Author name: gus banan

JUNI 2023

MENUKARKAN ENERGI KE LANGIT

Sudah populer, cerita dalam hadits Nabi S.A.W tentang 3 orang yang terjebak dalam goa, kisahnya shahîh diriwayatkan Al-Bukhâri dan Al-Muslim.   Ketiga orang tersebut dalam perjalanan dan sedang beristirahat di dalam goa. Tiba-tiba ada batu besar longsor menutup pintu goa. Sangat panik.   Akhirnya suara hati ketiganya menunjuki jika ingin selamat mereka harus berdoa dengan menukarkan energi kebaikan ke langit, “Tidak ada jalan lain selain kita harus memohon pertolongan-Nya dengan menyebutkan amal-amal shaleh kita,” ungkap salah satu di antara ketiganya.   Orang pertama berdoa agar Dia menolong mereka dengan menyatakan kalau ia tanpa pamrih melayani kedua orang tuanya yang telah tua renta, hingga kerap menomorduakan kepentingan anak istrinya demi istimewakan orang tuanya. Itu semua ia lakukan demi mencaei ridha-Nya. Usai ia berdoa, batu besar penutup goa begesar.   Orang kedua berdoa dengan menyebutkan kalau ia pernah jatuh cinta pada seorang cewek, keduanya saling menyintai. Saat akan berbuat mesum, dan tinggal tembakan tombak ke dalam, si pemuda mengurungkannnya karena takut dengan-Nya. Usai ia berdoa dengan amal ini, batu besar penutup goa bergeser lagi.   Orang ketiga berdoa dengan menyebutkan kalau ia pernah khianati bayaran seorang buruh. Uang bayaran buruh tersebut tidak diberikan, malah ia gunakan untuk modal usaha ternak. Usahanya pun maju pesat.   Di saat usahanya telah maju, si buruh datang kepadanya menagih bayaran kerja. Merasa pernah menzalimi si buruh, ia menyerahkan semua ternak beserta para gembala ternaknya. Itu ia lakukan untuk menebus kezalimannya di masa lalu. Usai ia berdoa dengan amal kebaikan ini, batu besar penutup goa terbuka lagi hingga ketiganya bisa keluar dengan selamat.   Anda kerap kan hadapi kesulitan yang Anda tidak tahu jalan keluarnya, sana-sini buntu?   Saya sudah lama melakukan konsistensi amal baik yang sengaja dengan penuh sadar saya lakukan. Nah konsistensi amal baik ini kerap saya tukarkan kepada-Nya dalam keadaan darurat tertentu.   Jujur ya, saya dengan konsisten menggaji orang tua dan seorang guru spiritual. Dalam keadaan sepayah apapun, saya tetap konsisten. Sedikit pun tidak ada plin-plannya, tidak dalam keadaan luas rezeki maupun sempit rezeki. Konsisten.   Nah dalam keadaan darurat tertentu di mana saya alami kesulitan dan tekanan dahsyat, saya kerap bicara kepada-Nya, “Ya Allah. Saya sudah berusaha keras memuliakan orang tua di mana orang tua adalah azimat bagi anak, dan saya juga telah berusaha keras memuliakan salah satu hamba-Mu yang shaleh, itu semua saya lakukan dengan konsisten hanya agar hidup saya diberkahi. Karena ini saya mohon kepada-Mu keluarkan saya dari kesulitan dan tekanan ini dengan kemuliaan dan kekayaan lahir batin, kemuliaan dan kekayaan dunia akhirat.”   Dan doa tersebut auto keluar dari hati saya dengan yakin di setiap kali saya hadapi kesulitan dan tekanan. Sehingga ada rasa percaya diri besar keluar dari hati saya, bahkan saya merasa tidak layak kalau hidup saya terpuruk, masalahnya yang durhaka pada orang tua juga banyak yang kaya raya, kenapa saya yang memuliakan orang tua malah terpuruk? Saya merasa tidak layak terpuruk.   Dan hasilnya saya ditekan kesulitan karena ada orang dengki, yang mendengki terkunci sendiri langkahnya tidak bisa berbuat apa-apa, lalu dipaksa oleh alam semesta untuk memakan pahitnya menyaksikan saya makin berjaya.   Saya ditekan kesulitan finansial, banyak tanggungan biaya, tapi duit tidak ada, alhamdulillah makin hari rezeki makin murah. Saya direndah-rendahkan orang, alhamdulillah yang terbukti saya malah makin mulia. Dan banyak lagi.   Jadi sangat perlu Anda membentuk pola pertukaran energi ke langit dengan konsisten. Harus ada amal shalih yang Anda bentuk dengan konsisten dengan tujuan semata-mata berbuat kebaikan. Dan pola amal yang Anda bentuk tersebut memang terasa berat bagi Anda, bukan yang ringan-ringan dan gampangan.   Kalau saya memang merasa mantap dengan konsisten memuliakan orang tua dan salah satu guru yang memang secara spiritual sangat saya sandari. Anda membentuk polanya ya terserah sesuai keyakinan Anda, mau mengasuh anak yatim, menyantuni fakir miskin, menyubsidi pendidikan dan kesehatan, terserah Anda apapun yang dimantapi hati Anda.   Kalau belum bisa dengan materi harta, tentu dengan tenaga, pikiran, dan lainnya, yang penting itu bentuk amal shaleh.   Kalau ada pola amal shaleh yang konsisten Anda bentuk, fungsinya itu sewaktu-waktu Anda terdesak sangat darurat, Anda bisa mempertukarkan energinya ke langit.   Kenapa harus ada pola amal shaleh yang Anda bentuk? Karena tidak mungkin Anda hidup tanpa kesalahan, tanpa dosa, tanpa khilaf. Kalau sama sekali tidak ada pola amal shaleh yang secara sadar Anda bentuk, lalu Anda mau bayar salah, dosa dan khilaf itu dengan apa?   Hidup kerjaannya mengolok-olok orang, sedekah Jumat cuma 2 ribu perak, sama orang tua berani geram dan bentak-bentak, ada perempuan gatel pingin menggoda, mentalnya miskin penuh rasa kurang, lah hidup begitu ya pantas belangsakan.   Jadi bentuk pola amal shaleh dengan konsisten dan istiqamah, sesuatu yang memang berat, jangan yang enteng-enteng, sehingga dalam keadaan yang Anda sangat sulit, Anda bisa menukarkannya ke langit.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan  

JUNI 2023

PLIN-PLAN UANG

Apa sih renik hidup ini yang tidak butuh konsistensi?   Masalahnya, kehidupan alam dunia ini dicipta dengan karakter plin-plan alias inconsistent, makanya disebut alam hudûts.   Betapa tidak plin-plan karakternya? Pilpres 2019 kemarin, Prabowo Subianto itu musuh bebuyutan Jokowi, sekarang sohiban rekat.   Kaesang dan Felicia tahun lalu terlibat love story mendalam, eeh sekarang ribet, cintanya diculik gendruwo cinta, hahaha bahasa elitnya ghosting.   Kemarin musuh, sekarang sohib, kemarin cinta dekat, sekarang musuh. Semua urusan dunia itu incosistent.   Jadi ciri satu urusan itu urusan duniawi atau bukan, dicirikan urusan tersebut konsisten atau tidak.   Tahun 1950-an ramai isu nikah kaum muslim tidak sah, karena presiden RI dianggap bukan waliyyul amri, karens bentuk negara NKRI bukan negara Islam, sehingga presidennya tidak bisa bertindak menunjuk perangkat KUA (Kantor Urusan Agama). Karena bukan waliyyul amri, berarti nikah kaum muslimin tidak ada yang sah. Eeh sekarang isu itu ada tidak?   Awal reformasi gencar isu pemimpin wanita itu haram. Waktu itu Megawati Sukarnoputri yang paling dihadang isu tersebut. Sekarang ada tidak isu tersebut? Pilgub, Pilbup, Pilwakot hingga Pildacil juga banyak diramaikan para wanita.   Ya begitu ciri urusan dunia, ia plin-plan dan incosistent. Sama saja isu negara khilafah, isu mata uang dinar dan dirham, lama-lama juga hilang sendiri dari peredaran, mirip love story yang alami ghosting. Plin-plan.   Nah karakter dunia itu terbalik dengan karakter jiwa Anda. Jiwa Anda itu konsisten karakternya. Setelah Anda meninggal dunia, jasad Anda hancur, namun jiwa Anda utuh untuk melanjutkan misi hidup.   Bila Anda tidak ingin digerus goyahnya dunia, Anda harus pengaruhi urusan dunia Anda dengan karakter jiwa Anda yang konsisten.   Kekayaan uang pun butuh pengaruh karakter konsistensi Anda dalam kekayaan, bila Anda tidak ingin goyah disapu plin-plannya kemiskinan dunia.   Sedang doyan-doyannya merokok, merasakan desakan kebutuhan sana-sini banyak, rokoknya diturunkan ke harga yang lebih murah.   Sedang doyan-doyannya pakai kuota internet, merasakan desakan kebutuhan ini dan itu, kuotanya dipangkas, alih-alih hemat.   Coba-coba pakai Pertamax, didesak kebutuhan ini dan itu, langsung ngacir ke Pertalite.   Didesak rasa tidak punya, anak sedang semangat-semangatnya kuliah disuruh berhenti kecuali mau cari biaya sendiri, alasannya tidak ada biaya lagi.   Nyaman beli onderdil kendaraan yang KW, hitung-hitung murah, tidak sadar kalau kaya itu di level orisinil.   Itu semua karakter plin-plan kekayaan, dibegitukan uang Anda juga plin-plan, kekayaan Anda juga akan plin-plan.   Kaya pun butuh konsistensi. Yang kokoh hatinya, sekali Dji Samsoe pantang surut. Hidup sekali cuma sedang cinta sama Dji Samsoe kok cuma karena desakan cabe mahal, Dji Samsoenya diganti Djarum 76.   Jangan mau dipengaruhi plin-plannya uang, kalau Anda merasa happy, ngapain Anda mau digoyang tekanan uang?   Kalau meraih satu impian butuh konsistensi, meraih kecukupan uang pun butuh sikap konsisten. Jangan plin-plan, doa nangis-nangis dalam shalat Dhuha minta rezeki luas, tapi mentalnya plin-plan dengan kebutuhan hidup. Ya shalat Dhuha Anda di-ghosting mental plin-plan Anda.   Ingat! Kaya harta itu tidak ada, yang ada itu kaya jiwa. Orang kaya jiwa tentu tidak lah plin-plan hanya digertak cabe mahal, plin-plan Dji Samsoe hanya digertak rasa tidak cukup.   Kaya pun butuh konsistensi.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

“KUTUNGGU JANDAMU”; HARAPAN SEBENARNYA PENGKHIANATAN PADA MASA KINI

Anda mau-maunya bersabar yang artinya membetah-betahkan diri dengan realita yang Anda sebenarnya tidak betah. Kenapa Anda mau bersabar? Tentu karena di balik hati Anda masih bisa menyaksikan ada harapan-harapan baik tertentu.   Demikian pula Anda mau berjerih-payah mengubah nasib hidup, mau belajar tanpa lelah, mau berkorban diri, kadang sudah sampai hendak putus asa tapi masalah yang Anda hadapi masih disambung-sambungkan dengan wisdom-wisdom bermakna sehingga keterputusasaan Anda dapat ter-pending, lalu Anda mencoba tetap kuat dan terus menguatkan diri. Kenapa Anda mau sedemikian hebat bertahan dalam komitmen melangkah? Tentu karena masih ada harapan baik yang bisa disaksikan dalam hati Anda.   Anda mau bergerak sekolah cari ilmu, mau bekerja pagi hingga malam, mau berbisnis dengan jatuh bangunnya, mau melamar cinta, dan lain-lain itu karena di dalam hati Anda ada secercah harapan.   Seekor kuda delman tidak punya harapan apapun dari kerja kerasnya berlari, kecuali mengikuti nalurinya sebagai hewan tranportasi. Karena tak ada harapan dalam dirinya, kerja keras kuda delman tak pernah membawa perubahan bagi hidupnya, tidak ada kuda miskin kemudian kaya raya gara-gara kerja keras lari. Beda sekali dengan Anda, kerja keras Anda bisa mengubah hidup itu dikarenakan ada harapan di dalam hati Anda.   Boleh disebut, pertumbuhan hidup Anda itu bergantung pada harapan-harapan Anda. Tanpa harapan, hidup Anda berarti mati.   Harapan sebenarnya sistem pengkhianatan hati Anda pada penerimaan masa kini. Anda di masa kini sedang hadapi pahitnya patah hati ditinggal nikah cewek Anda, namun Anda coba mengkhianati masa kini dengan harapan untuk masa mendatang dengan berharap, “Kutunggu jandamu,” itu artinya hati Anda meloncat ke masa depan, hidup di masa depan, sementara masa kini dikhianati oleh hati Anda.   Namun demikian, sekalipun harapan adalah pengkhianatan hati pada masa kini, namun adalah doa yang dijanjikan ijabah oleh-Nya.   Karakter kehambaan dalam diri Anda, tentu jadikan Anda punya batas daya dan upaya, yakni batas di mana Anda tak berdaya lagi kecuali berserah pasrah pada-Nya.   Saat Anda berserah pasrah berarti Anda berada dalam keadaan kosong.   Nah segala hal yang kosong itu apapun bisa mengisinya. Gelas kosong bisa diisi racun, bisa diisi madu, bisa air mineral, bisa batu, dan seterusnya.   Dengan harapan baik itulah kekosongan hati Anda diisi dengan sesuatu yang Anda kehendaki. Mau madu? Ya beri harapan madu.   Kuda delman yang kebablasan kosong tanpa harapan-harapan baik, hidupnya utuh tanpa perubahan sekalipun ia telah kerja keras.   Harapan itu doa. Doa dijanjikan ijabah. Iya Tuhan janjikan ijabah, namun konsekuensi Tuhan dalam ijabah-Nya tentu mengikuti mekanisme konsistensi Anda dalam doa.   Umpama Anda berdoa mohon dimudakan lagi usianya, kembali ke masa ABG. Iya betul itu doa dan harapan yang dijanjikan ijabah, namun doa Anda itu tidak konsisten dengan hukum alam, maka ijabah doa semacam ini adalah ijabah dengan “ketidakmungkinan terjadi”.   Sama halnya Anda berharap, Tuhan janjikan ijabah atas harapan Anda, namun harapan Anda itu menetapi mekanisme konsisten, apa tidak?   Umpama berharap, “Kutunggu jandamu,” ternyata si cewek sudah menikah dengan pria yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih mapan, lebih tanggung jawab, lebih mulia kepribadiannya dari Anda, maka konsekuensi pengabulan harapan, “Kutunggu jandamu,” itu sangat mungkin sekedar tamannî (angan-angan) saja.   Karena itulah Ibn Athaillah As-Sakandarî memberi koridor tentang harapan,   الرَّجاءُ ماَ قاَرَنهُ عملٌ وِالاَّ فهُوَ اُمْنِيَّةٌ   “Sebuah Harapan harus disertai amal perbuatan. Jika tidak, maka akan menjadi angan-angan saja.”   Jadi jelas, harapan itu cirinya disertai sikap konsisten dalam ikhtiyar. Jika tidak ada konsistensi atas harapan itu artinya harapan Anda sekedar pengkhianatan hati atas keadaan di masa kini. Tapi ya lumayan bisa buat menghibur diri, namun rawan halunisasi.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

MENEMUKAN RASA SEDERHANA

Rasa sederhana itu rasa biasa-biasa saja yang Anda unggah ke alam semesta. Efek unggahan rasa ini adalah sinergi keharmonisan hidup karena kesederhanaan itu pola asal penciptaan alam semesta.   Kemarin saya jelaskan algoritma alam semesta ini yang berpola asli sederhana, Anda pelajari matematika yang sangat njelimet, itu cuma susunan pola sederhana angka 0 – 9 yang dirumuskam sedemikian rupa.   Karena itu menemukan hal-hal sederhana dalam hati adalah kemewahan tertinggi.   “Jika Anda tidak bisa menjelaskannya secara sederhana, Anda tidak memahaminya dengan cukup baik.” (Albert Einsten)   Begini ya, Anda tidak pernah naik pesawat, lalu Anda naik Lion Air itu bagi hati Anda terasa mewah, walaupun bagi yang bissa naik pesawat itu biasa saja. Kalau nanti diulang-ulang lagi, Lion Air baru terasa biasa bagi Anda.   Sederhana kalau diukur dengan standar penilaian orang lain ya tidak bisa. Bagi saya, hotel bintang 5 itu mewah, tapi bagi lingkar finansial milyader itu sederhana. Ayam goreng dengan nasi putih bagi Anda itu sederhana, bagi rakyat Burundi yang tanah saja dibikin roti lalu dimakan, ayam goreng jadi mewah.   Karena ini standart sederhana itu penilaian rasa Anda sendiri, hati Anda menemukan hal itu sebagai hal biasa-biasa saja apa tidak. Karena itu di setiap level finansial punya kesederhanaannya sendiri-sendiri, sebab sederhana atau mewah itu perihal rasa hati yang Anda temukan.   Dan hukum segala hal itu punya efek euforia. Punya rumah baru, Anda rajin bersih-bersih, itu efek euforia. Nanti setahun saja di rumah itu, rajinnya luntur semuanya.   Nah Anda pakai sarung BHS harga 3 juta, itu awal pakai terasa mewah, ada sensasi euforia. Namun kalau rara-rata sarung Anda bermerk BHS, sarung branded tersebut jadi biasa saja. Ya kan?   Karena itu menemukan rasa sederhana yang menjadi algoritma kehidupan itu bukan dibikin irit-irit dan murah-murah, tapi biasakan apa yang jadi standart selera Anda.   Umpama sarung BHS. Biasakan saja beli dan pakai, nanti berangsur rasa sensasinya hilang dan jadi biasa-biasa saja.   Sebab ini Nabi Sulaiman tidak bisa Anda stempel hidup dalam kemewahan dan kemegahan, beliau di level sultan. Bagi beliau itu biasa saja kok. Lah iya, Sultan Hasanah Bolkiah menurut Anda hidup mewah, bagi Bill Gates ya Sultan Hasanah Bolkiah masih hidup biasa-biasa saja.   Sama saja Nabi Sulaiman, bagi Anda beliau mewah, bagi level sultan ya biasa saja.   Sekali lagi, temukan rasa sederhana itu ya dengan cara biasakan, sebab membiasakan mengonsumsi yang murah-murah itu justru melemahkan daya finansial Anda. Daya beli Anda lemah itu tanda daya finansial Anda juga lemah.   Hanya masalahnya di titik ini, banyak orang yang terjebak “gaya hidup”. Seharusnya Anda beli ini dan itu untuk melatih daya finansial Anda, bukan turuti gaya hidup dan nafsu konsumtif. Itu.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan  

JUNI 2023

AKUMULASI REPORT BERJAMAAH “REZEKI”

Kemarin akun resmi All England 2021 di Instagram mendadak hilang, pada Sabtu 20 Maret 2021. Saat dicari, akun @allenglandofficial sudah tidak ada.   All England menyatakan tim Indonesia harus mundur dari kejuaraan, pada Kamis 18 Maret 2021 dini hari WIB. Ketika itu, ada enam wakil Indonesia yang bertanding.   Penyebabnya adalah, tim Indonesia disebut terbang dari Istanbul ke Birmingham, para pemain Indonesia berada satu pesawat dengan orang yang positif Covid-19. Sesuai regulasi di Inggris, maka pemain Indonesia harus diisolasi 10 hari. Padahal hasil dua kali polymerase chain reaction (PCR) negatif Covid-19.   Ya saat berita tim bulu tangkis Indonesia dipaksa mundur, seketika itu juga perasaan masyarakat Indonesia dari presidennya hingga warga RT-nya mengunggah rasa kecewa besar kepada penyelenggara All England.   Masyarakat Indonesia protes, salah satunya dengan serbuan netizen Indinesia ke akun resmi Instagram All England 2021.   Begitu report perasaan manusia ketika diunggah ke alam semesta. Rasa kecewa besar diunggah ramai-ramai ke alam semesta, hasilnya akun All England lenyap.   Tajam sekali kan perasaan Anda bila konsisten diunggah ke alam semesta? Bila perasaan yang diunggah adalah perasaan buruk, begitu mematikan.   Nah berarti andai yang diunggah adalah perasaan baik, tentang kekayaan, tentang keberuntungan, tentang kasih sayang, dan seterusnya, tentu unggahan perasaan baik Anda juga sangat tajam menarik keberlimpahan.   Apalagi ketika dilipatgandakan perasaannya yakni dengan mengunggah rasa secara berjamaah, tentu lipatan power energinya juga berlipat ganda, maka ini ketika netizen Indonesia berjamaah unggah rasa kecewa ke All England 2021, seketika akun Instagram All England lenyap.   Sebab ini nabi menyebut jika doa diunggah kompak oleh 40 orang jamaah, maka di dalamnya pasti ada satu wali Allah, artinya mustajabnya doa sangat konsisten karena melibatkan satu wali Allah.   Dalam kitab Mughnil Muhtâj karangan Syaikh Khathib Syarbini dijelaskan;   وَفِي مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ لِلْأَرْبَعِينَ قِيلَ وَحِكْمَتُهُ أَنَّهُ لَمْ يَجْتَمِعْ أَرْبَعُونَ إلَّا كَانَ للهِ فِيهِمْ وَلِيٌّ وَحُكْمُ الْمِائَةِ كَالْأَرْبَعِينَ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ   “Dalam kitab Shahih Muslim, terdapat riwayat dari Ibn Abbas, bahwa sungguh beliau menunda shalat jenazah karena menanti jumlah jamaah 40 orang. Disebutkan hikmahnya adalah tiada berkumpul 40 orang jamaah melainkan salah seorangnya adalah wali Allah. Dan hukum 100 orang sama dengan 40 orang, seperti kesimpulan yang diambil dari hadits tadi.”   Perasaan hati yang diunggah adalah doa yang ter-report ke alam semesta, nah kalau reportnya ramai-ramai?   Jangan salah, Anda kira perasaan orang lain atas finansial Anda itu tidak pengaruhi pada realita finansial Anda?   Kalau ada 40 orang saja yang perasaannya menyaksikan Anda kaya, itu report unggahan report rezeki yang tersalur kepada Anda jadi berlipat-lipat.   Sebaliknya ada 40 orang yang perasaannya saksikan finansial Anda ruwet, maka energi unggahan report rasa “Anda miskin” itu juga jadi berlipat-lipat.   Karena itu kenalkan kepada teman-teman Anda, tetanggga-tetangga Anda, saudara-saudara Anda kalau Anda kaya. Caranya? Tunjukkan mental kaya Anda kepada mereka. Mental kaya loh, ya? Bukan sok-sokan kaya atau gaya-gayaan kaya.   Tetangga kanan-kiri, saudara kanan-kiri, teman di medsos dan di dunia nyata, semua mendengar keluhan Anda sedang ruwet duit, ya sudah saat itu rezeki Anda modar sekalian karena di-report berjamaah kalau Anda miskin.   Jadi jangan coba-coba nampang kurang duit di depan orang, bukan solusi rezeki yang didapat, tapi malah makin melarat. Diam kalau sedang tidak punya duit, itu sudah cukup.   Karena itu warga NU diajarkan kenduren, yakni syukuran dengan mengundang tetangga kanan-kiri ketika seseorang dapatkan kenikmatan seperti habis beli mobil.   Tujuannya ya agar para tetangga menyaksikan kalau Anda telah dianugerahi nikmat sehingga perasaan mereka menggunggahnya ke alam semesta, selanjutnya akan menjadi akumulasi report berjamaah. Di akumulasi report kesaksian perasaan tersebut, setiap 40 orang ada satu wali Allah.   Postingan ujicoba algoritma.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

MANFAAT MALAS

Sudah lumrah kan diberi motivasi agar cekatan, disiplin tinggi dan fokus? Kali ini saya beri motivasi yang berbeda, motivasi malas.   Kalau Anda dipangil majikan supaya bersihkan rumah, lalu Anda cekat-cekat kerjanya, tugas jadi cepat selesai, kan? Cepat tuntas?   Kalau sudah tuntas, lanjutan proyeknya apa lagi? Ya Anda pulang.   Beda kalau Anda kerjakan tugasnya lambat, entar-entaran, kerjaan akan tidak kunjung tuntas.   Mungkin bersihkan rumah, kalau Anda cekatan dalam sehari selesai, tapi kalau Anda lelet bisa jadi 2 hari baru selesai.   Kecepatan selalu bermekanisme lekas tuntas, kelambatan selalu bermekanisme memperlambat, itu sudah jadi sistem alam.   Tidak bisa dipungkiri, cepat selesai jadi cepat sampai tapi cepat pulang.   Saya ada salah satu saudara yang beliau sejak mondok di pesantren punya disiplin waktu sangat tinggi, selalu rajin dan cekatan dalam menimba ilmu, konsisten dan fokus. Disiplinnya pada waktu sangat tinggi.   Setelah menikah, ia mendirikan pesantren. Beliau pun sangat tinggi disiplinnya; disiplin mengajar, disiplin waktu. Pesantrennya pun berkembang sangat pesat.   Di usia 51 tahun, beliau sakit, selang 3 bulan kemudian beliau wafat.   Nah itu cepat tuntas, cepat sampai, ya cepat pulang.   Hidup Anda itu sudah ditulis rezekinya berapa, popularitasnya hingga berapa kapasitasnya, kalau Anda cekatan dan gesit, ya jadi cepat tuntas. Kalau jatah rezeki, jatah prestasi, jatah pengaruh, dan lain-lain cekatan diambil, sehabis tuntas ya Anda dipanggil pulang.   أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ   “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (H.R. Ibnu Majah).   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,   وَالخَلْقُ مَيِّتُوْنَ بِآجاَلِهِمْ عِنْدَ نَفَادِ أَرْزَاقِهِمْ وَانْقِطَاعِ آثَارِهِمْ   “Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”   Kalau Anda lihat orang sukses, usianya hanya di angka 50-an, itu orang yang melaju cepat, kurang malas. Ia meluncur cepat, pekerjaannya cepat selesai, semua jatah hidupnya baik rezeki, popularitas, pengaruh, dan lainnya cepat diselesaikan. Cepat selesai, cepat pula sampainya, akibatnya cepat pulang.   Jadi Anda yang merasa kerap dihadang rasa malas, bersyukurlah, karena itu artinya Anda memperlambat penghabisan jatah yang akan Anda ambil, memperlambat tugas selesai. Lambat sampai, lambat tuntas, lambat pula pulangnya, hehehe.   Kurakura jalannya lambat, segalanya lambat, usianya bisa mencapai lebih dari 100 tahun. Kancil yang serba cepat, usia 4 – 5 bulan sudah memasuki usia dewasa, Anda bisa takar sendiri jatah usia untuk kancil.   Kadar rezeki, kadar pengaruh, kadar popularitas, dan semua jatah yang dituliskan itu sesuai cita-cita dan impian Anda. Maka ini jatah rezeki yang harus dihabiskan antara Anda dengan Erick Thahir, misalkan, itu berbeda-beda. Mungkin impian Anda kalau kaya rezeki itu sekedar punya mobil dan rumah, tapi Erick Thahir bermimpi kaya itu harus punya harta 1000 trilyun.   Nah dalam mencapai impian ini lah, kalau Anda gesit dan cekat-cekat, maka Anda cepat sampai, cepat tuntas. Sudah tuntas ya diminta pulang.   Namun kalau Anda suka “entar-entaran”, Anda sampainya ke gol cita-cita menjadi lambat, lambat sampai, lambat tuntas. Belum tuntas, sedikit alasan untuk panggil pulang.   Bisa jadi Joe Biden yang sampai ke gol cita-cita jadi presiden AS di usia 78 tahun, itu karena ia suka lambat, hehehe. Tapi itu jadi panjang usia.   Yang jadi masalah yang cita-citanya kecil, jatahnya sedikit, ditambah malas. Sudah lambat, jatah untuk diambil cuma sedikit. Namun ini cuma “ilmu titenan” (pengamatan), semuanya wallâhu a’lam.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan  

JUNI 2023

PROGRAM TAKEDOWN UNTUK KEJAHATAN MUSUH

Kalau hidup Anda tanpa pembenci dan pendengki, jangan merasa itu anugerah, justru itu disharmoni.   Lah tanpa musuh kok disharmoni? Iya, unsur alam semesta mana yang bisa hidup tanpa kotoran?   Tumbuhan jelas butuh kotoran besar untuk peroleh hara, tumbuhan mengonsumsi langsung kotoran.   Hewan ada yang langsung mengonsumsi kotoran, ada juga yang tidak langsung. Lalat makan kotoran Anda, ia langsung mengonsumsinya. Kambing makan rumput, sedangkan rumput tumbuh subur dari hara dalam kotoran. Kambing mengonsumsi kotoran dengan tidak langsung.   Dan Anda semua bisa makan juga karena adanya kotoran kehidupan. Pemilik bengkel makan dari kotoran mesin dan onderdil kendaraan, dokter makan dari kotoran penyakit, motivator makan dari kotoran mental manusia, ASN makan dari kotoran birokrasi negara, ulama makan dari kotoran akhlak masyarakat, guru dan dosen makan dari kotoran kebodohan intelektualitas, polisi makan dari kotoran kriminalitas, dan seterusnya.   Jadi hidup ini disuburkan oleh kotoran, entah langsung atau tidak. Berarti kalau Anda kekurangan kotoran, Anda bisa binasa. Menjadi dokter, ternyata sudah tidak ada kotoran penyakit, apa si dokter tidak mati melarat?   Pembenci, musuh dan pendengki, mereka akan selalu hadir dalam hidup Anda selagi Anda masih diharapkan untuk tumbuh subur.   Jadi hidup mengaku “tidak punya musuh” justru itu disharmoni. Itu bukan kesucian, bukan keunggulan, bukan kemuliaan, tapi disharmoni.   Tapi kebanyakan musuh disharmoni juga. Maka ini musuh jangan dicari, ia akan datang sendiri untuk suburkan hidup Anda. Paham?   Nah sekarang memprogram takedown itu para musuh, para pembenci, para pendengki itu bagaimana?   Ada kisah seorang yatim-piatu yang tinggal di rumah pamannya. Namun si paman ini tidak tulus merawatnya, ada niat jahatnya. Si yatim hanya dimanfaatkan tenaganya sebagai pembantu rumah tangga gratis. Si yatim disekolahkan tidak, diberi uang jajan juga tidak, sehari-hari hanya dikasih makan.   Ada rumah warisan rumah beserta tanahnya tapi dijual dan uangnya dimakan si paman, warisan motor juga dikuasai paman.   Lewat 3 tahun, pamannya kerap alami kualat sendiri setiap kali si paman baru menyakitinya. Misal habis membentaknya, si paman tiba-tiba sariawan dan radang tenggorokan parah hingga kunyah makanan saja tidak bisa. Habis menyuruh-nyuruh ia kerja rodi, si paman jantungnya langsung bengkak dan harus masuk rumah sakit. Kerap terjadi konslet-konslet begitu.   Pada akhir cerita, si paman bangkrut total hidupnya, makin hari makin miskin, ditambah terus menjadi pesakitan jantung yang tidak tahu di mana obatnya.   Dan si yatim-piatu sendiri setelah ia kabur dari rumah pamannya, kini mulai membaik hidupnya. Pasca menikah dari hari ke hari, ia makin kaya, bisnisnya maju pesat.   Si yatim-piatu itu hakikat kedudukannya adalah bos untuk pamannya, sebab ketika ia diperbudak kerja, hakikatnya ia terus-terusan “memberi”. Sudah menjadi tata adab alam semesta, siapapun yang memberi ia adalah bos. Menjadi bos itu artinya punya hak menguasai dan mengatur.   Sementara hakikat kedudukan si paman itu orang yang “terima pemberian”. Orang terima pemberian tidak ada kedudukan lain selain berterima kasih dan harus tunduk.   Ketika si paman dengan kedudukan penerima hendak kuasai si yatim-piatu, si paman jadi tidak punya power energi lagi, karena di level energi, si yatim-piatu itu berkedudukan bos, dan si paman itu berkedudukan bawahan.   Bawahan mau mengatur-atur seenaknya sendiri pada bosnya, ya bukan levelnya. Sebab ini setiap kali si paman “punya kehendak marah-marah” misalkan, sariawan dan radang tenggorokan langsung memecutnya, sebab di level energi, si paman bukan lagi penguasa si yatim, justru si paman adalah budak suruhan si yatim.   Di masalah tersebut, alam semesta mengendorse kehendak si yatim-piatu, bukannya mengendorse kehendak si paman karena alam semesta bekerja berdasarkan sistem power energi. Lah iya, handphone Anda apa bisa menyala kalau tidak dipacu energi batrai yang standart? Segala kejadian hidup ini selalu ada power energi di baliknya.   Si paman punya otot besar untuk kuasai si yatim-piatu, namun otot besarnya tidak ada power energinya untuk memukul, selalu alami takedown saat hendak memukul si yatim, “ndilalah” kualat, “ndilalah” apes, dan seterusnya.   Nah Anda ingin selalu bisa men-takedown para pembenci, para pendengki dan musuh-musuh Anda. Caranya itu tadi, di level energi jadikan diri Anda sebagai bos yang levelnya mengatur dan menguasai, dan jadikan musuh Anda sebagai penerima yang levelnya berterima kasih, diatur-atur dan dikuasai.   Berarti? Agar di level energi menjadi bos ya Anda konsisten berikan sesuatu yang terbaik untuk musuh Anda, entah pemberian materi harta, entah tenaga, entah jasa, entah bantuan, dan lain-lain.   Misalkan, konsisten sedekah kepada orang yang memusuhi Anda, atau konsisten kerja pada atasan yang sewenang-wenang sendiri kepada Anda, atau konsisten berbakti pada suami yang kurang ajar dan seenaknya sendiri, itu semua adalah program takedown untuk mendudukkan level energi Anda sebagai bos.   Setelah energi sebagai bos full, musuh Anda itu akan selalu di-takedown oleh alam semesta karena ia kehilangan power energinya sebagai penguasa Anda. Tindakan jahatnya akan selalu di-takedown habis oleh sistem alam semesta.   Suatu hari Rasulullah S.A.W berkata kepada seorang sahabat, “Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu?”   Sahabat itu menjawab, “Tentu, ya, Rasul.”   Rasul pun melanjutkan, “Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, tetap memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(H.R. Thabrani)   Nah jelas, kan? Salah satu pemograman tekedown untuk para musuh adalah “memberi dan atau berbuat baik” kepada musuh-musuh Anda.   Dulu saya malas sekali “memberi” kepada orang yang memusuhi saya. Ya jelas, dimusuhi rasanya sakit hati dan dendam.   Namun saya pernah dipaksa alam semesta—yang kejadiannya tidak etis saya ceritakan di sini—untuk selalu “memberi” kepada orang yang sangat membenci dan sangat merendahkan kepada saya. Dan pada akhirnya saya mengerti program alam semesta ini untuk men-takedown musuh.   Awal dipaksa alam semesta, hati saya sangat sakit, eeh sekarang jadi ketagihan memberi kepada para pembenci, karena betul-betul terjadi, kejahatannya selalu tertolak bahkan berbalik kualat, seolah hidup saya tidak mempan dijahati musuh.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan  

JUNI 2023

TIDAK ADA MUSIBAH MENERPURUKAN HIDUP

Negara-negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah cuma Thailand, tapi kemajuan negaranya sejajar dengan Indonesia yang konon dijajah 350 tahun. Artinya Thailand yang tidak mendapat “musibah dijajah” tidak berpengaruh apa-apa untuk kemajuannya. Bahkan Afghanistan, tidak dapat “musibah dijajah” malah menjadi negara termiskin di dunia.   Begitu banyak orang-orang yang harus kehilangan puluhan hingga ratusan juta ketika mereka terkena musibah. Berapa banyak orang yang telah ditimpa musibah kecelakaan, penyakit, kebakaran, bencana alam, dan ujian-ujian lain dari Tuhan?   Misal saja, Anda kecelakaan kendaraan, sekian puluh juta harus Anda tanggung untuk berobat, tapi tidak ada faktanya orang jatuh miskin karena kecelakaan motor.   Aceh berapa kerugiannya ketika dihantam bencana Tsunami? Sekarang Anda lihat, apakah Aceh terganggu kemajuannya? Bencana tidak pengaruh apapun untuk kemajuan Aceh. Aceh normal saja kemajuannya dengan daerah lain di Indonesia yang non bencana.   Anda kena kanker, puluhan juta dilepas untuk berobat, tetapi tidak ada fakta suatu keluarga bangkrut dan jatuh miskin karena kanker.   Dan antiknya, semiskin-miskinnya seseorang, ketika ia terima musibah, ia selalu bisa biayai entah jalan bagaimana dan dari mana pun. Selalu bisa biayai. Amati saja.   Ya Anda sadar, tidak? Itu artinya Tuhan sendiri yang menanggung biayai musibah-musibah Anda.   Musibah bukan untuk merugikan Anda, musibah itu sekedar gertakan mental untuk menguji Anda, apakah Anda layak berada di level kebaikan lahir batin atau tidak.   Andai Anda terkena musibah tanpa ada kesalahan apapun pada diri Anda, sedikitpun Tuhan tidak mau mengambil kenyamanan Anda, Tuhan sendiri yang menanggung biayanya, karena Tuhan bukan penzalim.   Tidak ada kan orang jatuh miskin karena kecelakaan kendaraan, jatuh miskin karena penyakit? Amati saja.   Kalau pun Anda ada yang bangkrut karena musibah, pastikan bahwa kebangkrutan itu karena perbuatan Anda sendiri.   ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ   “(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imran : 148)   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

MENAMBAH KUOTA REZEKI

Karena pengalaman membuka live streaming Ngaji Virtual Sp1ritual Prosper1ty di kanal Youtube yang pada saat pembukaan kemarin sangat mengecewakan. Saking kecewanya, videonya saja saya hapus dari channel.   Di antara kendalanya ternyata kurang mumpuninya kuota wi‐fi di rumah saya. Sehingga tadi siang saya ke kantor Indihome Purbalingga untuk naikkan kuota wi‐fi dari 20 Mbps menjadi 50 Mbps. Konon 20 Mbps sudah cepat untuk download, tapi untuk upload masih lambat, sementara live streaming yang dibutuhkan kecepatan upload.   Ingin layanan wi‐fi lebih handal, harus naikan kuota, artinya harus bayar lebih banyak.   Dan hukum tersebut pun berlaku untuk semua ranah hidup, kalau Anda ingin layanan hidup lebih berkualitas, Anda pun harus bayar lebih mahal.   Sebab itu berlaku hukum,   اْلأَجْرُ عَلَى قَدْرِ النَّصَبِ   “Ganjaran sesuai dengan kadar kepayahan.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Keadilan Tuhan menentukan sedikit dan banyaknya pahala yang diberikan kepada orang beramal adalah tergantung kepayahan yang dialami. Ibaratnya orang bekerja, maka upah yang diterima adalah sesuai dengan keringat yang dicucurkan.   Setelah menyelesaikan Umrah, Aisyah R.A mendapat pengarahan dari Rasulullah S.A.W;   أَجْرُكِ عَلَى قَدْرِ نَفَقَتِكِ أَوْ نَصَبِكِ   “Pahalamu sesuai dengan kadar biayamu atau kepayahanmu.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Di sini jelas sekali kalau “biaya” yang dikeluarkan itu merupakan takaran layanan kuota yang layak Anda peroleh. Tidak lebih begitu lah hukum alamnya.   Karena itu yang namanya irit dan pelit itu selamanya akan memampuskan kualitas rezeki yang akan Anda terima, karena irit dan pelit itu artinya berhemat untuk keluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan sedikit, kualitas barang yang diterima juga anjlok, rezeki yang diterima juga tidak berkualitas.   Apalagi cari murah‐meriah, hahaha itu sama saja cari modar rezeki dengan konsisten.   Dan payah lagi ide dapat gratis alias tanpa biaya. Itu ide cerdas untuk makin miskin.   Nah kualitas belanja Anda, nafkah Anda, sedekah Anda, itu semakin tinggi kualitasnya akan menarik rezeki makin handal. Beli sandal jangan di angka 150 ribu terus, bertahap dinaikkan. Isi dapur, isi kamar, isi BBM, dan belanja‐belanja lain bertahap dinaikkan, konsisten dan jangan plin‐plan.   Karena ini Biosolar versus Pertaminadex, Pertalite versus Pertamax Turbo, jelas lebih menderaskan rezeki Pertaminadex dan Pertamax Turbo. Wi‐fi 10 Mbps versus 50 Mbps jelas lebih deraskan rezeki yang 50 Mbps.   Kualitas nafkah kepada anak dan istri juga ditingkatkan, jangan malah makin disempitkan. Sedekah juga begitu, makin hari makin membengkak.   Jebakannya biasanya termakan dogma “sederhana”. Beli sandal sederhana saja, iya sederhana, tapi resikonya kualitas pembiayaan Anda yang turun. Kualitas biaya turun, otomatis kualitas peroleh rezeki juga turun.   Jadi tulisan ini hanya untuk Anda yang berminat naikan kuota rezeki, kalau tidak minat, ya barangkali punya impian hidup sederhana, ya silakan. Itu pilihan.   Tapi kalau pilih sederhana lalu Anda mengeluh kurang duit ya itu namanya bukan lagi hidup sederhana, tapi pilih hidup miskin. Mengeluh itu level miskin.   Nah bukan cuma dengan pengeluaran biaya Anda bisa naikan kuota rezeki, dengan jerih payah juga bisa. Makin besar kapasitas keringat Anda, makin besar pula kualitas rezeki yang akan Anda peroleh.   Hai orang‐orang beriman, bertaubatlah dari irit, pelit, cari murah dan cari gratis!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

RESEP HOKI; BERLATIH MENTAL DI ATAS UANG

Jujur lah ya, saya amati hoki saya dengan uang itu kerap tinggi. Saya kalau jualan kerap peroleh harga tinggi, namun kalau beli kerap dapat harga murah.   Jualan barang, tidak niat ingin jual mahal, eeh dibayar mahal sama orang. Kalau sedang beli, tidak ada niatan saya dapat harga murah, eeh dapatnya harga murah. Urusan-urusan pembayaran juga kerap dipermudah tanpa sengaja. Saya amati asik banget uang itu bersinergi dengan hati saya.   Nah di sini saya mau cerita resepnya punya hoki begitu.   Cerita ini hanya salah satu kejadian saja, yang mungkin Anda bisa ambil subtansinya untuk mengembangkan hoki Anda pada uang.   Di bulan ini saya punya pengalaman menarik biayai wi-fi. Kalau lihat kebutuhan, speed 20 Mbps sudah cukupi kebutuhan online keluarga saya karena cuma dipakai 3 orang. Dulu saya naikkan speed wi-fi rumah sampai 50 Mbps karena masalah lemot ketika live online atau pun video call termasuk untuk Zoom Meeting dan berbagai kebutuhan kelas online. Bahkan ada beberapa live streaming saya yang gagal karena lelet.   Awalnya saya sudah coba ganti smartphone dengan tidak menggunakan smartphone di bawah RAM 8 GB, tujuannya RAM besar jadi prosesor lebih cepat. Smartphone anak istri juga diganti semua, minimal RAM 8 GB.   Diamati tetap masih lelet. Dan akhirnya speed wi-fi dinaikkan 50 Mbps.   Hasilnya? Tetap lelet. Bahkan handphone saya yang Samsung Note 20 Ultra paling bermasalah, kalah sama smartphone anak istri yang pakai merk China-an.   Di situ saya makin sadar kalau uang tidak selamanya bisa selesaikan semua masalah, uang tidak selamanya bisa cukupi kenyamanan kita. Ya uang selamanya tidak bisa selesaikan masalah kita namun lebih bermasalah lagi jika tidak ada uang.   Nah saat tetap lemot jaringan wi-finya, saya bilang pada istri, “Wah IndiHome di sini belum layak dihargai mahal, belum layak dibeli sampai 50 Mbps. Bunda, turunkan speednya ke 20 Mbps lagi,” perintah saya pada istri.   Tapi istri tidak segera merespons turunkan speed wifi, ia tetap merasa nyaman karena smartphone China miliknya lemotnya tidak separah Samsung saya.   Hingga 1 bulan kemudian, e-banking saya sedang error, tidak bisa bayar wi-fi pakai e-banking, istri pun bayar wi-fi di Alfamart. Dia kaget dengan tarifnya, naik drastis. Sampai rumah, istri dengan antusias setujui usulan saya turunkan speed wi-fi.   Di situ saya nyeletuk, “Gak jadi turunkan speed wi-fi. Kemarin saat alasan saya karena kualitas layanan IndiHome belum sepadan dengan harga yang kita bayar, Bunda anteng-anteng saja responsnya, sekarang giliran rasakan tarifnya naik, Bunda dengan antusias turunkan speed. Gak jadi turun!” tegas saya.   Kenapa ketika istri merasakan berat dengan kenaikan tarif wi-fi justru saya batalkan untuk turun speed? Karena kalau alasannya “rasakan berat” dengan tarif, itu artinya alasan mundurnya karena kita kalah mental pada uang. Beda kalau alasannya tidak puas dengan layanan wi-finya, itu bukan soal kalah mental, namun soal lain yang lebih bermartabat.   Rembulan saja nurut terbelah ketika diperintah terbelah oleh Nabi S.A.W. Laut Merah juga nurut terbelah jadi daratan kepada Musa A.S. Wedhus gembel (awan panas) gunung Merapi nurut diperintah oleh Mbah Maridjan untuk masuk lagi ke kawah Merapi dan urungkan diri untuk meletus. Itu semua artinya alam semesta ini diciptakan merunduk pada kehendak perasaan kita.   Harimau buas, ular beracun ganas, ketinggian awan, kedalaman lautan, semua yang ada di alam semesta ini punya fitrah tunduk pada manusia. Harimau buas dan ular ganas jadi jinak pada kepiawaian pawang. Ketinggian awan dan kedalaman lautan, semua tunduk pada tehnologi buatan akal manusia. Bahkan tanpa tehnologi dan skill khusus pun, spiritual manusia kerap mampu tundukkan alam semesta, seperti Nabi Khidir A.S yang konon hidup di dalam air dengan kualitas spiritualnya, dan Nabi Isa A.S yang hidup di langit dengan kualitas spiritualnya.   Iya kan, alam semesta punya bawaan fitrah tunduk kepada Anda? Apalagi rezeki.   Kenapa kita hanya memerintah kepada rezeki agar lancar dan jangan ruwet, kok rezekinya tidak nurut? Rezeki tetap “mbalelo” bikin masalah?   Sebenarnya hal itu karena kita kerap pasang mental di bawah uang. Contohnya seperti kejadian istri saya turunkan speed wi-fi di atas.   Nah kalau Anda berhadapan dengan uang, lalu mental Anda kerap “turun mental” pada uang, ya selamanya Anda jadi obyek bualan uang.   Nah kalau Anda kerap efesienkan uang dengan alasan-alasan “beban finansial berat” ini yang jadikan uang enggan untuk Anda kendalikan. Anda yang mentalnya kerap gerogi hadapi situasi finansial, lalu pilih mundur dari beban berat tersebut itu Anda yang terbaca oleh uang sebagai mental kerupuk uang. Di situ Anda akan terus dikerjai uang, uang jadi enggan nurut dan tunduk kepada Anda. Di mata uang Anda tidak punya martabat.   Sama saja Anda seorang guru yang terbaca polos dan kalahan mentalnya, justru di situ Anda akan disepelekan oleh murid-murid Anda, beda dengan Anda yang terbaca sebagai guru killer, para murid mau menguap di kelas saja punya rasa segan.   Karena itu jangan pernah mundur dari tanggungan finansial dengan alasan “beban finansial”, boleh mundur atau turunkan beban tapi harus dengan alasan selain alasan “beban berat finansial”. Seperti saya, mau mundur dari speed wi-fi 50 Mbps karena alasan “layanan IndiHome di daerah saya yang belum layak dihargai 50 Mbps, tapi ketika istri mendukung penurunan speed tapi karena alasan tarifnya naik dan terasa berat, justru saya batalkan sekalian niat turunkan speed. Saya biarkan di speed 50 Mbps untuk memberi training mental pada istri. Gampang kalau nanti mental istri sudah rasakan enteng-enteng saja bayar 50 Mbps, mungkin baru akan saya turunkan.   Tidak apa-apa turunkan beban finansial tapi hindari karena alasan-alasan beban finansial agar diri Anda bermartabat di depan uang, tidak nyampah di hadapan uang. Kalau alasan-alasannya seperti alasan pendidikan, misal kasih uang pesangon sekolah anak diturunkan agar anak tidak manja, atau alasan spiritual seperti Anda irit jajan agar bisa banyak sedekah, dan lain-lain, alasan-alasan seperti itu tidak masalah, sebab alam semesta ini mengeksekusi getaran niat Anda, artinya kesadaran Anda di mana, di situ alam semesta berikan respons nyata.   Nah kenapa hoki rezeki saya kerap tinggi? Jawabnya di sini, saya kerap jaga martabat saya di depan uang, saya tidak cengeng “turunkan beban finansial” hanya karena alasan “biaya terasa berat”.   Dengan menjaga diri dari mental kerupuk

Scroll to Top