Rasa itu sebuah getaran yang tidak dapat Anda kontrol, cenderung bergetar dengan sukarela.

 

Bila di dimensi gerak fisik ada gerakan sukarela yakni gerakan yang tidak dapat Anda kontrol, seperti berak dan pipis, maka di dimensi getaran itu ada rasa.

 

Anda tidak bisa kan mengontrol pipis dan berak Anda? Kalau bisa mengontrol, cobalah Anda buat jadwal berak dan pipis. Jam 2 siang jadwalnya berak, tapi belum kebelet, lalu mau Anda paksa keluarkan berak? Tidak bisa. Berak bergerak sukarela tanpa kontrol Anda.

 

Demikian pula rasa, getarannya sukarela dan cenderung tidak dapat Anda kontrol.

 

Karena ini siapa sih yang ingin menyintai suami orang? Dan siapa sih yang ingin berbagi hati antara istri dan pacar? Tidak ada. Namun ya begitu itu getaran rasa, tidak dapat dikontrol dan bergetar sukarela.

 

Siapa yang ingin menyimpan rasa cinta dengan mantan pacar di saat ia telah menikah? Namun kenyataan di antara Anda banyak kan yang suka kepo akun Facebook mantan? 

Ya begitu itu getaran rasa, ia bergerak tanpa peduli etis atau tidak, layak atau tidak, logis atau tidak, benar apa batil, bahkan tidak peduli susah atau senang.

 

Dalam legenda Layla Majnun, lah seperti apa sedihnya Qais memanggul rasa cintanya pada Layla? 

Menyintai perempuan sampai ia dilabeli Majnun. Rasa tetap bergetar tanpa kontrol tidak mau peduli walau itu adalah derita yang paling pahit.

 

Rasa itu yang kondisinya persis seperti Anda yang menyintai suami orang, atau Anda yang berbagi hati antara istri dan pacar, ia primitif, bego dan dungu, tidak dapat dikontrol oleh dirinya sendiri.

 

Karena itu Anda yang punya “rasa kaya” juga rezekinya cenderung primitif, bego dan dungu. Tahu-tahu bisnis sedang sepi, eeh duitnya ngalir dari jalan yang tidak disangka-sangka, tahu-tahu ada lockdown, eeh orderan malah membludak. Itu rezeki dari tarikan rasa.

 

Rezeki dari tarikan rasa ini yang kita kenal dengan mekanisme rizqi min haitsu lâ yahtasib.

 

Maryam ibunda Isa A.S, sebagai perawan suci ia menempat di Mihrab Zakaria, kamar ibadah yang Maryam tidak bisa keluar untuk kerja. Namun aneka rezeki selalu hadir di mihrab tempat tinggalnya. Itu rezeki dari tarikan rasa, artinya Maryam itu pemilik rasa kaya.

 

Khidhir A.S, konon hidup di dalam air. Dinalar dengan logis, hidup di air bagaimana beliau masak makanan, menyalakan api saja tidak bisa? Lah dari mana rezekinya? Nah itu juga rezeki tarikan rasa kaya.

 

Rasa kaya itu namanya juga bagian dari rasa hati, ia persis seperti rasa cinta, seperti rasa benci, bergerak sukarela tanpa kontrol diri apalagi kontrol lingkungan ekonomi.

 

Rasa kaya, bagaimana terapinya agar terlatih krsana? Rasa kaya itu rasa di mana Anda merasa menjadi orang kaya, itu saja.

 

Dalam hadits Nabi S.A.W jelas disampaikan agar Anda dalam urusan harta supaya mengamati orang-orang di bawah Anda, tujuannya apa? Supaya di dalam hati Anda terbangun rasa telah banyak dianugerahi oleh Tuhan.

 

Duit sedang seret, misalkan, lalu Anda mengamati tetangga yang duitnya seret sekaligus banyak hutang, yang di hati Anda itu rasa apa? Tentu rasa cukup telah dianugerahi.

 

Nah rasa kaya itu berarti rasa dimana Anda merasa telah dianugerahi kekayaan, dianugerahi rezeki oleh-Nya. Itu saja.

 

Hanya saja masalahnya Anda kan lebih banyak fokus kepada kesulitan dan kekhawatiran daripada fokus pada kebaikan yang telah Anda terima. Kemerungsung terus, itu masalahnya.

 

Mau terapi bagaimana bangun rasa kaya? Ya itu tadi kerap-kerap amati dan renungi orang-orang di bawah Anda dalam persoalan harta.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *