Author name: gus banan

JUNI 2023

AWAS TENGGELAM DALAM KESALEHAN SPIRITUAL DI DALAM DAGANG

Apapun yang jarang digunakan justru mudah rusak. Motor, mobil, laptop, handphone, rumah tidak dihuni, semua justru lekas rusak.   Sebabnya sederhana karena ketika jarang dipakai artinya barang-barang tersebut jarang diberi atensi oleh perasaan Anda.   Itulah dahsyatnya perasaan Anda pengaruhi prilaku alam semesta. Perasaan Anda itu sakti mandraguna.   Bisnis Anda juga demikian, kalau tidak Anda beri atensi dari jiwa dagang Anda, dagangan Anda juga akan penyok-penyok.   Saya banyak kenal pengusaha menengah ke atas, nah ada juga yang mereka gulung tikar karena beri atensi terlalu tinggi pada spiritual sehingga kalahkan atensinya pada prinsip-prinsip bisnis.   Contoh kasusnya begini, menggaji karyawan sangat tinggi, melesat naik jauh dari UMR, karena perasaannya dipicu kuat oleh rasa berbagi, rasa berlimpah dan rasa ingin bahagiakan orang lain. Ini jelas terpicu rasa spiritual dalam dagang.   Spiritual dalam dagang itulah yang menyetok kebahagiaan dan kemuliaan Anda, karena dunia spiritual adalah dunia ketenangan, memaafkan, tepa selira, cinta kasih, kedamaian dan nilai-nilai kelembutan lainnya. Kalau Anda ingin dapatkan respons hidup yang penuh bahagia, damai dan cinta, ya Anda harus berikan atensi yang kuat pada spiritual.   Hanya saja dunia spiritual itu lawan ekstrem dari dunia dagang, rasa spiritual juga lawan ekstrem rasa dagang.   Iya, dagang itu dunia “cari untung diri sendiri” sehingga sedikit sekali rasa toleransinya, selisih 500 perak saja bisa jadi pertimbangan vital “jadi beli atau tidak”. Ketika si penjual sedang bisa untung sebesar-besarnya itu kalau diketahui si pembeli akan sangat menyakitkan hatinya, ketika si pembeli dapat harga semurah-murahnya itu akan sangat mengecewakan si penjual.   Dunia dagang sedikit sekali toleransinya. Coba dijual beli online, mentang-mentang yang butuh barangnya itu si pembeli, si pembeli sudah diambil duitnya untuk keuntungan si penjual, sudah begitu ongkir disuruh bayar sendiri. Egois sekali, kan?   Nanti kalau si pembeli merasa kecewa karena ada sedikit cacat di layanan atau cacat di barangnya, si pembeli seenaknya nyinyir, tidak sedikit yang mencaci-maki. Dunia dagang itu jauh dari rasa santun, kecuali santun agar dapatkan keuntungan diri.   Karena cari untung diri yang berarti egoisme, dagang itu dituntut untuk sangat kreatif, harga 100 ribu saja dikreatifi 99,9 ribu. Emang kreatif enak? Jelas kreatif itu pegal.   Karena itu dunia dagang ya dunia kebencian, egoisme, saling tuntut, pertengkaran, dendam, melelahkan dan kebisingan hidup lainnya.   Karena itu pedagang culas nanti ketika bangkit di hari kiamat ia berstatus penjahat.   إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ   “Sesungguhnya para pedagang dibangkitkan pada hari kiamat sebagai penjahat, kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur”. (H.R. Tirmidzi)   Karena itu pula kalau obsesi hati Anda sangat kuat jiwa dagangnya, dan tidak berimbang dalam kontrol spiritual, Anda akan sangat dibenci orang lain, bikin hati banyak orang menjadi geram. Berkah hidup sedikit jika jiwa didominasi kuat oleh hanya jiwa dagang.   Tapi etis kah andai Anda cari kekayaan diri dengan sedekah? Anda sedekah lalu niatkan kuat-kuat agar kembali 100 kali lipat, etis kah? Tidak. Itu sama saja lintah darat spiritual, sedekah kok dibisniskan.   Artinya dari dunia dagang lah cara paling etis untuk cari kekayaan diri, cari untung diri, ketika Anda cari untung diri tapi dari dunia spiritual itu Anda jadi pecundang Tuhan.   Kesimpulannya, mau kaya ya dagang, mau cinta dan berkah ya spiritual.   Nah ketika Anda terlalu kuat dalam atensi nilai-nilai spiritual sampai kendur dalam atensi dagang, di situ Anda dihargai, dicintai dan hidup damai sejahtera, tapi itu bisnis Anda bisa penyok-penyok.   Kenapa? Karena dagang pun harus profesional diberi atensi dagang. Sementara atensi dagang ya atensi cari untung sendiri alias atensi serakah. Atensi serakah apa bedanya dengan tegaan? Ya begitulah dunia dagang, sebuah dunia versusme spiritual.   Nah di bulan-bulan ini saya beberapa kali bertemu dengan para pebisnis yang omsetnya sedang turun drastis, dan saya teliti kasus mereka intinya sama, mereka terlalu kuat atensi spiritualnya sehingga melemahkan atensi dagangnya. Ada yang kalau menggaji karyawan sangat tinggi demi rasa sadar memberlimpahi orang lain, ada yang tidak mau hitung-hitungan marketing demi rasa sadar tidak mau berhitung dengan rezeki Tuhan, ada yang tidak tegaan ketika negosiasi, ada yang kalau sedekah gila-gilaan demi sadar rasa kayanya sampai-sampai tidak mengukur kekuatan finansialnya, dan seterusnya.   Yang jelas jangan tenggelam dalam kesalehan spiritual kalau Anda ingin eksis dagangannya. Kalau dagang ya dagang, dalam dagang ya harus berani komitmen “cari untung dan cari kaya”.   Betul kelakuan dagang begitu berkahnya sedikit, tapi kalau memang ingin eksis bisnisnya ya harus begitu, harus profesional berjiwa dan beratensi pedagang.   Setelah duitnya jadi milik Anda melalui mekanisme untung dagang, baru kemudian di luar dagang Anda yang dermawan dan murah hati.   يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الشَّيْطَانَ وَالإِثْمَ يَحْضُرَانِ الْبَيْعَ فَشُوبُوا بَيْعَكُمْ بِالصَّدَقَةِ ‏”   “Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa selalu hadir dalam jual beli, karenanya iringilah jual belimu dengan banyak-banyak bersedekah”. (H.R. Tirmidzi)   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

SUSU BERUANG; KATA SIAPA SEHAT HARUS LOGIS DAN ILMIAH

Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dikisahkan, dalam suatu perjalanan, beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah SAW hendak pergi dan mampir ke suatu kampung di negeri Arab. Para sahabat Rasulullah SAW berharap agar penduduk kampung itu mau menerima mereka sebagai tamu.   Ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka sebagai tamu. Justru , salah satu dari mereka ada yang meminta pertolongan. “Apakah di antara kalian ini ada yang bisa mengobati? Penghulu kampung kami terkena sengatan binatang.” Lalu salah seorang dari para sahabat menjawab, “Ya, ada.”   Salah seorang sahabat tersebut kemudian menemui penghulu kampung dan mengobati dengan membacakan surat Al Fatihah. Tidak lama kemudian lelaki penghulu kampung tersebut ternyata benar benar sembuh. Sebagai tanda terima kasih , sahabat tersebut diberi beberapa ekor kambing. Sahabat itu belum bisa menerima pemberian tersebut sebelum menanyakan dan menyampaikannya terlebih dahulu kepada Rasulullah SAW. Sahabat itupun pulang dan menemui Rasulullah SAW.   Setiba di kota tempat tinggal Baginda Rasulullah SAW, sahabat tersebut bercerita tentang kejadian di kampung tersebut, kemudian sahabat itu berkata, “Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya meruqyah dengan surat Al-Fatihah,” Mendengar kata kata itu, Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda, “Taukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan Ruqyah.” Kemudian Baginda bersabda lagi, “Ambilah pemberian dari mereka dan pastikah aku mendapatkan bagian bersama kalian.”   Kesembuhan penyakit itu bukan persoalan ilmiah layaknya matematika, jadi tidak layak diukur dengan ilmu-ilmu medis. Lah cuma bacaan surat Al-Fatihah, secara ilmiah apa hubungannya dengan racun Kalajengking yang ganas, apa dalam surat Al-Fatihah ada unsur-unsur kimiawinya yang bisa menetralisir racun Kalajengking?   Seorang yang berobat itu lebih dominan didorong oleh sugesti keyakinannya sendiri. Saya tinggal di kecamatan Bukateja, Purbalingga, di depan rumah saya ada dokter yang buka praktek umum, tapi kalau sakit saya pilih berobat ke dokter di tetangga kecamatan yakni kecamatan Kutawis, Purbalingga. Dan yang aneh, dokter umum tetangga saya itu pasiennya kebanyakan dari kecamatan Kutawis, bukan dari tetangganya sendiri. Yang di Bukateja berobat ke Kutawis, yang di Kutawis berobat ke Bukateja.   Aneh kan? Itu karena sugesti keyakinan umumnya orang, berobat dengan dokter tetangga sendiri rasanya tidak mantap dan tidak meyakinkan sehingga cenderung mencari dokter yang lebih jauh.   Nah surat Al-Fatihah itu, dalam Islam, doktrin keistimewaannya sangat meyakinkan, fadilah-fadilahnya di-brending sangat luar biasa. Keyakinan umat tentang fadilah surat Al-Fatihah itulah yang kemudian Al-Fatihah mujarab menyembuhkan berbagai penyakit. Hanya dengan media air putih, Al-Fatihah kerap mengatasi penyakit umat. Makanya dalam hadits shahih di atas, seorang penghulu suku sembuh dari racun Kalajengking hanya dengan bacaan Al-Fatihah seorang sahabat.   Ibu saya, 2 bulan lalu lemah jantungnya kumat. Diobati dokter secara ilmiah belum juga sembuh. Eeh berobat ke dukun Jawa, seorang janda tua, katanya ibu saya kesambet (diguna-guna setan) saat memetik tanaman Serai di kebun. Cuma dikasih ramuan tanaman Dringo Bengle dengan doa-doa tertentu, ibu saya sehat.   Nah kan, sembuh itu tidak harus logis dan ilmiah? Sugesti keyakinan si pasien dan si tabib, itu yang lebih sering jadi pelantara kesembuhan.   Viral susu Beruang sembuhkan Covid-19, apa yang salah? Kenapa ditertawakan? Emang sembuh dari Covid-19 itu hak paten WHO dan ilmu medis, kenapa sembuh dari Covid-19 harus pakai standar keilmuan mereka?   Mungkin benar kandungan Susu Beruang tidak ada unsur herbal ataupun unsur kimiawi yang bisa netralkan pengaruh virus Covid-19, tapi kalau memang masyarakat dapatkan belief yang meyakinkan kalau Susu Beruang itu bisa menyembuhkan dari Covid-19, ya sangat mungkin sembuh.   Belief yang meyakinkan tersebut bisa saja muncul hanya dari cerita tetangga, cerira teman, tapi kalau memang diyakini betulan, itu yang akan mensugesti untuk sembuh. Sama saja Surat Al-Fatihah, karena doktrin fadilah Al-Fatihah sangat kuat dalam agama Islam, ya sudah jadi realita dan bukti nyata kalau Al-Fatihah banyak atasi masalah kesehatan masyarakat.   Jadi Anda yang yakin dan mantap Susu Beruang itu sembuhkan dari Covid-19, ayo borong! Borong! Nggak usah urus nyinyiran netizan yang sok ilmiah. Bisa saja kok vaksinasi Covid-19 tidak berguna bagi kesehatan Anda, tapi Susu Beruang justru yang jadi jodoh sehatnya Anda.   Sembuh itu milik Tuhan. Sembuhnya penyakit tidak harus ilmiah, sembuhnya penyakit karena jodoh-jodohan. Siapa tahu jodoh kesembuhan Anda ada di Susu Beruang. Borong!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

SABU N.R ; INI LHO TRAUMANYA ORANG KAYA

Setiap orang punya kesumpekannya masing-masing, ada yang tidak kunjung punya keturunan, ada yang bentrok terus dengan mertua, ada yang punya pasangan nikah galak, ada yang dimusuhi tetangga, ada yang tak kunjung temukan jodoh, ada yang anaknya bandel, dan seterusnya.   Nah kesumpekan-kesumpekan hidup tersebut sebenarnya protein hidup Anda, kalau Anda ada kekurangan di stok “sumpek”, hidup Anda akhirnya oleng juga.   Anda tidak dapat mengingkari sedikitpun jika di dalam kesadaran Anda itu ada elemen spiritual yang memang secara fitrah terinstall dalam tubuh. Karena ini siapapun jantungnya akan berdenyut keras dan berdebar ketika akan lakukan perbuatan dosa. Mau mencuri misalkan, bukan cuma jantung berdebar keras, tangan dan kaki juga kadang gemetar, itu tanda elemen spiritual dalam diri Anda sedang aktif bekerja.   Anda kalau dihadang hantu pocong akan dengan antusias mengingat Tuhan, doa yang panjang-panjang, dari istighfar, takbir hingga Ayat Al-Kursiy, akan Anda baca. Kenapa demikian, karena di saat Anda dihadang hantu pocong, ego Anda melemah, seketika kesadaran Anda mengingat Tuhan.   Karena ini Anda tidak dapat menafikan adanya kesumpekan hidup, sebab kesumpekan hidup tersebut sebenarnya server spiritual agar Anda terkontrol mengingat-Nya.   Maka kalau Tuhan mengasihi Anda, Dia tanpa segan menurunkan kesumpekan dalam hidup Anda, di situ Anda harus bersyukur, karena kesumpekan itu sebenarnya kontrol-Nya agar Anda tetap stabil.   إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ   “Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka.” (H.R. Ath-Thabrani)   Tapi mohon, Anda baca ini jangan kemudian jadi keyakinan kalau Anda ingin punya spiritual tinggi itu artinya Anda harus menerima ujian bertubi-tubi. Tidak. Orang dapat ujian besar lalu berakhir depresi dan stres juga banyak kan? Diuji berat boro-boro jadi punya spiritual kokoh tapi malah bunuh diri, banyak kan?   Apapun karena adanya rahmat Allah, spiritual tinggi pun bukan karena level ujian tinggi, lebih dari itu adalah karena rahmat Allah. Maka itu kalau ingin punya spiritual tinggi mohonlah rahmat Allah jangan memohon ujian besar.   Nah di sini, trauma pikiran bawah sadar orang kaya biasanya di masalah kurang stok kesumpekan hidup.   Saya sudah hadapi ratusan klien terapi sp1ritual prosper1ty. Biasanya orang kaya akan alami mual perut, atau sakit kepala, atau reaksi tidak nyaman lainnya saat saya sugesti untuk menyebut nama Tuhan. Disuruh sebut “Allah” malah muntah.   Saya sudah paham kalau kasusnya begitu biasanya ada 2 masalah; pertama hidupnya kurang stok kesumpekan, atau kedua pernah lakukan dosa besar.   Pertama, kurang stok kesumpekan hidup.   Lah hidup kok perlu stok kesumpekan? Iya, dengan value dihadang pocong di atas, artinya hidup Anda perlu dapat tekanan ego agar Anda mau mengingat-Nya.   Orang kaya itu traumanya berbeda dengan orang miskin. Kalau orang miskin traumanya soal prosper1ty finansial, mau beli terasi saja masih mikir dapat harga miring, itu artinya pikiran bawah sadarnya cenderung selera pada keprihatinan.   Nah kalau orang kaya traumanya terbalik. Mereka itu orang yang seleranya hidup senang. Kalau kelahi biasa menang, tidak mengenal kalah. Kalau belanja selera yang branded karena punya uang. Kalau makan selera yang enak tidak kenal prihatin. Libido seks mereka kuat. Maunya senang, senang, dan senang. Pikiran bawah sadar mereka lebih berminat pada keglamouran.   Makanya ada orang kaya yang cuma mengupas kulit Salak saja bisa tidak sanggup, lalu viral dan heboh, itu karena pikiran bawah sadarnya memang menolak keras terima penderitaan.   Sementara kesenangan di alam dunia ini ujung-ujungnya membosankan. Kalau tidak percaya, sikakan Anda “jor-joran” dalam satu pola turuti nafsu. Misal nonton bokep, turuti terus nonton bokep, lama-lama bosan dan tidak menarik lagi.   Ketika sudah bosan, nafsu Anda akan meminta lainnya lagi. Lainnya sudah “jor-joran” senang, jenuh lagi, bosan lagi. Berakhir menagih sabu dan narkoba karena betul-betul mereka ingin senang terus, tidak mau menderita, tapi sudah bingung mau senang dengan cara apa lagi?   Kalau alasannya memakai Sabu karena stres tekanan pandemi dan kerjaan banyak, ya namanya juga alasan, tapi hakikatnya itu traumanya orang kaya memang begitu, pikiran bawah sadarnya hanya selera pada kesenangan dan kenikmatan.   Biasanya ada tanda-tandanya kalau Anda mau jadi orang yang mudah kaya, mudah beruntung, mudah enak hidupnya, tandanya tubuh Anda dari kecil jarang sakit, nafsu makan dan nafsu seks sejak kecil juga kuat, dan orangnya sejak kecil “menangan”. Kalau Anda sejak kecil punya tanda-tanda itu artinya Anda mudah menarik keglamouran, harta, tahta, dan wanita.   Minusnya pikiran bawah sadar Anda jadi antipati pada keprihatinan hidup, Anda antipati pada makna “mati”, karena di dalam mati itu pusat pesakitan.   Jika pada mati Anda sudah antipati, padahal mati adalah suntansi spiritual, di dalam mati semua makhluk kembali pada Penciptanya, efeknya di dalam hidup ini Anda menolak mengingat-Nya. Disebutkan nama Allah saja Anda bisa mual-mual dan muntah.   Pada kasus orang yang demikian saya selalu sarankan untuk jalani puasa Daud atau minimal gemar puasa, karena titik masalahnya adalah kurang stok keprihatinan alias kurang stok mati. Puasa itu laku prihatin, cocok untuk mereka.   Nabi Daud A.S. punya karakter begitu. Nafsu seksnya besar, beliau berkebutuhan istri sampai 100 wanita. Dalam setiap pertarungan beluau mudah memenangkan, otot dan emosinya kuat sehingga ia punya kuasa politik penuh. Harta juga melimpah-limpah. Dan agar beliau stabil beliau dengan sadar diri lakukan ritual puasa Daud dengan sehari puasa dan sehari libur. Di malam hari pun beliau bangun malam di sepertiga akhir malam. Hasilnya beliau harmoni.   Maka ini Anda yang sudah kaya dengan sedikit kesumpekan hidup, Anda harus dengan sadar untuk prihatinkan diri, bisa dengan puasa, bangun di sepertiga malam, menjadi vegan, dan seterusnya.   Ini berbeda dengan Anda yang sudah kaya tapi Anda tetap dituruni kesumpekan hidup dari-Nya, semisal sudah kaya tapi masih direndahkan mertua, sudah kaya tapi masih belum punya keturunan, sudah kaya tapi punya anak susah diatur, dan lain-lain, itu artinya pikiran bawah sadar tidak alami trauma pada kematian, sehingga Anda masih dikontrol langsung oleh-Nya.   Namun kalau tidak dituruni kesumpekan hidup, itu artinya Anda kalau ingin tetap stabil harmoni harus dengan sadar melakoni laku prihatin hidup seperti puasa, vegan, ngerowot, dan lain-lain. Kalau tidak mau dengan sadar lakoni laku prohatin ya ujung-ujungnya nyabu.   Trauma kedua karena biasanya pernah lakukan dosa besar. Item ini tidak minat saya kupas karena tulisannya sudah terlalu panjang.

JUNI 2023

UV SPIRITUAL; KALAU ANDA KURANG PANAS

Saya pernah dalam beberapa waktu memosisikan diri sebagai orang “ngalahan” dan “neriman” pada seseorang. Ya karena terbaut etika sosial, posisinya saya harus mengalah dan “neriman”.   Dalam jangka waktu tahunan, saya direndahkan, menerima saja. Dikucilkan, menerima. Disuruh-suruh, menurut saja. Dimanfaatkan, legawa saja. Ya kelakuan orang “neriman”.   Karena terlatih “neriman” dengan orang tersebut, emosi saya jinak juga, kemampuan hati saya menerima tekanan jadi meluas. Aturan normal sudah tersinggung dan sakit hati, eeh hati saya masih legawa menerima perlakuan buruk tersebut.   Testing sidik jari saya itu kecerdasan optimal saya pada feeling. Perasaan saya tajam, bahkan mengunduh ilmu pun saya pakai perasaan. Makanya Anda akan susah temukan rujukan tulisan-tulisan saya, karena ilmu saya mengalir dari perasaan, bukan otak dari hasil bacaan dan proses belajar-mengajar.   Efek buruknya, karena cerdas feeling, kalau saya jatuh cinta jadi susah move on, ya sekali jatuh cinta jadi mirip perasaan Majnun pada Laela. Dan sekali dendam juga mengendap sangat lama. Kadang saya kaget dan mengelus dada sendiri, orang yang melukai saya 30 tahun silam, ketika saya bertemu dengannya rasa dendamnya masih muncul di hati. Ya begitu negatifnya orang dengan kecerdasan feeling.   Saya yang cerdas feeling dengan dendam kesumat besar, lalu membiasakan diri “neriman” pada kelakukan buruk seseorang, itu saja hati saya bisa jinak, apalagi Anda yang kecerdasannya thinking, instuiting, sensing, ataupun cerdas insting, tentu lebih mudah menjinakan.   Nah pada tekanam frekuensi tertentu segala hal mesti ada batasnya, termasuk kemampuan diri saya untuk “neriman” pada orang tersebut. Ya maklum saya menjalani itu semua sudah tahunan.   Satu ketika perlakuan buruknya menjadi, dan batas “neriman” sudah mentok, ketersinggungan saya ke titik klimaks.   Di situ saya yang awalnya takut kualat karena melawannya secara etika sosial berarti saya kurang ajar dan cari kualat. Ujung-ujungnya saya melawan juga, berontak.   Saya melawan dengan secara konsisten dalam 3 bulan tidak pernah menyapanya dan selalu pasang vibrasi hati beringas padanya. Kalau saya sefang jengkel, tanpa sungkan saya mengolok-olok di belakang dengan sadis. Waktu itu “inyong kaya asu pokoken”.   Hasilnya saya keheranan sendiri karena malahan rezeki saya jadi membludak-bludak, penghasilan finansial saya naik drastis. Aneh, kan? Di hati saya khawatir kualat, malah sebaliknya rezeki naik drastis? Satu pengalaman hidup yang sepertinya tidak diajarkan dalam kitab spiritual yang lembut-lembut penuh damai.   UV atau ultraviolet sinar matahari barangkali itu sumber radiasi panas, efek buruknya ada, tapi manfaatnya juga terlampau besar untuk kehidupan.   Vitamin D dari ultraviolet sinar matahari diperlukan untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor di usus, sehingga dapat memperkuat tulang, gigi, serta otot. Tidak hanya itu, vitamin D juga dapat membantu mencegah berbagai penyakit, seperti rakitis, osteoporosis, hipertensi, diabetes tipe 1 dan 2, serta multiple sclerosis.   Vitamin D juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Saat terpapar sinar UV, tubuh akan menghasilkan lebih banyak sel darah putih yang berfungsi sebagai perlindungan tubuh. Sel darah putih memegang peranan penting dalam melawan berbagai penyebab infeksi. Dan sinar UV juga memperbaiki kualitas tidur.   Itu baru pada tubuh manusia. Belum lagi pada hewan. Klorofil pada tumbuhan juga terproduksi dari pemanfaatan sinar UV.   Sudah lebih dari 10 bonsai Ficus dari berbagai varian, mati mengering lantaran ditaruh di tempat teduh tanpa paparan sinar matahari full dan tidak terkontrol baik. Artinya terlalu teduh, sejuk, damai, spoi, semilir, dingin, itu pun mematikan sistem hidup.   Di situ saya jadi sadar, “Ooh selama ini saya neriman dan ngalahan itu hidup saya seperti bonsai Ficus yang terlalu sejuk, teduh dan dingin. Saya kurang panas sinar UV,” begitu pemahaman saya.   “Pantas, saya berani mengamuk, arogan dan bengis pada si oknum, malahan rezeki saya naik drastis, penghasilan saya meningkat, karena ternyata hidup saya selama ini kurang panas UV, hidup saya kurang bisa berfotosintesis dengan sehat.”   Anda terlalu lembut, santun, legawa hati, ngalahan, nerimanan, bisa jadi itu adalah penghambat kelancaran rezeki Anda.   Hahaha ilmu apa ini? Waras enggak sih saya? Wkkk.   Ya Anda amati saja lah, model orang “nerimanan” dan “ngalahan” itu kebanyakan karakternya orang lemah, bukan katakternya orang bijak.   Orang lemah tentu energi hidupnya untuk menarik rezeki juga lemah. Rezeki lemah ya itu artinya miskin harta, tapi bukan miskin hati ya?   Beda dengan karakternya orang kuat, maunya berkuasa, menang, menjaga prestise diri kuat-kuat, mengontrol dan mengendalikan, dan seterusnya, di mana karakter-karakter itu adalah karakter-karakter sinar panas UV.   Intinya “ngalahan” dan “nerimanan” karena bijak itu yang dimaksud dalam ajaran spiritual, bukan “ngalahan” dan “nerimanan” karena lemah.   Petuah Jawa bilang, “Ngalah. Ngalih. Ngamuk”. “Ngalah” dan “ngalih” itu sejuk, tapi sampai pada “ngamuk” itu panas sinar UV.   Nah tinggal Anda cek ke dalam diri. Kalau Anda santun, lemah-lembut, pemaaf, legawaan hatinya, tapi ternyata rezeki Anda seret terus, itu artinya Anda kekurangan paparan panas sinar UV. Ya Anda perlu latihan galak.   Sebaliknya kalau Anda sudah galak, beringas, ngamukan, eeh ternyata rezeki Anda seret, itu artinya Anda mulai mengindap kanker kulit akibat radiasi sinar UV, saat itu waktunya Anda menyejukan dan mendamaikan diri.   Orang bijak yang membawa rezeki baik untuk hidupnya itu bukan orang “ngalahan” dan “nerimaan” karena lemah, namun yang,   مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ   “Muhammad utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya adalah mereka yang keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Q.S. Al-Fath : 29)   Nah kan orang-orang yang bersama Muhammad S.A.W itu orang-orang yang pandai “ngamukan” tapi tahu situasi dan kondisi? Mereka sejuk pada tempat dan kondisinya, mereka panas juga tahu tempat dan kondisinya.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

“NERIMAN” PADA HARTA

Misal, handphone retak cassing dan layarnya, dipicu rasa tidak punya uang, diterima-terimakan cassing-nya diikat karet dan diterimakan gunakan handphone dengan layar retak. Dan di hatinya ada “rasa menerima” dengan kondisi handphone yang seperti itu.   Pakai kaos pemberian caleg DPRD, padahal kaos gratis karena kampanye Pilkada itu ya kaos murahan banget, lalu dengan “rasa menerima” kaos gratisan kampanye itu dipakai untuk aktifitas sehari-hari layaknya kaos harian. Di hatinya ada rasa sebagai orang tidak punya sehingga menerima saja kaos gratis murahan.   Kaca mata patah gagang frame-nya, merasa orang tidak punya, masih merasa berat beli yang baru, lalu disambung-sambung sendiri dengan dibungkus selang plastik dan dilem pakai lem G, terus dipakai dengan rasa menerima tulus.   Itu contoh model-model orang yang hatinya “neriman” dengan harta, biasanya mereka berdalih menerima hidup apa adanya.   Sadar tidak, Al-Qur’an jelas menempatkan Anda sebagai makhluk paling mulia, iya Anda manusia adalah martabat penciptaan tertinggi dan termuliakan.   وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا   “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isrâ’ : 70)   Lah makhluk tinggi tertinggikan, mulia termuliakan, lah kok “neriman” dengan handphone rusak, “neriman” pada kaos gratis murahan, “neriman” dengan frame kaca mata patah? Layak, enggak?   Ini loh yang harus jadi catatan Anda, kalau mobil Toyota Land Cruiser 300 yang merupakan level mobil mewah artinya mobil yang levelnya lebih sempurna penciptaannya ketimbang mobil Toyota lainnya, lalu dipaksakan pakai onderdil murahan akal-akalan dari onderdil Toyota Avanza, apa kira-kira Land Cruiser-nya tidak ringsek sekalian?   Sekarang Anda makhluk termulia, diterima-terimakan dengan rasa menerima besar dengan handphone retak cassing dan layarnya yang artinya menerimakan diri dengan barang “sampah”, kira-kira makin ringsek, tidak?   Hal ini yang jadikan rezeki Anda ringsek, keluarga Anda ringsek, karir Anda ringsek, dan tubuh fisik Anda juga jadinya sakit-sakitan, dan penyebabnya ternyata sepele, hanya karena Anda punya rasa “neriman” dalam perihal harta.   Anda amati saja, orang yang gemar “neriman” dengan harta, mereka makin dicekik kemiskinan, penyakit dan masalah ruwet.   Salah sendiri, penciptaan kemuliaan diri sendiri tidak disadari, tidak disyukuri, malah tertipu oleh harga cassing handphone, harga kaos oblong, harga frame kaca mata. Siapa yang goblok?   Cepat-cepat taubat ya Anda yang gemar akal-akalan barang bekas, akal-akalan barang kawe, akal-akalan barang rusak, sedikit pasang gengsi lah dengan harta, sayangi kemuliaan diri Anda sebagai makhluk termulia.   Umpama sangat darurat Anda pakai barang rusak yang diakali, tapi ya di hati jangan ada rasa menerima, di hati tetap pasang gengsi dan berjanji akan ganti yang lebih baik lagi, karena yang jadi titik masalah adalah “rasa nerimannya”.   Beda masalah kalau Anda pakai barang rusak yang diakal-akal tapi ada tujuan memuliakan jiwa manusia, ini tidak masalah.   Contoh, Anda bertahan pakai handphone rusak demi bisa sekolah. Sekolah itu demi ilmu, ilmu itu kemuliaan jiwa.   Contoh lagi, Anda menerimakan pakai motor tua karena uangnya dipakai menabung naik haji. Naik haji itu ibadah, ibadah itu memuliakan jiwa.   Yang jadi titik masalah adalah rasa “neriman” pada harta karena dipicu rasa tidak berdaya sebagai orang yang pas-pasan rezekinya, ini yang sudah pasti Anda ringsek sekalian hidupnya. Kalau pemicunya “neriman” dengan harta, mendingan jadi Maria Ozawa, walaupun norak dan vulgar, ia masih selera beli barang mahal, tidak kalah mental dengan harta.   Nabi Muhammad S.A.W minatnya hidup sederhana, walaupun beliau sudah kaya semenjak sebelum menikah dengan Khadijah R.A., tapi beliau tidak pernah mau “neriman” pada harta. Iya, kurma sedekah saja beliau tidak berkenan memakan, sebab beliau merasa mulia, masa didudukkan seperti level pengemis yang layak terima receh 500-an.   Beliau kerap menunjukkan kehidupan yang sederhana, semisal perut diganjal batu karena 3 hari belum makan, tapi itu beliau jalani hidup sesederhana itu ada tujuan “memuliakan jiwa”, bukan dengan dasar “neriman” pada harta.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MEREK DIRI; AGAR TANPA SIBUK MENAWAR-NAWARKAN, PEMBELI DATANG SENDIRI

Kalau Anda seorang germo mustahil akan ada cewek yang datang ingin mengaji dan belajar agama kepada Anda, yang datang pada Anda tentu cewek yang hendak menjual diri.   Itu karena alam semesta ini mengenal sistem brand atau merek, brand apa yang Anda kenalkan ke alam semesta maka itulah yang akan datangi dan terhubung dengan Anda.   Toko dan rumah saya itu berjejeran, keduanya sama-sama bangunan gedung, namun yang datang itu orang yang beda. Yang datang ke bangunan gedung “toko” itu para pembeli yang mau kasih uang ke saya, sementara yang datang ke bangunan “rumah” saya ya para tamu biasa.   Toko dan rumah saya bangunannya sama, sama-sama dari semen, batu, bata, genteng, cat, pasir dan seterusnya, tapi orang-orang yang datang itu berbeda keperluan. Itu dikarenakan 2 bangunan tersebut oleh saya diberi “brand” yang berbeda, ruhnya keduanya pun jadi beda.   Banyak orang jualan kesulitan peroleh custamer, tidak laku, namun sebagian yang lain banyak juga yang pembelinya datang sendiri, ini disebabkan perbendaan kemampuan mem-branding diri.   Yang ongkang-ongkang saja tapi tetap didatangi pembeli itu karena alam semesta sudah mengenali brand dirinya, ia dikenali sebagai pedagang. Sebaliknya yang sudah nawar-nawarkan capek tapi tidak ada yang beli itu karena brand-nya sebagai pedagang belum dikenali alam semesta.   Anda pernah alami kan, Anda sedang dagang malah yang datang kepada Anda bukan orang yang mau beli, tapi orang yang mau minta bantuan sosial? Jualan buku, misalkan, yang datang malah bukan orang yang mau bayar buku, tapi minta buku. Itu disebabkan Anda belum mampu meyakinkan alam semesta kalau Anda adalah pedagang.   Si peminta bantuan sosial tersebut meminta gratis dari dagangan Anda ya karena diri Anda sendiri yang memanggilnya, artinya Anda belum bisa meyakinkan diri Anda sendiri sebagai pedagang. Identifikasi brand diri Anda belum jelas, apakah pedagang ataukah penyantun sosial?   Ibaratnya belum jelas brand Anda, seorang germo atau ustadzah? Disebut germo tapi yang datang pada Anda adalah cewek yang mau mengaji, disebut ustadzah tapi yang datang adalah cewek yang mau melacurkan diri, ya jelas di situ identititas brand Anda yang dipertanyakan.   Jadi kalau mau yang datang adalah pembeli barang dagangan, perjelas dulu brand diri Anda.   Lalu bagaimana cara membentuk brand pedagang? Ya Anda butuh waktu kontinyu yang konsisten untuk membentuknya.   Ada kisah seorang cewek lulus SMA, ia bisnis MLM. Sudah niat berdagang tentu ia sibuk membangun jaringan dan promosi. Saking masih kecil jaringannya, di group WhatsApp keluarga, ia kerap share produk dagangannya. Tentu ujung-ujungnya keluarganya enek, agak sebel. Disebelin, ia tetap masa bodoh dan cuek karena sadar kepentingannya adalah buka jaringan jualan.   Status WhatsApp ia aktif share produk-produknya, di semua akun medsosnya dia juga konsisten bicara dagangannya. Terus konsisten.   Pada akhirnya 60% anggota keluarganya di grup WhatsApp terjaring di MLM-nya. Awalnya disebelin, karena belum teridentifikasi jelas dia pedagang atau family, lambat laun identitas pedagangnya makin jelas.   Saat sudah diidentikasi sebagai pedagang, brand-nya sebagai family di group WhatsApp tersebut kalah oleh brand pedagangnya. Jelas sudah identitas brand-nya, ia adalah rumah yang dibuat “toko”, dikenali sebagai “toko”. Dikenali sebagai toko yang datang adalah para pembeli walaupun itu saudara sendiri.   Jadi jelas cara bangun brand diri, harus konsisten sebagai pedagang yang sedang cari untung. Jangan ragu, jangan sungkan, jangan enggan, kenalkan ke alam semesta dengan konsisten kalau Anda pedagang.   Ya tentu saat bangun brand diri sebagai pedagang jadi disebeli orang, ditolak tawarannya, dicibir, dan seterusnya. Sudah begitu ada saja orang yang datang bukan mau beli tapi mau minta sedekahan, sudah capek tawar-tawarkan dagangan, tidak ada yang beli. Tapi ya itu proses identifikasinya begitu, selagi brand diri Anda belum dikenali jelas, kendala seperti itu tetap hadir.   Anda amati iklan-iklan kelas pemberdayaan diri saya sekarang, selalu tertera jelas harga tarifnya. Itu saya sengaja sedang bangun brand kalau saya adalah penjual kelas pemberdayaan diri yang bermisi bisnis bukan pengkhutbah Jumat yang bermisi dakwah.   Harus jelas identitasnya, sedang jualan apa dakwah, tegas dan terus terang kepada diri diri sendiri. Tidak plin-plan, pingin dibayar kelas pemberdayaan dirinya, sikapnya jangan umpat-umpet tarif seperti kyai yang diundang pengajian.   Orang yang ragu-ragu sebagai pedagang itu jelas kok, nyebutin harga dengan terus terang tidak berani tegas, tawarkan barang jualan semi-semi gratisan dan semi-semi murah walaupun dia sendiri belum puas dengan keuntungannya, kalau pas ditawar dengan batingan harga murah ia tidak berani menolak tegas, hatinya goyang, kalau tawarkan harga mahal walaupun memang itu harga standartnya dia muter-muter dulu karena tidak enak hati, dan seterusnya.   Sekarang ini ya, walaupun saya sedang malas buka kelas pemberdayaan diri, ya tetap orang menanyakan kelas saya datang sendiri. Nanya dan mau membayar. Itu karena brand saya dalam ilmu pemberdayaan diri sudah dikenali sebagai pedagang, yang datang ya orang yang mau beli dan bayar.   Nah sebagian orang ada yang walaupun dia tidak pernah tawar-tawarkan dagangannya lagi tetap saja para pembelinya datang sendiri, itu karena identitas brand dirinya sudah kuat sekali. Dan tentu perjuangannya di masa lalu untuk kenalkan diri ke alam semesta sebagai “pedagang” penuh jerih payah.   Jadi sedari awal niatlah yang kuat sebagai pedagang yang cari untung, jangan mau direcoki bisikan misi dakwah, misi sedekah, misi khidmah, misi pendidikan, dan seterusnya, jangan mau direcoki nilai-nilai spiritual dan sosial, dagang ya dagang, terus tegas dan konsisten, “Saya Dagang!” nanti lama kelamaan identitas brand Anda kokoh, dan pada saat itu Anda pergi ke rumah tetangga untuk Yasinan dan Tahlilan tetap saja di situ ada orang yang minta beli dagangan Anda.   Demikian pula karir-karir yang lain, sama. Anda mau jadi apa, kenalkan diri Anda dengan konsisten ke alam semesta tentang siapa diri Anda.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

JARINGAN REZEKI DARI POWER OTORITAS DIRI

Anda terlahir ditempeli hak otoritas diri sebagai fitrah diri. Hak otoritas diri maksudnya hak mengontrol individu lain di luar diri Anda, semisal Anda sebagai orang tua punya otoritas untuk membawahi anak, Anda sebagai kepala pemerintahan punya otoritas membawahi rakyatnya, Anda sebagai guru punya otoritas membawahi muridnya, dan seterusnya.   Power rezeki terkait dengan power hak otoritas diri. Kalau Anda seorang presiden, misalkan, lalu Anda tidak mampu mengontrol dan mengendalikan rakyat dengan kekuatan politik kekuasaan Anda, di mana-mana rakyat memberontak, otomatis hak otoritas Anda pada rakyat hilang, kekuasaan Anda lengser.   Ketika Anda lengser sebagai presiden itu artinya hak otoritas Anda pada rakyat ikutan tercabut. Ketika hak otoritas pada rakyat tercabut yang terjadi rezeki Anda juga ikutan tercabut.   Keluarga Cendana seperti apa gurita rezekinya ketika Soeharto berkuasa, setelah beliau lengser, satu-satu jaringan rezekinya rontok, power rezekinya melemah bersamaan dengan melemahnya power otoritas Soeharto mengontrol rakyat. Hilang power hak otoritasnya, rezekinya juga melemah.   Setiap Anda punya hak otoritas entah dalam profesi apapun, hak dimana Anda harus punya kekuatan untuk membawahi lalu mengontrol mereka. Karena itu setiap diri Anda adalah râ’in (pemimpin) yang artinya punya hak otoritas untuk mengontrol orang-orang yang ada di bawah otoritas diri Anda.   أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ   “Ketahuilah! Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka. Dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhâri)   Anda yang direktur punya hak otoritas untuk mengontrol dan membawahi karyawannya, Anda yang guru kepada murid-muridnya, Anda yang orang tua kepada anak-anaknya, Anda yang kepala pemerintahan kepada warganya, Anda yang suami kepada istrinya, dan seterusnya.   Nah di sini yang harus Anda mengerti, ketika penguasa negara sudah melemah power otoritasnya untuk mengontrol rakyatnya, rezekinya juga ikut melemah.   Kerap kan ada guru yang kehilangan otoritasnya di depan murid-muridnya? Di kelas sedang diterangkan pelajaran, murid-muridnya tidak menggubris, si guru tidak punya wibawa yang cukup untuk mengontrol murid-muridnya.   Sebenarnya situasi begitu situasi yang sangat sulit bagi seorang guru untuk mengangkat power rezekinya, karena power otiritasnya melemah.   Dan ini yang kerap terjadi, suami kehilangan otoritas diri di depan istrinya, suami nurut istri.   Situasi demikian sangat sulit bagi suami untuk mengangkat power rezekinya, sebab itu istri yang bisa menarik energi rezeki besar itu adalah istri yang shalehah yang menenteramkan hati suami, artinya ia adalah istri yang tidak merontokan hak otoritas suami.   Dan banyak juga, orang tua yang kehilangan hak otoritasnya di depan anaknya.   Orang tua kalah atau mengalah dengan anak, tidak sanggup kendalikan anak, tidak punya wibawa di depan anak, dan seterusnya, itu semua sebenarnya makin menerpurukan rezeki si orang tua, sangat menyusahkan rezeki Anda.   Anda amati saja, orang-orang yang sudah kadung melemah hidupnya, sebutlah tidak sukses, autoriti mereka di depan anak-anak sangat melemah, bisa-bisa si orang tua sedang sakit, tapi anak-anaknya disuruh cucikan baju saja tidak peduli.   Di sini saya cuma mengajak Anda untuk sadar dengan hak otoritas diri Anda sehingga Anda lebih sadar dengan harga diri dan wibawa Anda di depan orang-orang yang hak Anda memang membawahinya dengan autoriti Anda.   Jujur saya tidak punya solusi untuk Anda yang sedang hadapi masalah-masalah tersebut, masalah suami yang tidak digubris istrinya, masalah orang tua yang kalah dengan anaknya sendiri, masalah guru yang tidak berwibawa di depan muridnya, masalah kepala pemerintahan yang tidak punya kekuatan politik di depan warganya, jujur saya tidak punya solusi, jadi jangan tanyakan solusinya. Saya hanya mengingatkan saja, jangan lemah, jagalah prestise dan autoriti Anda di depan mereka.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

KAYA ITU KEMAMPUAN APRESIASI HATI PADA RASA KURANG ILMU DAN HARTA

Ilmu dan harta itu akan punya efek yang sama setelah Anda cintai, yakni sama-sama muncul “rasa kurang”.   Ketika “rasa kurang” muncul itu tandanya Anda telah mencintainya.   Imam Syafi’i selalu sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Berbagai rintangan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu.   Diriwayatkan, karena kemiskinan dan ketidakmampuannya membeli buku, ia terpaksa mengumpulkan kertas bekas atau tulang belulang untuk mencatat pelajaran. Minatnya terhadap ilmu pengetahuan terutama fikih mulai tampak setelah ia menghapal kitab Al-Muwaththa’ karangan Imam Malik.   Ia pun berguru dan belajar dengan pendiri mazhab Maliki ini, hingga dirinya menjadi salah seorang murid kesayangan sang Imam.   Setelah belajar dengan Imam Maliki, dahaga ilmunya yang teramat sangat, ia kemudian pergi ke Irak (Baghdad) untuk belajar kepada Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan.   Namun demikian, Syafi’i tetap belum merasa puas akan ilmu yang telah diperolehnya. Dalam suatu riwayat disebutkan, ia masih merasa sebagai orang yang paling bodoh. “Bila aku mendapatkan satu ilmu baru, maka hal itu menunjukkan betapa bodohnya diriku.”   Imam Syafi’i bergulat begitu jauh di dalam ilmu, ia pun benar-benar menyintai ilmu, rasa yang ia peroleh hanya “rasa kurang” yang tidak ada puasnya.   Abdullah Ibn Mubarak R.A. juga temukan hal yang sama,   لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ فَإِذَا ظَنَّ أَنَّــهُ قَدْ عَلــِمَ فَقَدْ جَهِـــلَ   Seseorang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itu ia bodoh.” (Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi, wafat 797 M; dikutip dari Ihya ‘Ulûmiddîn karya Imam Al-Ghazali)   Jadi tanda Anda adalah pecinta ilmu tulen, Anda justru akan merasa “bodoh”, efek dari rasa kurang tersebut.   Kalau Anda mencari ilmu lalu Anda temukan “rasa pintar” di situ Anda bukan pecinta ilmu tulen, ya Anda masih abal-abal dalam ilmu.   Harta pun begitu. Tanda Anda menyintai harta di situ akan muncul “rasa kurang”.   Rasa kurang pada harta, tidak yang miskin, tidak yang kaya, semua alami rasa ini. Persis seperti ilmu, makin cinta makin terasa kurang, makin terasa miskin, sehingga tanda Anda melekat cinta pada harta, tandanya Anda jadi punya rasa kekurangan.   Sebab ini hubbud dunyâ (cinta dunia) bukan urusan Anda miskin atau kaya, itu semata-mata urusan hati Anda, tandanya ada rasa kurang atau tidak.   Tanda cinta Anda kepada keduanya itu sama, yakni rasa kurang, tetapi untuk raih sukses, Anda harus mengapreasi dengan sikap hati yang berbeda.   Harta itu tidak diciptakan istimewa untuk Anda, ayam pun diberi harta. Ya Anda lempar saja sekepal nasi pada ayam, pasti mereka berebut dengan antusias. Artinya penciptaan harta tidak lah istimewa untuk tinggikan derajat manusia.   Di sini derajat manusia jauh lebih tinggi dari harta, makanya kalau Anda sampai jual diri untuk dapatkan harta, diri Anda akan auto hancur.   Karena derajat Anda lebih tinggi dari harta, Anda tidak diperkenankan merendahkan diri kepada harta. Demi harta lalu Anda minta-minta, itu salah satu sikap merendahkan diri kepada harta.   Sering saya sampaikan, Anda di depan murid bilang, “Nurut! Saya ini gurumu!” Itu ucapan meninggikan dan membesarkan diri guru di depan murid.   Namun karakter guru yang besarkan diri semacam itu etis-etis saja karena memang kedudukan guru lebih tinggi dari murid.   Sama saja Tuhan sangat sombong kepada Anda sebagai malhluk, Dia mengaku Maha Kuat, Maha Bijak, Maha Cinta, Maha Dahsyat siksa-Nya, dan seterusnya, namun kesombongan Tuhan itu etis-etis saja karena memang kedudukan Tuhan lebih tinggi dari makhluk.   Anda dengan uang kedudukannya lebih tinggi Anda, lagi pula uang tidak lah istimewa tercipta untuk Anda, karena itu sikap hati Anda pada uang harus “membesarkan diri”, menyombongkan diri. Berhati kaya, bermental kaya, berpikir kaya, bertindak kaya, itu semua sikap hati yang besar diri kepada uang.   Ketika rasa cinta hadirkan rasa kurang namun rasa kurang pada harta, di situ hati Anda harus mengapreasinya dengan membesarkan diri pada uang, seperti bangkitkan rasa kaya, rasa cukup, rasa berlimpah.   “Saya kaya. Saya cukup. Saya berlimpah,” itu kata hati yang paling disegani oleh uang di saat Anda merasa kekurangan.   Rasa kurang kepada uang kok dituruti irit, dituruti rakus, dituruti meminta-minta, dituruti mengeluh, ya sudah Anda ludes sekalian. Karena di situ Anda nengecilkan diri di depan uang, bukan membesarkan diri.   Beda dengan ilmu. Ilmu diciptakan istimewa hanya untuk meninggikan derajat manusia. Coba Anda ajari ayam 1×1=1, bisa tidak ayam menerimanya? Tentu tidak. Itu artinya ilmu istimewa untuk tinggikan derajat manusia.   Karena istimewa untuk Anda dan berfungsi tinggikan derajat Anda, kepada ilmu Anda harus bersikap mengecilkan diri, artinya mengakses rasa kurang, rasa miskin, dan rasa butuh kepada ilmu.   Dengan ilmu kok mengakses rasa besar diri, semisal, “Aku sudah pintar! Buat apa belajar!” sikap mental begitu ya Anda ludes.   Karena itu ketika Anda menyintai ilmu lalu Anda merasa kurang, di situ rasa tersebut harus Anda ikuti, rasa miskinnya kepada ilmu harus makin dipupuk, berbalikan 180° dari rasa kurang kepada harta.   Nah orang kaya itu orang yang kemampuan menyikapi rasa kurang pada ilmu dengan rasa haus dan rasa miskin, namun menyikapi rasa kurang kepada harta dengan berlimpah alias rasa kaya.   Kalau sebaliknya? Rasa kurang pada harta disikapi dengan rasa miskin dan kepada ilmu disikapi dengan rasa berlimpah, ya sudah keludesan hidup Anda akan hadir tidak akan lama lagi.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

REZEKI DAN KUALTIAS SELF-WORTH

Nabi membagikan emas mentah yang dikirim Ali R.A. dari Yaman. Emas itu dibagikan kepada empat orang, yaitu Uyaynah ibn Badr, Aqra’ ibn Hâbis, Zaid Al-Khail, dan Alqamah ibn ‘Ulatsah atau Amir ibn Thufail. Lalu salah seorang sahabat memprotes, “Kami lebih pantas menerimanya ketimbang mereka.”   Ucapan ini sampai kepada Nabi dan beliau berkata, “Apa kalian tidak mempercayaiku padahal aku ini kepercayaan langit, yang mendatangiku dengan kabar (wahyu) tiap pagi dan petang?”   Kemudian berdiri seorang laki-laki yang cekung matanya, menonjol pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya, dan berkata, “Hai Rasulullah, takutlah kepada Allah.” Nabi menjawab, “Celaka. Bukankah aku ini penduduk bumi yang paling berhak untuk takut kepada Allah?”   Lelaki itu berpaling. Dan Khalid ibn Walid berkata, ”Wahai Rasulullah, izinkan aku menikam lehernya.” Nabi menjawab, “Jangan, barangkali dia shalat.” Khalid menukas, “Banyak sekali orang shalat yang mengucap sesuatu yang berbeda dengan hatinya.” Nabi berkata, “Sungguh aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati manusia dan membedah isi perutnya.”   Nabi kemudian menatap lelaki itu yang menyingkir dan berkata, “Sungguh akan keluar dari jenis lelaki ini suatu kaum yang lancar membaca Kitabullâh tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.” Abu Said Al-Khudri mendengar samar-samar Rasulullah berkata, “Jika aku jumpai mereka, akan aku perangi mereka seperti kaum Tsamud.”   Riwayat ini Muttafaqun ‘Alaih, tercantum dalam Shahih Bukhârî Kitâbul Maghâzî dan Shahîh Muslim Kitâbuz Zakât.   Anda amati kemampuan Nabi S.A.W dalam self-worth, beliau dengan tegas menjawab ketika disangkal seseorang yang protes dengan pembagian emas dari Yaman, “Apa kalian tidak mempercayaiku padahal aku ini kepercayaan langit, yang mendatangiku dengan kabar (wahyu) tiap pagi dan petang?”   Disangkal lagi, disuruh bertakwa, Nabi S.A.W menunjukan ketersinggungannya dan menggertak, “Celaka. Bukankah aku ini penduduk bumi yang paling berhak untuk takut kepada Allah?”   Saya mengamati, beberapa kali saya alami konflik baik dengan orang lemah dan orang kaya, ternyata ada perbedaan menonjol di antara keduanya.   Orang lemah dengan mudah “mengalah” dan “menerima”, tapi orang kaya mampu tunjukan ketidakterimaan dan ketersinggungan, perlawanannya alot.   Self-worth tidak asing lagi dalam ilmu psikologi. Self-worth merupakan pengetahuan mendalam bahwa diri kita berharga dan dapat dicintai, diperlukan untuk kehidupan ini, serta bermakna.   Menurunnya self-worth ini kerap dialami setelah kehilangan, seperti setelah putus cinta, berpisah dengan pasangan, kehilangan seseorang, maupun kehilangan pekerjaan.   Rasa rendah diri yang menetap dan berlebihan dapat diakibatkan oleh prestasi yang buruk, depresi, dan tindak kejahatan.   Kemiskinan tentu diakibatkan prestasi kehidupan material yang buruk sehingga tidak mampu tunjukan kegagahannya di alam kehidupan, ini yang jadikan kadang mereka jadi tidak begitu bisa hargai dirinya sendiri, mudah mengalah, mudah neriman, mudah diam tidak melawan. Bahkan kondisi dizalimi pun mereka diam.   Dalam “spiritual murni” memang benar, orang-orang lemah, yang mereka mudah mengalah, mudah neriman, itu bisa jadi kegemilangan dimensi batin, seperti kepribadian Uwais Al-Qarni, sufi yang namanya agung di langit, tetapi di bumi ketika ia lewat saja kerap diteriaki orang gila oleh anak-anak kecil.   Secara spiritual, keunggulan orang lemah tidak disangsikan lagi, seperti hadits berikut ini;   إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلَاتِهِمْ، وَإِخْلَاصِهِمْ (رواه الترمذي)   “Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, shalat dan keikhlasan mereka.” (H.R. At-Tirmidzi)   Namun di sini saya sedang bicara sp1ritual prosp3rity, bukan bicara spiritual murni.   Ini alam material, hukum-hukum rimba; homo homini lupus ada dan nyata di kehidupan alam ini, makanya kaya makin kaya, miskin makin miskin.   Anda amati tumbuhan ketika ditanam serentak bersamaan di satu lokasi, pohon yang kadung tumbuh subur akan makin subur, yang kadung kerdil makin kerdil. Jadi di alam material ini memang ada kekuatan otot, kekuatan materi, kekuatan fisik. Jadi kalau hanya gunakan kekuatan spiritual, di alam semesta ini Anda hanya akan dimangsa kebuasan kehidupan materi.   Anda lihat karakter para penguasa, self-worth mereka sangat kokoh. Bung Karno, Mahathir Muhammad, Gus Dur, mereka orang-orang yang sangat alot untuk mengalah, self-worth mereka tinggi. Para pebisnis besar juga demikian, mereka alot untuk mengalah dan neriman.   Orang lemah sehingga makin kesulitan finansial karena mereka kerap kehilangan kontrol self-worth dalam diri mereka, mudah berpikir mengalah dan neriman, akhirnya sistem rimba alam material terus memangsa mereka, kehidupan finansial mereka pun makin carut-marut.   Betul mereka sangat ikhlas dan saleh, tapi itu duitnya susah berjaya.   Kekayaan, pengaruh dan kekuasaan itu terhubung erat dengan kualitas self-worth, maka ini jebakan penghancur orang kaya dan berkuasa adalah “congkak, angkuh dan kesombongan”.   Kualitas self-worth itu bukan kesombongan dan keangkuhan diri. Kualitas self-worth muncul karena hasil menempa diri sendiri dengan kerja keras mengubah nasib hidup sehingga akhirnya ia memenangkan pertarungan kehidupan.   Karena menang, ia melihat dirinya berharga. Nah setelah melihat harga dirinya, ia jadi alot untuk neriman dan mengalah.   Jebakan kebablasannya di sini, self-worth kuat, kontrol rendah hatinya melemah, lalu terjebak sombong, angkuh dan congkak. Nah sekarang bisa Anda cek ke dalam diri Anda, kualitas self-worth lemah, rezeki lemah, walaupun bisa saja Anda saleh spiritualnya.   Lalu bagaimanakah sih meningkatkan kulitas self-worth? Apa dengan bersikap jangan mau kalah, tidak mengenal mengalah, lawan siapa saja yang menyinggung Anda? Itu mah angkuh dan sombong diri. Apalagi kalau Anda masih jadi orang lemah, berkarakter begitu ya digilas sekalian.   Meningkatkan kualitas self-worth ya Anda bekerja keras menempa diri agar Anda bisa tunjukan prestasi-prestasi hidup. Saat Anda sudah punya jejak prestasi, di situ Anda akan sadar betapa berharganya diri Anda; pendapat Anda, kebaikan Anda, keputusan Anda, kebijaksanaan Anda, dan semua yang terhubung dengan Anda menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi diri Anda dan orang lain pun mutlak harus menghargainya pula.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

PUASLAH PADA HARGA MAHALNYA BUKAN KUALITASNYA

Tentu Anda heran kan kenapa orang kaya yang suka koleksi barang-barang antik dan branded, mereka makin kaya saja?   Barang antik dan branded itu bukan kebutuhan primer hidup, punya manfaat primer juga tidak, kategori amal saleh juga bukan, kategori misi kemanusiaan, bukan, apalagi kategori amal akhirat, jelas-jelas bukan.   Koleksi barang antik dan branded itu cuma kesenangan belaka, kesenangannya orang berduit, tapi anehnya mereka makin kaya raya saja, padahal uangnya diroyal-royalkan untuk sesuatu yang tidak begitu bermanfaat efektif.   Apa si rahasianya?   Ilmu ini saya peroleh sesudah saya suka mengoleksi bonsai. Bonsai, tentu Anda tidak perlu dijelaskan harganya.   Semua bonsai milik saya itu beli, tidak ada yang pemberian atau dongkelan sendiri.   Sejak kecil saya penyuka tanaman hias, sehingga di mana pun saya menetap pasti ulah saya menanam tanaman hias. Lama kelamaan saya mengenali dan menyukai bonsai. Karena penyuka, otomatis hati saya menikmati keindahannya.   Sekedar peroleh rasa indah bonsai dan tanaman hias, sebenarnya tidak harus beli mahal-mahal. Minta ke teman, bisa, dongkel lalu budidaya sendiri, bisa. Lalu kenapa harus beli mahal?   Di sini permainan rasanya, dan di sini letak selisih kenapa mereka yang obral-obral duit untuk koleksi barang-barang antik dan branded makin kaya saja. Rahasianya itu pada permainan rasa.   Ketika saya menyaksikan bonsai-bonsai milik saya itu yang saya nikmati dengan puas itu “harganya” bukan puas dengan “indahnya”. Saya puas bonsai ini harganya segini, bonsai ini segini. Betul-betul yang saya nikmati harga mahalnya.   Puas dengan harga mahalnya itu yang jadikan rezeki makin mengalir deras, dan akhirnya mereka yang obral-obral duit untuk barang antik dan mahal makin kaya saja.   Di kampung banyak pengoleksi bonsai, tapi rezekinya stagnan saja, itu karena yang dinikmati dengan kesaksian hatinya cuma indahnya, mereka puas dengan nilai seninya. Lah indah emang ada duitnya?   Ini kenapa para seniman rata-rata kesulitan finansial? Itu karena kepuasan hati mereka pada kepuasan nilai seni, pada keindahannya.   Sebaliknya kenapa pedagang punya duit? Karena mereka puasnya dengan duit berupa modal besar untuk putar dagangan lagi dan puas keuntungan besar.   Demikian pula trik hati ketika Anda beli barang branded yang lain, kemana kepuasan batin Anda, puaslah dengan harganya bukan dengan kualitas barangnya. Ini ilmunya Syahrini kenapa ia makin kaya raya saja dengan koleksi barang brandednya.   Begitu pula sedekah. Sedekah kok cuma turuti rasa dernawan dan rasa kasihan, ya Anda cuma dapat pahala, selanjutnya Anda cuma jadi orang penolong, sementara rezeki sendiri seret.   Baim Wong, Rusydi Hamka, Yusuf Mansur, kenapa mereka dermawan tapi makin kaya raya, itu sebab kepuasan hati mereka bukan pada nilai dermanya, tapi pada nilai kayanya, mereka puas punya uang lalu mereka berderma.   “Saya orang punya duit, karena ini saya berbagi,” itu kepuasan mereka, bukan, “Saya orang dermawan karena ini saya berbagi.”   Kemana kepuasan hati Anda ketika Anda belanjakan uang? Di situ respons alam semesta akan bertindak. Karena itu,   عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ   “Dari Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (H.R. Bukhari)   Nah kalau Anda puasnya hati dengan irit yang artinya puas dengan uang sedikit, apa yang akan terjadi? Mikir!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

Scroll to Top