Hati nurani itu murni wakil suara Tuhan. Hati nurani semacam antena radar kalau Anda adalah makhluk Tuhan yang langsung terhubung dengan Penciptanya.
Dipasang antena radar ini ya karena sebenarnya memang Anda berasal dari roh-Nya.
Mobil produk Toyota sudah pasti terafiliasi dengan Toyota sehingga hanya Toyota yang berkapasitas mengontrol mobil Anda.
Anda produk Tuhan, afilasinya juga hanya dengan-Nya. Anda ditiup roh-Nya karena itu ada antena radar-Nya dalam diri Anda.
ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan Dia meniupkan di dalamnya dari roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Q.S. As-Sajdah : 9)
Antena radar ini akan memberikan sinyal-sinyal khusus kepada Anda saat Anda berbuat sesuatu yang menjauh dari-Nya.
Anda kalau mau mencuri, bukankah jantung Anda berdetak lebih kencang? Tangan dan kaki juga gemetaran? Nah itu antena radar Tuhan dalam diri Anda bekerja.
Mau selingkuh di chatt WhatsApp, Anda pasti main umpet, sebisa mungkin tidak diketahui orang. Itu antena radar-Nya bekerja.
Karena ini semua perbuatan dosa, artinya perbuatan yang keluar dari kemurnian Zat-Nya, selalu ditandai “perbuatan Anda enggan diketahui orang lain dan atau hati Anda menjadi resah.”
Dari Nawwas bin Sam’an R.A berkata, Rasulullah S.A.W bersabda, “Kebaikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia” (H.R Muslim).
Anda onani, enggan diketahui orang, itu jelas dosa. Anda marah-marah pada anak istri, lalu hati merasa sumpek, itu jelas dosa. Ya itu semua karena kerja antena radar-Nya.
Nah ketika antena radar-Nya sudah bekerja, lalu Anda tidak mengindahkannya, nanti antena radar tersebut akan alami errorsystem sehingga tidak bisa berfungsi baik.
Di titik itu, Anda tidak malu lagi berbuat dosa. Selingkuh ya nyaman-nyaman saja, mencuri ya mentalnya tidak takut tidak apa, bahkan tidak takut terkutuk tidak apa.
Iya, lazimnya onani malu diketahui orang lain, Ameri Ichinose dan Maria Ozawa malahan di-show-kan sebagai bisnis. Yang begitu artinya antena radar-Nya sudah alami errorsystem.
Namun sekalipun sudah errorsystem, antena radar tersebut tetap berfungsi, artinya tidak bisa sampai mati fungsi sebab itu memang aplikasi ilahiyah yang sifatnya fitrah penciptaan.
Tidak bisa mati fungsi sekalipun sudah errorsystem, maka ini antena radar-Nya tersebut yang kemudian memanggil musibah dan bencana untuk Anda. Jadi yang memanggil bencana dan musibah hidup itu diri Anda sendiri melalui antena radar yang error dan tidak Anda indahkan.
Sebab ini Tuhan dengan konsisten tidak pernah merasa menzalimi hamba-Nya, sesadis apapun azab yang turun, Tuhan tidak merasa berbuat zalim, karena memang hakikatnya si hamba itu yang berbuat zalim pada dirinya sendiri.
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan Rabbmu tidak akan pernah menzalimi seorang pun.” (Q.S Al-Kahfi : 49)
إِنَّ اللَّـهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“Allah tidak pernah mendzalimi walaupun sebesar biji sawi.” (Q.S An-Nisa : 40)
Berbuat zalim kepada sesama juga ada antena radar-Nya untuk mengukur Anda zalim atau tidak.
Ini kejadian saya di medsos hari kemarin.
Kemarin waktu saya mengunggah tulisan “Orang Tua itu Wakil Kekeramatan Tuhan di Alam Semesta” itu ada penjelasan saya yang kurang detail. Sudah biasa sih, kalau menulis di medsos ya yang menjadi editor adalah netizen, walau mereka tidak digaji.
Saya kurang detail pada bagian penjelasan posisi duduk orang tua di mobil itu di posisi yang paling terhormat. Artinya terhormat dan ternyaman. Mau di kursi depan, kursi tengah, ya bebas saja, asal terhormat dan ternyaman. Di penjelasan itu saya samar.
Mereka menangkap kalau duduk orang tua harus di kursi depan. Lama-lama saya enek juga, buka facebook baca komentar semacam itu.
Lalu saya mengetik satu balasan komentar yang saya copy-paste ke semua komentar-komentar netizen yang kurang detail memahami tulisan saya tentang posisi duduk orang tua di mobil.
Dan memang hati saya sudah merasa enek, getarannya sudah “esmos-i” hahaha.
Semua komentar yang masalahkan tempat duduk, sudah saya jawabi dengan getaran hati saya yang emosi tinggi itu, namun ada 2 efek indikator hati yang saya terima.
Satu indikasikan perbuatan buruk, satu indikasikan perbuatan baik, padahal perbuatan dan getaran hatinya sama.
Yang indikasikan perbuatan buruk itu rasa enek saya pada netizen secara umum. Balasan komentar saya yang copy-paste-an yang semua saya sertai rasa enek hati itu, semua adalah perbuatan buruk, perbuatan zalim.
Indikasinya di hati saya muncul rasa resah di malam harinya, dan ada rasa menyesal.
Dan indikasi Anda telah berbuat zalim kepada sesama itu muncul rasa menyesal sesudahnya.
Imam Ali bin Abi Thalib menulis syair;
لا تَظلِمَن إذا ما كُنتَ مُقتَدِرا # فالظُّلمُ تَرجِعُ عُقباهُ إلى النَدَمِ
“Sungguh janganlah Anda berbuat aniaya ketika Anda berkuasa # Aniaya itu akibatnya akan berbalik pada rasa menyesal.”
Anda marah-marah kepada anak, lalu muncul rasa melas dan hati jadi gundah, lalu menyesal, itu artinya marah Anda tidak proposional, di situ Anda sudah menganiaya anak.
Anda mencak-mencak kepada orang tua, pada karyawan, pada murid, pada nerizen, pada tetangga, kalau kemudian muncul rasa gundah lalu Anda menyesal, itu artinya Anda sudah zalim, tidak proporsional dalam meluapkan emosi.
Saat gundah dan menyesal itu artinya antena radar-Nya sedang bekerja.
Maka dengan ini, dengan kerendahan hati saya mohon maaf kepada teman-teman facebook yang kemarin saya balas komentarnya dengan rasa enek hati saya.
Terus kelakuan saya kemarin ada juga yang merupakan perbuatan baik, artinya sudah proporsional, sehingga tidak sisakan gundah apalagi menyesal, malah hati saya bilang, “Modar kamu. Saya injak sekalian!”
Ceritanya, tengah malam saya buka page facebook saya, eeh di kolom komentar muncul sosok orang yang selama ini memang kalau ngomong dan mengritik ketus. Kalimat yang ia pilih sadis.
Nah ia muncul, sekalian saya berniat, “Ini kesempatan injak sekalian!” Dibiarkan ia menjadi, saya lihat kurang etis kepada sesama begitu. Saya lawan lebih sadis.
Nah saya ngamuk dengan tegar padanya, namun saya tidak gundah tidak menyesal, malah saya kepedean, itu artinya ngamuk saya itu perbuatan baik dan berpahala ria.
Jadi marah, ngamuk, melawan, keras batu dan lain-lain itu bisa menjadi perbuatan baik bila proporsional. Indikasi itu perbuatan baik atau buruk itu bisa dideteksi dari antena radar-Nya yakni Anda jadi gundah atau tidak, Anda jadi menyesal atau tidak.

Leave a Reply