Sebutlah namanya Nyonya Doning. Saat yang lain tidur, ia dengan suaminya sedang menghitung uang toko. Setelah itu lembur bungkusi snack kecil pelengkap dagangan toko. Pagi harinya toko yang lain belum buka, ia paling awal buka, jam 06.00. Nanti tutupnya malam hari jam 22.00.
Sebisa mungkin hanya dikerjakan berdua, sehemat mungkin pakai karyawan agar hasilnya tak kemana.
Karena keuletan, dedikasi dan kerja keras, akhirnya ia mulai kaya. Sesudah kaya, Doning kena gagal ginjal dan harus bolak-balik rumah sakit. Ia yang bekerja keras kumpulkan harta, para dokter yang menerima hasilnya.
Doning akhirnya wafat. Suaminya menikah lagi. Karena anak kecilnya sangat dekat dengan pembantunya; sebutlah Tukiyem, suaminya menikahi Tukiyem demi anaknya.
Kini Tukiyem menjadi nyonya. Dalam benak Tukiyem berkata, “Nyonya Doning yang bekerja keras, kini aku yang menikmati semuanya”.
Anda sadar, tidak? Anda meraih harta dengan susah payah sebenarnya persis monyet bego. Tahu-tahu ujung-ujungnya harus dilepaskan, Anda mau-maunya bersusah-payah meraihnya.
Betapa tidak, patah hati yang sangat disengaja? Anda yang dengan penuh dedikasi kumpulkan kekayaan, ujung-ujungnya harus Anda berikan semuanya kepada orang lain, tanpa sisa. Saat Anda mati, semua harus Anda serahkan kepada orang lain yakni ahli waris Anda.
Harta itu hanya apa yang Anda makan lalu busuk, apa yang Anda kenakan lalu usang, apa yang dengan susah payah Anda kumpulkan lalu ketika Anda mati akan diberikan pada yang lain.
Karena itu nista-nistanya diri Anda yang seumur-umur berusaha meraih harta lalu Anda tidak sempat menikmati. Seperti nasibnya Nyonya Doning.
Kadangkala ada yang sudah capek mengumpulkan, sesudah kaya, mau menikmati makan bakso saja tidak bisa karena hipertensi.
Lebih sadis lagi, Anda yang susah payah mengumpulkan, orang lain yang menikmati. Umpama, sudah irit begitu lama agar duit terkumpul, dalam sekejap raib kena tipu orang. Anda yang capek mengumpulkan, si penipu yang menikmati. Atau seperti nasib Nyonya Doning di atas.
Maka sebelum dinikmati, harta yang Anda kumpulkan itu bukanlah milik Anda. Yang namanya menikmati itu jelas dengan jalan membelanjakan, entah untuk jajan, shoping, sedekah, dan lainnya. Yang jelas kalau belum dibelanjakan, harta yang katanya milik Anda itu ternyata bukanlah milik Anda.
Abu Nawas berkata,
أنتَ للمال إذا أمسكتَه # فإذا أنفقتَه فالمالُ لَكْ
“Engkau akan menjadi budak harta jika engkau menahan harta tersebut. Namun jika engkau membelanjakannya, harta tersebut barulah jadi milikmu. (Imam Al-Ahnaf dalam Tafsirul Qur’anul ‘Azhm, 14: 443)
Eeh diam-diam Anda sudah kerja satu bulan, pingin bakso dituruti apa belum? Apa uangnya masih di celengan masa depan? Sebelum dinikmati, harta yang di tangan Anda itu entah milik siapa. Tak mampu menikmati harta itu sama saja tak memilikinya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply