JUNI 2023

JUNI 2023

UANG ITU HISAB RASA

Di rumah saya ada beberapa kaleng celengan uang milik anak saya; Hissi Billaura Fasyarizan. Selayaknya anak kecil, nalurinya bermain, termasuk main celengan uang.   Jangan dikira karena mainan lalu celengan-celengan tersebut isi recehan 10 ribuan. Tidak. Lembaran merah dan biru. Ya Hissi seenaknya ambil uang entah di dompet bundanya, dompet saya, atau yang kelihatan tergeletak di rumah. Hissi asal ambil, tanpa beban hati, selayaknya anak-anak bermain. Sebutlah memasukkan uang merah dan biru ke celengan, tapi hukum energinya sama seperti memasukkan kertas.   Saya dan istri melihat Hissi hampir tiap hari memasukkan uang kertas merah dan biru ya netral-netral saja hatinya karena tahu Hissi hanya sedang main-main. Kami tidak ada rencana dan harapan apapun, rencana beli sepeda misalkan, rencana titip uang di celengan Hissi, juga tidak. Hati kami netral dengan uang celengan Hissi, pokoknya nuriti anak ingin bermain saja.   Kami hanya sering melarang Hissi memasukkan recehan 10 ribuan atau 20 ribuan, “Jangan yang receh kayak gitu. Itu yang warna merah,” begitu teguran kami.   Ya saya dukung Hissi bermain-main dengan uang gede sekalian, uang yang selama ini dipuja-puji manusia, biarlah itu hanya mainannya anak kecil kami.   Kami tidak tahu uang celengan Hissi terkumpul berapa, yang jelas barangkali banyak, karena hampir setahunan Hissi bermain celengan, dan hampir tiap hari masukkan uang ke celengan.   Saya tidak pernah mendidik Hissi untuk menabung yang energinya menyimpan dan mengumpulkan harta, tapi yang namanya anak kecil salah satu mainannya ya main celengan. Di situ Hissi “hanya bermain”, bukan menabung untuk masa depan, apalagi menabung untuk mengumpulkan harta.   Tindakannya Hissi itu mengumpulkan harta, tapi energinya bermain, dan hasilnya sedikit pun uang yang dikumpulkan Hissi membawa energi buruk ke keluarga kami. Semuanya netral-netral saja.   Di rekening bank, saya juga sering buang uang “turahan” yakni uang kelebihan yang tidak terpakai. Sesudah semua kebutuhan, baik primer atau sekunder, baik yang amal saleh ataupun yang hura-hura seenaknya terpenuhi semua, lalu tiap bulannnya sisanya saya buang ke rekening. Tidak tahu jumlahnya berapa, tapi mungkin banyak, karena setahu saya uang “turahan” tersebut tiap bulannya ada.   Kalau pas tidak ada “turahan”, ya saya tidak tersinggung tidak apa, saya tidak ada nafsu bisa kumpulkan harta di rekening. Pas tidak ada yang “turah”, seenak sendiri pakai uang untuk penuhi kebutuhan hidup tetap saya nomor wahidkan.   Di situ prakteknya saya kumpulkan harta, tapi energinya “uang turah”, memang uang tidak terpakai. Tindakan saya kumpulkan uang, tapi energinya uang “turahan”. Hasilnya semuanya enjoy.   Berbeda dengan yang pernah terjadi pada istri saya.   Pernah istri saya baru sebulan menggenggam uang bayaran mengajar di pesantren, cuma 900 ribu. Namun niat istri saya ingin sisihkan uang agar punya uang sendiri yang tidak terhubung dengan uang milik saya. Ya punya pegangan uang mandiri.   Hasilnya justru istri saya kehilangan uang 2 juta. Uang 2 juta itu raib ditipu pebisnis online.   Di situ istri saya bertindak kumpulkan harta, namun energinya juga menyimpan dan mengumpulkan harta (kanzul mâl), hasilnya azab yang turun, cuma genggam 900 ribu, hilang 2 juta.   Dalam kasus tersebut, istri saya masuk ke dalam mekanisme ayat berikut ini;   وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤   “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan keduanya di jalan Allah, maka beritahulah mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (Q.S. At-Taubah : 34).   Anda paham, kan? Kanzul mâl alias kumpulkan harta yang dapat azab, atau infâq fî sabîli-llâh alias membelanjakan harta di jalan Allah yang peroleh rahmat, itu bukan soal tindakan, tapi soal kesadaran di hati Anda, soal perasaan dalam hati Anda. Apa rasa di baliknya.   Karena ini sekarang saya kalau pakai sandal minimal harga 1,5 juta. Sudah malas sandal di bawah 500 ribu. Kenapa? Ya agar hisab saya kelak di akhirat ringan, tidak berat.   Lah iya kalau saya pakai sandal harga di bawah 500 ribu itu artinya saya pelit dengan diri saya sendiri, sebaliknya kalau yang 1,5 juta saya jadi dermawan pada diri saya sendiri.   Dermawan pada diri sendiri itu amal saleh di jalan Allah, hasil hisabnya baik. Karena baik, insya Allah dapat hisab ringan. Paham ya dengan satir sandal saya? Rasa di hati Anda atas uang itu yang akan dieksekusi.   Sebab ini pentingnya Anda punya spiritual, punya nilai-nilai kesalehan dalam diri, karena pengetahuan spiritual dan nilai-nilai kesalehan itu yang akan mengontrol kesadaran-kesadaran Anda atas tindakan Anda pada uang.   Terus belajar, terus berkumpul dengan orang saleh, itu tips agar kesadaran spiritual Anda terjaga.   K.H. Ahmad Abdul Haq, beliau populer sebagai waliyullah, putra wali agung K.H. Dalhar Watucongol, Magelang.   Konon hobi K.H. Ahmad Abdul Haq itu mengoleksi mobil mewah. Keren, kan?   Yang terjadi pada beliau tidak lebih seperti penjelasan saya di atas, bahwa rasa hati Anda dan kesadaran Anda itu yang akan mengeksekusi hasil hisab harta Anda.   Terus belajar ilmu kesadaran dan berkumpullah dengan orang saleh, itu salah satu cara menjaga dan menyalehkan kesadaran Anda.   Kesadaran hati terjaga dalam kesalehan itu enak. Mobil mewah, rumah mewah, uang banyak, nanti mati masuk surga. Hmmm.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

MABOK IKHLAS

Banyak orang menafsirkan kalau ikhlas itu berarti tidak dibayar. Mengajar ngaji tidak dibayar betarti ikhlas, mijiti orang tidak dibayar berarti ikhlas, dan seterusnya.   Padahal kalau ikhlas diukur dengan terima bayaran atau tidak, berarti pedagang yang jelas-jelas cari untung duit mereka tidak ada yang ikhlas dong? Guru dan dosen yang bertarif perjam dan bergaji bulanan, mereka tidak ada yang ikhlas?   Kalau begitu, Nabi S.A.W seorang pedagang ulung yang jelas terima bayaran keuntungan, beliau tidak pernah ikhlas? Atau K.H. Ma’ruf Amin yang terima bayaran sebagai dosen juga tidak pernah ikhlas?   Ikhlas itu tidak terhubung dengan Anda terima bayaran atau tidak.   Ya betul, untuk bangun mental pejuang, Anda perlu melepas dari mengincar bayaran uang ketika mengajar, mengabdi, dan seterusnya. Namun mental pejuang itu tidak ada hubungannya dengan ikhlas atau tidak.   Sebab ikhlas itu dikisahkan dalam hadits musalsal, Hasan R.A ditanyai apa itu ikhlas, beliau tidak tahu lalu menanyakannya pada Hudzaifah R.A. Hudzaifah tidak tahu lalu menanyakannya pada Nabi S.A.W. Nabi pun tidak tahu lalu menanyakannya kepada Jibril. Jibril tidak tahu lalu menanyakannya kepada Allah. Apa jawaban Allah? Ikhlas adalah:   سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِي اسْتَوْدَعْتُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِي   “Ikhlas itu rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku menitipkannya di hati hamba-hamba-Ku yang Aku cintai.” (H.R. Al-Qazwini)   “Rahasia dari rahasia-rahasia-Ku”, itu jawaban-Nya. Kesalahannya barang dirahasiakan kok dicari-cari oleh Anda? Ikhlas itu didapatkan bisa jika memang dicintai dan dipilih-Nya, tapi kalau sengaja dicari-cari, lah tahu-tahu rahasia kok dicari. Karena itu kalau Anda mau beramal baik dengan mencari ikhlas, saya percaya Anda malah tidak jadi beramal. Misal mau shalat, sedang takbiratul ihram Anda mengecek hati Anda, “Saya riya enggak, ya?” Dibatalkan shalatnya. Takburatul ihram lagi, mengecek lagi, “Ah ada hajat duniawu ini,” dan batal lagi. Lalu kapan Anda mau shalat?   Makanya ikhlas bukan untuk dicari-cari di balik amal baik Anda sudah ikhlas apa belum. Tapi tugas Anda hanya beramal baik saja, ikhlas atau tidak serahkan pada-Nya karena rahasia-Nya yang artinya kewenangan-Nya untuk diberikan kepada siapa.   Dengan dibayar atau tidak, ikhlas tidak ada hubungannya, hanya kalau ingin bangun mental pejuang, Anda perlu diuji tidak dibayar.   Dulu saya heran dengan para ulama dan para wali, mereka memberikan tuntunan ibadah dan zikir tapi untuk tujuan-tujuan duniawi. Misal shalawat Nariyah untuk hajat dimudahkan rezeki, shalawat Asyghil untuk tujuan keluar dari kezaliman, baca surat Yusuf untuk tujuan pengasihan, shalawat Haybah untuk tujuan bangun kharisma dan wibawa, baca kumpulan shalawat Dalâ-ilul Khairat dengan tujuan kemuliaan dunia akhirat.   Lah ibadah katanya disuruh ikhlas kok malah penuh hajat duniawi? Ya waktu itu saya meragukan, ternyata karena waktu itu saya yang masih “sok ikhlas”, padahal aslinya belepotan dungu.   Begini, semua energi alam semesta itu bisa dikonversikan menjadi energi lainnya. Misal air dikonversi menjadi listrik.   Nah air dikonversi jadi listrik atau tidak, airnya tetap utuh. Anda saksikan saja waduk-waduk yang dijadikan PLTA, apa airnya berkurang karena energinya sudah dikonversi listrik?   Spiritual entah bentuk amal kemanusiaan, amal saleh, ibadah, dan lain-lain itu termasuk energi alam semesta. Karena semua energi alam semesta bisa dikonversikan, termasuk energi spiritual, pun bisa dikonversi menjadi energi apa saja, entah itu kebutuhan dunia maupun kebutuhan akhirat.   Maka ini kemudian ada kisah 3 pemuda yang terjebak di dalam gua, pintu gua tertutup batu. Mereka menggunakan energi spiritual yakni amal-amal shaleh mereka untuk wasilah buka pintu gua yang tertutup batu. Ada yang amal shaleh menahan diri dari niat berzina, ada yang amal shaleh dari berbakti dan melayani orang tua, ada yang amal shaleh memberikan perusahaan ternaknya pada mantan karyawan yang pernah dia tipu. Dan berhasil, amal shaleh dikonversikan untuk hajat selamat terjebak di dalam gua.   Nah satu energi ketika dikonversi ke energi lain, itu energi aslinya sama sekali tidak berkurang. Air dikonversi jadi listrik itu airnya utuh, sama sekali tidak berkurang.   Hajat hidup Anda itu terdiri dari hajat duniawi juga ukhrawi. Maka ini energi spiritual pun bisa Anda konversikan untuk hajat-hajat tersebut.   Dan hukum energi kalau dikonversikan ke dalam energi lain, itu energi aslinya masih utuh. Maka ini Anda ibadah baca shalawat misalkan, dikonversikan agar kaya harta, itu energi ikhlasnya tidak berkurang tidak apa, tidak ganggu sedikitpun li-llâhi ta’âlâ Anda.   Sebab ini para ulama dan para wali mengajarkan tuntunan ibadah untuk hajat-hajat duniawi, karena hakikatnya ibadah itu energi spiritual alam semesta yang bisa Anda konversi ke dalam energi apa saja. Dan dikonversi, suatu energi tidak akan berkurang apa-apa, ikhlas dan li-llâhi ta’âlâ-nya tidak ada yang berkurang kualitasnya.   Guru saya pernah kecurian mobil baru. Merelakan mobil yang hilang itu energi spiritual tinggi. Saat itu beliau mengonversikan dengan berkata penuh tawakal, “Mobil saya yang hilang akan saya jadikan anak shaleh”.   Itu berarti energi spiritual merelakan mobil dicuri dikonversi menjadi energi baru berupa hajat punya anak shaleh.   Lah cara mengonversinya bagaimana? Ya dengan niat, dengan visi di balik aksi.   Ya kalau level spiritual Anda itu level nabi, Anda enak karena urusannya hanya diri Anda dengan Tuhan, kalau level spiritual Anda level rasul? Yang harus sejahterakan keluarga, sejahterakan masyarakat, sejahterakan agama dan bangsa, apa iya Anda bisa ibadah mulus tanpa hajat duniawi? Tidak mungkin. Kalau level spiritual Anda adalah level rasul, mau tidak mau Anda harus konversikan energi spiritual Anda menjadi hajat-hajat duniawi.   Dan tenang saja, dikonversikan duniawi tetap utuh energinya, dikonversikan akhirat tetap utuh energinya, dikonversikan dunia akhirat juga tetap utuh.   Kalau tanpa hajat duniawi boleh saja sih asal Anda hidup di alam kayangan para malaikat.   Kemarin saya menulis status “Awas! Hanya Aksi Kosong” yang isi tulisannya pentingnya memberi visi dalam aksi untuk kemuliaan dan kekayaan Anda, lah ada orang ikhlas (ehm ehm ehm) yang komentar, “Ibadah itu harus ikhlas, masa ibadah dengan visi duniawi. Hahaha,” katanya.   Anda yang kemarin komentar itu, tulisan ini jawabannya, biar ada tambahan pinter sedikit, ya!   Cuma tulisan itu saya delete, karena saya menyontohkan pakai data para teman alumni pesantren, takut kurang etis jadi saya delete. Lain kali saya posting ulang dengan contoh kasus lain yang lebih etis.   Jadi terserah Anda, mau dikonversikan atau tidak, energi spiritual itu utuh volumenya. Kalau Anda sudah tidak

JUNI 2023

KAPOK POLOSMU, KAPAN?

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا   “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (Q.S. Al-Isrâ : 7)   Kalau Anda melempar batu ke rumah orang, mengena ke kaca dan memecahkannya, pemilik rumah keluar memarahi Anda, ia minta ganti rugi, lalu siapa sebenarnya yang kena lemparan batu? Yang kena lemparan batu itu diri Anda sendiri.   Ketika Anda mencuri uang tetangga, Anda tertangkap, dihukum dan harus ganti rugi, lalu siapa sebenarnya yang kecurian? Yang kecurian itu diri Anda sendiri.   Seumpama Anda mencuri dan tidak tertangkap, sampai mati Anda tetap tidak tertangkap, lalu Anda di-hisāb oleh Tuhan, di neraka Anda menanggung dosa mencuri dulu, sekalipun tidak tertangkap bukankah tetap Anda yang kecurian?   Sistem semesta tidak mengenal apa yang disebut “mengambil hak orang”. Anda mencuri harta orang, justru Anda sendiri yang kecurian. Demikian pula merampok, korupsi, memerkosa, mencuci uang, membalak hutan, dan semua tindakan kriminal lainnya.   Karena ini rasional, ketika Anda berbuat baik kepada yang lain, semata-mata Anda berbuat baik untuk diri Anda sendiri. Segala sesuatu yang Anda ambil dan Anda lepas itu hanya sesuatu yang ada di dalam diri Anda. Anda tidak pernah “mengambilnya dari orang lain juga tidak pernah melepaskannya untuk orang lain”.   Jadi sudahlah, hentikan pikiran bagaimana mengambil sesuatu dari orang lain, bagaimana merampas hak orang lain, bagaimana merampas kebahagiaan orang lain, bagaimana menghinakan orang lain, bagaimana menghancurkan orang lain, bagaimana merebut suami orang lain, karena tidak ada sesuatu yang Anda ambil dari orang lain kecuali Anda mengambilnya dari dalam diri Anda sendiri. Anda tidak dapat mengambil sesuatu apapun dari orang lain.   Nah kadang Anda bisa menemui seseorang yang sangat dermawan, gemar berbagi dan menolong, tapi hidupnya beringsut mundur, kerap alami kesulitan penghidupan. Ia telah melepas kebaikan, seharusnya peroleh kebaikan, tapi peroleh kesulitan, ini kenapa?   Itu karena getaran niat dan kesadarannya sendiri. Pasti ada getaran kesadarannya yang tidak harmoni.   Kalau kesadaran hatinya polos menolong, itu artinya ia hanya melepaskan kepolosan. Melepas kepolosan, ya ia peroleh kepolosan.   Jika kehidupannya sendiri masih sulit, lalu menolong orang lain dengan kesadaran polos, ya hidupnya tetap utuh sulit, karena ia hanya peroleh timbal-balik kepolosan atas energinya menolong orang lain.   Mending kalau kehidupan pribadinya sudah mapan, menolong orang lain dengan polos, ia tetap mapan, karena energi timbal-balik polosnya tidak pengaruh apa-apa, hanya pengaruh polos.   Karena kesadaran polos ini, resikonya ia mampu menolong orang lain, namun ia kerap tidak mampu menolong dirinya sendiri.   Masih mau polos alias tulus? Hahaha   Nah agar Anda dimampukan menolong lain sekaligus menolong diri sendiri, menolong lain sekaligus mengangkat derajat sendiri, Anda perlu merekayasa kesadaran Anda dalam menolong orang lain.   Caranya? Lepaskan kekayaan ke alam semesta, Anda akan peroleh kekayaan pula. Berarti saat Anda menolong orang lain, pastikan muncul di dalam perasaan Anda, “Saya kaya, makanya saya menolong. Saya kaya, makanya saya sedekah. Saya kaya, makanya saya berbagi.”   Sadar Anda kaya saat menolong orang lain, itu yang energi timbal-baliknya kekayaan pula.   Maka ini jika Anda sedekah, misalkan, dengan niat punya anak shaleh, itu yang nanti akan Anda peroleh. Niat agar diampuni dosanya, itu yang akan Anda peroleh. Niat agar dimudahkan rezekinya, itu yang akan Anda peroleh.   Menolong orang kok polos, tulus, alih-alih ikhlas, hmmm goblok dipelihara. Hahaha     Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

MENUKARKAN ENERGI SAKIT HATI, DENDAM DAN MARAH

Video yang saya unggah adalah dokumenter Zamziman Ellie, ia warga Rwanda, Afrika Timur, lahir tahun 1999. Na’ûdzubi-llâh, ia terlahir—baik fitur fisik maupun psikisnya—setengah manusia setengah monyet.   Kalau bertemu manusia, ia lari menjauh. Kegemarannya lari-lari. Nalurinya masuk ke hutan, tidak betah hidup di lingkungan manusia. Makanannya pisang dan rumput-rumputan. Ia tidak bisa bicara dan berkomunikasi dengan manusia. Hari-harinya dihabiskan di hutan untuk lari dan memanjat.   Anda bisa baca info selengkapnya di Google, Youtube, Facebook, dan lain-lain. Muatan beritanya banyak.   Ibunya mengakui, awal mula ia diberi ujian hidup setiap kali melahirkan anak, selalu mati. Dan itu terjadi hingga 5 kali melahirkan. Sampai akhirnya ia putus kesabaran dan merasa lemah, dan keluarlah doa, “Tuhan beri aku anak, walaupun cacat”.   Nah Anda sering temui fenomena “doa supata” yakni semacam doa kutukan dikarenakan rasa sakit hati, rasa dendam atau rasa marah yang begitu kuat? Dan itu benar-benar terjadi.   Misal Ken Arok yang dikutuk Empu Gandring bahwa 7 keturunannya akan mati saling bunuh diujung keris Empu Gandringnya. Kutukan itu benar-benar terjadi.   Misal Sunan Amangkurat I dari Mataram Islam yang mengutuk putra mahkotanya sendiri, Amangkurat II. Ya sakit hati karena berbagai konflik politik kekuasaan, dan termasuk musuh politiknya adalah putra mahkotanya sendiri. Amangkurat I tetap menunjuk putra mahkotanya sebagai raja selanjutnya namun karena sakit hati, penunjukan Amangkurat II olehnya disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar. Kutukan itu pun terjadi.   Di tengah masyarakat pun “doa supata” semacam itu kerap terjadi.   Ada salah satu kenalan saya, ia cewek, yang jengkel sekali diberi haidh. Kejengkelannya muncul saat ia sedang menghapal Al-Qur’an. Sedang konsentrasi-konsentrasinya menghapal, ia haidh, harus jeda dulu menghapalnya. Habis jeda, hapalannya lupa lagi, harus mengulang lagi. Sampai akhirnya ia menyumpahi haidhnya sendiri, “Susah amat si jadi perempuan, sebentar-sebentar dihalangi haidh. Nggak usah haidh, kenapa?”   Dan betulan terjadi, ia terhenti siklus haidhnya. Resikonya sesudah ia menikah, ia tidak bisa hamil.   Ada lagi, seorang istri kyai. Yang namanya kyai kerjaan hariannya lebih banyak memikirkan perjuangan agama sehingga urusan ekonomi keluarga kerap terbengkalai kurang perhatian, hidupnya pun kekurangan. Lalu si istri menyumpahi anak-anaknya, “Anak-anakku jangan ada yang jadi santri, jadi kyai. Lapar melulu.”   Dan betulan terjadi, anak-anaknya tidak ada yang mau shalat dan jadi preman semua.   Ada lagi dua orang tetangga yang saling bermusuhan. Ketika saling labrak, keduanya saling mengutuk, “Tujuh keturunanku jangan sampai menikah dengan keturunanmu,” lalu diiyakan oleh satunya.   Padahal mayoritas keturunannya hidup di satu RW suatu desa. Dan betulan terjadi, setiap ada dua orang keturunannya saling menyintai, lalu nikah, ada-ada saja ujian dan masalahnya sehingga terpaksa harus cerai.   Semua getaran hati Anda itu punya energi besar. Bahkan energi hati Anda merupakan energi terbesar di alam semesta ini. Dengan perasaan hati yang tawakal, api menjadi dingin oleh Ibrahim A.S. Dengan hati yang tawakal, bulan bisa dibelah oleh Muhammad S.A.W. Dengan hati yang tawakal, lautan bisa dibelah oleh Musa A.S.   Iya, kan? Getaran hati Anda itu energi terbesar di alam semesta ini?   Matahari dan semua planet angkasa bisa tunduk pada getaran hati Anda. Maka ini saat kemarau panjang, Anda disuruh shalat istisqâ yang isi shalatnya adalah perintah menggetarkan hati dengan rasa taubat dan saling menyayangi dan saling memaafkan sesama.   Hujan dan semua kontrol cuaca ada dalam kontrol hati Anda.   Duit, mau seret mau melimpah, itu semua ada dalam kontrol hati Anda. Maka ini ingin duit harus mampu getarkan hati yang syukur, tawakal dan taqwa. Yang semuanya itu pekerjaan hati.   Nah saat Anda sakit hati, dendam, marah, atau saat Anda sedang ridha, rela, bahagia, semua getaran itu punya power energi dahsyat.   Apalagi sedang sakit hati, dendam dan marah, itu energinya sangat konsisten dan terfokus. Sebab ini doa orang yang terzalimi sangat mujarab, karena hakikatnya terzalimi itu orang yang sedang sakit hati.   وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الله حِجَابٌ   ”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim)   Nah karena rasa putus asa dan rasa lemah, Anda jadi keluarkan doa ketidakberdayaan, seperti ibunya Ellie di Rwanda, “Anak cacat, nggak apa-apa, asal punya anak.”   Atau rasa sakit hati merasa diperdaya dan dizalimi seperti Empu Gandring.   Atau rasa dendam membara seperti Amangkurat I pada Amangkurat II dan seperti 2 tetangga yang saling bermusuhan.   Atau rasa jengkel menerima kenyataan pahit seperti wanita penghafal Al-Quran pada takdir haidh, dan si istri kyai pada takdir susah duit sebagai istri pejuang agama.   Dahsyat kan power energi dari hati yang tersakiti, hati dendam dan marah?   Andai energi sakit hati, dendam dan marah Anda gunakan untuk mengutuk diri Anda agar kaya raya dunia akhirat, mulia dunia akhirat, kira-kira mujarab, tidak?   Maka ini saya kerap mengutuk diri saya sendiri saat merasa disakiti dan saat mendendam. Saya kerap begini, “Iya, kamu menghina saya, besok saya lebih hebat dari kamu!” Atau saat merasa dizalimi, “Besok saya lebih kaya dari kamu, diri saya unggul semuanya dari kamu.”   Dan semua orang yang saya kutuk agar diri saya lebih hebat, lebih unggul, lebih kaya darinya, sekarang semuanya terjadi.   Dan setiap Anda pasti punya dendam, sakit hati, kekecewaan, marah, dan sebagainya? Itu titik dimana Anda sangat tepat bila mengutuk diri Anda sendiri dengan keberlimpahan. Tukarkan energinya dengan keberlimpahan untuk diri.   Lalu kutukan buruk yang sudah terlepas doanya, bagaimana membatalkannya? Saya tidak tahu. Jangan tanyakan pada saya.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

BIAR MENGALAH ITU BERARTI MENANG

Begini kalau Anda diambil uangnya oleh maling, atau uang Anda diminta orang, Anda terima kasih, tidak? Tidak usah dijawab.   Kalau Anda diminta dan diambil dosa dan kesalahannya, Anda terima kasih, tidak? Tentu sikap Anda kebalikan dari terambil uang.   Ketika Anda dizalimi, dihina, direndahkan, disakiti, di-bully, difitnah, dan semua yang tidak enak-enak, potensi spiritualnya sangat tinggi, di situ dosa dan kesalahan Anda diminta lalu diambil oleh si pelaku.   Maka ini semakin tinggi spiritual Anda, diri Anda akan makin kerap berterima kasih pada derita-derita karena sadar dosa dan khilaf Anda diminta dan diambil.   مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ   “Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (H.R. Bukhari)   Jadi kalau Anda sedang dihina orang, lalu Anda melabrak habis-habisan itu tanda Anda sedang tidak ada iman. Minimal menggerutu dan mendendam, di situ Anda sedang tipis imannya. Ngerti?   Karena kalau Anda sedang penuh iman jelas sadar sepenuh hati kalau dosa Anda sedang diminta dan diambil, misalkan duitnya ditipu 20 juta, muncul di hati, “Terima kasih penjahat, kau ambil dosaku.” Itu iman.   Ya begitu dimensi spiritual, kerap berbalik arah dengan dimensi material.   Anda tahu, tidak? Orang yang sangat mudah rela hati itu orang-orang lemah, mereka sangat mudah mengalah, mudah empati, mudah memaklumi. Kekerasan hati mereka lemah sekali dan cenderung mudah nerima. Ya karena rasa tidak berdaya di dalam hati mereka, itu yang memicu mereka mudah untuk rela hati. Karena ini tidak sedikit ahli surga yang diisi oleh orang dhuafa sebab level keridhaan hati mereka dalam hadapi ketidakberdayaan hidup.   أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ   “Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli surga itu? Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong.” (H.R. Bukhari dan Muslim).   Namun Anda perlu tahu, penjelasan di atas itu dimensinya spiritual, urusan akhirat nemang urusan spiritual mutlak, sementara Anda di sini hidup di dimensi material yang Anda bisa modar hidupnya jika hanya memegang kencang spiritualitas. Karenanya di dunia material ini Anda perlu punya spiritual yang memberdayakan diri.   Begini, dan ini kerap saya jelaskan, kalau Anda menanam pohon amati pertumbuhan batangnya. Batang yang dari awal tumbuh besar terus makin membesar tidak terkendali, semua nutrisi pohon mengalir ke sana. Sebaliknya batang yang dari awal tumbuh kerdil, ia akan terus kalah pertumbuhannya dan akhirnya segitu saja.   Karena ini alam material ini ada mekanisme kaya makin kaya, kuasa makin kuasa, dan sebaliknya lemah makin lemah.   Nah saat alam semesta mengirim nutrisi-nutrisi energi material ke dalam kehidupan Anda, itu alam semesta tidak memperhatikan dimensi spiritual Anda, maka ini yang namanya kaya dan kuasa tidak ada hubungannya dengan kesalehan Anda.   Lah iya, Maria Ozawa sudah ngeseks bebas dengan banyak pria, di depan publik lagi, dibisniskan pula seksnya, secara spiritual kehormatannya sebagai wanita di mana? Namun adil tidak adil ini alam material, dari awal tumbuh memang Maria Ozawa itu cewek cantik yang punya popularitas, kecantikan dan kekayaan, eeh begitu pensiun dari artis bokep, ia punya pacar ganteng kaya raya. Enaknya makin nambah-nambah, kan? Alam material tidak perhatikan dimensi spiritual Anda.   Nasib Maria Ozawa yang begitu kan bikin iri. Iya, nggak?   Di atas saya jelaskan, karakter orang lemah itu mudah mengalah dan neriman, tapi mereka hidupnya makin bablas dalam penderitaan dan masalah. Padahal khasanah pitutur Jawa mengatakan, “Wani ngalah luhur pungkasane,” artinya berani mengalah itu akan berakhir mulia, tapi mereka yang kadung lemah malah makin menderita dan makin sempoyongan.   Itu karena begitu secara material Anda lemah, Anda terus melemah pula dalam menyedot energi material alam semesta. Makin kalah makin melemah, makin lemah dan lemah.   Habib Rizieq, Denny Siregar, Fadli Zon, Gus Yaqut, yang mereka tidak pernah mau mengalah malahan makin kaya dan diikuti orang. Anda yang apa-apa kalah malah makin belangsak miskin.   Nah di sini bagaimana Anda mengolah power spiritual Anda dengan power material Anda menjadi satu kesatuan, agar kemudian mengalahnya Anda itu menjadi “luhur pungkasan”, bukan asal-asalan mengalah.   Mengalah yang bablas jadi kekalahan lalu jadikan Anda makin lemah itu mengalah karena dipicu rasa lemah. “Lah aku wong cilik, ngalah aja lah,” misal begitu. Intinya mengalah yang dipicu rasa tidak berdaya, sementara ia sendiri tidak punya mental pemenang.   Mengalah yang seperti itu akan terus mengurangi nutrisi material alam semesta, dan hukum yang terjadi batang pohon yang tumbuh kerdil makin kerdil.   Berarti biar mengalahnya Anda kirimkan nutrisi “luhur pungkasan”, kirimkan kemenangan, itu bagaimana? Caranya ya Anda harus teguhkan hati bahwa nanti Anda akan menang, Anda punya mental pemenang.   Pak Jokowi misalnya, beliau dicaci-maki tidak pernah membalas, kelihatan sangat mengalah, tapi keteguhan hatinya kokoh untuk menjadi pemenang dan penguasa. Beliau diam dan mengalah, hasilnya presiden 2 periode.   Jadi punya “mental pemenang” di dalam diri Anda agar mengalahnya Anda itu tidak terpapar sistem “yang lemah makin lemah”.   Mengalah yes, lemah no!   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

SPIRITUAL HUTANG; ANTARA HUTANG YANG MELULUHLANTAKKAN REZEKI DAN HUTANG YANG MEM-BOOSTER REZEKI

Ada sistem spiritual yang bekerja sadis meremukkan sistem rezeki Anda, sekaligus bisa bekerja optimal mem-booster rezeki Anda. Sistem spiritual tersebut dari sisi utang-piutang.   Hutang, kalau Anda konsisten membayar, Anda makin melenggang dalam kelancaran rezeki, namun sekali Anda bermasalah dengan hutang, di situ Anda akan terus terseret dalam kehancuran rezeki, makin miskin dan terus terperosok dalam kemiskinan.   مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ “‏‏   “Barangsiapa yang mengambil harta manusia (berhutang) dengan konsistensi akan melunasinya, maka Allah membayarkan untuknya. Dan barangsiapa yang mengambil harta manusia (berhutang) dengan maksud merusaknya (incosistent melunasi), maka Allah sendiri yang akan merusaknya.” (H.R. Bukhari)   Anda amati orang yang di sana-sini punya hutang, kehidupan finansialnya makin kelenger, hampir tidak ada satu pun yang beres finansialnya.   Iya, makin kelenger finansialnya karena secara spiritual, Tuhan langsung yang bekerja merusaknya. Artinya kemurkaan Tuhan tidak main-main pada penghutang yang tidak konsisten melunasi.   Hutang bermasalah, saya sendiri jika ada orang konsultasi karena bermasalah dengan hutang, saya selalu tekankan untuk menjual apapun yang bisa dijual, walaupun itu adalah aset primernya seperti rumah satu-satunya, kendaraan yang setiap hari dipakai untuk kerja, dan lain-lain. Apapun aset yang dimiliki, sekalipun itu aset untuk kebutuhan primer harus dijual untuk lunasi hutang.   Setelah habis dijual, kemudian memulai hidup dari nol lagi.   Menjual aset primer untuk bayar hutang memang sebuah resiko ekstrem, tapi itu lebih menolong si pemilik hutang, sebab jika sampai hutangnya bermasalah makin panjang, justru bermasalah dalam hutang itu lebih menghancurkan sistem rezekinya karena Tuhan langsung yang akan menghancurkannya.   Dan sebaliknya, hutang yang Anda membayarnya dengan konsisten, maka hutang akan menjadi booster pesugihan yang ajaib.   Saya berani jamin, hutang yang konsisten dibayarkan akan mem-booster pesugihan rezeki dengan ajaib karena saya sendiri sudah mengalami. Dulu selama saya masih harus hutang untuk kembangkan usaha—walaupun sekarang sudah tidak punya hutang lagi—saya sangat konsisten dan bertanggung jawab dengan hutang, dan nyata rezeki saya makin ter-booster dari arah yang tak terduga. Itu terjadi karena secara spiritual, Tuhan langsung yang bekerja membayar hutang dan lalu mengoptimalisasi rezeki saya.   Dan hati-hati, termasuk hutang itu adalah kewajiban Anda membayar kewajiban-kewajiban tagihan biaya hidup, seperti biaya anak sekolah, pajak, zakat, nafkah, gaji karyawan, dan seterusnya.   Di setiap lembaga sekolah pasti banyak sekali ijazah sekolah yang sudah puluhan tahun tidak diambil oleh siswa, ya karena kewajiban administrasi biaya sekolah belum lunas.   Anda yang merasa ijazah sekolahnya masih ditahan pihak sekolah karena ada biaya administrasi yang belum lunas, jangan berharap dimudahkan rezekinya, karena Tuhan langsung yang merusak rezeki Anda.   Kemarin di depan para wali santri pondok pesantren, saya baru kasih peringatan dengan hadits di atas. Ya karena banyak pembayaran biaya pesantren anak-anak mereka yang mengemplang bertahun-tahun. Saya peringatkan dengan tegas, “Anda makin melarat kalau Anda tidak segera lunasi biaya pesantren anak-anak Anda, karena hakikatnya itu adalah hutang. Siapapun yang bermasalah dengan hutang, rezeki akan makin belangsakan melarat, Anda akan makin miskin, karena Allah langsung yang merusak rezeki Anda. Jangan macam-macam!” tegas saya.   “Kalau Anda ingin rezeki mudah, tertolong dari kesulitan rezeki, sudah segera bayar tanggungan biaya anak-anak Anda di pesantren. Jual apapun harus dilakukan. Tidak ada pilihan lain!” tutup saya.   Hutang itu hakikatnya mengambil harta milik orang lain untuk dipakai sendiri dengan akad mengembalikan. Kalau ujung-ujungnya tidak mengembalikan? Ya sama saja maling.   عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ ‏‏أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا   Dari Rasulullah S.A.W bersabda, “Barangsiapa yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai maling.” (H.R. Ibn Majah)   Jadi Anda yang punya tanggungan hutang, jangan coba-coba bermain-main dalam pembayaran hutang, resikonya Tuhan langsung yang akan menenggelamkan Anda, bukan siapa-siapa.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

VIDEO 19 DETIK; DUNIA ITU DIMODEL GAMPANGAN

Nabi Yusuf A.S. menjadi pejabat tinggi negara Mesir Kuno pelantarnya cuma dengan menafsirkan mimpi.   Coba, menafsirkan mimpi kan bukan profesi bergengsi, bukan profesi berkelas. Di sekitar Anda banyak kan orang yang pintar tafsirkan mimpi? Ibaratnya profesi selevel tukang kerik masuk angin, tapi ternyata itu yang mengubah sosok Yusuf menjadi sekelas pejabat tinggi negara.   وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَآءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ   “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Yusuf : 56)   K.H. Bahauddin Nursalim beliau menjelma menjadi ulama milenial populer yang kuasai publik media sosial, kalau beliau pakar internet marketing itu wajar, WhatsApp saja beliau tidak punya. Beliau cuma ngaji biasa seperti lumrahnya kyai kampung, tidak tahunya murid-muridnya merekam, di-upload di akun Youtube masing-masing, terus super viral.   Nabi Yusuf cuma lewat tafsir mimpi, Gus Baha cuma lewat rekaman ngaji kampung, segampang itu kan datangnya isi dunia?   Ya memang desain permodelan urusan duniawi itu gampangan banget. Pernah saya jelaskan, kalau Anda anak usia 3 tahun, kebetulan Anda anak orang kaya, lalu ditinggal mati orang tua Anda, itu seketika Anda jadi orang kaya karena terima warisan harta.   Sebaliknya kalau Anda anak profesor, ditinggal mati orang tua di usia 3,5 tahun, Anda tidak bisa seketika jadi profesor karena terima warisan ilmu. Bila Anda ingin jadi profesor, Anda harus berjerih payah sendiri meraihnya.   Urusan harta sistemnya digampangkan datang, bisa seketika dan sekonyong-konyong, tidak usah ngapa-apain, di usia 3,5 tahun Anda bisa kaya raya, sebegitu mudah hadirnya harta. Beda dengan urusan kualitas jiwa, seperti ilmu, karakter, kesalehan, mental, ketakwaan, itu Anda harus berproses sendiri, tidak bisa datang seketika.   Anda ingin viral, bikin saja video 19 detik, upload di facebook, langsung Anda terkenal. Maka ini sebenarnya sangat mudah agar Anda digeruduk followers dan subcribers, bikin saja konten-konten bertema issu SARA, issu politik, konten caci-maki, konten debat atau konten selakangan paha, dijamin Anda mudah populer. Gemar saja bicara FPI, misalkan, Anda cepat digeruduk followers.   Intinya ciptakan konten-konten iblis yang panas dan hot, baik panas di hati maupun di selakangan paha, pokoknya konten ghurur dan keruhnya dunia, dijamin Anda lekas viral dalam hitungan detik.   Kalau Anda main di media sosial, followers dan subcribers tidak tambah-tambah juga, itu artinya Anda “terlalu shaleh”, kurang paham fenomena video 19 detik. Hahaha.   Jadi kalau sekedar kaya dan populer itu bukan soal sulit, itu sangat-sangat gampangan, hitungan detik bisa terjadi.   Yang berat itu proses mentalnya untuk jadi kaya dan populer, proses jiwanya.   Nabi Yusuf menjadi orang besar, prosesnya dari kecil menjadi korban perundungan dan aniaya saudara-saudara seayahnya. Lalu dikriminalisasi dengan dibuang ke sumur. Lantas sekian lama menjadi budak belian. Masih ditambah lagi menjadi narapidana dari fitnah kriminalitas zina yang tidak pernah beliau lakukan.   Dalam proses-proses mental tersebut beliau tetap tegar dan kokoh, apalagi putus asa, punya pikiran negatif dengan masa depannya saja beliau tidak punya. Ini nyata sekali, sepayah apapun keadaannya, beliau sangat percaya diri kalau beliau layak mulia dan hebat, beliau konsisten bercita-cita;   قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ   “Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Q.S. Yusuf : 55)   Proses mentalnya lama, kalau hadirnya dunia itu super gampangan.   Gus Baha juga begitu. Sebelum beliau sepopuler sekarang, beliau sangat konsisten dengan ilmu. Sudah hapal Al-Qur’an, hapal ribuan hadits, kuasai aneka kitab kuning, kitab Ihyâ Ulumaddîn saja sampai setengah hapal.   Sudah sebegitu siap keilmuannya, beliau tidak lantas tergiur menjual kealimannya untuk popularitas. Beliau konsisten hanya ngaji layaknya kyai pesantren.   Sudah nggak doyan, dijejali sekalian, sudah emoh dengan popularitas, malah dalam hitungan detik beliau populer.   Ya begitu urusan duniawi, tidak mahal, tidak sulit, cenderung murahan dan gampangan untuk meraihnya, hitungan detik Anda bisa perolehnya. Karena ini urusan dunia oleh Allah hanya dianggap lebih rendah dari sayap nyamuk.   : لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.   “Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air.” (H.R. Tirmidzi)   Yang mahal, yang sulit, yang butuh konsistensi, yang butuh jerih payah itu proses mentalnya. Itu yang berharga.   Lah wong saya jadi trainer pemberdayaan diri juga cuma lantaran di-mention sama Mas Arif Rahutomo lewat status singkat tidak sampai 5 baris.   Sampai hari ini ijazah pendidikan saya di negara masih konsisten lulusan MTs Maarif NU. Apalagi punya sertifikat training ini dan itu, sertifikat training dari dalam dan luar negeri, ilmu pemberdayaan diri saja tidak tahu ilmu dari mana, hahaha, tahu-tahu ilmunya muncul di hati saya.   Ilmu saya yang asli yang saya belajar konsisten ya ilmu pesantren; fiqih, ushul fiqih, nahwu sharaf, ilmu tafsir, ilmu hadits, kitab kuning, dan seterusnya.   Gampangan banget kan hadirnya dunia itu?   Cuma sebelum itu saya tidak batal wudhu saja ada 7 tahunan, belum lagi waktu di pesantren, kalau sedang bahtsul masail (diskusi fiqih dengan refrensi kitab kuning), karena begitu konsentrasinya sampai-sampai kalau saya sakit gigi, sakit giginya seketika sembuh. Usai bahtsul masail, sakit giginya kambuh lagi. Tapi ya tidak perlu lah saya ceritakan jerih payah saya di masa lalu.   Yang jelas, proses mental Anda yang mahal. Kalau datangnya duniawi; semacam kekayaan, uang, popularitas, kekuasaan, itu semudah datangnya sampah di sekitar Anda.   Maka ya Anda sangat-sangat penghamba dan budak dunia kalau Anda tidak sanggup berproses mental. Sedikit kesulitan mengeluh. Sedikit kesusahan, menggerutu. Sedikit kurang duit, teriak-teriak. Hallah apalagi putus asaan dan bermimpi rendah, itu jelas Anda hidup cuma selisih martabat sedikit dengan ayam.   Sudah malas dan putus asaan, akibatnya beli beras saja susah, tinggal teriak-teriak mendalil akhirat dan ikhlas. Repot lagi. Akhirat, ikhlas, ndasmu!!!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

JEBAKAN HUTANG PEBISNIS, ASN DAN KARYAWAN

Ada kerabat saya, ia memiliki jiwa dagang besar, karena ini ia melawan keras keinginan orang tuanya yang inginkan ia jadi pegawai kantoran.   Selulus S1 ia jadi guru honorer di sebuah SLTA, cuma kuat 3 bulan. Ayahnya tidak terima, lalu mencarikannya peluang jadi karyawan TU di sebuah kantor desa, ternyata hanya kuat 4 bulan. Dicarikan lagi pekerjaan sebagai pengajar di pondok pesantren, ia kabur lagi.   Ia maunya bisnis, sehingga arahan orang tuanya tidak ia beli. Ia pun nekat memulai bisnis walaupun tidak didukung orang tuanya. Dari sini awal ia terjebak hutang.   Ia memulai bisnis dengan menyetting bisnis besar profesional. Langsung buka toko besi dan bangunan. Ia hutang modal ke bank hingga lebih dari 100 juta.   Hutangan modal turun, ia langsung tancap gas sewa ruko. Dalam hitungan bulan berdiri toko besi dan bangunan lengkap dengan kasir dan karyawan. Langsung jadi, langsung sempurna.   Anda punya android harga 4 jutaan, dipasangi baterai android harga 15 jutaan, kira-kira nyala, tidak? Pasti error.   Dirinya baru lulus S1, lantas jadi guru honorer dan karyawan TU. Guru honorer itu gaji pertama di bawah 500 ribu, itu energi baterai finansial yang ia miliki.   Penghasilan 500 ribu sebulan, kalau diwujudkan omset ya sebulan paling memutarkan uang 5 juta, bukan 100 juta.   Dan betul, hanya 5 bulan toko besi dan bangunanya jalan, setelah itu ambruk hanya bersisa hutang ratusan juta.   Di sini jebakan pebisnis terlilit hutang bermasalah karena ia tidak bisa mengukur energi finansialnya. Baru lulus S1, lantas jadi guru honorer dengan gaji 500 ribu.   Pedagang punya penghasilan 500 ribu per bulan, ya paling-paling putarkan omset sekitar 5 juta tiap bulannya.   Seharusnya kerabat saya tersebut kalau ingin stabil dalam bisnis, ia hutang modalnya 5 juta, bukan lebih dari 100 juta.   Energi finansial 500 ribu, dipaksa mengoperasikan energi omset 100 juta, pasti error, ibaratanya baterai android harga 4 jutaan dipaksa mengoperasikan android harga 15 jutaan.   Ini yang menjebak para pebisnis terlilit hutang bermasalah, ia tidak bisa mengukur energi finansialnya sendiri.   Kerap para pemilik mental bisnis terjebak di sini, bahkan hingga milyaran hutangnya, ini karena tidak bisa ukur energi finansialnya. Ada teman saya yang lain, ia sudah bagus sekali punya 1 restoran, stabil sekali. Stabil operasikan 1 restoran ya omset sekitar 100 juta per bulan dengan penghasilan bersih 10 – 15 juta.   Ia tergesa-gesa bikin cabang di banyak kota. Butuh energi omset milyaran untuk mendirikan dan mengoperasikan banyak restoran. Dan benar, ia tarik banyak investor dengan sistem bagi hasil.   Energi finansialnya—diukur dari penghasilan bulanannya sekitar 10 – 15 juta dengan omset 100 jutaan—langsung operasikan energi omset milyaran, hasilnya hancur-lebur.   Karena itu Anda harus ukur energi finansial Anda kalau mau hutang modal bisnis.   Rumus mengukurnya? Ya lihat penghasilan bulanan Anda. Dari penghasilan Anda, entah penghasilan jadi karyawan, jadi pegawai, jadi pedagang atau apa pun profesi Anda, lalu dikira-kira kalau dari dagang, penghasilan segitu dihasilkan dari omset berapa.   Misal diri Anda seorang dosen PNS, gaji 8 juta. Hasil 8 juta, kalau dagang berarti operasikan omset sekitar 80 juta. Itu berarti andai si dosen mau bisnis dengan modal hutang, ia mampu hutang modal dengan kurs di bawah 100 juta.   Paham ya?   Dengan mengukur energi finansial diri insyâ-a-llâh hutang modal bisnis tidak bermasalah. Lalu kalau ingin besar, ya naik dengan bertahap, jangan ujug-ujug bres.   Indomaret ketika bikin cabang dalam sekejap jadi, langsung lengkap langsung profesional, tapi itu karena energinya sudah besar, sudah kuat operasikan energi trilyunan. Andai saya yang diserahi Indomaret, pasti langsung guling.   Semua harus bertahap, pelan tapi konsisten. Saya pengusaha, dan modalnya selalu hutang, tapi hingga detik ini semua lancar.   Asli, 8 tahun lalu saya mulai hutang untuk modal dari 2,5 juta, usaha kecil-kecilan, tapi itu terukur energinya karena penghasilan saya waktu itu 500 ribu per bulan. Ya stabil.   Setelah lolos 2,5 juta, dan bertahap penghasilan naik, saya mulai berani hutang modal 5 jutaan. Beberapa tahun kemudian berani 20 juta. Sesudah stabil, berani di atas 50 juta hingga dekati 100 juta. Lancar semua.   Cuma setelah stabil di energi 100 juta, beberapa tahun lalu, saya sudah merasa cukup, jadi saya stop hutang modal. Sekarang kalau mau tambah modal, saya pilih sisihkan uang.   Anda punya hutang bisnis untuk modal lalu bermasalah? Itu karena baterai android harga 4 juta dipaksa mengoperasikan android harga 15 juta.   Kalau sudah kadung terlilit hutang, bagaimana? Hutang ya harus dilunasi. Bayar! Nggak ada uang buat bayar? Ya selamat modar. Hutang elo ya pikir sendiri lah nglunasinnya, masa gue yang harus mikir,   Itu jebakan hutang pebisnis.   Kalau ASN dan karyawan, biasanya yang terjebak hutang itu mereka yang gemar bolos kerja dan tidak disiplin kerja.   Kebetulan saya di pondok pesantren menjabat Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) yang kerap menangani guru dan karyawan yayasan.   Guru dan karyawan yang bermasalah dengan hutang itu kebanyakan mereka yang suka bolos dan tidak disiplin kerja. Orang kalau suka menganggur pikirannya jajan melulu untuk mengisi waktu kosongnya. Efeknya mereka jadi konsumtif dan hedonis.   Dulu saya kerap bingung, gaji sudah sama, satu anteng-anteng saja, yang satu kemerungsung duit terus, terjerat hutang lah, korupsi infak kelas lah, pakai duit tabungan siswa dan macem-macem.   Saya teliti, guru dan karyawan yang kemerungsung duit itu karena rezeki mereka tidak berkah dikarenakan efek suka bolos dan tidak disiplin kerja.   Anda ASN atau karyawan yang banyak hutang? Pasti masalahnya hobi bolos dan nunda-nunda kerja. Dicabut itu berkah rezekinya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

RASA BERDOSA HUTANG BANK

Saya termasuk kalangan intelektual muslim yang mengharamkan bunga bank, yang kategorikan bunga bank sebagai riba.   Hujah saya bukan cuma dengan dalil fikih, lebih dari itu, saya menyaksikan andai lelaki kawin dengan lelaki, perkawinan sejenis, lalu lahirkan anak, itu mustahil sekali. Mau dipaksa dan direkayasa bagaimanapun, alam semesta tidak bisa lahirkan anak dari perkawinan sejenis.   Uang dikawinkan dengan uang, emas dikawinkan dengan emas, perak dengan perak, lalu lahirkan anak (bunga/laba) itu sama saja Ameri Ichinose dan Maria Ozawa kawin lalu dipaksa punya anak. Mustahil.   Itu belief saya pada riba, termasuk bunga bank. Makanya kalau saya hutang bank di pagi hari, sore harinya saya kena musibah. Nah model orang seperti saya, lalu buka usaha dengan hutang bank, ini bisa hancur-hancuran usahanya karena disabotase oleh beliefnya sendiri.   Begini, Anda muslim, didoktrin babi itu haram dan najis, lalu Anda meyakininya. Terus Anda memakannya, Anda bisa muntah-muntah dan terkena berbagai penyakit.   Namun umat Hindu Bali sudah jelas hobi makan babi guling, tapi mereka tetap sehat seperti Anda, dan tidak muntah tidak apa. Itu karena Anda yang muslim punya belief babi haram dan najis, umat Hindu tidak.   Umat Hindu India didoktrin sapi sebagai hewan suci, kalau mereka berani menyembelih akan benar-benar kualat. Namun Anda yang muslim biasa saja saat potong sapi. Itulah pengaruh belief untuk hidup Anda.   Jadi belief, entah karena dogma, doktrin, pengaruh budaya atau keyakinan sendiri itu bisa bikin Anda muntah-muntah ketika menerjangnya.   Karena ini banyak sekali pengusaha muslim yang nekat hutang bank lalu bisnisnya jadi hancur-hancuran, itu karena disabotase beliefnya sendiri terhadap bunga bank.   Namun sisi lain ada juga pengusaha muslim yang hutang bank tapi bisnisnya lancar-lancar saja, itu karena ia bisa menetralkan diri dari rasa berdosa hutang bank.   Kalau Anda jamaah saya yakni jamaah yang haramkan bunga bank, jangan coba-coba berurusan dengan bunga bank, bisa mual-mual lalu penyakitan.   Namun bagi Anda yang ingin netral dari rasa berdosa bunga bank, biar rasa bunga bank tidak seperti babi guling, begini tipsnya.   Soal riba itu haram, seluruh ulama sepakat kalau riba haram. Keharaman riba merupakan wilayah qath’i (pasti) yang tidak boleh diijtihadi.   Namun soal bunga bank itu kategori riba atau bukan, para ulama terjadi ikhtilaf pendapat. Wilayahnya adalah wilayah zhannî (dugaan) yang boleh diijtihadi. Ada yang kategorikan riba, artinya bunga bank itu haram, ada yang tidak kategorikan riba, artinya halal.   Nah Anda ingin netralkan diri dari rasa berdosa bunga bank, Anda tinggal ketik di search Google, “Daftar Ulama yang Halalkan Bunga Bank.”   Nanti muncul semua daftar ulamanya. Nah di situ Anda baca dan pahami betul-betul mengapa mereka halalkan bunga bank. Biasanya keterangannya detail, dari Al-Qur’an dan Al-Haditsnya, rumusan Ushul Fiqh-nya, hingga hujah ijtihadnya. Anda tinggal baca dan konsumsi terima matang.   Anda baca dan pahami betul-betul sampai “ngelotok” di luar kepala, ulamanya bernama siapa, hujahnya bagaimana, alasannya apa, pertimbangannya bagaimana, Qur’an Haditsnya mana, dan seterusnya.   Sesudah paham sedetai-detailnya, lalu Anda nyatakan diri untuk taqlîd (mengikuti) ulama tersebut.   Dengan paham detail alur hukumnya, Anda jadi punya hujah kuat, sehingga ketika ada provokasi “bunga bank itu riba”, Anda bisa tidak rapuh keyakinannya.   Kalau Anda tidak kuasai sepenuhnya detail alur hukumnya, Anda mudah rapuh, di-skak satu dalil yang mengharamkan, Anda goyang dan ragu.   Jadi muslim itu yang ilmiah ketika pegang hukum jadi tidak “ngalor-ngidul” seperti angin, ada angin barat ikut ke barat, ada angin timur ikut ke timur.   Dengan mau memahami dan mempelajari detail hukumnya, nanti Anda makan bunga bank tidak serasa makan daging babi, tapi serasa sate ayam.   Paham?   Setelah itu hindari berdebat, karena yang merusak itu perdebatannya, kalau hukumnya sudah jelas bahwa riba itu mufakat haram, bunga bank itu ulama terjadi ikhtilaf; beda pendapat. Anda tinggal pilih pakai ulama yang mana.   Sama saja hukum ucapkan natal, jelas-jelas ulama beda pendapat, Anda yang ribut berdebat, ribut adu pembenaran. Tinggal pilih, ikut ulama siapa, lalu tidak usah debat. Ikhtilaf dalam hukum bunga bank, masalah ucapan natal, itu masalah yang sudah selesai dan tuntas, lalu dibikin ribut.   Tips ini juga berlaku tidak hanya untuk Anda yang hutang bank, Anda yang bekerja di instansi-instansi bank konvensional juga sebaiknya mempelajarinya.   Sekali lagi kalau diri saya termasuk intelektual muslim yang mengharamkan bunga bank, Anda mau ikut saya silakan, dengan segala resiko. Tapi bagi Anda yang ingin menghalalkan, silakan searching ulama yang menghalalkan, lalu pelajari hujah-hujahnya, dengan segala resiko. Dan hindari berdebat serta saling menyalahkan.   Karena dalam masalah ikhtilaf fiqh itu yang benar tidak ada, yang salah juga tidak ada. Yang mengharamkan itu hasil ijtihad ulama, yang menghalalkan juga hasil ijtihad ulama. Dua-duanya sama. At-Taudhîh : bahas bunga bank rawan pertanyaan detail, tapi tidak saya tanggapi, bikin cape.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

UANG ITU SOMBONGI SAJA

Anda sudah baca kan postingan iseng saya sebelum ini? Postingan subsidi telkomsel kemarin?   Saya kalau dengar info ada bantuan sosial dari negara atau dari pihak manapun, boro-boro ingin mendaftar agar dapat jatah, justru yang muncul di hati saya adalah rasa sombong pada uang. Seperti kemarin, begitu ada teman share info subsidi telkomsel, saya malah leletin lidah dengan membatin, “Saya maunya menyubsidi negara, bukan disubsidi negara. Saya maunya gemar bayar pajak, gemar beli produk negara agar negara cepat kaya.”   Saya banyak di lingkari orang kaya, dan posisi saya mengasuh pondok pesantren. Biasanya punya lembaga pondok pesantren itu tameng sosial untuk “ngasor” pada harta orang kaya, ya minta-minta bantuan. Tapi kalau saya dekat orang kaya, dengan sombong saya bilang dalam hati, “Saya dengan hartamu itu mulia diri saya. Bukan level saya merendahkan diri pada harta, jadi jangan harap saya mau minta-minta bantuan. Saya lebih mulia dari hartamu!”   Itu gaya orang yang sombong pada uang, membesarkan dirinya pada uang dan harta dunia.   Coba Anda cek di Al-Qur’an, Tuhan begitu sombong kepada Anda sebagai makhluk, mengaku, “Diri-Ku Maha Perkasa, Maha Kasih, Maha Lembut, Maha Kuasa,” dan seterusnya.   Coba Anda mengaku, “Aku wanita paling lembut loh di RT-ku,” pasti bullying yang Anda terima.   Tuhan menyombongkan diri di depan Anda sah-sah saja, bahkan sangat etis, itu karena memang kedudukan Tuhan lebih tinggi dari makhluk. Tuhan mengaku tinggi ya etis-etis saja, malah tambah mantap dan meyakinkan.   Coba kalau Tuhan bersikap “ngasor” pada Anda, misal mengaku, “Aku ini zat yang maha tidak berdaya,” ya bubar semua. Anda mau berdoa minta pertolongan pada-Nya langsung ingat, “Ealah Tuhan tidak berdaya. Buat apa minta tolong pada-Nya.” Bubar semuanya, dan 3 hari kemudian Anda sudah enggan menyembah-Nya.   Sama saja seperti Anda sebagai orang tua ketika hadapi anak Anda yang sedang bandel, sambil geram dan menepuk dada Anda bilang, “Aku ini bapakmu. Harus nurut!” Di situ Anda menyombongkan diri pada anak, tapi sangat etis, sebab memang kedudukan orang tua lebih tinggi dari anak.   Menyombongkan diri itu etis dan tidak berdosa kalau memang sudah di maqamnya; seperti guru pada murid, nabi pada umat, bos pada karyawan, dan seterusnya. Dan justru kesombongan Anda itu makin memantapkan kedudukan Anda, makin mem-brending kedudukan kuat Anda.   Lah iya di depan murid kok “andap asor” mengaku, “Saya ini bodoh, Anak-anak!” Ya bubar semua.   Di depan murid ya harus sombong, misal mengaku, “Saya ini sudah selesai S2 Matematika. Jadi pelajaran matematika di SMA ini sudah betul-betul saya kuasai.” Ini kesombongan diri, tapi luwes dan etis karena guru memang kedudukannya lebih tinggi dari murid.   Anda dengan uang, kedudukannya tinggi mana? Jelas tinggi Anda. Kalau uang kedudukannya lebih tinggi dari Anda, semua keluarga korban Sriwijaya Airlines SJ 182 tidak ada yang berduka karena nyawa keluarganya akan diganti rugi dengan uang.   Jiwa Anda tak bernilai, tidak bisa dikurs dengan mata uang, itu karena Anda berkedudukan jauh lebih tinggi ketimbang uang. Kalau Anda punya uang 10 ribu, mau beli motor baru ya tidak sampai derajat, tidak terbeli. Nah seisi harta bumi dan langit ini tidak mampu beli harga diri jiwa Anda, itu saking tingginya derajat Anda di depan harta.   Sama seperti kedudukan Tuhan di depan hamba-Nya, orang tua di depan anaknya, guru di depan muridnya, kedudukan Anda pada uang itu layak kalau Anda menyombongkan diri pada uang.   Saat disombongi, uang itu malah makin terpikat kepada Anda.   Lah iya, ada bansos dikelurahan saja Anda ngiler, rela sakit hati kalau tidak dapat jatah. Lah iya, dapat kuota gratis subsidi pelajar saja Anda ceritakan ke antero RT saking bangganya. Itu level “ngasor” pada duit.   Duit itu sombongi saja, “Nggak butuh. Saya pinginnya bayar, nggak pingin dikasih. Saya maunya kasih pesangon bukan dapat pesangon,” dan seterusnya. Sombong iya itu sombong tapi itu fitrah kedudukan Anda pada uang.   Hati kok “ngasor” pada duit, “Aku tidak mampu, semoga besok dapat rezeki langit. Aku miskin, semoga bansos cepat-cepat turun.” Model mental begitu ya model masuk anginan pada duit. Rezeki makin seret dan mampet. Pada uang itu yang sombong dengan tegas.   Karena kedudukan derajat Anda yang lebih tinggi dari uang sehingga Anda layak menyombongkan diri, maka level tertinggi pada uang adalah “rasa tidak butuh”.   Ada bansos merasa tidak butuh karena sudah merasa kaya. Ada gratisan, ada zakat fitrah, merasa tidak butuh. Itu kesombongan tapi itu fitrah kedudukan yang sebenarnya.   Rasa tidak butuh itu yang disebut zuhud. Jadi zuhud itu level kesombongan tinggi pada harta dunia.   «اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس، يُـحِبُّكَ النَّاسُ».   “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” (H.R. Ibn Mâjah)   Jadi gemarlah sombong pada uang, uang menyintai Anda. Bukan cuma uang yang cinta, Allah dan orang-orang di sekitar Anda pun akan menyintai Anda.   Sombong yang tidak boleh itu sombong kepada sesama manusia, kalau sombong pada uang ya harus!   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top