin subur? Anda baru dizalimi orang, eeh Anda dengan mudah memaafkan, kan si penzalim makin subur?   Hampir semua makhluk hidup di darat disuburkan oleh air, ia piawai menyuburkan orang lain.   Namun ada satu catatan yang harus Anda sadari! Bonsai Ficus Dollar Mikro milik saya, yang fotonya saya upload, itu ada bagian batang yang mati, itu disebabkan intensitas siramannya terlalu sering. Terlalu banyak energi air, akibatnya akarnya busuk, lalu mati.   Anda sendiri sebagai manusia, Anda bukan air, selamanya Anda tidak bisa menjadi air, namun Anda hanya “makhluk darat” yang butuh asupan energi air. Karena itu kalau welas asih Anda, kesantunan Anda, kelegawaan Anda berkurang drastis, Anda pun mati kekeringan. Anda tandus dan kering. Sebab ini welas asih, memaafkan, berdamai, mengalah, dan unsur energi air lainnya sangat Anda butuhkan. Anda bukan air, hanya makhluk darat yang butuh asupan energi air.   Namun sebaliknya, kebanyakan mengasup energi air, bukankah bonsai Ficus Dollar Mikro saya mati? Akarnya busuk, lalu kering perlahan?   Jadi umpama Anda dihina dan direndahkan orang, lalu Anda dengan legawa menerimanya dengan luas hati, di situ Anda sedang mengasup energi air.   Jika Anda selama ini Anda angkuh dan cari menang sendiri, di situ hidup Anda akan makin subur dan bertumbuh.   Namun sebaliknya, kalau Anda kemarin mengalah dan legawa, lalu mengalah lagi, mengalah lagi, mengalah lagi dan mengalah lagi, ya Anda kebanyakan mengasup energi airnya. Di situ akar kesuburan Anda akan perlahan membusuk, dan Anda akan bertumbuh untuk mati.   Di situasi mengalah, mengalah dan mengalah, memaafkan, memaafkan dan memaafkan, legawa, legawa dan legawa, itu energi kesuburan hidup Anda menurun drastis karena kebanyakan energi air. Di situ diri Anda digunakan untuk menarik rezeki sangat sulit, digunakan untuk menarik kekayaan dan keberuntungan sangat sukar.   Anda amati saja, orang miskin yang sangat kesulitan finansial itu mereka yang self-worth dan prestige-nya rendah. Dizalimi mudah mengalah dan mengalah, disepelekan mudah menerima dan menerima, disakiti mudah berdamai dan berdamai. Jadi asupan energi air yang terlalu besar itu jadikan rezeki ringsek dan belangsak.   Hahaha iya mengalah sekali dua kali, ketiga kalinya ya Anda harus berani melabrak dan melawan, hajar saja, itu mekanisme kesuburan hidup, karena kalau intensitas siraman air terlalu kerap, ya akar hidup Anda busuk, kesuburan rezeki Anda padam.   Kalau belum berani melabrak dan melawan bagaimana? Lah Anda kan bisa berdoa, kutuk saja, daripada kurang ajar terus-terusan.   Nabi Muhammad S.A.W kurang apa kasihnya, kurang apa pemaafnya, kurang apa legawa hatinya? Namun beliau sadar intensitas kebutuhan energi air beliau, tidak selamanya beliau hanya mengalah lemah.   Rabu, 15 Muharam 1437H; Abdullah bin Mas’ud R.A. menceritakan, “Suatu ketika Nabi S.A W shalat dekat Ka’bah. Sedangkan Abu Jahal dan beberapa orang kawannya duduk bersama-sama. Salah seorang di antara mereka berkata kepada yang lain, “Siapa yang berani, mengambil uri (isi perut) unta Bani Fulan dan meletakkannya di punggung si Muhammad ketika dia sujud?”   Seorang yang paling jahat di antara mereka (Uqbah bin Abu Muaith) bangkit, lalu pergi mengambil uri unta itu. Kemudian dia menunggu sebentar. Waktu Nabi S.A W sujud, diletakkannya uri unta itu ke punggung Nabi, antara kedua bahu beliau.   Saya melihat kejadian itu, tetapi saya tidak berdaya apa-apa, andaikata saya mendapat kekuatan tentu saya cegah. Mereka tertawa terbahak-bahak saling mengolok satu sama lain untuk mempermainkan Nabi.   Rasulullah S.A.W sujud terus, tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fatimah (puteri beliau) membuangkan kotoran itu dari punggung beliau. Nabi mengangkat kepalanya dan mendoa tiga kali,   اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ   ‘Ya, Allah , Hukumlah orang Quraisy! Ya Allah, Hukumlah orang Quraisy! Ya Allah, Hukumlah orang Quraisy!”   Abu Jahl dan kawan-kawannya ketakutan mendengar Nabi mendoakan mereka, kerana mereka tahu bahawa doa di tempat itu diperkenankan Allah.   Kemudian Nabi menyebut nama mereka satu persatu,   اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِعَمْرِو بْنِ هِشَامٍ وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ وَعُمَارَةَ بْنِ   “Ya, Allah! Binasakanlah Abu Jahl, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Walid bin Uqbah, Umaiyah bin Khalf, Uqbah bin Abu Muaith.”   Nabi menyebut nama orang yang ketujuh tetapi saya (Abdullah bin Mas’ud) telah lupa nama orang itu.   Kata Abdullah bin Mas’ud selanjutnya, “Demi Allah, yang diriku dalam genggaman-Nya, aku melihat sendiri orang-orang yang disebutkan Rasulullah S.A.W dalam doanya itu, mati terkubur dalam lobang bekas sumur (waktu perang) Badar.”   Hadits di atas shahih, diriwayatkan Bukhari dan Muslim.   Satu ketika Nabi S.A.W mengirim surat dakwah kepada Kaisar Persia (Iran Kuno); Koresh Agung. Koresh Agung menolak keras suratnya dan merobek-robeknya.   Setelah pengantar surat kembali dan melaporkan hasilnya kepada Nabi S.A.W, beliau berdoa;   فَدَعَا عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُمَزَّقُوا كُلَّ مُمَزَّقٍ.   “Nabi S.A.W mendoakan mereka (Koresh Agung dan kekaisarannya) agar mereka dirobek-robek sehancur-hancurnya.” (H.R. Bukhari)   Tak lama kemudian terjadi pergantian kekuasaan di Persia karena kudeta Putra Mahkota Shiruyah kepada ayahnya yang didukung panglima Peroz. Khosrau II (Koresh Agung) pamornya makin turun setelah beberapa wilayah dicaplok Romawi. Raja ini juga mengidap halusinasi sehingga dianggap gila.   Koresh Agung ditangkap dan dipenjara. Putra Mahkota naik tahta. Kemudian raja diasingkan ke sebuah daerah dalam pengawasan pejabat bernama Marasfand. Saat dalam pengasingan itulah dirancang pembunuhan kepada Koresh Agung.   Ya begitu, mengalah itu akhlak mulia, memilih adem berdamai itu akhlak tinggi, itu semua energi air, sangat cocok untuk Anda yang congkak dan angkuh, tapi untuk Anda yang kerap mengalah? Itu jadikan asupan energi air Anda kebanyakan.   Terus-terusan ditindas, dizalimi, direndahkan, ditipu-daya, disuruh-suruh, dimanfaatkan, diperas, dimintai bantuan, itu kalau Anda hanya bereaksi “nerima ing pandum”, justru itu matikan energi prosperity Anda, rezeki macet dan makin susah.   Belum

Scroll to Top