Seperti apa menyakitkannya di hati
bahkan bisa jadi trauma dan dendam seumur-umur, mereka anak-anak kecil disuruh
mengemis di lampu merah, disuruh merendahkan dirinya minta belas kasihan.
Tentu betapa sakitnya hati mereka,
karena di luar sana anak-anak sebayanya terima kemuliaan dari orang tuanya, ada
yang sedang travelling luar negeri, ada yang sedang umrah, ada yang sudah
terima fasilitas hidup terbaik, sebab orang tuanya memilih kekayaan sebagai
pilihan hidupnya.
Atau anak masih bayi sudah dibawa
kesana-kemari sebagai alat orang tuanya minta-minta belas kasihan orang.
Atau anak ketika kecil pingin
jajan saja dipelototi boros, sedikit nakal diancam-ancam, sesudah gede
diwajibkan kerja keras agar setor uang bulanan.
Atau istri kerepotan harus banting
tulang sambil susui anak karena tidak kecukupan.
Atau keluarga sakit-sakitan tetapi
tidak diobatkan karena tak ada biaya, akhirnya hanya mengandalkan Paramex dan
Bodrex sebagai obat harian.
Atau anak gadis dipaksa nikah dini
agar orang tua segera lepas dari tanggung jawab nafkah.
Atau anak-anak terpaksa putus
sekolah karena terbatasi biaya, bergaul dengan teman-temannya pun dia minder,
karena teman sebayanya masih sekolah, sementara dia sudah harus kerja.
Saya dan Anda dan banyak manusia
yang alami salah satu efek keniskinan seperti di atas, kan? Bukankah
menyakitkan sekali?
Sampai tua bisa trenyuh bahkan
bisa hingga reteskan air mata ketika mengingat peristiwa-peristiwa menyayat
tersebut.
Coba Anda ingat-ingat,
menyakitkan, kan?
Itu semua petunjuk bahwa miskin
itu sebenarnya jahat. Jahat secara kemanusiaan walaupun itu bukan kriminal.
Sejahat itu masih banyak orang
punya mindsett kalau miskin adalah jalan ekstra masuk surga. Atau malah
berpikir, “Sudahlah, kemiskinan itu tidak perlu diubah, itu adalah ladang
pahala bagi yang mengalaminya.”
Atau berpikir, “Menjadi kaya
itu banyak hisab nanti di akhirat.
Kenapa kita tidak menerima apa adanya dan kenapa harus berambisi kejar-kejar
harta?”
Cobalah yang punya mindsett bahwa
kemiskinan itu adalah kesalehan spiritual, renungkan betapa jahatnya
kemiskinan.
Lah kok semenyakitkan itu narasi
kalimatnya? Ya agar Anda terluka dan tercambuk lalu berubah pola berpikirnya,
kemudian bertekad bangkit.
Muhammad Nurul
Banan
Gus Banan
Spiritual Prosperity

Leave a Reply