Kemarin saya menulis di sebuah short video tentang belanja di level realita dan level rasa, namun karena saking singkatnya tentu banyak yang tidak terjelaskan, yang bertanya penasaran pun ada.
Di level realita alias syariat, belanja itu mengonsumsi, sehingga orang yang membeli disebut konsumen. Diksi yang digunakan adalah konsumsi, berarti di level realita, belanja tercipta karena didorong suatu kebutuhan.
Butuh itu tanda kemiskinan dan kefakiran. Kalau Anda tidak fakir beras, tidak mungkin Anda mencari lalu membelinya. Kalau Anda tidak fakir uang, tidak mungkin Anda berkenan mencari untuk menerima uang. Jadi rasa butuh itulah indikator dari kemiskinan dan kefakiran.
Di level realita, belanja tentu karena butuh, namun jika di level rasa, Anda belanja karena Anda butuh, itu belanja Anda akan menarik kemiskinan, sebab butuh itu indikator utama kemiskinan dan kefakiran.
Anda bergerak belanja tetapi getarannya rasa fakir yakni rasa butuh ya tentu akan menarik realitas kefakiran dan kekurangan.
Orang belanja karena didorong kuat rasa butuh yang selanjutnya lahirkan sikap konsumtif, hedonis, dan shopaholic. Shopaholic sering disebut juga gangguan belanja kompulsif atau compulsive buying disorder (CBD).
Seperti kecanduan lainnya, pembeli kompulsif ini akan mengalami euforia sesaat ketika berbelanja.
Di hidup ini di antara Anda ada yang sanggup hidup tanpa belanja? Jelas tidak ada. Sementara belanja itulah identitas kefakiran karena dipicu kebutuhan.
Lalu bagaimana agar belanja Anda menarik kekayaan? Di sini, Anda harus otak-atik belanja di level rasa.
Betul di level realita alias level syariat, belanja itu karena butuh, tetapi di level rasa alias level makrifat, akses rasa getarannya bisa digubah.
Di level rasa atau level makrifat, belanja itu membayar. Anda bisa bayar tentu karena Anda punya. Punya itu indikator utama kekayaan.
Karena itu saat Anda belanja piculah dengan rasa kaya, rasa punya. Maksudnya, saat Anda belanja di situ Anda membayar, saat itu piculah di dalam di hati dengan self talking, “Saya kaya. Saya punya. Makanya saya beli”. Itu belanja pemicu kaya.
Jangan Anda belanja selftalking dan kesadarannya, “Saya butuh barang ini. Saya beli ah.” Itu belanja pemicu melarat.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply