Banyak orang yang merasa, “Saya jual murah malah ga laku. Sepi. Saya jual mahal, eeh dijubeli pembeli.” Anda merasa begitu, atau sebaliknya?

Alkisah, dia seorang trainer spiritual. Kelas publiknya dia banderol harga 750 ribu per peserta, di waktu itu tarif segitu jauh lebih murah dari umumnya tarif training sejenis.

 

Ia tidak ada niat menjatuhkan harga pasar, hanya berpikir menolong agar masyarakat kecil mampu membelinya, dan juga merasa tarif terlalu mahal, dia merasa belum layak.

Berjalan beberapa tahun, pembelinya landai saja. Justru pada waktu itu lapak sebelah yang menjual harga lebih mahal dengan kualitas ilmu dan layanan yang sama malah lebih laris. Dia alami kebimbangan.

Di sisi lain ada satu hal yang harus ia beli dengan harga sangat mahal, yakni memuliakan orang tua.

 

Sejak lulus sarjana, ia sudah konsisten kuat ingin berbakti sepenuhnya kepada orang tua dengan terus memberi gaji bulanan, dia tidak mau melihat orang tuanya di usia senjanya kesulitan uang.

 

Untuk loloskan komitmen ini, ia benar-benar telah melakukan banyak resiko kesulitan.

 

Kadang untuk hidupnya sendiri saja masih kekurangan, dia tetap mempriorotaskan orang tuanya, dia menilai kalau orang tuanya adalah azimat hidupnya yang harus dimuliakan seutuhnya.

Harga kelas trainingnya sudah jauh lebih murah, kualitas layanan sudah baik sekali, berbakti kepada orang tua sudah dilakukan sekonsisten mungkin bahkan dari kelima saudara kandungnya, hanya dirinya yang terlihat konsistensinya memakmurkan orang tua.

 

Namun bertahun-tahun ia buka kelas training spiritual, tetap sepi lapakanya.

Sampai akhirnya dia merasa agak putus asa, lalu main ugal-ugalan saja kasih tarif harga. Ia jual 1,5 juta, tarif harga di atas harga umum.

 

Lah sejak saat itu kelas trainingnya malah berkembang, laku keras. Dia pun kaget, “Lah dijual murah tidak laku, dijual mahal malah laku keras?

Sejak saat itu kehidupan finansialnya pun mulai berubah.

Dan sejak taraf hidupnya naik, dia pun ingin meningkatkan lagi kebaikannya. Dia ingat seorang gurunya di pondok pesantren dulu selalu menghargainya tinggi, selalu mendukungnya penuh kasih.

 

Dalam keadaan seburuk apapun, kyainya tersebut selalu menghargai dan mengasihinya.

 

Disitulah dia berkomitmen untuk ngalap berkah dan memuliakam kyai yang sangat ikhlas mendukung dirinya. Kemudian dia pun menggaji gurunya setiap bulan sama seperti orang tuanya.

Suatu ketika ia ingin berbagi kelas training gratis di bulan suci Ramadhan. Mumpung bulan suci. Anehnya peserta yang datang tetap sama dengan kelas training yang berbayar. Dia jadi terkaget-kaget. Disitu dia sadar, dijual gratis dan dijual mahal ternyata tidak ada beda.

Satu ketika pula dia jualan kelas lain yang  lebih murah, durasinya tidak full day, hanya 3 jam. Lah jumlah pesertanya malah lebih sedikit. Yang mahal dibeludaki orang, yang murah malah tidak begitu laku. Dia kesulitan jualan harga murah.

Fenomena apa itu? Anda yang sudah kaya pasti merasakan hal-hal seperti itu, jualan murah terasa susah. Dan justru kalau jualan yang nilai cuannnya besar artinya lebih mahal malahan laris. Wkkkk. Iya kan?

Begini. Kalau Anda sudah beli harga emas, Anda berkemampuan menjual emas dengan harga selevel. Artinya harga yang sudah bisa Anda beli, itu juga kualitas penjualan yang bisa Anda capai.

Mungkin Anda bisa saja belum pernah beli harga emas, lalu Anda bisa menjualnya, tapi level energi Anda cuma energi salles, reseller, ataupun karyawan.

Antara owner dan reseller, antara pemilik usaha dan karyawan, itu jualan barang yang sama, namun level rezekinya beda. Itu karena keduanya dibedakan oleh kemampuan mereka membeli apa yang dia jual. Owner dan pemilik usaha, menjual barang yang sudah dibelinya melalui modal usaha, sementara reseller dan karyawan menjual barang yang belum pernah dia beli.

Hukum alamnya, apa yang sudah bisa Anda beli dengan harga, disitu Anda berkemampuan menjual dengan harga selevel. Anda sudah beli emas, ya berkemampuan menjual emas dengan harga selevel.

 

Nah teman trainer saya di atas telah membeli dengan harga mahal yakni konsisten memuliakan orang tua dan guru. Itu adalah nilai beli sangat mahal.

 

Sudah beli emas, kalau mau jualan emas yang dengan harga yang serupa, tidak bisa jual emas dengan main banting harga. Emas ya dibeli dengan harga emas.

Yang dialami teman saya itu ibarat Anda telah beli ruko di mall, lah malahan Anda jualan harga murah seperti di pasar tradisional, ya tidak matching, ada ketidaksesuaian energi.

 

Jadi kalau Anda mau kesusahan jualan murah, kesusahan jualan dengan cuan kecil, rahasinya itu tadi, adakah nilai beli berharga yang sudah Anda beli dengan konsistensi mahal?

Sesuatu mahal yang Anda beli itu bisa berbagai hal, bisa amal shaleh seperti berbakti kepada ortu, santuni anak yatim, sedekah Shubuh, sedekah Jumat, nafkah ke anak istri yang konsisten teristimewa, atau apapun.

 

Bisa juga dalam bentuk transaksi pembayaran, seperti konsisten lunasi hutang yang sangat besar hingga lunas, konsistensi menyejahterakan karyawan, dan lainnya.

Dan model terakhir adalah pembelian harga mahal yang source energy terjual mahal. Kalau Anda tidak mampu membeli harganya mahal-mahal di model pembayaran ini, selanjutnya Anda beli mahal dengan uang juga tidak bisa.

 

Dan padahal kalau sudah tidak mampu beli mahal, jualan mahal dengan cuan besar juga susah. Apa itu? Itu adalah pembelian dengan konsistensi jerih payah. Ngerti?

Belinya saja yang murah-murah, amal shaleh berat yang konsisten tidak ada. Beli barang mahal, tidak juga. Jerih payah dan perjuangan lemah. Lalu bagaimana Anda terbeli mahal?

Apalagi ilmu carinya yang gratis, apa-apa minta dibantu orang, apa-apa tinggal pinjam, apa-apa numpang, ya tidak matching kalau jualan Anda akan laku mahal dengan untung besar. Wkkk.

Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *