Pola alam semesta akan selalu menarik diri kembali kepada kesederhanaan, dikarenakan alam ini susunan pola aslinya adalah pola kesederhanaan.

 

Lah iya, Anda mau bicara mobil semewah dan secanggih apapun, itu hanyalah rumusan sederhana Newtonian dalam fisika yang asal muasalnya adalah unsur tanah yang diproses menjadi logam-logam tertentu.

 

Anda bicara tehnologi komputer serumit apapun, itu hanyalah kode-kode bilangan binner 0 dan 1 yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga membentuk algoritma tertentu.

 

Anda gunakan tehnologi internet secanggih apapun, serumit apapun dunia hack dan keamanannya, itu hanya komunikasi angka 0 – 9 dan simbol-simbol kaypad komputer.

 

Anda bicara karya sastra tinggi, itu hanyalah susunan abjad sederhana dari A – Z yang dikomunikasikan dengan rasa artistik tertentu.

 

Anda cari komponen alam semesta ini yang tidak tersusun dari pola kesederhanaan itu tidak ada.

 

Sebagaimana simbol lafal innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn (sungguh kita milik Allah, dan kepada Allah kita kembali), artinya berasal dari Allah kembali ke Allah lagi, maka bila pola penyusun asalnya adalah pola kesederhanaan, maka perjalanan gerak seluruh alam semesta ini menuju pola kesederhanaan lagi.

 

Lah iya, mobil canggih, komputer canggih, dan seterusnya ujung-ujunhnya kembali sederhana menjadi “rongsokan”. Dari sederhana, kembali sederhana.

 

Perasaan Anda pun demikian, ujung-ujungnya hanya akan menuju kesederhanaan, segala renik hidup yang Anda alami menjadi biasa-biasa saja.

 

Dulu saya sangat membenci iblis, saya anggap malaikat simbol suci sehingga sangat memuja, iblis simbol kejahatan dan kerusakan sehingga layak terkutuk. Tapi pada akhirnya pandangan itu menyederhana sendiri, malaikat dan iblis sama baiknya, tercipta untuk mendukung proses kehidupan ini.

 

Tanpa iblis yang merupakan wujud api, apa iya Anda bisa hidup? Anda tidak mungkin hidup dalam naungan kesejukan dan kedamaian terus menerus, tumbuhan saja tidak sehat tumbuhnya kalau kurang unsur panas matahari. Kalau Anda hanya sejuk dan damai sejahtera bersama malaikat dan Anda kurang setok musuh dan pesaing bersama iblis, hidup Anda juga tidak bisa bertumbuh baik, layaknya tumbuhan.

 

Itu artinya dikte buruk saya kepada arti baik dan buruk itu menjadi sederhaha seiring jalannya waktu.

 

Kemarin saya baru saja menyerang satu aplikasi money game tertentu yang di situ jelas rawan caci-maki dan serangan publik, dan memicu gontok-gontokan pro dan kontra, tapi kenapa saya jadi berani? Ya karena perasaan saya menganggap caci maki itu biasa saja, buat apa mau sakit hati?

 

Sakit hati pada caci maki itu emosi terlalu mewah dan norak, seolah hidup ini hanya pujian dan perdamaian saja yang diterima. Tidak, pupuk penyubur tanaman saja disebut unsur hara, itu unsur panas tanah.

 

Emosi saya menyederhana, menganggap caci maki dan puja puji itu selevel, jadi ya saya buat apa takut? Itu biasa saja.

 

Kemarin saya baru merasa bertindak ceroboh, memberi informasi publik kalau akun saya kena hack, dan yang di-hack itu posting pemberdayaan spiritual saya memakai pemograman Javascript.


Saya menilai lumayan ceroboh karena sebenarnya belum sangat terdesak untuk diinformasikan ke publik, tapi ya saya sedang ceroboh.

 

Menyikapi penyesalan kecerobohan saya, saya menyederhanakan rasa menyesal saya, saya anggap segala kekhilafan itu biasa saja. Saya tahu diri saya menyesal, tapi saya sederhanakan menjadi biasa saja, toh hal itu tidak merugikan publik dan pihak lain.

 

Dulu awal saya mulai sadar memaafkan, saya anggap mengalah dan diam itu segala-galanya. Ternyata kesadaran emosi saya menyederhana sendiri dalam memaafkan. Dimaafkan makin menyepelekan, dengan sederhana saya beri amukan.

 

Dulu awal saya mengerti kalau rezeki makmur itu dengan memberlimpahi orang lain, kegemaran saya berbagi, di mana-mana saya “nyah-nyoh” duit. Pada akhirnya emosi itu menyederhana sendiri dengan saya sadar kalau diri saya pun layak “menerima” bukan hanya “memberi”, karena “hanya memberi tanpa menerima” itu hanya Tuhan yang sanggup punya karakter itu.

 

Awal membangun mental kaya, saya sangat tidak suka, kerap mencibir dan menertawakan pemilik mental miskin, tapi pada akhirnya emosi saya menyederhana, menganggap mental kaya pun punya kemiskinannya sendiri-sendiri, karena di setiap level kekayaan itu punya level kemiskinannya masing-masing.

 

Dulu awal saya pakai barang branded, saya maunya pamer, seperti euforia untuk cerita pada orang lain. Pada akhirnya menyederhana sendiri emosinya, sekarang walaupun baru beli bonsai harga 5 juta, ya tidak ingin cerita tidak apa, karena menganggap bonsai harga 5 juta itu biasa-biasa saja.

 

Algoritma kehidupan ini berasal dari pola kesederhanaan, akar pokoknya adalah “biasa-biasa saja”, maka pengguna kehidupan di alam semesta ini mau tidak mau dikontrol oleh algoritma ini. Siapapun yang masih mewah emosinya, baik mewah dalam emosi kebaikan maupun keburukan, kedua-duanya akan dikontrol oleh algoritma kesederhanaan alam semesta yang akibatnya rawan terjadi “kejatuhan diri”.

 

Tapi harus diingat! Seluruh benda-benda alam semesta ini energinya netral, perasaan Anda lah yang berikan nilai mewah ataupun sederhana.

 

Kaos oblong harga 5 juta itu energinya netral, tidak percaya? Begini, kaos oblong harga 5 juta dengan mainan anak harga 5 ribu, Anda berikan kepada anak balita Anda, mana yang dipilih? Tentu yang dipilih mainannya. Itu karena balita Anda belum punya emosi perasaan yang cukup untuk menyerap nilai kaos oblong mewah.

 

Itu artinya Anda sah-sah saja punya ini dan itu yang mewah-mewah, yang bermerk dan branded, tinggal emosi perasaan Anda dimana. Itu saja.

 

Lalu bagaimana sih untuk sampai di emosi yang sederhana? Begini, Anda tidak tahu kalau ada di bawah itu membahayakan kalau Anda tidak pernah naik ke ketinggian. Dengan Anda naik pohon tinggi, Anda jadi sadar kalau “bawah” itu bahaya ekstrem.

 

Jadi untuk temukan pola sederhana yang menjadi algoritma kehidupan, Anda perlu naik yang tinggi dulu. Baru kenal mental kaya, ya euforia dulu. Baru kenal agama, ya euforia dulu. Baru kenal barang branded ya euforia dulu. Baru kenal memaafkan, ya euforia dulu. Baru kenal makrifat, euforia dulu. Baru kenal duit gede, ya euforia dulu. Baru kenal marah, euforia dulu. Dan seterusnya.

 

Naik lah dulu ke ketinggian, nanti Anda baru tahu kalau semuanya “biasa-biasa” saja.

 

Yang tidak kenal arti pola kesederhanaan itu orang yang tidak pernah naik di ketinggian, bisa jadi ia sederhana tapi hatinya tidak pernah sadar arti sederhana.

 

Jadi naik dulu ke atas sana, naik yang tinggi, nanti Anda tahu kalau semua biasa-biasa saja.

 

Pada saat hati Anda temukan semua biasa-biasa saja, itu artinya bahagia dan sedih, pahala dan dosa, benar dan salah, mewah dan sederhana, sial dan beruntung, itu menjadi biasa saja. Ketika yang membuat Anda bahagia berkurang, yang membuat Anda sedih juga berkurang, dan sebaliknya.

 

لِيِقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ

 

“Tatkala berkurang apa yang membuatmu bahagia, maka berkurang pula apa yang membuatmu sedih”. (Ibn ‘Athaillâh dalam Al-Hikâm)

 

Tentu bukan berarti segalanya pada diri saya telah di pola sederhana, maksudnya kita semua sebenarnya sedang berproses ke titik sana.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *