Anda mau kemanapun butuh yang namanya ongkos. Kemarin ada warga Indonesia naik haji dengan bersepeda hanya berbekal uang 300 ribu. Dia bisa irit di ongkos duit, tapi ia harus boros di sisi waktu, tenaga, dan mental yang nilainya setara dengan ongkos naik haji normal.
Sekarang saya tanya? Adakah satu tujuan yang tidak pakai ongkos? Ambil baju di almari saja butuh ongkos dengan keluarkan tenaga, apalagi tujuan ingin kaya, ingin mulia, ingin bahagia, ingin hasanah dunia akhirat, dan seterusnya. Semua pakai ongkos yang nilainya setara dengan besar kecilnya tujuan Anda. Tujuan perjalanan ke luar negeri tentu nilai ongkosnya berbeda dengan perjalanan di dalam negeri.
Karena itu solusinya hanya satu yakni kesanggupan membayar.
Yang dulu waktu sekolah duduk di bangku kelas yang sama, saat reuni sekolah kelas sosialnya jadi beda-beda. Ada yang hadir dengan segala kekurangannya, ada yang hadir dengan segala kesuksesannya. Yang sukses didudukkan di depan sebagai yang terhormat, yang hidupnya biasa-biasa saja yang didudukkan biasa-biasa saja. Kondisi begitu bagi yang berpikir picik akan menyimpulkan, “Yang dipandang hanya harta dan kedudukan.”
Eits tidak begitu! Ada ongkos kehidupan berbeda yang dikeluarkan antara siswa yang hadir reuni dengan suksesnya dan siswa yang hadir dengan keadaan hidup biasa-biasa saja.
Ketika dulu mereka duduk sama tinggi di bangku sekolah, siswa yang sekarang sukses telah menyiapkannya, yang lain sedang sibuk berpikir asmara, sedang menangisi pacar, sibuk gonta-ganti pacar, sibuk ngerompongin motor dan tawuran, siswa yang sukses sedang serius menyiapkan masa depannya, ia sedang sibuk bercita-cita, bermimpi, dan berusaha keras mewujudkannya, dari giat belajar dan lainnya. Sejak di bangku kelas dulu sudah beda ongkos bayar yang dikeluarkannya.
Persoalan kesanggupan membayar ongkos itu penyelisih awalnya.
Hidup mulia, mati mulia, hidup kaya, mati kaya itupun butuh ongkos bayar serupa. Nanti ketika bangkit di padang Mahsyar di hari kiamat, Anda yang bangkit sebagai orang gagah dan sebagai monyet bertubuh manusia juga karena ongkos bayar yang berbeda.
Kalau Anda sanggup membayar, apa sih yang tidak bisa Anda miliki? Hanya penuaan untuk bisa muda kembali yang tidak bisa Anda bayar. Makanya penyakit yang tidak bisa diobati artinya tidak bisa dibayar itu hanya penyakit tua. Anda mau membayar ongkos besar dengan tujuan ingin muda kembali usianya itu tidak bisa, energi bayarannya terbuang sia-sia.
كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ
“Aku pernah berada di samping Rasulullah, lalu datanglah serombongan Arab Badui. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?’ Beliau menjawab, ‘Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab, Allah tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.’ Mereka bertanya, ‘Penyakit apa itu?’ Beliau menjawab, ‘Penyakit tua.’” (H.R. Ahmad)
Kesanggupan bayar ongkos yang dalam akhlak Islam disebut karakter al-wafâ.
Al-wafâ adalah karakter tepat janji, karakter menyempurnakan pembayaran, apapun kewajiban dan resiko yang harus diambil, ia konsisten membayar ongkosnya dengan lunas.
Ada ikatan kepada Tuhan, ia bayar lunas, contoh Anda punya permohonan kepada Tuhan untuk membangun rumah, lalu Anda sowan ke kyai untuk minta ijazah doa, lantas si kyai kasih ijazah doa amalan baca Shalawat Jibril sehari 10 ribu kali selama 3 tahun, kalau Anda punya karakter al-wafâ Anda akan konsisten melaksanakan pembayarannya hingga tuntas. Lunas.
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [٢:٤٠]
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)
Ada ikatan dengan sesama manusia, Anda yang punya karakter al-wafâ juga begitu. Contoh punya tanggungan hutang, Anda akan dengan konsisten melunasinya, tidak kemudian ikhlasan melupakan hutang.
Ada salah satu sahabat saya, dia sejak lulus SMA tidak bisa kuliah, namun minatnya kepada ilmu sangat tinggi, sampai akhirnya dia bersumpah, “Saya tidak kuliah tidak apa, tapi saya harus baca buku lebih banyak dari mahasiswa yang kuliah.” Dan betul tekad tersebut dia bayarkan dengan konsisten, bahkan ia gemar mendatangi forum-forum diskusi mahasiswa untuk mengukur kualitas ilmunya, ia tidak mau kalah dengan yang kuliah.
Ia punya minat kuat sebagai pembicara ilmiah, seperti kajian-kajian budaya, agama dan sains, tetapi ia tidak kuliah, tidak juga mondok, harapan untuk menjadi nara sumber pembicara ilmiah dari mana? Dan keadaannya waktu itu sebagai satpam sebuah kantor swasta. Masa iya satpam akan banyak diundang sebagai pembicara budaya, agama, dan sains? Tidak nyambung.
Namun minatnya kuat sekali, dengan inisiatifnya sendiri ia lakukan tirakatan. Di setiap jam 2 malam hingga Shubuh, ia berendam air di kolam pemandian umum di daerahnya. Dia berendam, niatnya tirakat untuk membayar minat dan cita-citanya. Dan ternyata dia sekarang sudah menjadi budayawan Banyumas yang masyhur yang kerap diundang seminar, diundang sebagai pembicara, dan banyak juga disowani pejabat.
Itulah karakter al-wafâ; ada maunya ya berani bayar ongkosnya. Lunasi!
Anda merasa karir Anda mandek? Rezeki stagnan? Bisnis segitu saja omsetnya? Sebenarnya jalan menaikannya ya pakai jalan “itu-itu saja”.
Pertama tentukan keputusan, diri Anda mau bagaimana sebagai pondasi cita-cita. Lalu yang kedua bayar lunas ongkosnya.
Sekarang Anda bisanya bayar ongkos pakai apa? Bisa Tahajud? Apa bisa zikir? Apa bisa puasa? Apa bisa sedekah? Apa bisa kerja disiplin? Apa bisa semedi? Lalu lakukan dengan konsisten hal-hal tersebut hingga lunas sebagai ongkos.
Itu-itu saja kan? Lah teman saya saja ingin sejajar dengan para dosen, para doktor, para kyai, ia bayar dengan tirakat berendam di air selama tahunan juga terwujud, palagi bayar dengan zikir, shalat, dan lainnya?
Anda menderita karena didengki orang toxic, menderita karena difirnah musuh, menderita karena diserang penyakit, menderita karena dikhianati pasangan? Bayar lunas penderitaan itu dengan jalan yang “itu-itu saja”. Putuskan sikap untuk jadi pemenang atas penderitaan lalu bayar lunas dan tuntas dengan itu-itu juga.
Ingin kaya bahagia? Sama. Itu-itu juga. Jadilah al-wafâ.
Lah katanya pingin rezeki lancar, boro-boro mau bayar lunas, maunya gratisan melulu yang tak usah repot bayar, maunya dibayar melulu, kerjaan tak diselesaikan, ya kapan rezeki lancar terwujud wong ongkosnya saja kurang.
Apalagi hutang tak terbayar? Ya jelas itu karakter pengecut; jauh dari karakter al-wafâ; kalau tidak lunas, bagaimana Anda sampai?
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply