JUNI 2023

JUNI 2023

MENAMBAH KUOTA REZEKI

Karena pengalaman membuka live streaming Ngaji Virtual Sp1ritual Prosper1ty di kanal Youtube yang pada saat pembukaan kemarin sangat mengecewakan. Saking kecewanya, videonya saja saya hapus dari channel.   Di antara kendalanya ternyata kurang mumpuninya kuota wi‐fi di rumah saya. Sehingga tadi siang saya ke kantor Indihome Purbalingga untuk naikkan kuota wi‐fi dari 20 Mbps menjadi 50 Mbps. Konon 20 Mbps sudah cepat untuk download, tapi untuk upload masih lambat, sementara live streaming yang dibutuhkan kecepatan upload.   Ingin layanan wi‐fi lebih handal, harus naikan kuota, artinya harus bayar lebih banyak.   Dan hukum tersebut pun berlaku untuk semua ranah hidup, kalau Anda ingin layanan hidup lebih berkualitas, Anda pun harus bayar lebih mahal.   Sebab itu berlaku hukum,   اْلأَجْرُ عَلَى قَدْرِ النَّصَبِ   “Ganjaran sesuai dengan kadar kepayahan.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Keadilan Tuhan menentukan sedikit dan banyaknya pahala yang diberikan kepada orang beramal adalah tergantung kepayahan yang dialami. Ibaratnya orang bekerja, maka upah yang diterima adalah sesuai dengan keringat yang dicucurkan.   Setelah menyelesaikan Umrah, Aisyah R.A mendapat pengarahan dari Rasulullah S.A.W;   أَجْرُكِ عَلَى قَدْرِ نَفَقَتِكِ أَوْ نَصَبِكِ   “Pahalamu sesuai dengan kadar biayamu atau kepayahanmu.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Di sini jelas sekali kalau “biaya” yang dikeluarkan itu merupakan takaran layanan kuota yang layak Anda peroleh. Tidak lebih begitu lah hukum alamnya.   Karena itu yang namanya irit dan pelit itu selamanya akan memampuskan kualitas rezeki yang akan Anda terima, karena irit dan pelit itu artinya berhemat untuk keluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan sedikit, kualitas barang yang diterima juga anjlok, rezeki yang diterima juga tidak berkualitas.   Apalagi cari murah‐meriah, hahaha itu sama saja cari modar rezeki dengan konsisten.   Dan payah lagi ide dapat gratis alias tanpa biaya. Itu ide cerdas untuk makin miskin.   Nah kualitas belanja Anda, nafkah Anda, sedekah Anda, itu semakin tinggi kualitasnya akan menarik rezeki makin handal. Beli sandal jangan di angka 150 ribu terus, bertahap dinaikkan. Isi dapur, isi kamar, isi BBM, dan belanja‐belanja lain bertahap dinaikkan, konsisten dan jangan plin‐plan.   Karena ini Biosolar versus Pertaminadex, Pertalite versus Pertamax Turbo, jelas lebih menderaskan rezeki Pertaminadex dan Pertamax Turbo. Wi‐fi 10 Mbps versus 50 Mbps jelas lebih deraskan rezeki yang 50 Mbps.   Kualitas nafkah kepada anak dan istri juga ditingkatkan, jangan malah makin disempitkan. Sedekah juga begitu, makin hari makin membengkak.   Jebakannya biasanya termakan dogma “sederhana”. Beli sandal sederhana saja, iya sederhana, tapi resikonya kualitas pembiayaan Anda yang turun. Kualitas biaya turun, otomatis kualitas peroleh rezeki juga turun.   Jadi tulisan ini hanya untuk Anda yang berminat naikan kuota rezeki, kalau tidak minat, ya barangkali punya impian hidup sederhana, ya silakan. Itu pilihan.   Tapi kalau pilih sederhana lalu Anda mengeluh kurang duit ya itu namanya bukan lagi hidup sederhana, tapi pilih hidup miskin. Mengeluh itu level miskin.   Nah bukan cuma dengan pengeluaran biaya Anda bisa naikan kuota rezeki, dengan jerih payah juga bisa. Makin besar kapasitas keringat Anda, makin besar pula kualitas rezeki yang akan Anda peroleh.   Hai orang‐orang beriman, bertaubatlah dari irit, pelit, cari murah dan cari gratis!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

RESEP HOKI; BERLATIH MENTAL DI ATAS UANG

Jujur lah ya, saya amati hoki saya dengan uang itu kerap tinggi. Saya kalau jualan kerap peroleh harga tinggi, namun kalau beli kerap dapat harga murah.   Jualan barang, tidak niat ingin jual mahal, eeh dibayar mahal sama orang. Kalau sedang beli, tidak ada niatan saya dapat harga murah, eeh dapatnya harga murah. Urusan-urusan pembayaran juga kerap dipermudah tanpa sengaja. Saya amati asik banget uang itu bersinergi dengan hati saya.   Nah di sini saya mau cerita resepnya punya hoki begitu.   Cerita ini hanya salah satu kejadian saja, yang mungkin Anda bisa ambil subtansinya untuk mengembangkan hoki Anda pada uang.   Di bulan ini saya punya pengalaman menarik biayai wi-fi. Kalau lihat kebutuhan, speed 20 Mbps sudah cukupi kebutuhan online keluarga saya karena cuma dipakai 3 orang. Dulu saya naikkan speed wi-fi rumah sampai 50 Mbps karena masalah lemot ketika live online atau pun video call termasuk untuk Zoom Meeting dan berbagai kebutuhan kelas online. Bahkan ada beberapa live streaming saya yang gagal karena lelet.   Awalnya saya sudah coba ganti smartphone dengan tidak menggunakan smartphone di bawah RAM 8 GB, tujuannya RAM besar jadi prosesor lebih cepat. Smartphone anak istri juga diganti semua, minimal RAM 8 GB.   Diamati tetap masih lelet. Dan akhirnya speed wi-fi dinaikkan 50 Mbps.   Hasilnya? Tetap lelet. Bahkan handphone saya yang Samsung Note 20 Ultra paling bermasalah, kalah sama smartphone anak istri yang pakai merk China-an.   Di situ saya makin sadar kalau uang tidak selamanya bisa selesaikan semua masalah, uang tidak selamanya bisa cukupi kenyamanan kita. Ya uang selamanya tidak bisa selesaikan masalah kita namun lebih bermasalah lagi jika tidak ada uang.   Nah saat tetap lemot jaringan wi-finya, saya bilang pada istri, “Wah IndiHome di sini belum layak dihargai mahal, belum layak dibeli sampai 50 Mbps. Bunda, turunkan speednya ke 20 Mbps lagi,” perintah saya pada istri.   Tapi istri tidak segera merespons turunkan speed wifi, ia tetap merasa nyaman karena smartphone China miliknya lemotnya tidak separah Samsung saya.   Hingga 1 bulan kemudian, e-banking saya sedang error, tidak bisa bayar wi-fi pakai e-banking, istri pun bayar wi-fi di Alfamart. Dia kaget dengan tarifnya, naik drastis. Sampai rumah, istri dengan antusias setujui usulan saya turunkan speed wi-fi.   Di situ saya nyeletuk, “Gak jadi turunkan speed wi-fi. Kemarin saat alasan saya karena kualitas layanan IndiHome belum sepadan dengan harga yang kita bayar, Bunda anteng-anteng saja responsnya, sekarang giliran rasakan tarifnya naik, Bunda dengan antusias turunkan speed. Gak jadi turun!” tegas saya.   Kenapa ketika istri merasakan berat dengan kenaikan tarif wi-fi justru saya batalkan untuk turun speed? Karena kalau alasannya “rasakan berat” dengan tarif, itu artinya alasan mundurnya karena kita kalah mental pada uang. Beda kalau alasannya tidak puas dengan layanan wi-finya, itu bukan soal kalah mental, namun soal lain yang lebih bermartabat.   Rembulan saja nurut terbelah ketika diperintah terbelah oleh Nabi S.A.W. Laut Merah juga nurut terbelah jadi daratan kepada Musa A.S. Wedhus gembel (awan panas) gunung Merapi nurut diperintah oleh Mbah Maridjan untuk masuk lagi ke kawah Merapi dan urungkan diri untuk meletus. Itu semua artinya alam semesta ini diciptakan merunduk pada kehendak perasaan kita.   Harimau buas, ular beracun ganas, ketinggian awan, kedalaman lautan, semua yang ada di alam semesta ini punya fitrah tunduk pada manusia. Harimau buas dan ular ganas jadi jinak pada kepiawaian pawang. Ketinggian awan dan kedalaman lautan, semua tunduk pada tehnologi buatan akal manusia. Bahkan tanpa tehnologi dan skill khusus pun, spiritual manusia kerap mampu tundukkan alam semesta, seperti Nabi Khidir A.S yang konon hidup di dalam air dengan kualitas spiritualnya, dan Nabi Isa A.S yang hidup di langit dengan kualitas spiritualnya.   Iya kan, alam semesta punya bawaan fitrah tunduk kepada Anda? Apalagi rezeki.   Kenapa kita hanya memerintah kepada rezeki agar lancar dan jangan ruwet, kok rezekinya tidak nurut? Rezeki tetap “mbalelo” bikin masalah?   Sebenarnya hal itu karena kita kerap pasang mental di bawah uang. Contohnya seperti kejadian istri saya turunkan speed wi-fi di atas.   Nah kalau Anda berhadapan dengan uang, lalu mental Anda kerap “turun mental” pada uang, ya selamanya Anda jadi obyek bualan uang.   Nah kalau Anda kerap efesienkan uang dengan alasan-alasan “beban finansial berat” ini yang jadikan uang enggan untuk Anda kendalikan. Anda yang mentalnya kerap gerogi hadapi situasi finansial, lalu pilih mundur dari beban berat tersebut itu Anda yang terbaca oleh uang sebagai mental kerupuk uang. Di situ Anda akan terus dikerjai uang, uang jadi enggan nurut dan tunduk kepada Anda. Di mata uang Anda tidak punya martabat.   Sama saja Anda seorang guru yang terbaca polos dan kalahan mentalnya, justru di situ Anda akan disepelekan oleh murid-murid Anda, beda dengan Anda yang terbaca sebagai guru killer, para murid mau menguap di kelas saja punya rasa segan.   Karena itu jangan pernah mundur dari tanggungan finansial dengan alasan “beban finansial”, boleh mundur atau turunkan beban tapi harus dengan alasan selain alasan “beban berat finansial”. Seperti saya, mau mundur dari speed wi-fi 50 Mbps karena alasan “layanan IndiHome di daerah saya yang belum layak dihargai 50 Mbps, tapi ketika istri mendukung penurunan speed tapi karena alasan tarifnya naik dan terasa berat, justru saya batalkan sekalian niat turunkan speed. Saya biarkan di speed 50 Mbps untuk memberi training mental pada istri. Gampang kalau nanti mental istri sudah rasakan enteng-enteng saja bayar 50 Mbps, mungkin baru akan saya turunkan.   Tidak apa-apa turunkan beban finansial tapi hindari karena alasan-alasan beban finansial agar diri Anda bermartabat di depan uang, tidak nyampah di hadapan uang. Kalau alasan-alasannya seperti alasan pendidikan, misal kasih uang pesangon sekolah anak diturunkan agar anak tidak manja, atau alasan spiritual seperti Anda irit jajan agar bisa banyak sedekah, dan lain-lain, alasan-alasan seperti itu tidak masalah, sebab alam semesta ini mengeksekusi getaran niat Anda, artinya kesadaran Anda di mana, di situ alam semesta berikan respons nyata.   Nah kenapa hoki rezeki saya kerap tinggi? Jawabnya di sini, saya kerap jaga martabat saya di depan uang, saya tidak cengeng “turunkan beban finansial” hanya karena alasan “biaya terasa berat”.   Dengan menjaga diri dari mental kerupuk

JUNI 2023

AWAS TENGGELAM DALAM KESALEHAN SPIRITUAL DI DALAM DAGANG

Apapun yang jarang digunakan justru mudah rusak. Motor, mobil, laptop, handphone, rumah tidak dihuni, semua justru lekas rusak.   Sebabnya sederhana karena ketika jarang dipakai artinya barang-barang tersebut jarang diberi atensi oleh perasaan Anda.   Itulah dahsyatnya perasaan Anda pengaruhi prilaku alam semesta. Perasaan Anda itu sakti mandraguna.   Bisnis Anda juga demikian, kalau tidak Anda beri atensi dari jiwa dagang Anda, dagangan Anda juga akan penyok-penyok.   Saya banyak kenal pengusaha menengah ke atas, nah ada juga yang mereka gulung tikar karena beri atensi terlalu tinggi pada spiritual sehingga kalahkan atensinya pada prinsip-prinsip bisnis.   Contoh kasusnya begini, menggaji karyawan sangat tinggi, melesat naik jauh dari UMR, karena perasaannya dipicu kuat oleh rasa berbagi, rasa berlimpah dan rasa ingin bahagiakan orang lain. Ini jelas terpicu rasa spiritual dalam dagang.   Spiritual dalam dagang itulah yang menyetok kebahagiaan dan kemuliaan Anda, karena dunia spiritual adalah dunia ketenangan, memaafkan, tepa selira, cinta kasih, kedamaian dan nilai-nilai kelembutan lainnya. Kalau Anda ingin dapatkan respons hidup yang penuh bahagia, damai dan cinta, ya Anda harus berikan atensi yang kuat pada spiritual.   Hanya saja dunia spiritual itu lawan ekstrem dari dunia dagang, rasa spiritual juga lawan ekstrem rasa dagang.   Iya, dagang itu dunia “cari untung diri sendiri” sehingga sedikit sekali rasa toleransinya, selisih 500 perak saja bisa jadi pertimbangan vital “jadi beli atau tidak”. Ketika si penjual sedang bisa untung sebesar-besarnya itu kalau diketahui si pembeli akan sangat menyakitkan hatinya, ketika si pembeli dapat harga semurah-murahnya itu akan sangat mengecewakan si penjual.   Dunia dagang sedikit sekali toleransinya. Coba dijual beli online, mentang-mentang yang butuh barangnya itu si pembeli, si pembeli sudah diambil duitnya untuk keuntungan si penjual, sudah begitu ongkir disuruh bayar sendiri. Egois sekali, kan?   Nanti kalau si pembeli merasa kecewa karena ada sedikit cacat di layanan atau cacat di barangnya, si pembeli seenaknya nyinyir, tidak sedikit yang mencaci-maki. Dunia dagang itu jauh dari rasa santun, kecuali santun agar dapatkan keuntungan diri.   Karena cari untung diri yang berarti egoisme, dagang itu dituntut untuk sangat kreatif, harga 100 ribu saja dikreatifi 99,9 ribu. Emang kreatif enak? Jelas kreatif itu pegal.   Karena itu dunia dagang ya dunia kebencian, egoisme, saling tuntut, pertengkaran, dendam, melelahkan dan kebisingan hidup lainnya.   Karena itu pedagang culas nanti ketika bangkit di hari kiamat ia berstatus penjahat.   إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ   “Sesungguhnya para pedagang dibangkitkan pada hari kiamat sebagai penjahat, kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur”. (H.R. Tirmidzi)   Karena itu pula kalau obsesi hati Anda sangat kuat jiwa dagangnya, dan tidak berimbang dalam kontrol spiritual, Anda akan sangat dibenci orang lain, bikin hati banyak orang menjadi geram. Berkah hidup sedikit jika jiwa didominasi kuat oleh hanya jiwa dagang.   Tapi etis kah andai Anda cari kekayaan diri dengan sedekah? Anda sedekah lalu niatkan kuat-kuat agar kembali 100 kali lipat, etis kah? Tidak. Itu sama saja lintah darat spiritual, sedekah kok dibisniskan.   Artinya dari dunia dagang lah cara paling etis untuk cari kekayaan diri, cari untung diri, ketika Anda cari untung diri tapi dari dunia spiritual itu Anda jadi pecundang Tuhan.   Kesimpulannya, mau kaya ya dagang, mau cinta dan berkah ya spiritual.   Nah ketika Anda terlalu kuat dalam atensi nilai-nilai spiritual sampai kendur dalam atensi dagang, di situ Anda dihargai, dicintai dan hidup damai sejahtera, tapi itu bisnis Anda bisa penyok-penyok.   Kenapa? Karena dagang pun harus profesional diberi atensi dagang. Sementara atensi dagang ya atensi cari untung sendiri alias atensi serakah. Atensi serakah apa bedanya dengan tegaan? Ya begitulah dunia dagang, sebuah dunia versusme spiritual.   Nah di bulan-bulan ini saya beberapa kali bertemu dengan para pebisnis yang omsetnya sedang turun drastis, dan saya teliti kasus mereka intinya sama, mereka terlalu kuat atensi spiritualnya sehingga melemahkan atensi dagangnya. Ada yang kalau menggaji karyawan sangat tinggi demi rasa sadar memberlimpahi orang lain, ada yang tidak mau hitung-hitungan marketing demi rasa sadar tidak mau berhitung dengan rezeki Tuhan, ada yang tidak tegaan ketika negosiasi, ada yang kalau sedekah gila-gilaan demi sadar rasa kayanya sampai-sampai tidak mengukur kekuatan finansialnya, dan seterusnya.   Yang jelas jangan tenggelam dalam kesalehan spiritual kalau Anda ingin eksis dagangannya. Kalau dagang ya dagang, dalam dagang ya harus berani komitmen “cari untung dan cari kaya”.   Betul kelakuan dagang begitu berkahnya sedikit, tapi kalau memang ingin eksis bisnisnya ya harus begitu, harus profesional berjiwa dan beratensi pedagang.   Setelah duitnya jadi milik Anda melalui mekanisme untung dagang, baru kemudian di luar dagang Anda yang dermawan dan murah hati.   يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الشَّيْطَانَ وَالإِثْمَ يَحْضُرَانِ الْبَيْعَ فَشُوبُوا بَيْعَكُمْ بِالصَّدَقَةِ ‏”   “Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa selalu hadir dalam jual beli, karenanya iringilah jual belimu dengan banyak-banyak bersedekah”. (H.R. Tirmidzi)   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

SUSU BERUANG; KATA SIAPA SEHAT HARUS LOGIS DAN ILMIAH

Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dikisahkan, dalam suatu perjalanan, beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah SAW hendak pergi dan mampir ke suatu kampung di negeri Arab. Para sahabat Rasulullah SAW berharap agar penduduk kampung itu mau menerima mereka sebagai tamu.   Ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka sebagai tamu. Justru , salah satu dari mereka ada yang meminta pertolongan. “Apakah di antara kalian ini ada yang bisa mengobati? Penghulu kampung kami terkena sengatan binatang.” Lalu salah seorang dari para sahabat menjawab, “Ya, ada.”   Salah seorang sahabat tersebut kemudian menemui penghulu kampung dan mengobati dengan membacakan surat Al Fatihah. Tidak lama kemudian lelaki penghulu kampung tersebut ternyata benar benar sembuh. Sebagai tanda terima kasih , sahabat tersebut diberi beberapa ekor kambing. Sahabat itu belum bisa menerima pemberian tersebut sebelum menanyakan dan menyampaikannya terlebih dahulu kepada Rasulullah SAW. Sahabat itupun pulang dan menemui Rasulullah SAW.   Setiba di kota tempat tinggal Baginda Rasulullah SAW, sahabat tersebut bercerita tentang kejadian di kampung tersebut, kemudian sahabat itu berkata, “Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya meruqyah dengan surat Al-Fatihah,” Mendengar kata kata itu, Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda, “Taukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan Ruqyah.” Kemudian Baginda bersabda lagi, “Ambilah pemberian dari mereka dan pastikah aku mendapatkan bagian bersama kalian.”   Kesembuhan penyakit itu bukan persoalan ilmiah layaknya matematika, jadi tidak layak diukur dengan ilmu-ilmu medis. Lah cuma bacaan surat Al-Fatihah, secara ilmiah apa hubungannya dengan racun Kalajengking yang ganas, apa dalam surat Al-Fatihah ada unsur-unsur kimiawinya yang bisa menetralisir racun Kalajengking?   Seorang yang berobat itu lebih dominan didorong oleh sugesti keyakinannya sendiri. Saya tinggal di kecamatan Bukateja, Purbalingga, di depan rumah saya ada dokter yang buka praktek umum, tapi kalau sakit saya pilih berobat ke dokter di tetangga kecamatan yakni kecamatan Kutawis, Purbalingga. Dan yang aneh, dokter umum tetangga saya itu pasiennya kebanyakan dari kecamatan Kutawis, bukan dari tetangganya sendiri. Yang di Bukateja berobat ke Kutawis, yang di Kutawis berobat ke Bukateja.   Aneh kan? Itu karena sugesti keyakinan umumnya orang, berobat dengan dokter tetangga sendiri rasanya tidak mantap dan tidak meyakinkan sehingga cenderung mencari dokter yang lebih jauh.   Nah surat Al-Fatihah itu, dalam Islam, doktrin keistimewaannya sangat meyakinkan, fadilah-fadilahnya di-brending sangat luar biasa. Keyakinan umat tentang fadilah surat Al-Fatihah itulah yang kemudian Al-Fatihah mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Hanya dengan media air putih, Al-Fatihah kerap mengatasi penyakit umat. Makanya dalam hadits shahih di atas, seorang penghulu suku sembuh dari racun Kalajengking hanya dengan bacaan Al-Fatihah seorang sahabat.   Ibu saya, 2 bulan lalu lemah jantungnya kumat. Diobati dokter secara ilmiah belum juga sembuh. Eeh berobat ke dukun Jawa, seorang janda tua, katanya ibu saya kesambet (diguna-guna setan) saat memetik tanaman Serai di kebun. Cuma dikasih ramuan tanaman Dringo Bengle dengan doa-doa tertentu, ibu saya sehat.   Nah kan, sembuh itu tidak harus logis dan ilmiah? Sugesti keyakinan si pasien dan si tabib, itu yang lebih sering jadi pelantara kesembuhan.   Viral susu Beruang sembuhkan Covid-19, apa yang salah? Kenapa ditertawakan? Emang sembuh dari Covid-19 itu hak paten WHO dan ilmu medis, kenapa sembuh dari Covid-19 harus pakai standar keilmuan mereka?   Mungkin benar kandungan Susu Beruang tidak ada unsur herbal ataupun unsur kimiawi yang bisa netralkan pengaruh virus Covid-19, tapi kalau memang masyarakat dapatkan belief yang meyakinkan kalau Susu Beruang itu bisa menyembuhkan dari Covid-19, ya sangat mungkin sembuh.   Belief yang meyakinkan tersebut bisa saja muncul hanya dari cerita tetangga, cerira teman, tapi kalau memang diyakini betulan, itu yang akan mensugesti untuk sembuh. Sama saja Surat Al-Fatihah, karena doktrin fadilah Al-Fatihah sangat kuat dalam agama Islam, ya sudah jadi realita dan bukti nyata kalau Al-Fatihah banyak atasi masalah kesehatan masyarakat.   Jadi Anda yang yakin dan mantap Susu Beruang itu sembuhkan dari Covid-19, ayo borong! Borong! Nggak usah urus nyinyiran netizan yang sok ilmiah. Bisa saja kok vaksinasi Covid-19 tidak berguna bagi kesehatan Anda, tapi Susu Beruang justru yang jadi jodoh sehatnya Anda.   Sembuh itu milik Tuhan. Sembuhnya penyakit tidak harus ilmiah, sembuhnya penyakit karena jodoh-jodohan. Siapa tahu jodoh kesembuhan Anda ada di Susu Beruang. Borong!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

SABU N.R ; INI LHO TRAUMANYA ORANG KAYA

Setiap orang punya kesumpekannya masing-masing, ada yang tidak kunjung punya keturunan, ada yang bentrok terus dengan mertua, ada yang punya pasangan nikah galak, ada yang dimusuhi tetangga, ada yang tak kunjung temukan jodoh, ada yang anaknya bandel, dan seterusnya.   Nah kesumpekan-kesumpekan hidup tersebut sebenarnya protein hidup Anda, kalau Anda ada kekurangan di stok “sumpek”, hidup Anda akhirnya oleng juga.   Anda tidak dapat mengingkari sedikitpun jika di dalam kesadaran Anda itu ada elemen spiritual yang memang secara fitrah terinstall dalam tubuh. Karena ini siapapun jantungnya akan berdenyut keras dan berdebar ketika akan lakukan perbuatan dosa. Mau mencuri misalkan, bukan cuma jantung berdebar keras, tangan dan kaki juga kadang gemetar, itu tanda elemen spiritual dalam diri Anda sedang aktif bekerja.   Anda kalau dihadang hantu pocong akan dengan antusias mengingat Tuhan, doa yang panjang-panjang, dari istighfar, takbir hingga Ayat Al-Kursiy, akan Anda baca. Kenapa demikian, karena di saat Anda dihadang hantu pocong, ego Anda melemah, seketika kesadaran Anda mengingat Tuhan.   Karena ini Anda tidak dapat menafikan adanya kesumpekan hidup, sebab kesumpekan hidup tersebut sebenarnya server spiritual agar Anda terkontrol mengingat-Nya.   Maka kalau Tuhan mengasihi Anda, Dia tanpa segan menurunkan kesumpekan dalam hidup Anda, di situ Anda harus bersyukur, karena kesumpekan itu sebenarnya kontrol-Nya agar Anda tetap stabil.   إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ   “Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka.” (H.R. Ath-Thabrani)   Tapi mohon, Anda baca ini jangan kemudian jadi keyakinan kalau Anda ingin punya spiritual tinggi itu artinya Anda harus menerima ujian bertubi-tubi. Tidak. Orang dapat ujian besar lalu berakhir depresi dan stres juga banyak kan? Diuji berat boro-boro jadi punya spiritual kokoh tapi malah bunuh diri, banyak kan?   Apapun karena adanya rahmat Allah, spiritual tinggi pun bukan karena level ujian tinggi, lebih dari itu adalah karena rahmat Allah. Maka itu kalau ingin punya spiritual tinggi mohonlah rahmat Allah jangan memohon ujian besar.   Nah di sini, trauma pikiran bawah sadar orang kaya biasanya di masalah kurang stok kesumpekan hidup.   Saya sudah hadapi ratusan klien terapi sp1ritual prosper1ty. Biasanya orang kaya akan alami mual perut, atau sakit kepala, atau reaksi tidak nyaman lainnya saat saya sugesti untuk menyebut nama Tuhan. Disuruh sebut “Allah” malah muntah.   Saya sudah paham kalau kasusnya begitu biasanya ada 2 masalah; pertama hidupnya kurang stok kesumpekan, atau kedua pernah lakukan dosa besar.   Pertama, kurang stok kesumpekan hidup.   Lah hidup kok perlu stok kesumpekan? Iya, dengan value dihadang pocong di atas, artinya hidup Anda perlu dapat tekanan ego agar Anda mau mengingat-Nya.   Orang kaya itu traumanya berbeda dengan orang miskin. Kalau orang miskin traumanya soal prosper1ty finansial, mau beli terasi saja masih mikir dapat harga miring, itu artinya pikiran bawah sadarnya cenderung selera pada keprihatinan.   Nah kalau orang kaya traumanya terbalik. Mereka itu orang yang seleranya hidup senang. Kalau kelahi biasa menang, tidak mengenal kalah. Kalau belanja selera yang branded karena punya uang. Kalau makan selera yang enak tidak kenal prihatin. Libido seks mereka kuat. Maunya senang, senang, dan senang. Pikiran bawah sadar mereka lebih berminat pada keglamouran.   Makanya ada orang kaya yang cuma mengupas kulit Salak saja bisa tidak sanggup, lalu viral dan heboh, itu karena pikiran bawah sadarnya memang menolak keras terima penderitaan.   Sementara kesenangan di alam dunia ini ujung-ujungnya membosankan. Kalau tidak percaya, sikakan Anda “jor-joran” dalam satu pola turuti nafsu. Misal nonton bokep, turuti terus nonton bokep, lama-lama bosan dan tidak menarik lagi.   Ketika sudah bosan, nafsu Anda akan meminta lainnya lagi. Lainnya sudah “jor-joran” senang, jenuh lagi, bosan lagi. Berakhir menagih sabu dan narkoba karena betul-betul mereka ingin senang terus, tidak mau menderita, tapi sudah bingung mau senang dengan cara apa lagi?   Kalau alasannya memakai Sabu karena stres tekanan pandemi dan kerjaan banyak, ya namanya juga alasan, tapi hakikatnya itu traumanya orang kaya memang begitu, pikiran bawah sadarnya hanya selera pada kesenangan dan kenikmatan.   Biasanya ada tanda-tandanya kalau Anda mau jadi orang yang mudah kaya, mudah beruntung, mudah enak hidupnya, tandanya tubuh Anda dari kecil jarang sakit, nafsu makan dan nafsu seks sejak kecil juga kuat, dan orangnya sejak kecil “menangan”. Kalau Anda sejak kecil punya tanda-tanda itu artinya Anda mudah menarik keglamouran, harta, tahta, dan wanita.   Minusnya pikiran bawah sadar Anda jadi antipati pada keprihatinan hidup, Anda antipati pada makna “mati”, karena di dalam mati itu pusat pesakitan.   Jika pada mati Anda sudah antipati, padahal mati adalah suntansi spiritual, di dalam mati semua makhluk kembali pada Penciptanya, efeknya di dalam hidup ini Anda menolak mengingat-Nya. Disebutkan nama Allah saja Anda bisa mual-mual dan muntah.   Pada kasus orang yang demikian saya selalu sarankan untuk jalani puasa Daud atau minimal gemar puasa, karena titik masalahnya adalah kurang stok keprihatinan alias kurang stok mati. Puasa itu laku prihatin, cocok untuk mereka.   Nabi Daud A.S. punya karakter begitu. Nafsu seksnya besar, beliau berkebutuhan istri sampai 100 wanita. Dalam setiap pertarungan beluau mudah memenangkan, otot dan emosinya kuat sehingga ia punya kuasa politik penuh. Harta juga melimpah-limpah. Dan agar beliau stabil beliau dengan sadar diri lakukan ritual puasa Daud dengan sehari puasa dan sehari libur. Di malam hari pun beliau bangun malam di sepertiga akhir malam. Hasilnya beliau harmoni.   Maka ini Anda yang sudah kaya dengan sedikit kesumpekan hidup, Anda harus dengan sadar untuk prihatinkan diri, bisa dengan puasa, bangun di sepertiga malam, menjadi vegan, dan seterusnya.   Ini berbeda dengan Anda yang sudah kaya tapi Anda tetap dituruni kesumpekan hidup dari-Nya, semisal sudah kaya tapi masih direndahkan mertua, sudah kaya tapi masih belum punya keturunan, sudah kaya tapi punya anak susah diatur, dan lain-lain, itu artinya pikiran bawah sadar tidak alami trauma pada kematian, sehingga Anda masih dikontrol langsung oleh-Nya.   Namun kalau tidak dituruni kesumpekan hidup, itu artinya Anda kalau ingin tetap stabil harmoni harus dengan sadar melakoni laku prihatin hidup seperti puasa, vegan, ngerowot, dan lain-lain. Kalau tidak mau dengan sadar lakoni laku prohatin ya ujung-ujungnya nyabu.   Trauma kedua karena biasanya pernah lakukan dosa besar. Item ini tidak minat saya kupas karena tulisannya sudah terlalu panjang.

JUNI 2023

UV SPIRITUAL; KALAU ANDA KURANG PANAS

Saya pernah dalam beberapa waktu memosisikan diri sebagai orang “ngalahan” dan “neriman” pada seseorang. Ya karena terbaut etika sosial, posisinya saya harus mengalah dan “neriman”.   Dalam jangka waktu tahunan, saya direndahkan, menerima saja. Dikucilkan, menerima. Disuruh-suruh, menurut saja. Dimanfaatkan, legawa saja. Ya kelakuan orang “neriman”.   Karena terlatih “neriman” dengan orang tersebut, emosi saya jinak juga, kemampuan hati saya menerima tekanan jadi meluas. Aturan normal sudah tersinggung dan sakit hati, eeh hati saya masih legawa menerima perlakuan buruk tersebut.   Testing sidik jari saya itu kecerdasan optimal saya pada feeling. Perasaan saya tajam, bahkan mengunduh ilmu pun saya pakai perasaan. Makanya Anda akan susah temukan rujukan tulisan-tulisan saya, karena ilmu saya mengalir dari perasaan, bukan otak dari hasil bacaan dan proses belajar-mengajar.   Efek buruknya, karena cerdas feeling, kalau saya jatuh cinta jadi susah move on, ya sekali jatuh cinta jadi mirip perasaan Majnun pada Laela. Dan sekali dendam juga mengendap sangat lama. Kadang saya kaget dan mengelus dada sendiri, orang yang melukai saya 30 tahun silam, ketika saya bertemu dengannya rasa dendamnya masih muncul di hati. Ya begitu negatifnya orang dengan kecerdasan feeling.   Saya yang cerdas feeling dengan dendam kesumat besar, lalu membiasakan diri “neriman” pada kelakukan buruk seseorang, itu saja hati saya bisa jinak, apalagi Anda yang kecerdasannya thinking, instuiting, sensing, ataupun cerdas insting, tentu lebih mudah menjinakan.   Nah pada tekanam frekuensi tertentu segala hal mesti ada batasnya, termasuk kemampuan diri saya untuk “neriman” pada orang tersebut. Ya maklum saya menjalani itu semua sudah tahunan.   Satu ketika perlakuan buruknya menjadi, dan batas “neriman” sudah mentok, ketersinggungan saya ke titik klimaks.   Di situ saya yang awalnya takut kualat karena melawannya secara etika sosial berarti saya kurang ajar dan cari kualat. Ujung-ujungnya saya melawan juga, berontak.   Saya melawan dengan secara konsisten dalam 3 bulan tidak pernah menyapanya dan selalu pasang vibrasi hati beringas padanya. Kalau saya sefang jengkel, tanpa sungkan saya mengolok-olok di belakang dengan sadis. Waktu itu “inyong kaya asu pokoken”.   Hasilnya saya keheranan sendiri karena malahan rezeki saya jadi membludak-bludak, penghasilan finansial saya naik drastis. Aneh, kan? Di hati saya khawatir kualat, malah sebaliknya rezeki naik drastis? Satu pengalaman hidup yang sepertinya tidak diajarkan dalam kitab spiritual yang lembut-lembut penuh damai.   UV atau ultraviolet sinar matahari barangkali itu sumber radiasi panas, efek buruknya ada, tapi manfaatnya juga terlampau besar untuk kehidupan.   Vitamin D dari ultraviolet sinar matahari diperlukan untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor di usus, sehingga dapat memperkuat tulang, gigi, serta otot. Tidak hanya itu, vitamin D juga dapat membantu mencegah berbagai penyakit, seperti rakitis, osteoporosis, hipertensi, diabetes tipe 1 dan 2, serta multiple sclerosis.   Vitamin D juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Saat terpapar sinar UV, tubuh akan menghasilkan lebih banyak sel darah putih yang berfungsi sebagai perlindungan tubuh. Sel darah putih memegang peranan penting dalam melawan berbagai penyebab infeksi. Dan sinar UV juga memperbaiki kualitas tidur.   Itu baru pada tubuh manusia. Belum lagi pada hewan. Klorofil pada tumbuhan juga terproduksi dari pemanfaatan sinar UV.   Sudah lebih dari 10 bonsai Ficus dari berbagai varian, mati mengering lantaran ditaruh di tempat teduh tanpa paparan sinar matahari full dan tidak terkontrol baik. Artinya terlalu teduh, sejuk, damai, spoi, semilir, dingin, itu pun mematikan sistem hidup.   Di situ saya jadi sadar, “Ooh selama ini saya neriman dan ngalahan itu hidup saya seperti bonsai Ficus yang terlalu sejuk, teduh dan dingin. Saya kurang panas sinar UV,” begitu pemahaman saya.   “Pantas, saya berani mengamuk, arogan dan bengis pada si oknum, malahan rezeki saya naik drastis, penghasilan saya meningkat, karena ternyata hidup saya selama ini kurang panas UV, hidup saya kurang bisa berfotosintesis dengan sehat.”   Anda terlalu lembut, santun, legawa hati, ngalahan, nerimanan, bisa jadi itu adalah penghambat kelancaran rezeki Anda.   Hahaha ilmu apa ini? Waras enggak sih saya? Wkkk.   Ya Anda amati saja lah, model orang “nerimanan” dan “ngalahan” itu kebanyakan karakternya orang lemah, bukan katakternya orang bijak.   Orang lemah tentu energi hidupnya untuk menarik rezeki juga lemah. Rezeki lemah ya itu artinya miskin harta, tapi bukan miskin hati ya?   Beda dengan karakternya orang kuat, maunya berkuasa, menang, menjaga prestise diri kuat-kuat, mengontrol dan mengendalikan, dan seterusnya, di mana karakter-karakter itu adalah karakter-karakter sinar panas UV.   Intinya “ngalahan” dan “nerimanan” karena bijak itu yang dimaksud dalam ajaran spiritual, bukan “ngalahan” dan “nerimanan” karena lemah.   Petuah Jawa bilang, “Ngalah. Ngalih. Ngamuk”. “Ngalah” dan “ngalih” itu sejuk, tapi sampai pada “ngamuk” itu panas sinar UV.   Nah tinggal Anda cek ke dalam diri. Kalau Anda santun, lemah-lembut, pemaaf, legawaan hatinya, tapi ternyata rezeki Anda seret terus, itu artinya Anda kekurangan paparan panas sinar UV. Ya Anda perlu latihan galak.   Sebaliknya kalau Anda sudah galak, beringas, ngamukan, eeh ternyata rezeki Anda seret, itu artinya Anda mulai mengindap kanker kulit akibat radiasi sinar UV, saat itu waktunya Anda menyejukan dan mendamaikan diri.   Orang bijak yang membawa rezeki baik untuk hidupnya itu bukan orang “ngalahan” dan “nerimaan” karena lemah, namun yang,   مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ   “Muhammad utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya adalah mereka yang keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Q.S. Al-Fath : 29)   Nah kan orang-orang yang bersama Muhammad S.A.W itu orang-orang yang pandai “ngamukan” tapi tahu situasi dan kondisi? Mereka sejuk pada tempat dan kondisinya, mereka panas juga tahu tempat dan kondisinya.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

Scroll to Top