Author name: gus banan

MEI 2023

KAUM MUSYRIKÎN PROSPERITY; MAU KAYA YA HADIR KAYA

Anda ngeseks tapi pikiran sedang mengingat rasa marah pada anak, apa hubungan seks Anda terasa nikmat? Bisa jadi Anda sama sekali tidak terangsang.   Anda sedang menyimak pelajaran di sekolah tapi pikiran melamun keingatan pacar, apa Anda bisa memahami materi pelajarannya?   Alam semesta ini berkonsep “wahdahû lâ syarîkalahu”; konsep tunggal dan anti diduakan, nyatanya ngeseks sambil mikirin enek sama anak, ngeseksnya gagal, menyimak pelajaran sambil ngelamunin pacar, pahami pelajarannya gagal totol.   Artinya kalau ingin sukses harus ikuti aturan baku alam semesta yakni konsep “wahdah” atau tunggal.   Ngeseks sambil mikir enek pada anak, nyimak pelajaran sambil ngelamunin pacar, itu konsep-konsep “mendua” yakni konsep “musyrik”. Karena itu kalau Anda masih masuk kaum musyrikin kehidupan, hidup Anda akan gagal total.   Kaum musyrikin kehidupan itu kaum-kaum yang tidak bisa fokus. Disuruh sekolah sibuk mikir pacar, jadi ASN sibuk mikir malas akhirnya bolos-bolos kerja, jadi pedagang malu buka lapak, dan seterusnya, itu artinya tidak bisa fokus.   Fokus adalah satu titik pusat energi alias titik “wahdah”. Begitu Anda tidak “wahdah” alias musyrik yakni menduakan sesuatu, Anda auto out dari keberhasilan.   Jadi sebenarnya, tidak usah diajari oleh para rasul-Nya tentang Allah Maha Tunggal dan tidak boleh disekutukan, sebenarnya adanya Allah Maha Tunggal itu sudah menjadi data fakta kehidupan.   اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ   “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Thâha : 14)   Anda kerja harus punya “rasa hadir” sedang kerja. Misalkan sedang kerja menulis, pikiran malah mikirkan Maria Ozawa dengan adegan hotnya, ya berantakan semuanya. Itu artinya di situ Anda tidak hadir menulis; antara pikiran, gerakan tubuh, perasaan batin tidak sinkron, tangan mrngetik naskah tulisan, otak dan perasaan sedang ingat “ihik-ihiknya” Maria Ozawa.   Shalat disarankan khusyuk, kerja disarankan fokus, meditasi disarankan hadir, itu semua konsep wahdahu lâ syarîkalah-nya alam semesta.   Mau kaya ya hadir kaya.   Nah kaum musyrikîn prosperity itu golongan orang-orang yang mau kaya tapi tidak mau hadir kaya, di antaranya;   Pingin kaya duit, tapi jiwa miskinnya dipelihara; mental miskinnya tercium menyengat. Tidak kebagian bansos saja sakit hati, tidak malu minta-minta, dengan ilmu membantah, bayar hutang nunda-nunda, dan seterusnya.   Mau kaya tapi cita-cita rendah, tidak konsisten dan istiqamah, rendah diri, mudah putus asa, minderan, gengsian, lemah pendirian dan seterusnya.   Mau kaya tapi takut alirkan uang; pelit, hemat, sama duit hitang-hitung giliran duit bisnis malah royal.   Mau kaya tapi enggan menguntungkan orang lain maunya menguntungkan diri sendiri, atau sebaliknya enggan menguntungkan diri sendiri dan maunya hanya menguntungkan orang lain. Iya, maunya menguntungkan diri sendiri itu lintah darat, maunya hanya menguntungkan orang lain itu artinya Anda enggan berbuat baik untuk diri sendiri.   Dan seterusnya.   Mau kaya ya harus hadir kaya; perasaan kaya, mental kaya dan aktion kaya. Seluruhnya hadir bersama, di satu tubuh satu ruh.   Itu semua kaum musyrikîn prosperity; orang-orang yang menyekutukan sistem kekayaan alam semesta. Alam semesta konsisten menolak konsep musryîk, ia hanya mengenal Ahad alias Esa.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

SYUKUR ITU KUALITAS MENYOMBONGI UANG

Salah satu efek tulisan saya, “Puaslah pada Harga Mahalnya bukan Kualitasnya,” itu saya dipameri mobil Mercy GLA 200 yang baru dibeli. Mobilnya baru datang di alamat, langsung dipamer-pamerin ke saya.   Si pemilik mobil mengabari juga rencana syukurannya. Rencana acaranya bareng-bareng baca Al-Barzanjî dan pengajian, karena disamping syukuran Mercy GLA 200 sekaligus Ihtifâl bil Maulidin Nabî (perayaan kelahiran Nabi S.A.W).   Saat mahallul qiyâm (bacaan Asyaqal Badru ‘Alainâ) dalam bacaan Al-Barzanjî, beliau mau bagi-bagi uang kepada para pengunjung, nilainya capai puluhan juta.   Beliau bilang via chatt WA, “Saat Asyaqal Badru mau bagi-bagi duit, syukuran Mercy, saya mau sombongi duit.”   Saya tertegun baca chatt itu, “Sombongi duit.”   Lalu saya berpikir sejanak, terus saya balas, “Iya juga ya, berani syukur artinya menyombongi uang”.   Kepada uang bersikap sombong, bersikap besar diri, itu memang ajaran saya.   Saya kerap ajarkan kepada Anda kalau uang itu makhluk yang derajatnya jauh di bawah derajat Anda. Anda makhluk al-akram (termulia), tidak ada lagi derajat makhluk yang mengungguli derajat Anda.   Anda sebagai orang tua berhak saja untuk menyombongi anak-anak Anda. Misal ada anak menyuruh-nyuruh Anda cucikan piring, Anda berhak bersikap besar diri, “Kualat kamu! Saya ini orang tuamu, disuruh cucikan piring! Kualat!”   Etis dan proporsional ketika Anda bersikap sombong kepada anak karena memang kedudukan orang tua jauh lebih tinggi ketimbang anak.   Yang tidak etis dan proposional itu sombong kepada sesama manusia.   Uang begitu, kedudukan Anda harusnya mampu menyombongkan diri pada uang.   Saya adalah pribadi yang rezekinya berubah setelah menerapkan mental sombong dan besar diri kepada uang.   Dari kecil mental saya itu miskin sekali. Tidak pernah punya rasa besar diri kepada uang, sebaliknya selalu berkecil hati pada uang.   Keberanian belanja tidak ada, selalu cari efesien dan takut dengan harga tinggi. Ya karena merasa uang saya sangat terbatas sehingga tidak pernah berani neko-neko belanja, segalanya seefesien mungkin. Dulu saya pelit dan irit banget tidak, cuma tidak punya standar tinggi untuk belanjakan uang.   Senang terima uluran tangan, selalu merasa layak diberi dan layak dibelaskasihani dengan uang.   Kalau kebagian harus mentraktir orang lain, rasa yang muncul itu ngitung dan tersinggung. Kalau beli sesuatu ya pakai standar belanjanya orang miskin, umpama beli tabung gas ya pilih yang warna hijau bersubsidi.   Pokoknya saya di masa lalu itu kategori orang kalem tapi pada standar uang, tidak punya standar gagah dan berani pada uang.   Sekitar usia 34 tahunan, baru saya tersadar, saya mulai mengubah diri dengan “gemagus” pada uang. Masuk warung, dengan berani saya yang bayar. Saya besarkan diri saya kepada uang.   Saya ubah prasangka saya kepada uang. Yang tadinya saya menganggap uang itu terbatas, saya coba yakinkan diri kalau uang itu melimpah. Efeknya saya jadi punya nyali pada uang. Berani ngebos, puas kalau mentraktir orang, puas kalau belanja banyak, puas kalau sedekah banyak, puas bayarin orang, dan seterusnya. Saya jadi punya target tinggi dalam belanja dan memberi.   Banyak upaya saya lakukan untuk merasa kaya, dari tidak pernah lagi isi bensin motor pakai Pertalite, tidak mau lagi pakai listrik 1200 watt, tidak mau lagi rokok standar buruh. Menu makan ditingkatkan, warung makan yang dimasuki ditingkatkan, fasion baju ditingkatkan, semua gaya hidup saya tingkatkan bertahap.   Namun semua tindakan saya itu dipicu “rasa kaya” yang kuat, bukan dipicu rasa glamour, hura-hura, sok kaya, itu bukan. Benar-benar dipicu rasa kaya yang kuat.   Rasa puas kalau diberi dan dibelaskasihani jadi hilang, berganti rasa tersinggung. Perasaan saya jadi selalu muncul rasa gagah di depan uang. Hati saya jadi dipenuhi rasa kaya. Betul-betul sejak saat itu saya selalu merasa besar di depan uang. Sombong saya kepada uang benar-benar terbangun.   Dan sejak itu pula, tetangga dan famili-famili saya mulai menyebut saya orang kaya yang rezekinya sangat dimudahkan. Dan alhamdulillah dari waktu ke waktu rezeki saya terus meningkat bertahap.   Maka ini kalau ada orang kalem-kalem saja emosinya pada uang, tidak punya aksi “gemagus” pada uang, itu artinya peluangnya untuk berezeki baik masih perlu menunggu lama. Apapun butuh mental berani, mau naik podium butuh mental speaking, mau kaya pun butuh mental kaya yang kokoh.   Mental kaya yang kokoh itu artinya mental sombong kepada uang.   Seperti teman saya di atas, dikuntit Mercy GLA 200, dengan gagah berani keluarkan puluhan juta untuk berbagi. Gagah berani berbagi puluhan juta itu artinya sikap membusungkan dada kepada uang. Dan itu namanya sombong diri pada uang, dan itulah orang yang bersyukur dikaruniai Mercy GLA 200.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan  

MEI 2023

TIPS HARGAI UANG

Syekh Einsten berkata;   السعادة لن تأتي أبداً لأولئك الذين لا يقدّرون ما لديهم. – ألبرت أينشتاين   “Keberuntungan selamanya tidak akan pernah mendatangi mereka yang tidak menghargai apa yang telah mereka miliki (Albert Einsten)   Berikut tips hargai uang;   1. Rasakan kehadiran uang   Dari sisi perasaan, Anda yang hargai uang tentu merasakan kehadiran uang di sisi Anda.   Kalau di sisi Anda ada istri tapi Anda tidak pedulikan kehadirannya, kira-kira si istri tersinggung, enggak? Uang pun begitu.   Merasakan kehadiran uang berarti Anda memiliki rasa punya di dalam hati. Melimpah lagi memiliki rasa kaya.   Karena itu rasa miskin, rasa tidak punya, rasa kekurangan, itu pembunuh sadis keuangan Anda.   2. Menggauli uang   Dari sisi tindakan, Anda yang hargai uang akan mampu memperlakukan uang sesuai fitrah uang.   Anda bergaul dengan istri yang Anda cintai, lalu saking cintanya Anda jadi over protektif. Istri dikekang di rumah, sedikit-sedikit dicurigai karena sangat ketakutan dirinya lepas dari tangan Anda, diperlakukan over protektif tentu si istri kabur sekalian.   Begitu cintanya kepada uang, kemudian uang disayang-sayang, dilekati kuat dari diirit-irit sampai dikumpul-kumpulkan kuat-kuat, seolah tidak rela uang lepas dari tangan, dibelanjakan untuk keperluan hidup terasa sayang, itu over protektif. Hasilnya uang bubar sekalian.   3. Bersenggama dengan uang   Fitrah istri itu disenggamai. Saat pergauli istri, Anda telanjangi dirinya, lalu Anda obo-obo seluruh tubuhnya, apa istri tersinggung karena merasa harga dirinya dirusak? Justru si istri merasa harga dirinya dirusak kalau dia dibiarkan perawan tidak pernah disentuh.   Fitrah uang itu dibelanjakan. Kalau Anda masih enggan belanjakan uang, itu artinya Anda enggan senggamai uang. Makin Anda gemar belanjakan uang, di situ uang makin merasa bangga karena merasa dihargai, bukan merasa dirusak harga dirinya, persis seperti istri yang Anda pergauli.   4. Pintar-pintarlah kawinkan uang   Tanpa disenggamai, bagaimana istri bisa beranak-pinak lahirkan keturunan?   Senggama itu alat kelamin Anda dikawinkan dengan alat kelamin lawan jenis Anda sehingga proses kehamilan terjadi.   Kawinkan uang itu kemampuan Anda mengawinkan uang dengan lawan jenisnya agar beranak-pinak. Uang diperjualkan dengam barang, dengan jasa, dengan tenaga, dan seterusnya.   Profesionalisme Anda di profesi Anda masing-masing itu adalah jalan kawinkan uang dengan jenis yang lain, di situ makin profesional Anda mengawinkannya, uang makin beranak-pinak.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

NGALAP BERKAH

Selamat Hari Santri Nasional   Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Korea Utara, Vietnam, Kamboja, Kuba, mungkin segelintir negara komunis yang kerap meniadakan kesakralan agama, di mana agama mungkin saat ini adalah produk budaya manusia yang kerap menggunakan simbol-simbol “atas nama Tuhan”.   Apa negara-negara itu bisa lepas dari nilai-nilai ilahiyah? Kalau lepas, mengapa mencuri, korupsi, merampok, membunuh, di sana tetap menjadi perbuatan dosa yang harus dihukum?   Itu artinya dalam diri manusia ada sifat kosmik yang permanen tertanam dalam diri manusia. Kepermanenan sifat kosmik ini disebut “sifat ilahiyah”.   Lah iya, mau ateis, mau agnostik, mau komunis, mau religius, mau teis, mau paganis, semuanya sama. Ketika mereka mau mencuri, misalkan, jantung mereka tetap berdenyut lebih kencang, tangan dan kaki mereka tetap gemetaran, dan bagi mereka hasilnya sama kok, mencuri itu kategori perbuatan dosa. Itu karena mereka dititipi sifat-sifat ilahiyah yang sudah menjadi fitrah penciptaan.   Anda sebagai manusia secara universal dititipi sifat ilahiyah, tidak ada satu budaya pun bisa mengingkari sifat permanen ini, faktanya semua budaya entah kenal agama entah tidak, mereka semua kenal dosa. Karena Anda memiliki sifat universal ilahiyah, maka ini diri Anda bisa keluarkan energi-energi spiritual yang tidak logis.   Anda kenal petilasan kan? Tempat tertentu yang konon digunakan orang-orang suci tertentu sebagai tempat diri mereka melakukan proses spiritual? Di nusantada ada petilasan Prabu Siliwangi, Prabu Jayabhaya, Ronggo Warsito, Ir. Soekarno, Pangeran Diponegoro, Sunan Kalijaga, dan lain-lain.   Dalam literatur agama ada Ka’bah petilasan Nabi Ibrahim dan Ismail, ada Tembok Ratapan sisa bangunan Bait Suci petilasan Nabi Solomon, ada Gereja Makam Kudus petilasan Yesus Kristus, ada pentirtaan suci petilasan para resi Hindu dan para bhiksu Budha, dan seterusnya.   Itulah realitas kosmik penciptaan alam ini, di balik alam ini ada sifat ilahiyah yang universal dititipkan kepada diri Anda, sehingga ketika Anda menekuni program spiritual tertentu, diri Anda bisa keluarkan energi spiritual yang ajaib.   Energi spiritual tersebut selanjutnya bisa pengaruhi berbagai benda, lalu disebut benda keramat.   Benda-benda alam semesta yang tidak berakal saja dapat dipengaruhi oleh energi spiritual manusia, selanjutnya bisa keluarkan tuah dan berkah, apalagi diri Anda yang berakal? Diri Anda pun bisa dipengaruhi energi spiritual dari orang-orang saleh dan suci.   Di pondok pesantren, sandal kyai selalu jadi rebutan santri untuk ditatakan. Sisa air minum kyai selalu jadi rebutan santri untuk diminum. Baju bekas, sarung bekas, dan semua benda-benda milik kyai kerap disimpan oleh santri. Kata para santri “ngalap berkah”.   Ya hal itu wajar, karena seorang guru tentu orang yang sudah menjalani proses-proses spiritual diri, tubuh mereka adalah tubuh yang vibrasikan tuah dan keramat. Benda apapun yang terhubung dengan tubuh kyai tercurah energi spiritualnya.   Fenomena ini juga benar-benar terjadi pada diri Nabi Muhammad S.A.W. Rambut Rasulullah S.A W, keringat, ludah, dan sisa air wudhu beliau, atau apa yang beliau pakai berupa pakaian, cincin, dan semisalnya kerap jadi di-alap berkahnya oleh para sahabat. Perhatikan kisah-kisah berikut ini;   Dalam hadits Al-Bukhari dikisahkan;   دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ فَقَالَ عِِنْدَنَا فَعَرَقَ وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تُسَلِّتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ فَقَالَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلَهُ فِي طِيْبِنَا وَهُوَ مِنَ أَطْيَبِ الطِّيبِ   “Anas berkata, ‘Suatu saat, Nabi S.A.W masuk ke tempat kami, lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya. Nabi S.A.W terbangun dan bertanya, ‘Wahai Ummu Sulaim, apa yang sedang engkau lakukan ini?’ Dijawab, ‘Ini adalah keringatmu yang akan kami campur dalam parfum kami, dan itu adalah parfum terbaik’.”   Dalam sebagian riwayat, Rasulullah bertanya, “Apa yang sedang engkau perbuat?” Ummu Sulaim menjawab,   نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا. فَقَالَ: أَصَبْتِ   “Kami mengharap mendapatkan barakah keringat ini untuk anak-anak kami.” Rasul pun berkata, “Engkau benar.” (H.R. Bukhari) Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik R.A.,   فَوَاللهِ مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللهِ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَت فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ، وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُو يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ   “… Demi Allah, tidaklah Rasulullah S.A.W meludah, melainkan ludah itu pasti jatuh pada telapak tangan salah seorang sahabat (yang berhasil mendapatkannya) lalu ia usapkan ludah tersebut pada wajah dan kulitnya. Jika Rasulullah memerintahkan sesuatu, para sahabat berkumpul untuk menjalankan perintahnya. Apabila beliau berwudhu para sahabat hampir-hampir berperang (yakni berdesakan dan berebut) mendapatkan sisa air wudhu beliau.” (H.R. Ahmad)   Muhammad ibn Munkadir mengatakan bahwa dia mendengar Jabir R.A. berkata,   جَاءَ رَسُولُ اللهِ يَعُودُنِي وَأَنَا مَرِيضٌ لاَ أَعْقِلُ فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ عَلَيَّ مِنْ وَضُوئِهِ فَعَقِلْتُ، فَقُلْتُ: ياَ رَسُولَ اللهِ، لِمَنِ الْمِيرَاثُ، إِنَّمَا يَرِثُنِي كَلَالَةٌ؟ فَنَزَلَتْ آيَةُ الْفَرَائِضِ   “Rasulullah S.A.W menjengukku saat aku sakit dan hilang kesadaranku. Beliau berwudhu lalu beliau kucurkan padaku dari sisa air wudhu beliau. Aku pun tersadar. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah harta warisan itu (seandainya aku mati) dan aku tidak memiliki orang tua dan anak-anak?” Lalu turunlah ayat tentang waris.” (H.R. Bukhari)   Nabi S.A.W menggunakan air liur beliau untuk mengobati penyakit. Beliau mencampur air liur beliau dengan sedikit tanah dan diiringi doa,   بِسْم اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ ربنا   “Dengan nama Allah S.A.W tanah dari bumi kita, dengan air liur sebagian kita, (dengan sebab itu) akan disembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan kita.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari ‘Utsman bin Abdillah bin Mauhab berkata,   أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِع وَكَانَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعْرٌ مِنْ شَعْرِ النَّبِيِ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَث إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْت شَعَرَاتٍ حُمْرًا   “Keluargaku mengutusku membawa sewadah air untuk Ummu Salamah, istri Nabi S.A.W.—Israil (perawi hadits) menggenggam tiga jarinya (mengisyaratkan) ukuran wadah yang berisi beberapa helai rambut dari rambut-rambut Nabi S.A.W.—Utsman melanjutkan, “Jika seseorang sakit karena ‘ain atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Ummu Salamah. Aku melihat ke wadah dan aku melihat beberapa helai rambut kemerahan.” (H.R. Bukhari)   Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul Bari (10/353) mengatakan, “Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi S.A.W itu sebagai Juljul. Botol itu disimpan di rumah Ummu Salamah R.A.   Selamat Hari Santri Nasional.

MEI 2023

RINGAN HATI PADA UANG

Dengan apa Tuhan menghargai para penaat-Nya di dunia ini? Dengan duit. Dengan apa Tuhan menjatuhkan para pemaksiat-Nya? Dengan duit. Inilah istimewanya duit, yang hakiki dan yang ilusi dieksekusi dengan duit.   Abdurrahman bin Auf dan Robert Kiyosaki dinaikan level spiritualnya dengan duit. Maria Ozawa dan Sora Aoi dijatuhkan spiritualnya juga dengan limpahan duit.   Para pencapai hikmah ilahiyat mencapai wisdom dengan dimelaratkan duit, para pemaksiat-Nya banyak menerima azab banyak juga dengan dimelaratkan duit.   Di alam material ini, duit boleh disebut intisari Tuhan berbagi kebijaksanaan, duit menjadi alat Tuhan menarik dan berbagi bahagia sekaligus menarik dan berbagi derita. Dengan duit, Tuhan menjadi Maha Kuasa.   Tuhan tidak ada tersinggungnya dengan duit, rasa sakit hati atau pun euforia dengan duit tidak ada. Enteng saja Tuhan memberi duit pada Maria Ozawa walaupun dengan pemberian-Nya itu jadikan Maria Ozawa yang tadinya hanya bermain satu lawan satu, jadi berani satu lawan dua, dan lebih berani lagi satu lawan keroyokan.   Namun juga, Tuhan tidak tersinggung hati, Dia enteng-enteng saja melimpahkan kekayaan terbaik di dunia ini kepada Bill Gates lantaran amalan kemanusiaan Bill Gates yang menakjubkan.   Sedemikian lihai Tuhan terlepas keterikan dengan duit, sehingga seenaknya Dia tarik dan lepas duit. Dan anehnya seenaknya Tuhan menarik dan melepas duit, Tuhan tetap berduit banyak, dan menjamin duit untuk setiap makhluk melata di Bumi-Nya. Kata lainnya, “Tuhan makmur duit.”   Seenaknya dengan duit artinya Tuhan tidak sensitif dengan duit. Ini yang harus kita ukur ke dalam diri kita, karena kita sebaliknya sangat sensitif dengan duit. Andai Tuhan sensitif dengan duit? Kira-kira bagaimana mekanisme alam semesta ini?   Di dalam spirit Anda telah terprogram mental Tuhan terhadap duit. Anda kalau melihat anak Anda berprestasi seringkali memberi hadiah istimewa, tentu itu duit. Menjerakan anak Anda yang nakal juga dengan duit, misal tidak mau belikan mainan kalau anak Anda tidak mau mengubah kelakuan buruknya.   Anda juga kadang memberi duit pada anak karena ada ancaman dari anak, kadang juga memberi duit pada anak karena ada pujian dari anak. Artinya di dalam diri Anda sebenarnya sudah ter-install intisari Zat Tuhan sebagai pemain duit.   Spirit Anda adalah program mental Tuhan karena ini Anda dalam sebuah hadits diperintah untuk berakhlak seperti akhlak Tuhan. Sebab ini mental Tuhan terhadap duit ada dalam spirit Anda. Penghambat spirit Anda bermental ringan hati terhadap duit karena Anda terlalu mengistimewakan duit, sehingga duit sangat berharga. Barang berharga konsekuensinya jadi langka.   Kalau Anda merasa duit susah dicari, sebenarnya titik masalahnya “duit masih sangat istimewa di hati Anda”. Afat psikisnya terhadap “barang istimewa”, Anda jadi sangat sensitif terhadap duit. Enam tahun lalu saja saya masih sangat sensitif dengan uang seribu perak.   Bukateja, tempat saya tinggal, adalah wilayah kota kecamatan. Tentu parkir kendaraan di pasar dan daerah pertokoan itu hal lumrah jika siang hari.   Suatu malam saya belanja di Indomaret, di situ ada tukang parkirnya. Pikir saya, “Malam-malam kok ada parkiran. Kurang ajar!” Lalu dengan wajah melengos dan agak jutek saya membayar uang parkir seribu perak.   Di sini sensitifnya saya pada duit seribu perak. Seribu perak saja digenggam kencang, dicengkram kuat-kuat, hingga sekedar bayar parkir seribu perak malam hari di kota kecil seperti Bukateja, saya merasa berat hati.   Beda dengan sekarang. Ketika saya belanja malam hari di Indomaret, lalu ada parkiran, hati saya merasa bahagia, “Alhamdu li-llâh saya ke Indomaret malam hari bisa mengalirkan rezeki untuk tukang parkir. Memberlimpahinya,” kata hati saya dengan rasa bahagia.   Bukankah beda sekali kesadaran saya 6 tahun lalu dengan sekarang?   Dan mengunduh rasa bahagia dengan kesadaran memberi seribu perak pada tukang parkir, untuk saya ini latihan mental yang cukup lama.   Lalu bagaimana melatih diri agar jadi ringan hati pada uang? Latihannya cuma dengan meningkatkan pembiasaan belanja dan pengeluaran lainnya.   Begini, awal saya beli tanaman hias, harga 35 ribu sudah terasa mahal. Dibiasakan terus angka tersebut sampai terbiasa. Angka 75 ribu untuk tanaman hias belum dikenali.   Lalu ketika beli tanaman hias lagi, naikan ke harga 75 ribu. Lalu biasakan.   Saat di angka 75 ribu itu angka-angka di atasnya belum dikenali. Lalu naik bertahap, pelan-pelan, sampai terasa biasa saja. Kalau sudah biasa saja itu artinya hati sudah kenali rasa ringan.   Dan terus begitu, hanya tingkatkan dan biasakan.   Angka sedekah juga begitu. Angka berapa yang biasa Anda keluarkan itu tingkatkan bertahap, pelan-pelan saja, hingga kemudian terasa biasa-biasa saja.   Dan ingat! Jangan ngawur! Jangan ngawur maksudnya tetap lihat kondisi duit Anda. Penghasilan 3 juta, latihannya beli kaos harga 1,5 juta, ya goblok!   Angka duit yang berat itu karena belum Anda kenali, harus dikenalkan, lalu biasakan. Tujuannya meruntuhkan kemelakatan terhadap nilai istimewa duit sehingga tidak tersinggungan dengan duit.   Kalau latihannya dengan memperbesar belanja dan sedekah seperti itu, berarti makin boros, lalu kapan duitnya tambah? Eeh Anda percaya dengan ini, tidak?   “Dari Abu Hurairah R.A, Nabi S.A W bersabda;   أَنْفِقُ يَا بِلاَلُ! وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلاَلاَ “   “Belanjakanlah (hartamu), hai Bilal! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Zat Pemilik Arsy.” (H.R. Baihaqi)   وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ   “Dan apa saja yang kamu belanjakan, Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezeki yang tebaik.” (Q.S. Saba : 39)   Justru cara menambah duit itu dengan membelanjakannya, kalau menambah duit dengan cara mengumpulkan harta, itu mah ajaran Qorun, ujung-ujungnya ditelan bumi.   Karena itu sejak masih kere, sejak masih memegang nominal kecil duit, latihlah untuk ringan hati kepada duit. Enteng dengan duit. Sehingga ketika nominal duit Anda membesar, Anda enteng-enteng saja meninggalkan duit karena terbiasa dengan duit yang tidak lagi istimewa. Dengan demikian duit selalu ringan di hati.   Nanti kalau angka-angka duit sudah jadi pembiasaan sehingga terasa ringan di hati, apapun ikhtiyar Anda untuk hasilkan uang akan seperti benih kecambah disiram hujan. Yang penting ikhtiyarnya tetap konsisten dijalankan, jangan berhenti.   Ketika Anda bisa ringan hati pada duit, duit menjadi bukan hal yang istimewa. Ketika sesuatu bukan lagi hal istimewa, sesuatu tersebut menjadi barang rongsokan yang dimana-mana ada, dimana-mana banyak.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

DITAGIH HATI MISKIN

Anda perhatikan dulu baretan pada moncong mobil saya. Ceritanya begini.   Saya itu orangnya “nyah-nyoh” dengan harta. Dari kain, baju, sarung, rokok, makanan hingga uang, saya biasa “nyah-nyoh”. Saya paham, “nyah-nyoh” dengan dilatarbelakangi rasa kaya itu akan menarik kekayaan. Dan itu semua terbukti, istri pun mengakui, karena kenyataan duit meningkat terus dari waktu ke waktu, dan saya termasuk suami yang sudah tidak pernah dengar istri mengeluh bingung duit.   Nah dalam bulan ini, istri saya sedang muncul rasa miskinnya, sehingga di hatinya dongkol menyaksikan saya “nyah-nyoh”. Apalagi bulan ini yang namanya masuk restoran traktir tamu hampir tiap hari. Istri saya ketar-ketir juga.   Saat melihat saya “nyah-nyoh”, hati istri saya awalnya jelas rasa itung duit ples rasa “eman-eman”. Semua rasa itu memunculkan rasa kurang.   Di sisi lain, istri saya tentu orang yang paling dekat dengan saya, mentalnya tentu terbentuk oleh saya, istri saya sadar sepenuhnya apa itu rasa kaya.   Jadi saat-saat itu istri saya ragu-ragu antara kaya dan miskin. Dia ragu-ragu sebagai orang kaya yang sanggup “nyah-nyoh” atau orang miskin yang segala urusan duit itu berhitung dengan rasa terbatas. Dia ragu.   Anda kalau sedang masukan zakar Anda ke vagina istri tapi istri ragu-ragu, mungkin karena merasa vaginanya masih kering atau lainnya, amati saja si istri akan kesakitan, minimal rasakan nyeri vagina, itu karena keraguannya. Segala keraguan tidak bisa peroleh hasil maksimal.   Nah melihat “nyah-nyoh-nya” saya di bulan ini yang frekuensinya meningkat, istri ragu-ragu antara miskin dan kaya, ia tidak bisa total hadir sebagai orang kaya.   Saya tahu keadaan mental istri, tapi saya diam saja. Dan ternyata mental istri bukannya membaik, tapi malahan menular ke saya. Saya juga jadi punya mental itung dan ragu-ragu.   Malam harinya saya terbangun sekitar jam 3 pagi, minum teh dan merokok. Di malam itu saya melihat perang dahsyat di hati istri saya, perang antara rasa kaya versus rasa miskin. Artinya malam itu saya diberi sinyal oleh alam semesta kalau getaran kemiskinan istri saya sudah menguat.   Paginya saya masih diam saja, karena saya pun tertular, mulai terperosok khilaf.   Pada akhirnya sore harinya, jelang Maghrib, salah satu sopir saya sedang memasukan mobil Daihatsu Xenia ke garasi. Dan prek, menyerempet Honda HRV Prestige merah. Lalu sopir melapor.   Saya tandang mengecek kondisi mobil, lumayan dalam goresannya. Tidak lama kemudian istri juga mengeceknya. Karena tertabrak azan Maghrib, kami tidak sempat mengobrol, istri harus segera berangkat ngajar ke pesantren. Sementara saya di rumah saja karena di jam Maghrib saya tidak punya jadwal ngaji.   Nah sepanjang istri ngajar di pesantren, hatinya jalan-jalan terus, bertanta-tanya, “Ada apa, ya? Kok tiba-tiba terima musibah?” Usai Isya, istri pulang ke rumah. Begitu bertemu saya langsung tanya, “Ada apa ya, Yah?”   Dan kami pun terlibat pembicaraan dengan apa yang sudah saya tuliskan di atas. Yang jelas, rasa miskin, rasa terbatas yang menguat dari istri, itu yang kemudian mengundang musibah mobil tergores.   Lalu istri juga mengungkapkan, di minggu ini dia merasa uangnya cepat sekali habis, padahal rezeki sedang naik, belanja sesuatu yang bernilai mahal juga tidak. Duit istri seperti hilang ditelan angin, tidak tahu kemana. Dirunut untuk belanja apa saja sehingga uang habis juga tidak ketemu, karena setahu istri semua biaya finansial berjalan biasa-biasa saja.   Ya memang saya kerap traktir tamu ke restoran, tapi itu pengeluaran biasa saja, sekali makan capai jutaan juga tidak, paling-paling ratusan ribu.   Karena terpancing istri yang keluhkan duit sedang cepat habis, saya iseng cek saldo rekening di e-banking handphone, karena saya juga merasa aktifitas transfer lumayan kerap.   Begitu saya lihat saldo, saya tertegun, lalu spontan saya ngomong sama istri, “Bunda, kok bisa saldonya banyak begini? Padahal Ayah lumayan kerap transfer keluar.”   Di situ kami berdua jadi tertegun, betapa rasa hati yang kaya itu berpengaruh akurat pada realita rezeki.   Saya tidak begitu lama terpengaruh oleh rasa miskin istri, dan masih tetap dominan rasa kayanya, alhasil transferan rekening banyak, tapi entah jalan bagaimana, saldonya tetap banyak dan meningkat. Otak memperkirakan saldo terkuras banyak, tapi meleset.   Sebaliknya istri, merasa pengeluaran biasa-biasa saja, tapi uang raib. Itu karena istri terlalu lama diendapi rasa miskin dan rasa terbatas menyaksikan saya “nyah-nyoh”.   Jadi pantas kalau Ibn Qayyim Al-Jawziyah menyampaikan,   مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى   “Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.”   Ya rasa miskin itu rasa cinta melekat. Karena rasa miskin itu hakikatnya rasa kurang. Setiap cinta akan munculkan rasa kurang. Anda bertemu pacar satu hari rasanya kurang, itu karena Anda menyintainya. Kenapa Anda selalu merasa kurang duit? Itu karena Anda menyintainya.   Karena itu lepas dari kecintaan pada duit itu munculnya rasa kaya, rasa berlimpah di hati.   Anda kerap alami fenomena seperti istri saya, kan? Uang digunakan sepertinya biasa-biasa saja tapi terasa raib begitu saja, tidak jelas digunakan untuk apa? Itu sebenarnya rezeki yang disabotase rasa miskin dari hati Anda.   Dan kalau tidak jera juga dengan rasa miskinnya, selanjutnya akan panggil musibah kerugian. Ya menyintai dunia dengan melekat hanya akan hadirkan kerugian yang tidak pernah berhenti.   يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ   “Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.“ (H.R. Ahmad)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

RIDHA MENERIMA BUDI

Cynthia: “Gus, saya punya pertanyaan yang sudah lama cukup mengganjal. Begini, Gus, saya memahami hukum keseimbangan alam. Apa pun yang terjadi, alam dengan caranya sendiri akan mengatur segala sesuatunya agar seimbang. Oleh sebab itu, saya jarang mau yang gratisan. Karena saya tahu, pada akhirnya saya tetap harus “membayar” apa pun yang gratisan itu. Misal masuk mushala di mall, selalu saya usahakan masukan uang ke kotak amal. Atau datang ke rumah teman, saya usahakan bawa sesuatu karena saya tahu pasti ia bakal ngasih snack banyak-banyak. Nah, bagaimana dengan Gus Banan? Saya banyak baca statusnya, dan saya “dapat” pelajaran. Mas Arif Rh, saya baca statusnya dan saya dapat insight. Dan banyak kawan-kawan fb lainnya, hampir tiap hari saya dapat gratisan ilmu dan insight. Pertanyaan saya, bagaimana saya harus “membayar”? Hidup ini kan take and give, bukan hanya taking terus.”   Saya: “Hidup ini gratisan memang tidak, tapi cuma-cuma, Bu. Satu sisi Anda tidak pernah bayar Oksigen, sisi lain Anda harus rawat alam agar Oksigen lestari, ditambah semua ada pertanggungjawabannya, itu artinya hidup ini cuma-cuma dari Tuhan walau tidak gratisan. Sehingga sekalipun tidak gratisan bukan berarti semua harus dibayar, karena hidup ini rahmat Allah semata. Karena rahmat, ya harus kita ambil sebagai rahmat, jangan dibayar, nanti Tuhan marah lo… hahaha.”   Cynthia: “Tapi ada rasa hutang budi, Gus.”   Saya: “Di dalam menerima budi pun kita harus ridha. Lepaskan saja kalau kita ada kesadaran seperti itu, relakan diri kita menerima rahmat. Kita masuk surga juga bukan karena amal baik kita, tapi karena rahmat Tuhan.”   Cynthia: “Jadi bukan hanya ridha memberi ya, harus ridha menerima juga? Ini konsep baru buat saya.”   Saya: Iya, Bu. Ridha menerima rahmat, ridha menerima gratis, ridha menerima budi, ridha di segala ranah.”   Di sini saya tambahkan sedikit, yang meruwetkan hidup itu mental gratisan, mental tidak sadar pentingnya pertukaran energi, mental tidak berpikir balas budi. Dapat gratisan itu rahmat, harus diterima dengan legawa dan ceria, tunjukan terima kasihnya, yang tercela itu bermental tangan di bawah.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

TERIMA UANG KECIL

Saya pernah bayar Rp 120.000 kepada seorang pengusaha kaya. Ceritanya waktu itu saya buka peluang reseller untuk online class saya kepada para alumni. Salah satunya ada alumni saya yang seorang pebisnis besar. Beliau ajak 1 orang temannya.   Waktu mau bayarkan royalti saya tidak enak hati, saya rikuh kasih 120.000 kepada beliau, ya karena penghasilan beliau ratusan juta tiap bulan, apa arti 120 ribu? Beliau sekali kasih bantuan ke pesantren saya juga jutaan, itu petunjuk beliau punya duit. Di sini saya belajar mentalitas dagang dari beliau. Beliau berkenan menerima dengan riang gembira penuh syukur.   Itu karena beliau sadar menjadi reseller kelas online saya itu artinya ikatan bisnis. Karena urusan bisnis, beliau pasang mental sebagai pedagang, bukan mental pembantu urusan sosial. Dapatnya nominal kecil, tapi karena beliau sedang hargai jiwa dagangnya, beliau tetap menerima dengan riang gembira.   Material alam semesta ini semuanya punya nilai tukar, karena itu bisa dihargai dengan uang. Supermie, kambing, batu, dan lainnya punya nilai tukar yang terukur sepadan. Nilai tukar material alam semesta selanjutnya bisa Anda ambil labanya karena seluruh partikel alam semesta ini sejatinya pelayan Anda, selanjutnya boleh Anda perjualbelikan.   Uang kecil dari dagangan Anda itu penghargaan untuk jiwa dagang Anda, itu layak Anda terima. Kalau Anda memang konsisten niat dagang, Anda harus hargai jiwa dagang Anda, walaupun uang kecil itu penghargaan untuk Anda.   Lah iya, Anda beli Supermie di Alfamart, di situ Anda paling-paling kasih uang 500 perak ke si bos Alfamart yang katanya orang kaya, bukankah itu tidak menghina?   Beda dengan jiwa Anda. Kalau jiwa Anda itu tidak dapat dikrus dengan uang, tidak ada satupun materi yang sebanding dengan jiwa Anda. Lalu ketika Anda terima dengan riang gembira uang pemberian seribu rupiah yang dipertukarkan dengan rasa kasihan orang lain kepada Anda, itu benar-benar diri Anda lebih murah dari harga tempe.   Nabi S.A.W menerima hadiah dan menolak sedekah, karena hadiah itu pemberian non komersial yang diberikan karena rasa menghargai. Sedekah sebaliknya, pemberian non komersial yang diberikan karena rasa kasihan. Non komersial cuma diukur 5 ribu rupiah, lah itu kan menghina? Artinya diri Anda tidak bernilai di mata si pemberi, hanya dikasihani saja.   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا   “Dari Abu Hurairah R.A, ‘Apabila Nabi S.A.W diberi makanan, beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan bahwa itu adalah hadiah, beliau memakannya, dan bila dikatakan itu adalah sedekah, beliau tidak berkenan memakannya.’” (H.R. Muslim)   Karena itu terima uang kecil atas nama pemberian, itu penghinaan, tapi uang kecil atas nama dagang itu penghargaan.   Uang kecil dari dagang kalau memang Anda berniat dagang, Anda akan sanggup menyukuri dan menerimanya, tapi kalau hati Anda tersinggung itu artinya niat dagang Anda tidak kokoh, masih plin-plan jadi pedagang.   Dagang harus diberi ruh dagang, sementara hakikat dagang adalah mengomersilkan barang atau jasa untuk diambil labanya. Dagang jelas butuh ruh dagang, bukan butuh ruh sosial, ruh harga diri, ruh ilmiah, dan lainnya.   Kalau memang Anda jualan barang atau jasa, Anda tidak gengsi terima uang kecil, kalau Anda gengsi itu hakikatnya Anda bukan jualan barang atau jasa, tapi jualan diri. Karena itu orang gengsian, dagangnya ambrol.   Saya menulis ini karena ada beberapa kasus pengusaha yang bisnisnya sudah meroket lalu ambruk, eeh ditelisik ternyata mereka gengsian saat terima laba kacil.   Hasilnya, uang kecil dalam dagang itu penghargaan, hati Anda menolak uang kecil dari dagang itu bisa melorotkan bisnis Anda. Dan uang kecil dalam pemberian sosial itu merendahkan, hati Anda nyaman terima uang kecil dari pemberian itu bisa melorotkan kualitas hidup Anda.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

KUOTA BELANJA KUOTA REZEKI

Kota-kota metropolitan semuanya adalah daerah-daerah padat penduduk, yang artinya konsumen rezeki di sana banyak, namun justru di kota-kota tersebut rezeki jadi banyak.   Jakarta, misalkan, tahu-tahu potensi bangun rumah saja di sana tidak ada jalan lain selain harus membangun di atas rumah, bangunan harus bertingkat mencakar langit saking sudah tidak ada lahan tanah, namun rezeki di sana makin melimpah dan mudah.   Di pedesaan, lahan tanah masih banyak yang kosong karena penduduk sedikit, tapi cari milyader di pedesaan susah, temukan pemilik mobil kelas Mitsubishi Pajero Sport juga susah. Kuota rezeki di pedesaan jauh lebih sedikit ketimbang di perkotaan.   Artinya syarat rezeki melimpah itu bila konsumen rezeki banyak. Karena ini setiap orang kaya pasti ia punya kekuatan mengfasilitasi orang lain menerima rezeki, dari jadi bos, juragan, kepala keluarga, pemimpin masyarakat, jadi dermawan atau jadi tukang belanja.   Jadi bos dan juragan jelas kerjaannya menggaji karyawan. Jadi pemimpin masyarakat kerjaannya mengurusi kesejahteraan masyarakat. Jadi kepala keluarga kerjaannya mengfasilitasi nafkah keluarga. Jadi dermawan jelas kerjaanya berbagi rezeki. Dan jadi tukang belanja kerjaannya menabur rezeki kepada para pedagang.   Belanja memiskinkan? Salah. Justru belanja itu mengkayakan karena belanja itu berarti mengfasilitasi orang lain peroleh rezeki. Dan rezeki itu kuotanya makin membesar bila makin banyak yang mengonsumsinya sebagaima sistem rezeki dan kota metropolis dan di pedesaan.   Karenanya siapapun yang dikehendaki kaya oleh-Nya pasti ia disadarkan dan dibukakan rasa kalau belanja itu asik, melepaskan uang itu kegembiraan.   Dan sebaliknya yang akan disempitkan rezekinya ia tidak disadarkan hal yang demikian sehingga mereka berasik ma’syuq dalam irit, efesiensi, pelit, perhitungan, dan rasa kalau pengeluaran uang itu adalah hal yang sangat menyusahkan hati mereka.   Goblok banget ya orang irit, pelit, efesien dan perhitungan? Di kampung halaman saya dulu ada pengusaha kaya asal Tegal, Jawa Tengah. Setiap tahun di kampung saya, ia membuat acara kesenian besar-besaran. Ia mengundang berbagai kesenian Jawa untuk menghibur masyarakat. Waktunya bisa 9 malam nonstop.   Ditanyai, “Kenapa sampai 9 malam?” Ia menjawab singkat, “Kalau cuma semalam para pedagang jajanan itu dapat apa?”   Jadi ia sadar pentingnya mengfasilitasi rezeki bagi orang lain. Belum lagi dermawannya yang luar biasa kepada semua kalangan masyarakat.   Kemarin ada direct IG masuk dari salah satu alumni kelas online saya; Servo Prosperity, kebetulan adiknya berprofesi foto model dan selebgram. Ia sampaikan begini, “Saya sedang di Bali saat ini bersama adik saya, ummm… niatnya mau refreshing dan belanja alias bagi-bagi rezeki kepada warga Bali, sekalian adik saya juga masih bisa foto untuk kerjaan. Pas sudah sampai Bali, adik saya cek kok barang yang untuk kerjaan di foto ketinggalan di Jakarta, duh padahal kan sudah janji, ‘Ya wislah paling batal nggak apa-apa nanti ada order lain,’ begitu pikir kita. Yang penting seneng-seneng dan tetep belanja supaya ekonomi Bali lumayan bergerak (walau mungkin tidak seberapa),” tuturnya.   Ia melanjutkan, “Dan apa yang terjadi? Perusahaan tersebut tetap lanjut dan adik saya ditungguin sampai Jakarta untuk foto dengan product yang ketinggalan tadi. Matur nuwun Gus atas ilmu “makin kaya hambur-hambur uang dengan kesadaran berbagi”. Makin sehat, bahagia dan hambur-hambur uang tanpa batas ya buat Gus Banan,” pungkasnya.   Jadi begitu, orang yang akan dibesarkan kuota rezekinya ia disadarkan dan hatinya dibuat merasa kalau melepaskan uang untuk belanja itu mengasikan. Ia sadar kalau belanja itu artinya mengfasilitasi rezeki bagi orang lain.   Nah belanja itu di hati Anda asik apa memberatkan? Kalau terasa berat dan hati Anda membantah dan tidak bisa membenarkan, itu artinya Anda belum waktunya jadi orang kaya.   Lah, Gus, tapi banyak orang foya-foya belanja dan hartanya amblas? Ya itu karena kesadaran belanjanya itu kesadaran hedonis, atau bisa jadi ia orang ngawur belanjakan harta alias tabdzîr.   Jadi kuota belanja bisa menjadi pembesar kuota rezeki itu bila Anda sadar bahwa belanja itu mengfasilitasi orang lain peroleh rezeki, ia sadar bahwa ia menjadi tangan Tuhan guna bagikan rezeki bagi orang lain.   وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ   “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Q.S. Al-Baqarah : 265)   Syarat belanjakan harta yang perbesar kuota rezeki itu harus sadar mencari ridha Allah. Sadar mengfasilitasi rezeki bagi orang lain dalam belanja itu kategori cari ridha Allah, bukan? Belanja, yuk. Jajan, yuk!   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

PEDAGANG YANG SUSAH KAYA

Kemarin saya bertemu pengrajin dan pengusaha plafon Gypsum. Dia cerita prinsip bisnisnya, “Saya ini, Gus, bisnis Gypsum tidak seperti umumnya pengusaha Gypsum. Umumnya pengusaha Gypsum pakai sistem borongan dan mereka juga kerap menumpang harga eceran bahan Gypsumnya. Kalau saya, para pembeli saya suruh ganti harga bahan Gypsumnya, saya kasih nota asli dari toko bangunan, lalu saya suruh bayar kerja harian saja, jadi lebih murah.”   Dengar cerita prinsip bisnisnya, saya tilik kendaraannya, masih pakai motor roda dua, “Bukan orang kaya, cenderung masih kekurangan finansial,” saya membatin.   Minggu lalu mobil Xenia saya masuk bengkel karena baret-baret dan sedikit penyok, diserempetkan salah satu santri. Kebetulan saya ada saudara pedagang mobil scond, dan dia minta menanganinya untuk dibawa ke bengkel langganannya.   Setelah selesai saya kaget dengan nota pembayarannya. “Murah banget! Jauh beda dengan bengkel umum,” sambat saya.   Lalu saya bilang ke saudara saya, “Mas, kehidupan finansial si pemilik bengkel pasti cenderung biasa-biasa saja. Iya, kan? Tidak kaya?”   “Iya betul. Biasa-biasa saja,” terangnya. “Saya ada langganan bengkel satu lagi, harganya normal saja, dia cenderung tegas dengan tarif harga, dan betul loh dia kaya,” lanjutnya.   Anda renungi! Orang buka usaha itu spiritnya untuk cari cuan bagi dirinya sendiri, makanya mental pedagang itu harus kreatif cari untung, bukan kreatif belaskasihani orang lain.   Pengusaha Gypsum dan pemilik bengkel mobil di atas itu dagang tapi kreatifnya bagaimana menolong orang lain sehingga meleset dari spirit dagang yakni mencari untung untuk kebaikan rezekinya, hasilnya mereka susah punya duit.   Lah iya, dagang jasa dan material Gypsum dan usaha bengkel mobil kok kreatifnya bagaimana pembeli dapat harga semurah mungkin, kan meleset dari spirit dagang itu sendiri. Spirit dagang itu dapat cuan, ya harus kreatif bagaimana peroleh cuan.   Anda bayangkan! Kalau Anda membangun masjid yang bertujuan sosial ibadah, lalu Anda bisniskan masjidnya. Wudhu bayar, parkir bayar, shalat bayar, ikuti pengajian bayar, ya yang timbul fitnah karena keluar dari spirit amal sosial berdirinya masjid.   Demikian pula dagang, spiritnya untuk cari cuan, lah kok diarahkan pada spirit amal sosial, ya bubar dagangnya. Dagang begitu ya cuma dapat capek sementara duitnya tidak ada.   Salah satu grosiran saya kulak untuk toko kelontong saya ada yang harganya murah sekali. Betul, lumayan laris, pelayanannya juga sama seperti grosiran lainnya, hasilnya si pengusaha grosiran tersebut sakit-sakitan, bolak-balik masuk rumah sakit, karena kerja maksimal melayani pembeli yang keasikan dapatkan harga murah, sementara secapek itu dia tidak dapat duit. Hasilnya usaha lambat berkembang, cuan kecil, duit tidak ada, badan capek, dan berakhir keluar-masuk rumah sakit.   Dikira jualan dengan harga murah itu jadikan laris? Tidak. Tidak. Tidak.   Saya pernah ada peserta workshop yang keluhkan begini, “Gus, saya dagang mainan anak dengan harga paling murah. Lah kok malah tidak laku. Saingan saya yang lebih mahal malahan laris, ini bagaimana, Gus?”   “Kalau Anda jadi pembalap motor, lalu mental Anda ngalahan dalam pertandingan, apa ada orang simpatik dan segan kepada Anda?” Tanya saya.   “Enggak, Gus,” jawabnya.   “Ilusinya dagang dengan harga murah itu akan laris, tapi justru itu keluar dari spirit dagang, tidak ada menariknya bagi dunia jual beli. Kalau jadi pembalap motor tapi spiritnya ngalahan di pertandingan itu tidak ada menariknya bagi dunia balap, maka prinsip murahkan harga jual dan cari untung serendah-rendahnya juga tidak ada menariknya untuk dunia jual beli. Ujung-ujungnya dagangnya bangkrut dan bermasalah.”   Hai Anda para pedagang! Spirit dagang itu cari cuan, kreatiflah dapatkan cuan, spirit dagang bukan belaskasihani orang, bukan menolong orang lain secara sosial, jadi jangan dipleset-plesetkan. Dagang kok kreatif belaskasihani orang, ya Anda cari modar.   Sama saja brengseknya dengan hajatan dengan spirit untuk cari cuan. Hajatan nikahan dan khitanan, itu spiritnya kehidupan sosial, prinsip gotong royong, lalu Anda hajatan untuk cari cuan dari amplop kondangan, biasanya orang hajatan dengan tujuan cari cuan berakhir banyak hutang. Amati saja!   Dagang spiritnya cari cuan, cari untung diri, cari kekayaan diri, kok diprinsipi belaskasihan pada orang, ya sama saja Anda hajatan diprinsipi cari cuan. Modar!   Tapi saya ingatkan lagi, ya? Spirit dagang memang cari untung, bukan cuma harus shidiq dan amanah, namun di luar urusan dagang Anda harus dermawan agar energinya seimbang antara mengambil dan berbagi.   كُنَّا نُسَمَّى فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – السَّمَاسِرَةَ ، فَمَرَّ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَسَمَّانَا بِاسْمٍ هُوَ أَحْسَنُ مِنْهُ ، فَقَالَ : ” يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ ! إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلِفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ   Artinya: “Kami pada masa Rasulullah S.A.W disebut dengan “samasirah“ (calo/makelar). Rasulullah S.A.W menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik dari calo. Beliau bersabda, “Wahai para pedagang, sesungguhnya jual beli kadang diselingi dengan senda-gurau dan sumpah-sumpah, maka perbaikilah dengan sedekah“ (H.R Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai & Ibnu Majah)   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

Scroll to Top